Kolonel Wahyudi duduk termenung di meja
nya sambil sesekali memainkan korek gas miliknya. Dia baru mendapat kabar bahwa
salah satu kapal minyak Indonesia di perairan Somalia, dibajak oleh perompak
bersenjata di Somalia. Karena keberhasilan tim Detasemen Jala Mangkara dalam
pencegahan masuknya obat-obatan terlarang ke Indonesia, presiden menurunkan
perintah langsung kepada tim tersebut untuk melakukan pembebasan sandera di
Somalia. Kolonel Wahyudi masih termenung di meja kerjanya, sudah pasti dia akan
memberi perintah kepada letnan Hermawan, anggota Detasemen Jalamangkara yang
berasal dari Korps Pasukan Katak. Tapi, tetap saja menurut kolonel Wahyudi,
letnan Hermawan membutuhkan rekan kerja entah itu sebagai komando teknis atau
komando taktis.
Kepada seluruh komandan tim Detasemen Jala
Mangkara, baik yang sedang bertugas ataupun tidak bertugas, harap segera
memenuhi panggilan ke markas detasemen. Saya ulangi, seluruh komandan tim
Detsemen Jala Mangkara, baik yang sedang bertugas maupun yang tidak bertugas,
harap segera memenuhi panggilan ke markas detasemen, dalam lima belas menit.
Kolonel
Wahyudi memanggil semua anak buahnya melalui radio komunikasi yang dimiliki
oleh masing-masing komandan tim.
Letnan Soewoko yang pada waktu itu sedang berlatih bersama anak buahnya segera
mengakhiri latihan menembak itu. Letnan Soewoko segera mengganti bajunya
dengan pakaian yang lebih rapih dari yang digunakannya untuk latihan.
“Kalian bersiap dan tunggu perintah
selanjutnya!” kata letnan Soewoko kepada anak buahnya.
“Siap ndan!” kata seluruh pasukan tim
nya.
Letnan
Jono dan letnan Naryo yang pada waktu itu sedang berada di Rumah Sakit
mendengar perintah itu dengan sangat jelas mereka saling menatap, begitupun
letnan Andina yang langsung duduk di ranjangnya.
“Segera!” tandas letnan Andina. “Kamu
tidak mengerti apa kata kolonel Wahyudi?”
Dengan
segera, kedua letnan itu berlari keluar ruang perawatan rekan kerjanya, dan di
tengah keburu-buruannya mereka bertemu dengan suster Rahmawati, suster cantik
dengan rambut panjang jatuh di bahunya. Letnan Naryo segera berlalu, tapi tidak
dengan letnan Jono. Pandangan suster Rahmawati seakan membius letnan Jono dan
membuatnya sulit untuk melangkahkan kakinya, sangat berat dia meninggalkan
gadis yang baru ditemuinya pagi tadi.
“Mas, mau ke mana?” pertanyaan itu bagai
sebuah perangkap dimana letnan Jono tidak bisa melarikan diri dari perangkap
itu.
“Maaf mbak, kami sedang ada tugas
dadakan!” kata letnan Naryo.
“Mas, hati-hati ya!” kata suster
Rahmawati. Suaranya sangat lembut, dan sarat akan ketidakrelaan seorang gadis yang
akan ditinggal oleh kekasihnya, padahal siapa letnan Jono, kenapa begitu cepat
perasaan suka bersemi di dalam hati suster Rahma, tidak perasaan itu belum
tumbuh di dalam hati suster Rahma.
Jam
satu siang di markas detasemen, Mayor Dibyo, letnan Soewoko, letnan Naryo,
letnan Jono dan letnan Agus sudah dalam posisi siap di depan meja komandannya,
paling tidak sampai kolonel Wahyudi memerintahkan anak buahnya untuk istirahat
ditempat. Dia masih berusaha untuk menyampaikan perintah dari komando atas.
“Satu unit kapal niaga kita di Somalia
telah dibajak oleh perompak! Dan perintah langsung turun kepada tim ini untuk
melakukan pembebasan sandera!” katanya lagi “Kemarin kita kehilangan satu
orang! Saya tidak ingin hal ini terjadi untuk kedua kalinya! Kalian harus
mengikuti serangkaian tes! Mengerti?”
“Siap mengerti!” tegas lima perwira itu.
Serangkaian
tes tersebut adalah tes selam, menembak, dan adu menembak. Di tes selam adalah
tahap pertama. Ke empat komandan tim itu akan diceburkan kedalam air hanya dengan
menggunakan celana pendek, dan selama didalam air, mereka harus bisa memakai
pakaian lengkap dengan sepatu. Siapa yang tercepat dia yang mendapatkan nilai
paling tinggi, dalam tes ini letnan Jono dan letnan Soewoko mendapat nilai
tertinggi dengan waktu lima menit, letnan Naryo dapat menyelesaikan dalam tujuh
menit delapan detik, dan letnan Agus menyelesaikannya dalam waktu sembilan
menit. Tes ke dua adalah tes menembak, keempat perwira itu harus mampu menembak
dengan senapan dalam jarak delapan ratus meter, enam ratus meter, dan lima
ratus meter, menembak dengan pistol dalam jarak delapan puluh meter, enam puluh
meter, dan empat puluh meter, di tes ini siapa yang mengenai target paling
banyak, dia yang mendapat nilai tertinggi. Tes yang terakhir adalah kecepatan
merakit senjata dan tembak reflek. Keempat perwira itu berbaris dengan rapih di
lapangan tembak.
“Pilih pasangan kalian!” perintah mayor
Dibyo, dan mereka pun memilih pasangannya, sudah pasti letnan Jono berpasangan
dengan letnan Naryo dan letnan Soewoko berpasangan dengan letnan Agus. Dan
mereka harus saling beradu tembak dalam jarak seratus meter setelah sebelumnya
mereka beradu cepat dalam merakit pistol Glock 19 Tipe C. Giliran pertama
adalah letnan Hermawan dan letnan Agus. Dengan cepat, mereka merakit senjata kemudian saling membidik dan
menembak. Proyektil dari pistol milik letnan Hermawan tepat mengenai rompi
antipeluru yang digunakan oleh letnan Agus yang belum sempat memasukan sebutir
peluru pun. Giliran kedua adalah letnan Naryo, dan letnan Jono.
“Jo, biar aku saja yang berangkat!”
pinta letnan Naryo sebelum mereka masuk lapangan tembak.
“Aku ingin menemui Arifin! Tolong jaga
Andina!”
“Kalau itu maumu, oke!” kata letnan
Naryo datar. Dalam hatinya dia tidak akan pernah merelakan temannya pergi
bertugas tanpa dirinya. Biar dia saja yang mati di medan pertempuran, tapi
jangan Jono. Hal yang sama dialami oleh letnan Jono yang tidak ingin letnan
Naryo berangkat ke pertempuran. Bukan karena dia tidak suka, tapi lebih karena
dia tidak ingin temannya itu celaka.
Duel
antara dua sahabat itu membuat seluruh prajurit bergidik, mereka mengenal dua
letnan itu adalah sahabat karib, mereka selalu bersama dalam suka dan duka. Dan
kini harus berada diantara hidup dan mati. Peluit telah dibunyikan, artinya
duel dimulai, dengan cepat mereka merakit senjata yang ada di depan mereka, dan
satu tembakan keluar dari pistol kedua letnan itu, kedua proyektil peluru itu
saling hantam dan tidak melanjutkan gerak nya. Tanpa pikir panjang, letnan Jono
mengisi peluru ke bilik yang ada di pistolnya, tapi naas di dalam magasen
pistol yang dipegang letnan Naryo masih tersisa satu butir peluru, hal itu
memang biasa dilakukan oleh kedua letnan itu, namun karena letnan Jono merasa
optimis dapat mengalahkan letnan Naryo dengan satu peluru, dia tidak memasukkan
dua butir peluru ke magasennya dia langsung menembakkannya ke arah letnan Jono,
dan tepat mengenai bahu kanannya. Darah segar keluar dari bahu kanan letnan Jono,
dan membasahi seluruh pakaiannya dia rubuh dan tidak sadarkan diri. Mayor Dibyo
segera memerintahkan letnan Agus untuk mengevakuasi letnan Jono ke Rumah Sakit
Marinir.
“Kepada letnan Hermawan, dan letnan
Naryo, harap segera memilih dua belas prajurit terbaik dari tim Detasemen
Jalamangkara, dalam waktu seratus dua puluh menit!” perintah kolonel Wahyudi.
Instalasi
Gawat Darurat Rumah Sakit Marinir Cilandak yang tadinya sepi, mendadak riuh
dengan kehadiran letnan Jono yang bersimbah darah di papah oleh letnan Agus,
rekannya. Letnan Intan yang bertugas sebagai dokter jaga waktu itu tidak
mengerti bagaimana melepas rompi antipeluru yang dipakai oleh personel tim
Detasemen Jala Mangkara, jadi dia meminta letnan Agus untuk melepas rompi
antipeluru milik letnan Jono. Dengan segera, letnan Agus melepas rompi antipeluru
yang masih melekat di tubuh letnan Jono, kemudian dia keluar ruangan itu dan
menunggu di ruang tunggu. Dengan lesu, letnan Agus duduk di deretan belakang
dan menyandarkan kepalanya di dinding rumah sakit. Sudah jam setengah empat,
letnan Agus dapat mengetahui dari jam tangan yang melingkar di pergelangan
tangan kirinya, dengan darah letnan Jono yang membasahi seluruh telapak
tangannya. Kemudian letnan Agus meletakkan rompi anti peluru milik letnan Jono
disebelahnya. Dia terperanjat, ketika disampingnya sudah berdiri seorang
perawat yang menatapnya seolah meminta keterangan kenapa dan siapa yang
terluka. Di dada kanannya tersemat namanya. Rahmawati.
“Letnan, ada apa?” tanya perawat itu
lembut.
“Biasa mbak! Kecelakaan saat latihan!”
“Boleh, saya lihat rompi ini?” tanya
suster Rahma. Dan letnan Agus memberikan benda itu kepada suster Rahma. Perawat
itu memperhatikan benda yang ada di tangannya dengan saksama, dia tidak bisa
menahan tangisnya ketika mengetahui siapa pemilik benda yang ada di tangannya itu.
Ada nama pemiliknya, meski sudah terkena noda darah, suster Rahma bisa
membacanya dengan jelas. “Jono” dengan dua strip hitam horizontal yang saling
menumpuk, dan satu garis vertikal merah yang membelah dua strip hitam itu.
Letnan Agus mengerti kesedihan dari suster Rahma, dia berusaha meyakinkan
suster Rahma bahwa tidak terjadi apa-apa kepada letnan Jono. Suster Rahma
memohon agar dia boleh membawa dan menyimpan benda itu. Awalnya letnan Agus
menolak dan tidak mengijinkan, dengan mata bersimbah air mata, suster Rahma
memohon dan berjanji akan mengembalikannya segera. Akhirnya, letnan Agus luluh,
dan mengijinkannya.
Suster
Rahma lalu berlari, menuju tempatnya bertugas setelah dia memberikan laporan
kepada atasannya. Setelah sampai di pos nya, dia mengambil satu kantong plastik
yang cukup besar dan memasukkan rompi antipeluru milik letnan Jono kedalam
kantong plastik itu, dan membawa benda itu ke ruang perawatan letnan Andina. Di
seberang ranjang letnan Andina sudah ada ibu hamil yang sedang menjalani perawatan,
jadi suster Rahma menutup tirai yang mengelilingi ranjang Andina. Sambil masih
menahan tangisnya, dia mengeluarkan rompi antipeluru itu. Dan meminta
penjelasan kepada letnan Andina. Letnan cantik itu sempat terperanjat ketika
mengetahui hal itu menimpa rekannya.
“Terkena tulang bahu! Bukan organ
vital!” kata letnan Andina. Suster Rahma dapat bernafas lega setelah mendengar
penjelasan dari Andina.
Tapi
peluru yang masuk di bahu letnan Jono peluru timah atau peluru mesiu? Jika
peluru timah, hanya akan bersarang di bahu letnan Jono dan bisa diangkat. Tapi
jika peluru timah dan mesiu yang biasa digunakan oleh tentara, kemungkinan akan
membusuk di sana dan untuk mencapai kesembuhan letnan Jono harus diamputasi
untuk menghentikan pembusukan akibat ledakan mesiu di dalam tubuhnya.
“Kamu jangan nakut-nakutin aku dong!”
pinta Rahma. Air mata mulai menetes dari matanya.
“Kenapa? kamu sayang sama dia?”
“Sepertinya begitu!” katanya sambil
terisak.
“Kenapa kamu sayang sama dia?”
“Karena aku nggak tahu kenapa setiap
bertemu dia ada yang bergejolak di hatiku!”
“Cie!! Sudah, kalau kalian memang jodoh,
pasti ketemu deh! Takkan lari gunung dikejar!”
“Ya, semoga saja dia nggak
kenapa-kenapa!”
Rahma
tidak tahu apa yang terjadi di dalam dirinya, membuat perasaannya semakin
berkecamuk. Seperti gelombang laut selatan perasaan yang berkecamuk di dalam
hatinya. Menciptakan getaran-getaran lain dalam dirinya. Dia sendiri tidak
mengerti kenapa secepat itu dia bisa menyukai letnan Jono, letnan muda yang
pada pagi hari menyapanya, yang mengajaknya makan siang bersama saat menjelang
siang, dan yang menatapnya dengan tatapan cinta beberapa saat sebelum satu
butir peluru menembus bahunya.
“Harus segera di operasi untuk
mengangkat proyektil!” kata dokter Intan kepada letnan Agus dan suster Rahma.
“Apa harus diamputasi dok?” Tanya suster
Rahma khawatir.
“Nggak kok! Pelurunya tidak terlalu
membahayakan, lagipula yang tertembak bukan di organ vital!” kata dokter Intan.
“Silahkan dokter lakukan sesuai
prosedur!” kata letnan Agus.
“Baik! Kami akan berusaha sebisa kami!”
kata dokter Intan.
“Dokter, ijinkan saya ikut membantu
dokter mengeluarkan proyektil peluru itu!” pinta suster Rahma.
“Saya akan bilang dulu ke atasan kamu,
serka Rini kan! Lalu kalau nanti diizinkan, kamu boleh bergabung di tim saya!”
kata dokter Intan.
Setelah
dokter Intan kembali ke ruang Instalasi Gawat Darurat, suster Rahma duduk di
samping letnan Agus, sambil masih terpekur memandangi rompi anti peluru yang
bersimbah darah di bagian bahu kanannya.
“Kamu pacarnya Jono ya?” Tanya letnan
Agus yang hanya mendapat gelengan kepala dari suster Rahma.
“Adiknya? Atau mbak nya?” dan lagi-lagi
suster Rahma menggeleng.
“Lalu kamu siapanya? Mantan pacarnya?”
“Letnan, di saat seperti ini kamu masih
sempat mewawancarai aku?” keluh suster Rahma.
“Maaf! Saya nggak bermaksud!”
Dokter
Intan terperanjat ketika mendapati letnan Jono sudah duduk di samping
ranjangnya, dengan beberapa perawat yang tercengang melihat letnan Jono
menyiramkan sebotol alcohol ke luka di bahunya.
“Letnan, kamu harus segera di operasi!”
kata dokter Intan. Letnan Jono menatap dokter Intan dan membuka pakaian yang
melekat di tubuhnya dan tatapannya kini mengarah kepada luka yang masih
mengucurkan sedikit darah.
“Apa pangkat mu?” Tanya letnan Jono,
tanpa pikir panjang, dokter Intan melepas pakaian dokternya, dan terlihat jelas
dua strip kuning di bahu nya.
“Kita sama!” kata letnan Intan.
“Aku minta morfin!” kata letnan Jono.
“Permintaanmu ditolak tujuh kali!”
“Ya sudah!” kata letnan Jono yang
langsung melipat bajunya, menggigitnya, kemudian mengambil satu pinset yang ada
di ruangan itu, dan mengorek lukanya sendiri untuk mengambil proyektil yang
bersarang di bahunya. Tidak sampai lima menit, proyektil peluru sudah dapat
dicabut oleh letnan Jono sendiri. Dia lalu berdiri, menyiram alcohol di lukanya
dan menghampiri letnan Intan, kemudian memberikan proyektil peluru itu kepada
letnan Intan.
“Butuh waktu berapa lama untuk operasi
pengangkatan ini?” kata letnan Jono sambil meninggalkan ruangan itu.
Suster
Rahma terkesiap ketika melihat letnan Jono yang sudah keluar ruang instalasi
gawat darurat dengan tertatih-tatih, air matanya kembali meleleh. Sebuah
keharuan tiba-tiba muncul dari dalam dirinya. Dia lalu mendekati letnan Jono
dan memandanginya dengan tatapan bahagia, rasa syukur karena mas Jono ternyata
tidak meninggal tiba-tiba muncul dari dalam hatinya. Letnan Jono pun kewalahan
mendapat tatapan dari suster Rahma.
“Kamu nggak kenapa-kenapa?” Tanya suster
Rahma.
“Nggak kok! hanya kedinginan di dalam sana!”
mereka sejenak terdiam, saling menatap.
“Kamu kenapa nangis?” Tanya letnan Jono
sambil menyeka airmata yang keluar dari mata suster Rahma.
“Aku takut kamu kenapa-kenapa!”
“Lihat, aku baik-baik saja! Dan masih
bisa menjalankan tugas!”
“Syukurlah kalau begitu!”
Letnan
Jono kembali memakai bajunya yang sudah berlumuran darah. Dia ingin kembali ke
markas dan mengganti bajunya, tapi dokter Intan melarangnya karena letnan Jono
masih harus menjalani perawatan intensif. Sempat terjadi ketegangan antara dokter
Intan dan letnan Jono masalah hal kecil seperti itu, letnan Jono merasa bahwa
dirinya kuat kenapa harus dirawat, disamping itu letnan Jono melihat pangkat
dokter Intan sama dengan pangkat dirinya, jadi untuk apa dia menuruti perintah
dokter Intan. Bagi letnan Jono, kamar
perawatan hanya untuk orang sakit yang tidak bisa berjalan sedangkan
letnan Jono masih dapat berlari dengan kekuatannya. Di tengah perdebatan itu
suster Rahma dengan linangan air mata, dan dengan suara lirih memohon kepada
letnan Jono.
“Mas, kamu harus dirawat!” katanya lagi.
“Aku yang akan merawat kamu!” akhirnya, keteguhan letnan Jono luluh karena
beberapa tetes air mata dari mata suster Rahma.
Dia
dirawat di paviliun yang sama dengan paviliun tempat letnan Andina dirawat,
hanya di ruangan lain. Malam itu baru jam tujuh, tapi letnan Jono sudah
terlelap dalam tidurnya karena memang dia sudah terlalu lelah sedari pagi
letnan Jono menjalani tugas dan latihan di sore harinya. Suster Rahma tidak
bisa terus menerus menunggui letnan Jono, dia masih punya banyak tugas yang
harus diselesaikan dia meninggalkan letnan Jono setelah menaikkan selimut ke
dada letnan Jono. Dia kembali ke ‘pos’ dan memberikan laporan kepada atasannya.
Suster Rahma tercekat ketika melihat letnan Andina dengan PDH (Pakaian Dinas
Harian) lengkap dengan tanda pangkat dan beberapa brevet yang pernah
didapatinya berjalan keluar dari kamar perawatannya dan menemui suster Rahma.
“Saya ingin menjenguk letnan Jono!”
“Tapi dia sudah tidur!” kata suster itu
pelan.
“Aku hanya ingin lihat bagaimana
keadaannya dia!”
“Ya! Perlu dihantar?” suster Rahma
menawarkan jasa.
“Hm, nggak perlu! Terima kasih!”
Letnan
Andina melihat satu kegelisahan di raut wajah letnan Jono malam itu. Seakan ada
penyesalan yang tidak bisa hilang dari dalam dirinya. Kenapa letnan Jono bisa
se menyesal itu, padahal mereka berdua baru bertemu kurang dari dua puluh empat
jam setelah kejadian itu, kejadian yang menewaskan iptu Arifin. Letnan Jono
mengalami mimpi buruk. Hampir setiap malam sejak tewasnya iptu Arifin, letnan
Jono tidak bisa tidur nyenyak. Dihantui perasaan bersalah karena telah
membiarkan iptu Arifin memilih. Lebih-lebih sejak mendengar kabar bahwa Andina
berusaha untuk melupakan Arifin
“Letnan, ada yang menjenguk!” kata
suster Rahma.
“Siapa?” Tanya letnan Andina.
“Keluarga kamu, dan kolonel Wahyudi!”
“Ciyus??” heran letnan Andina sambil
mematut-matut pakaian dinasnya. Sementara itu kolonel Wahyudi, pak Wiwit dan
istrinya sudah berada di ambang pintu ruang perawatan itu. dengan sikap
sempurna, letnan Andina memberi hormat kepada kolonel Wahyudi dan menyalaminya
serta kedua orangtuanya.
“Bagaimana kabar kalian?”
“Saya sudah agak mendingan ndan! Tapi
Jono!”
“Dia akan segera sembuh!” katanya lagi.
“Saya sangat mengenal anak ini! dia sangat kuat!”
“Siap ndan!”
“Santai saja nak! Ini bukan jam tugas!”
kata kolonel Wahyudi. Pak kolonel mash menunggu laporan dari alat komunikasi
yang dipegang di tangan kanannya.
“Bagaimana keadaannya Naryo mohon ijin?”
Tanya letnan Andina.
“Beberapa menit lalu mereka sudah sampai
di lokasi” kata kolonel Wahyudi sambil masih menunggu kabar dari anak buahnya.
Alat komunikasi itu terhubung langsung ke markas detasemen, dan sarana
komunikasi yang ada di markas detasemen berhubungan langsung dengan prajurit
yang sedang bertugas. Tidak lama, terdengar kabar dari markas detasemen.
Pasukan
DENJAKA berhasil merebut kapal minyak yang disandera di perairan Somalia dalam
waktu kurang dari satu jam. Dari pihak lawan tiga orang tewas saat memberikan
perlawanan, dan dua puluh lainnya dapat ditangkap hidup-hidup. Dari pihak
sandera satu orang terkena luka tembak sehingga harus diberikan pertolongan
medis. Dan dari tim detasemen, satu orang KIA (Killed In Action) Sersan Hadi
gugur saat menjalankan tugasnya. Mendengar berita itu, kolonel Wahyudi
menundukkan kepala mengheningkan cipta dan hal tersebut dilakukan juga oleh
letnan Andina.
“Hadi!!” letnan Jono tersentak dari
tidurnya.
“Hadi kenapa Jono?” Tanya Andina.
“Dia gugur!”
“Ya, Jono!”
“Kalau tidak salah, istrinya sedang
melahirkan!” kata suster Rahma yang dari tadi sudah bersama mereka.
Sudah
pembukaan sembilan, entah kenapa tidak ada kesulitan bagi Diana istri dari
sersan Hadi untuk melahirkan anaknya, anak pertama dari sersan Hadi anak
laki-laki yang akan menjadi kuat seperti bapaknya. Usianya ketika melahirkan
anak sersan Hadi adalah dua puluh empat tahun, dan sersan Hadi berusia dua
puluh lima tahun. Diana masih terlalu muda untuk hidup sebagai seorang janda. Diana
dengan setia menanti suaminya pulang untuk memberitakan kabar bahagia kelahiran
anaknya. Sambil masih menyusui bayinya, dia tidak menyangka akan kedatangan
seorang yang berpakaian sama dengan pakaian suaminya, hanya saja ada tiga
kembang di kerah bajunya.
“Selamat ya atas kelahiran anak kalian!”
kata pak kolonel ramah.
“Ya, pak! Terima kasih!”
Kolonel
Wahyudi sangat tidak bisa menyusun kata-kata untuk menyampaikan berita kematian
sersan Hadi. Dia tidak bisa
menghancurkan perasaan dari seorang ibu yang baru melahirkan anaknya dan di
saat bersamaan ibu itu harus mendengar kabar kematian suaminya. Jadi kolonel
Wahyudi memutuskan untuk tidak memberitakan kabar itu kepada Diana. Biar Naryo
atau yang bertugas disana yang akan menyampaikan berita itu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Satu peleton tim
Detasemen Jala Mangkara, pasukan khusus anti terror aspek laut sedang
menjalankan tugasnya memberantas terorisme di sebuah kapal minyak Indonesia
yang dibajak di lautan Somalia, karena itulah fungsi Detasemen Jala Mangkara,
sebagai anti terror aspek laut yang dibentuk pada 4 Nopember 1986. Sersan Hadi
adalah satu dari anggota detasemen yang ditugaskan untuk membebaskan kapal itu
dari perompak yang membajaknya.
“Sersan, kamu baik-baik saja?” Tanya
letnan Naryo, komandan tim nya.
“Siap, baik (koma)ndan!” tegasnya
menjawab pertanyaan dari atasannya itu.
“Ini bulan kesembilan istri kamu
mengandung ‘kan?” Tanya atasannya lagi.
“Siap benar ndan!” jawabnya.
“Ikut saya sekarang!” perintah letnan
Naryo yang langsung diikuti oleh sersan Hadi. Letnan Naryo membawanya ke
belakang pesawat. Dia ingin bicara hal pribadi.
“Maafkan saya, melibatkanmu dalam misi
ini!” kata letnan Naryo.
“Dari dulu, saya sangat ingin sekali
meneruskan perjuangan kakek saya sebagai seorang marinir, dulu kakek saya
selalu bercerita tentang kisah heroiknya kepada kami. Saya, kakak saya, dan
kepada adik-adik saya”
“Tapi sekarang berbeda dengan yang
dahulu! Kalau dulu memang kita masih berperang! Tapi, sekarang lain!”
“Biar bagaimanapun, ini adalah pilihan
kata hati saya! Menjadi seorang yang berjuang untuk negaranya” letnan Naryo
mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Sejenak, dia memperhatikan
anggota tim nya.
“Disini hanya kamu yang sudah menikah!
Apakah kamu ingin mundur?” tanyanya.
“Tidak ndan! Saya tidak akan mundur!
Saya sudah melihat kematian saya!”
“Aku menghargai itu sersan!”
“Lima menit bersiap!” pilot pesawat
sudah memberi aba-aba untuk mempersiapkan dirinya masing-masing dalam lima
menit. Satu peleton itu pun mempersiapkan dirinya untuk melakukan pendaratan di
kapal yang sudah dibajak oleh bajak laut itu.
“Jangan ada kesalahan mengerti!!”
perintah letnan Naryo.
“Siap mengerti!” tegas mereka. Satu per
satu pasukan terjun malam itu menuju titik penyelamatan. Bukanlah hal yang
sulit bagi mereka untuk terjun di malam hari, karena untuk itulah mereka
dilatih, pasukan Detasemen Jala Mangkara bergelayutan di parasut mereka
masing-masing seperti buah belimbing matang yang masih bergantungan di
dahannya. Semua pasukan sudah berada di geladak kapal itu. Seperti semboyannya.
Maya Netra Yama Dipati, tak terlihat
tapi mematikan. Begitulah seharusnya pertempuran malam itu, kalau tidak ada
kesalahan dari sersan Aris, rekan sejawat sersan Hadi, ketika seorang perompak
melihat dirinya, dan menembakkan sebutir peluru ke arah sersan Aris.
“Cuk!” sersan Aris menembakkan
senjatanya ke arah perompak itu, dan suara senjatanya itu membuat semua
perompak bersiap untuk melawan mereka.
“Ris, ojo bengok-bengok dobol kon!” misuh sersan Miskan. Kontak senjata
tidak dapat dihindari lagi malam itu. Letnan Naryo, sersan Hadi, prajurit
Sapto, dan sersan Aris mencari teroris lain yang ada, sambil masih menembakkan
peluru dari senapannya masing-masing. Sampai pada satu ruangan, sersan Hadi yang
berada di depan bersiap untuk mendobrak pintu itu.
“Mohon ijin ndan! Masih ada munisi?”
Tanya sersan Hadi. Letnan Naryo lalu memberikan satu magasen berisi penuh
peluru, dan memberikan satu unit pistol FN miliknya.
“Jangan boros!” perintahnya. Pintu terbuka,
dan seorang perompak langsung menembakkan senapannya ke sersan Hadi, tepat di
kerongkongannya dan roboh lah sersan Hadi. Sersan Hadi bahkan belum menembakkan
sebutir peluru pun dari pistol yang diberikan oleh letnan Naryo.
“Satu merah!” seru letnan Naryo sambil
memberondongi perompak itu dengan senapan SS1
Marines nya, dan matilah perompak itu. Letnan Naryo melihat jam yang ada di
tangannya. Pukul empat lewat tiga puluh menit. Detasemen Jala Mangkara,
berhasil menggagalkan perompakan itu dalam waktu kurang dari satu jam, tapi
harus kehilangan seorang prajurit terbaiknya. Sersan Hadi, gugur di taman
bhakti, tepat saat puteranya menangis untuk pertama kalinya, putera yang
merindukan dekapan kehangatan dari seorang ayah, dan anak itu tidak akan mendapatkan
pelukan itu dari ayah kandungnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar