Jumat, 06 September 2013

Jalan Menuju Biara


Jalan Menuju Biara
Yohannes Fajar Nugroho
16 Mei 2013, Katedral Bogor

Paimin adalah seorang pemuda berusia dua puluh tahun, anak pertama dari keluarga katholik yang masih awam. Selama hidupnya, Paimin belum pernah merasakan indahnya berpacaran, perlu diketahui, dari delapan wanita yang menerima pernyataan cinta Paimin, sembilan orang menolaknya, yang terakhir karena si wanita sudah mengetahui kemana arah tujuan Paimin, dengan ketus dia menjawab “Sori, gue nggak mau jadi pacar loe!”. Itu belum apa-apa, yang lebih menyedihkan dan membuat Paimin kecewa adalah ketika seorang teman SMP nya menolak dengan mengatakan “najis!!” dan meludah di hadapan Paimin, tapi Paimin hanya berkata dalam hatinya ‘Tuhan, ampunilah dia sebab dia tidak tahu apa yang dilakukannya!’.  

Sejak Sekolah Dasar, Paimin sudah memiliki keinginan kuat untuk menjalani kehidupan selibat, menjadi biarawan, dan menjabat sebagai seorang imam katholik. Patut diduga, Allah memang membutuhkannya untuk menjadi seorang Imam, untuk menjadi perantaranya bagi dunia ini, untuk memasukkan orang kedalam Gereja, untuk mengampuni dosa, untuk menikahkan sepasang kekasih, dan untuk menerima orang kedalam kehidupan kekal. Ketika ditanya oleh seorang bapak dari parokinya perihal cita-citanya, Paimin dengan tegas menjawab “Aku mau jadi pastor!” 

Waktu Sekolah Dasar, Paimin aktif sebagai putera altar di parokinya, tapi belum sampai tiga tahun masa bhaktinya, Paimin diberhentikan dari tugasnya atas perintah langsung dari pastor paroki yang diturunkan kepada pembina putera altar. Pemberhentian ini juga bukan tanpa alasan. Ketika itu misa Pentakosta, lima puluh hari setelah wafat Yesus, sepuluh hari setelah kebangkitanNya, Paimin dipercaya untuk memegang kendali pedupaan. Karena kelalaiannya, kasula yang dikenakan oleh selebran utama pada acara itu terbakar oleh karena panasnya bara didalam tempat arang itu. Untuk mencegah, supaya tidak banyak kasula-kasula lain yang terbakar, pastor paroki memberhentikan Paimin sebagai misdinar, dan Paimin langsung dimutasi ke kegiatan kepemudaan. 

            Panggilannya semakin mantap ketika Paimin duduk di kelas tiga Sekolah Menengah Pertama di SMP berstandar Nasional. Masalah keseriusannya itu dibicarakan dengan orangtuanya dan mendapat jawaban yang sangat tidak mengenakkan dari orangtuanya, terutama dari istri bapaknya. “Ngapain sih kamu mau masuk biara? Ibu nggak ijinin!” dan Paimin kembali bertanya di tempat dan waktu yang sama “Kalau pacaran boleh bu?” jawaban ibunya membuat Paimin menjadi bingung “Nggak boleh!” Masuk biara digondheli, mau pacaran dilarang. Terus, bolehnya apa? Sebuah pertanyaan yang membuat Paimin harus merefleksikannya dalam sebuah retret pribadi. 

            Ibunya melarang Paimin masuk biara bukan tanpa alasan, tapi karena pandangan ibunya yang masih terlalu awam tentang beberapa pastor yang keluar dari jalan hidupnya dan memilih kehidupan sekuler. Di lingkungannya ada beberapa pastor yang seperti itu, dan ibu nya Paimin tidak ingin anaknya menjadi seperti itu. Di sisi lain, ibunya ingin menggendong cucu pertama dari Paimin, karena Paimin adalah anak pertama dari empat bersaudara. 

            Akhirnya, Paimin tetap masuk Sekolah Menengah Atas biasa, bukan seminari menengah. Tapi hubungan Paimin dengan biarawan-biarawan yang ada di parokinya tidak putus begitu saja. Paimin selalu bermain ke biara untuk semakin memantapkan panggilannya, dan atau hanya bermain-main dengan biarawan-biarawan yang biasa dipanggil dengan sebutan ‘frater’. Setiap siang sepulang sekolah, Paimin juga menyempatkan diri untuk berdoa Rosario di gereja yang letaknya kira-kira beberapa blok dari sekolahnya. Paimin merasakan kenyamanan tersendiri ketika masuk kedalam gedung gereja itu, kesejukan, kenyamanan, dan yang pasti Paimin dapat bertatap muka dengan Tuhannya yang berada di dalam tabernakel di panti imam. 

            Tiba saatnya Paimin menentukan, apakah dia akan mengikuti KPA (Kelas Persiapan Atas) atau KPP (Kursus Persiapan Perkawinan) eh, salah, masuk biara atau kuliah di perguruan tinggi. Ketika ingin masuk ke biara kembali menghadapi sebuah rintangan yang pada waktu itu Paimin belum mampu untuk melewatinya. Akhirnya Paimin memilih untuk tidak melewati rintangan itu dan memilih jalan lain yaitu kuliah di perguruan tinggi. Paimin sudah mengenal kehidupan paroki saat itu, dan dengan mengetahui kehidupan menjadi pastor tidak hanya mengurus hal-hal liturgis, panggilannya pun perlahan luntur. Disamping itu, dia tidak ingin masuk biara karena pelarian, karena tidak punya pacar. Sudah kudaki gunung tertinggi, hanya untuk mencari dimana dirimu, sudah kuarungi laut samudra hanya untuk mencari tempat berlabuhmu… akulah Paimin yang mencari cinta.. Eh, nggak gitu ya. 

          Pada intinya, Paimin mencari kekasih hatinya. Patut diduga Tuhan telah menciptakan pasangan untuk Paimin, tapi semua tergantung di Paimin, menjawab panggilan Tuhan untuk menjadi pastor, atau menjawab panggilan Tuhan untuk menjadi pendamping bagi orang yang disediakan. Paimin sendiri tidak tahu dimana, siapa, dan kapan akan bertemu dengan pendampingnya itu. 

            Tuhan, Allah semesta sudah tahu apa yang akan terjadi, dimana, kapan dan bagaimana itu bisa terjadi. Paimin bertemu dengan seorang wanita di acara orang muda se-keuskupan. Mereka semakin dekat, dekat, dekat dan dekat. Tapi Paimin menyadari, bahwa wanita yang didekatinya itu pasti akan menolaknya, karena begitulah yang dirasakannya. “Loe harusnya coba dulu min!” kata temannya. “Ah, nggak mungkin Tuhan menciptakan dia untuk gue!” katanya dengan sesumbar. “Kalau dia mau terima cinta gue, Tuhan yang akan jadi saksi pembicaraan ini, gue akan masuk biara!” kata Paimin. Dan langsung petir menyambar pusat energy listrik di gereja itu, memutus semua saluran listrik ke seluruh lampu di gereja, tapi anehnya lampu di tabernakel tetap menyala, bahkan semakin terang, karena malam itu hujan lebat. Tuhan benar-benar menerima apa yang dikatakan oleh Paimin. Jadi tidak lama, wanita yang dimaksud menemui Paimin, dan dengan penuh ketulusan dia menerima cinta Paimin dengan mengatakan “Ya, aku mau jadi pacar kamu!” 

            Nasi sudah menjadi bubur. Paimin sudah mengatakan janjinya secara bebas yang dilihat langsung oleh Allah yang memanggil Paimin untuk menjadi pastor, jadi Paimin harus menepati janjinya itu. Tuhan telah berbicara kepada Paimin melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Dan dengan penuh kepastian Paimin berkata “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”

Sang Kristus memilihmu takkan mampu kau menolaknya!

16 Mei 2013;21.41 (Waktu Stasiun Bogor)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar