Yohannes Fajar Nugroho. M.Il.Kom
(Mahasiswa Ilmu Komunikasi)
Sejarah perjuangan
bangsa Indonesia
dalam mencapai kemerdekaan, merupakan sejarah kelam bagi sebuah bangsa.
Penjajahan selama tiga ratus lima
puluh tahun, telah melahirkan banyak pejuang-pejuang di Nusantara, dari Sabang,
sampai Merauke. Pahlawan-pahlawan seperti Tuanku Imam Bondjol, Pangeran
Diponegoro, Teuku Umar Dkk, I Gusti Ketut Jelantik, dan masih banyak
pahlawan-pahlawan yang berperang melawan penjajahan Belanda. Belakangan ini
terpikir di benak saya bahwa selama dua belas tahun mengenyam pendidikan di
Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas, sudah
terjadi pembodohan terhadap generasi muda bangsa Indonesia, siswa-siswi di
sekolah-sekolah baik swasta maupun negeri sudah didoktrin bahwa pahlawan-pahlawan
tersebut diangkat menjadi pahlawan nasional karena berjuang atas nama bangsa
Indonesia. Berawal dari sejarah bahwa pergerakan nasional Indonesia
dimulai pada 20 Mei 1908. Jika pergerakan nasional baru dimulai pada tanggal,
bulan dan tahun tersebut artinya tidak ada pergerakan yang mengatasnamakan
bangsa Indonesia
sebelum 20 Mei 1908.
Tinjauan
Historis
Di Aceh, di ujung barat laut Nusantara
pernah terjadi perang melawan belanda yang dipimpin oleh Teuku Umar, Panglima
Polim, Teuku Cik Ditiro, dan Cut Nyak
Dien. Masalah dimulai ketika Belanda melarang orang Aceh untuk berdagang ke
bangsa mana pun. Menurut orang Aceh, hal ini melanggar traktat London. Meletus lah perang Aceh. Orang-orang
Aceh pada saat itu perang melawan belanda berdasarkan perang jihad, berperang
untuk agama dan kelompok orang-orang Aceh.
Di
Sumatera Barat, ada tokoh Paderi (kaum agama) yang terkenal. Tuanku Imam
Bondjol, seorang tokoh paderi yang hendak mendirikan syariat islam di
Minangkabau, namun hal tersebut ditolak oleh kelompok adat. Kaum adat pada
waktu itu menerima islam, tapi tidak menjalankan instrument-instrumen normative
yang diajarkan dalam islam. Sementara kaum paderi menghendaki agar hukum-hukum
islam ditegakkan di tanah Minang. Dari masalah ini, terjadi perselisihan antara
kaum Paderi dan kaum Adat. Selanjutnya, kaum Adat mendapat dukungan dari
Belanda. Sejarah menceritakan bahwa pada akhirnya kaum adat berbalik ke laum
paderi dan sama-sama berjuang melawan Belanda. Perjuangan di Sumatera Barat
tidak jauh berbeda dengan perjuangan di Aceh, berjuang untuk mempertahankan
agama.
Di daerah Jawa Tengah,
pernah terjadi sebuah perang besar selama lima
tahun. Perang Diponegoro yang terjadi selama 1825-1830 dipimpin langsung oleh Pangeran Diponegoro, seorang putera
dari selir sultan Hamengku Buwono III. Dia berperang melawan Belanda karena
Belanda mematok tanah milik leluhurnya,
Pangeran Diponegoro waktu itu kesal dan mencabut patok-patok tersebut. di
kemudian hari Belanda kembali memasang patok-patok yang sudah dicabut itu lalu
dicabut lagi oleh Pangeran Diponegoro, dari situ pecahlah perang Diponegoro.
Penyebab perang ini karena ketidaksukaan Pangeran Diponegoro karena tanahnya
akan digunakan untuk pembangunan rel kereta api.
Di pulau dewata Bali, di jaman itu memiliki hukum tawan karang. Hukum ini
mengatur mengeni kepemilikan kapal asing yang terdampar di wilayah kekuasaan
kerajaan Bali menjadi milik kerajaan Bali. Hal
ini bermula ketika kapal dagang Belanda terdampar di Bali,
namun Belanda menolak hukum tersebut. Dari situ, pecahlah perang puputan,
perang sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan peraturan kerajaan Bali yang dipimpin langsung oleh I Gusti Ketut Jelantik. Orang-orang
Bali berperang melawan Belanda karena Belanda tidak mau menaati tradisi di Bali yang sudah turun temurun.
Di Kalimantan, tepatnya
di kerajaan Banjar pihak kerajaan yang pada waktu itu dipimpin oleh Sultan Adam
menyambut dengan baik pihak Belanda yang mendarat di Banjarmasin. Tapi semua berubah ketika pihak
Belanda ikut campur masalah kerajaan dengan mengangkat kerabat kerajaan yang
sebenarnya tidak berhak atas tahta kerajaan Banjar. Dari masalah itu, pecahlah
perang Banjar.
Pembodohan
Generasi Muda
Jika
ditelaah dari beberapa pahlawan itu, tidak ada yang berjuang atas nama Bangsa Indonesia.
Mereka berjuang untuk kepentingan pribadi masing-masing, kepentingan kerajaan,
bahkan kepentingan agama tapi mereka yang berjuang atas nama Suku, Agama, dan
Ras masing-masing, menjadi pahlawan nasional. Dan foto-foto, maupun
lukisan-lukisan mereka terpampang jelas di dinding-dinding kelas sekolah-sekolah
dengan gelar mereka sebagai pahlawan nasional. Pahlawan yang mempertahankan
kepentingan pribadinya, pahlawan yang mempertahankan kepentingan agamanya, dan
pahlawan yang mempertahankan kepentingan kerajaannya. Bukan sebagai pahlawan
yang mempertahankan bangsa Indonesia.
Mengenaskan!!!
(Bogor,
14 Agustus 2013; 12:56)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar