Jalan
Menuju Biara
Yohannes Fajar Nugroho
16 Mei 2013, Katedral
Bogor
Paimin
adalah seorang pemuda berusia dua puluh tahun, anak pertama dari keluarga
katholik yang masih awam. Selama hidupnya, Paimin belum pernah merasakan
indahnya berpacaran, perlu diketahui, dari delapan wanita yang menerima
pernyataan cinta Paimin, sembilan orang menolaknya, yang terakhir karena si
wanita sudah mengetahui kemana arah tujuan Paimin, dengan ketus dia menjawab
“Sori, gue nggak mau jadi pacar loe!”. Itu belum apa-apa, yang lebih
menyedihkan dan membuat Paimin kecewa adalah ketika seorang teman SMP nya
menolak dengan mengatakan “najis!!” dan meludah di hadapan Paimin, tapi Paimin
hanya berkata dalam hatinya ‘Tuhan, ampunilah dia sebab dia tidak tahu apa yang
dilakukannya!’.
Sejak
Sekolah Dasar, Paimin sudah memiliki keinginan kuat untuk menjalani kehidupan
selibat, menjadi biarawan, dan menjabat sebagai seorang imam katholik. Patut
diduga, Allah memang membutuhkannya untuk menjadi seorang Imam, untuk menjadi
perantaranya bagi dunia ini, untuk memasukkan orang kedalam Gereja, untuk
mengampuni dosa, untuk menikahkan sepasang kekasih, dan untuk menerima orang
kedalam kehidupan kekal. Ketika ditanya oleh seorang bapak dari parokinya
perihal cita-citanya, Paimin dengan tegas menjawab “Aku mau jadi pastor!”
Waktu
Sekolah Dasar, Paimin aktif sebagai putera altar di parokinya, tapi belum
sampai tiga tahun masa bhaktinya, Paimin diberhentikan dari tugasnya atas
perintah langsung dari pastor paroki yang diturunkan kepada pembina putera
altar. Pemberhentian ini juga bukan tanpa alasan. Ketika itu misa Pentakosta, lima puluh hari setelah
wafat Yesus, sepuluh hari setelah kebangkitanNya, Paimin dipercaya untuk memegang
kendali pedupaan. Karena kelalaiannya, kasula yang dikenakan oleh selebran
utama pada acara itu terbakar oleh karena panasnya bara didalam tempat arang
itu. Untuk mencegah, supaya tidak banyak kasula-kasula lain yang terbakar,
pastor paroki memberhentikan Paimin sebagai misdinar, dan Paimin langsung
dimutasi ke kegiatan kepemudaan.
Panggilannya semakin mantap ketika
Paimin duduk di kelas tiga Sekolah Menengah Pertama di SMP berstandar Nasional.
Masalah keseriusannya itu dibicarakan dengan orangtuanya dan mendapat jawaban
yang sangat tidak mengenakkan dari orangtuanya, terutama dari istri bapaknya.
“Ngapain sih kamu mau masuk biara? Ibu nggak ijinin!” dan Paimin kembali
bertanya di tempat dan waktu yang sama “Kalau pacaran boleh bu?” jawaban ibunya
membuat Paimin menjadi bingung “Nggak boleh!” Masuk biara digondheli, mau pacaran dilarang. Terus, bolehnya apa? Sebuah
pertanyaan yang membuat Paimin harus merefleksikannya dalam sebuah retret
pribadi.
Ibunya melarang Paimin masuk biara
bukan tanpa alasan, tapi karena pandangan ibunya yang masih terlalu awam
tentang beberapa pastor yang keluar dari jalan hidupnya dan memilih kehidupan
sekuler. Di lingkungannya ada beberapa pastor yang seperti itu, dan ibu nya
Paimin tidak ingin anaknya menjadi seperti itu. Di sisi lain, ibunya ingin
menggendong cucu pertama dari Paimin, karena Paimin adalah anak pertama dari empat
bersaudara.
Akhirnya, Paimin tetap masuk Sekolah
Menengah Atas biasa, bukan seminari menengah. Tapi hubungan Paimin dengan
biarawan-biarawan yang ada di parokinya tidak putus begitu saja. Paimin selalu
bermain ke biara untuk semakin memantapkan panggilannya, dan atau hanya
bermain-main dengan biarawan-biarawan yang biasa dipanggil dengan sebutan
‘frater’. Setiap siang sepulang sekolah, Paimin juga menyempatkan diri untuk
berdoa Rosario
di gereja yang letaknya kira-kira beberapa blok dari sekolahnya. Paimin
merasakan kenyamanan tersendiri ketika masuk kedalam gedung gereja itu,
kesejukan, kenyamanan, dan yang pasti Paimin dapat bertatap muka dengan
Tuhannya yang berada di dalam tabernakel di panti imam.
Tiba saatnya Paimin menentukan,
apakah dia akan mengikuti KPA (Kelas Persiapan Atas) atau KPP (Kursus Persiapan
Perkawinan) eh, salah, masuk biara atau kuliah di perguruan tinggi. Ketika
ingin masuk ke biara kembali menghadapi sebuah rintangan yang pada waktu itu
Paimin belum mampu untuk melewatinya. Akhirnya Paimin memilih untuk tidak
melewati rintangan itu dan memilih jalan lain yaitu kuliah di perguruan tinggi.
Paimin sudah mengenal kehidupan paroki saat itu, dan dengan mengetahui
kehidupan menjadi pastor tidak hanya mengurus hal-hal liturgis, panggilannya
pun perlahan luntur. Disamping itu, dia tidak ingin masuk biara karena
pelarian, karena tidak punya pacar. Sudah
kudaki gunung tertinggi, hanya untuk mencari dimana dirimu, sudah kuarungi laut
samudra hanya untuk mencari tempat berlabuhmu… akulah Paimin yang mencari
cinta.. Eh, nggak gitu ya.
Pada intinya, Paimin mencari kekasih hatinya.
Patut diduga Tuhan telah menciptakan pasangan untuk Paimin, tapi semua
tergantung di Paimin, menjawab panggilan Tuhan untuk menjadi pastor, atau
menjawab panggilan Tuhan untuk menjadi pendamping bagi orang yang disediakan.
Paimin sendiri tidak tahu dimana, siapa, dan kapan akan bertemu dengan
pendampingnya itu.
Tuhan, Allah semesta sudah tahu apa
yang akan terjadi, dimana, kapan dan bagaimana itu bisa terjadi. Paimin bertemu
dengan seorang wanita di acara orang muda se-keuskupan. Mereka semakin dekat,
dekat, dekat dan dekat. Tapi Paimin menyadari, bahwa wanita yang didekatinya
itu pasti akan menolaknya, karena begitulah yang dirasakannya. “Loe harusnya
coba dulu min!” kata temannya. “Ah, nggak mungkin Tuhan menciptakan dia untuk
gue!” katanya dengan sesumbar. “Kalau dia mau terima cinta gue, Tuhan yang akan
jadi saksi pembicaraan ini, gue akan masuk biara!” kata Paimin. Dan langsung petir
menyambar pusat energy listrik di gereja itu, memutus semua saluran listrik ke
seluruh lampu di gereja, tapi anehnya lampu di tabernakel tetap menyala, bahkan
semakin terang, karena malam itu hujan lebat. Tuhan benar-benar menerima apa
yang dikatakan oleh Paimin. Jadi tidak lama, wanita yang dimaksud menemui
Paimin, dan dengan penuh ketulusan dia menerima cinta Paimin dengan mengatakan
“Ya, aku mau jadi pacar kamu!”
Nasi sudah menjadi bubur. Paimin
sudah mengatakan janjinya secara bebas yang dilihat langsung oleh Allah yang
memanggil Paimin untuk menjadi pastor, jadi Paimin harus menepati janjinya itu.
Tuhan telah berbicara kepada Paimin melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi
dalam hidupnya. Dan dengan penuh kepastian Paimin berkata “Sesungguhnya aku ini
hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”
Sang
Kristus memilihmu takkan mampu kau menolaknya!
16 Mei 2013;21.41 (Waktu
Stasiun Bogor)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar