Jumat, 06 September 2013

Pahlawan Pra-1908:Pahlawan Nasional Yang Tidak Seharusnya


Yohannes Fajar Nugroho. M.Il.Kom
(Mahasiswa Ilmu Komunikasi)

Sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan, merupakan sejarah kelam bagi sebuah bangsa. Penjajahan selama tiga ratus lima puluh tahun, telah melahirkan banyak pejuang-pejuang di Nusantara, dari Sabang, sampai Merauke. Pahlawan-pahlawan seperti Tuanku Imam Bondjol, Pangeran Diponegoro, Teuku Umar Dkk, I Gusti Ketut Jelantik, dan masih banyak pahlawan-pahlawan yang berperang melawan penjajahan Belanda. Belakangan ini terpikir di benak saya bahwa selama dua belas tahun mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas, sudah terjadi pembodohan terhadap generasi muda bangsa Indonesia, siswa-siswi di sekolah-sekolah baik swasta maupun negeri sudah didoktrin bahwa pahlawan-pahlawan tersebut diangkat menjadi pahlawan nasional karena berjuang atas nama bangsa Indonesia. Berawal dari sejarah bahwa pergerakan nasional Indonesia dimulai pada 20 Mei 1908. Jika pergerakan nasional baru dimulai pada tanggal, bulan dan tahun tersebut artinya tidak ada pergerakan yang mengatasnamakan bangsa Indonesia sebelum 20 Mei 1908.

Tinjauan Historis
            Di Aceh, di ujung barat laut Nusantara pernah terjadi perang melawan belanda yang dipimpin oleh Teuku Umar, Panglima Polim, Teuku  Cik Ditiro, dan Cut Nyak Dien. Masalah dimulai ketika Belanda melarang orang Aceh untuk berdagang ke bangsa mana pun. Menurut orang Aceh, hal ini melanggar traktat London. Meletus lah perang Aceh. Orang-orang Aceh pada saat itu perang melawan belanda berdasarkan perang jihad, berperang untuk agama dan kelompok orang-orang Aceh. 

            Di Sumatera Barat, ada tokoh Paderi (kaum agama) yang terkenal. Tuanku Imam Bondjol, seorang tokoh paderi yang hendak mendirikan syariat islam di Minangkabau, namun hal tersebut ditolak oleh kelompok adat. Kaum adat pada waktu itu menerima islam, tapi tidak menjalankan instrument-instrumen normative yang diajarkan dalam islam. Sementara kaum paderi menghendaki agar hukum-hukum islam ditegakkan di tanah Minang. Dari masalah ini, terjadi perselisihan antara kaum Paderi dan kaum Adat. Selanjutnya, kaum Adat mendapat dukungan dari Belanda. Sejarah menceritakan bahwa pada akhirnya kaum adat berbalik ke laum paderi dan sama-sama berjuang melawan Belanda. Perjuangan di Sumatera Barat tidak jauh berbeda dengan perjuangan di Aceh, berjuang untuk mempertahankan agama. 

Di daerah Jawa Tengah, pernah terjadi sebuah perang besar selama lima tahun. Perang Diponegoro yang terjadi selama 1825-1830 dipimpin langsung oleh Pangeran Diponegoro, seorang putera dari selir sultan Hamengku Buwono III. Dia berperang melawan Belanda karena Belanda mematok tanah milik  leluhurnya, Pangeran Diponegoro waktu itu kesal dan mencabut patok-patok tersebut. di kemudian hari Belanda kembali memasang patok-patok yang sudah dicabut itu lalu dicabut lagi oleh Pangeran Diponegoro, dari situ pecahlah perang Diponegoro. Penyebab perang ini karena ketidaksukaan Pangeran Diponegoro karena tanahnya akan digunakan untuk pembangunan rel kereta api. 

Di pulau dewata Bali, di jaman itu memiliki hukum tawan karang. Hukum ini mengatur mengeni kepemilikan kapal asing yang terdampar di wilayah kekuasaan kerajaan Bali menjadi milik kerajaan Bali. Hal ini bermula ketika kapal dagang Belanda terdampar di Bali, namun Belanda menolak hukum tersebut. Dari situ, pecahlah perang puputan, perang sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan peraturan kerajaan Bali yang dipimpin langsung oleh I Gusti Ketut Jelantik. Orang-orang Bali berperang melawan Belanda karena Belanda tidak mau menaati tradisi di Bali yang sudah turun temurun. 

Di Kalimantan, tepatnya di kerajaan Banjar pihak kerajaan yang pada waktu itu dipimpin oleh Sultan Adam menyambut dengan baik pihak Belanda yang mendarat di Banjarmasin. Tapi semua berubah ketika pihak Belanda ikut campur masalah kerajaan dengan mengangkat kerabat kerajaan yang sebenarnya tidak berhak atas tahta kerajaan Banjar. Dari masalah itu, pecahlah perang Banjar.

Pembodohan Generasi Muda
            Jika ditelaah dari beberapa pahlawan itu, tidak ada yang berjuang atas nama Bangsa Indonesia. Mereka berjuang untuk kepentingan pribadi masing-masing, kepentingan kerajaan, bahkan kepentingan agama tapi mereka yang berjuang atas nama Suku, Agama, dan Ras masing-masing, menjadi pahlawan nasional. Dan foto-foto, maupun lukisan-lukisan mereka terpampang jelas di dinding-dinding kelas sekolah-sekolah dengan gelar mereka sebagai pahlawan nasional. Pahlawan yang mempertahankan kepentingan pribadinya, pahlawan yang mempertahankan kepentingan agamanya, dan pahlawan yang mempertahankan kepentingan kerajaannya. Bukan sebagai pahlawan yang mempertahankan bangsa Indonesia. Mengenaskan!!!


(Bogor, 14 Agustus 2013; 12:56)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar