Sabtu, 07 September 2013

Melati Gugur Di Medan Laga (Eps 3)


                 Kolonel Wahyudi duduk termenung di meja nya sambil sesekali memainkan korek gas miliknya. Dia baru mendapat kabar bahwa salah satu kapal minyak Indonesia di perairan Somalia, dibajak oleh perompak bersenjata di Somalia. Karena keberhasilan tim Detasemen Jala Mangkara dalam pencegahan masuknya obat-obatan terlarang ke Indonesia, presiden menurunkan perintah langsung kepada tim tersebut untuk melakukan pembebasan sandera di Somalia. Kolonel Wahyudi masih termenung di meja kerjanya, sudah pasti dia akan memberi perintah kepada letnan Hermawan, anggota Detasemen Jalamangkara yang berasal dari Korps Pasukan Katak. Tapi, tetap saja menurut kolonel Wahyudi, letnan Hermawan membutuhkan rekan kerja entah itu sebagai komando teknis atau komando taktis.
            Kepada seluruh komandan tim Detasemen Jala Mangkara, baik yang sedang bertugas ataupun tidak bertugas, harap segera memenuhi panggilan ke markas detasemen. Saya ulangi, seluruh komandan tim Detsemen Jala Mangkara, baik yang sedang bertugas maupun yang tidak bertugas, harap segera memenuhi panggilan ke markas detasemen, dalam lima belas menit.
            Kolonel Wahyudi memanggil semua anak buahnya melalui radio komunikasi yang dimiliki oleh masing-masing komandan tim.
            Letnan Soewoko yang pada waktu itu sedang berlatih bersama anak buahnya segera mengakhiri latihan menembak itu. Letnan Soewoko segera mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih rapih dari yang digunakannya untuk latihan.
“Kalian bersiap dan tunggu perintah selanjutnya!” kata letnan Soewoko kepada anak buahnya.
“Siap ndan!” kata seluruh pasukan tim nya.
            Letnan Jono dan letnan Naryo yang pada waktu itu sedang berada di Rumah Sakit mendengar perintah itu dengan sangat jelas mereka saling menatap, begitupun letnan Andina yang langsung duduk di ranjangnya.
“Segera!” tandas letnan Andina. “Kamu tidak mengerti apa kata kolonel Wahyudi?”
            Dengan segera, kedua letnan itu berlari keluar ruang perawatan rekan kerjanya, dan di tengah keburu-buruannya mereka bertemu dengan suster Rahmawati, suster cantik dengan rambut panjang jatuh di bahunya. Letnan Naryo segera berlalu, tapi tidak dengan letnan Jono. Pandangan suster Rahmawati seakan membius letnan Jono dan membuatnya sulit untuk melangkahkan kakinya, sangat berat dia meninggalkan gadis yang baru ditemuinya pagi tadi.
“Mas, mau ke mana?” pertanyaan itu bagai sebuah perangkap dimana letnan Jono tidak bisa melarikan diri dari perangkap itu.
“Maaf mbak, kami sedang ada tugas dadakan!” kata letnan Naryo.
“Mas, hati-hati ya!” kata suster Rahmawati. Suaranya sangat lembut, dan sarat akan ketidakrelaan seorang gadis yang akan ditinggal oleh kekasihnya, padahal siapa letnan Jono, kenapa begitu cepat perasaan suka bersemi di dalam hati suster Rahma, tidak perasaan itu belum tumbuh di dalam hati suster Rahma.
            Jam satu siang di markas detasemen, Mayor Dibyo, letnan Soewoko, letnan Naryo, letnan Jono dan letnan Agus sudah dalam posisi siap di depan meja komandannya, paling tidak sampai kolonel Wahyudi memerintahkan anak buahnya untuk istirahat ditempat. Dia masih berusaha untuk menyampaikan perintah dari komando atas.
“Satu unit kapal niaga kita di Somalia telah dibajak oleh perompak! Dan perintah langsung turun kepada tim ini untuk melakukan pembebasan sandera!” katanya lagi “Kemarin kita kehilangan satu orang! Saya tidak ingin hal ini terjadi untuk kedua kalinya! Kalian harus mengikuti serangkaian tes! Mengerti?”
“Siap mengerti!” tegas lima perwira itu.
            Serangkaian tes tersebut adalah tes selam, menembak, dan adu menembak. Di tes selam adalah tahap pertama. Ke empat komandan tim itu akan diceburkan kedalam air hanya dengan menggunakan celana pendek, dan selama didalam air, mereka harus bisa memakai pakaian lengkap dengan sepatu. Siapa yang tercepat dia yang mendapatkan nilai paling tinggi, dalam tes ini letnan Jono dan letnan Soewoko mendapat nilai tertinggi dengan waktu lima menit, letnan Naryo dapat menyelesaikan dalam tujuh menit delapan detik, dan letnan Agus menyelesaikannya dalam waktu sembilan menit. Tes ke dua adalah tes menembak, keempat perwira itu harus mampu menembak dengan senapan dalam jarak delapan ratus meter, enam ratus meter, dan lima ratus meter, menembak dengan pistol dalam jarak delapan puluh meter, enam puluh meter, dan empat puluh meter, di tes ini siapa yang mengenai target paling banyak, dia yang mendapat nilai tertinggi. Tes yang terakhir adalah kecepatan merakit senjata dan tembak reflek. Keempat perwira itu berbaris dengan rapih di lapangan tembak.
“Pilih pasangan kalian!” perintah mayor Dibyo, dan mereka pun memilih pasangannya, sudah pasti letnan Jono berpasangan dengan letnan Naryo dan letnan Soewoko berpasangan dengan letnan Agus. Dan mereka harus saling beradu tembak dalam jarak seratus meter setelah sebelumnya mereka beradu cepat dalam merakit pistol Glock 19 Tipe C. Giliran pertama adalah letnan Hermawan dan letnan Agus. Dengan cepat, mereka  merakit senjata kemudian saling membidik dan menembak. Proyektil dari pistol milik letnan Hermawan tepat mengenai rompi antipeluru yang digunakan oleh letnan Agus yang belum sempat memasukan sebutir peluru pun. Giliran kedua adalah letnan Naryo, dan letnan Jono.
“Jo, biar aku saja yang berangkat!” pinta letnan Naryo sebelum mereka masuk lapangan tembak.
“Aku ingin menemui Arifin! Tolong jaga Andina!”
“Kalau itu maumu, oke!” kata letnan Naryo datar. Dalam hatinya dia tidak akan pernah merelakan temannya pergi bertugas tanpa dirinya. Biar dia saja yang mati di medan pertempuran, tapi jangan Jono. Hal yang sama dialami oleh letnan Jono yang tidak ingin letnan Naryo berangkat ke pertempuran. Bukan karena dia tidak suka, tapi lebih karena dia tidak ingin temannya itu celaka.
            Duel antara dua sahabat itu membuat seluruh prajurit bergidik, mereka mengenal dua letnan itu adalah sahabat karib, mereka selalu bersama dalam suka dan duka. Dan kini harus berada diantara hidup dan mati. Peluit telah dibunyikan, artinya duel dimulai, dengan cepat mereka merakit senjata yang ada di depan mereka, dan satu tembakan keluar dari pistol kedua letnan itu, kedua proyektil peluru itu saling hantam dan tidak melanjutkan gerak nya. Tanpa pikir panjang, letnan Jono mengisi peluru ke bilik yang ada di pistolnya, tapi naas di dalam magasen pistol yang dipegang letnan Naryo masih tersisa satu butir peluru, hal itu memang biasa dilakukan oleh kedua letnan itu, namun karena letnan Jono merasa optimis dapat mengalahkan letnan Naryo dengan satu peluru, dia tidak memasukkan dua butir peluru ke magasennya dia langsung menembakkannya ke arah letnan Jono, dan tepat mengenai bahu kanannya. Darah segar keluar dari bahu kanan letnan Jono, dan membasahi seluruh pakaiannya dia rubuh dan tidak sadarkan diri. Mayor Dibyo segera memerintahkan letnan Agus untuk mengevakuasi letnan Jono ke Rumah Sakit Marinir.
“Kepada letnan Hermawan, dan letnan Naryo, harap segera memilih dua belas prajurit terbaik dari tim Detasemen Jalamangkara, dalam waktu seratus dua puluh menit!” perintah kolonel Wahyudi.
            Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Marinir Cilandak yang tadinya sepi, mendadak riuh dengan kehadiran letnan Jono yang bersimbah darah di papah oleh letnan Agus, rekannya. Letnan Intan yang bertugas sebagai dokter jaga waktu itu tidak mengerti bagaimana melepas rompi antipeluru yang dipakai oleh personel tim Detasemen Jala Mangkara, jadi dia meminta letnan Agus untuk melepas rompi antipeluru milik letnan Jono. Dengan segera, letnan Agus melepas rompi antipeluru yang masih melekat di tubuh letnan Jono, kemudian dia keluar ruangan itu dan menunggu di ruang tunggu. Dengan lesu, letnan Agus duduk di deretan belakang dan menyandarkan kepalanya di dinding rumah sakit. Sudah jam setengah empat, letnan Agus dapat mengetahui dari jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, dengan darah letnan Jono yang membasahi seluruh telapak tangannya. Kemudian letnan Agus meletakkan rompi anti peluru milik letnan Jono disebelahnya. Dia terperanjat, ketika disampingnya sudah berdiri seorang perawat yang menatapnya seolah meminta keterangan kenapa dan siapa yang terluka. Di dada kanannya tersemat namanya. Rahmawati.
“Letnan, ada apa?” tanya perawat itu lembut.
“Biasa mbak! Kecelakaan saat latihan!”
“Boleh, saya lihat rompi ini?” tanya suster Rahma. Dan letnan Agus memberikan benda itu kepada suster Rahma. Perawat itu memperhatikan benda yang ada di tangannya dengan saksama, dia tidak bisa menahan tangisnya ketika mengetahui siapa pemilik benda yang ada di tangannya itu. Ada nama pemiliknya, meski sudah terkena noda darah, suster Rahma bisa membacanya dengan jelas. “Jono” dengan dua strip hitam horizontal yang saling menumpuk, dan satu garis vertikal merah yang membelah dua strip hitam itu. Letnan Agus mengerti kesedihan dari suster Rahma, dia berusaha meyakinkan suster Rahma bahwa tidak terjadi apa-apa kepada letnan Jono. Suster Rahma memohon agar dia boleh membawa dan menyimpan benda itu. Awalnya letnan Agus menolak dan tidak mengijinkan, dengan mata bersimbah air mata, suster Rahma memohon dan berjanji akan mengembalikannya segera. Akhirnya, letnan Agus luluh, dan mengijinkannya.
            Suster Rahma lalu berlari, menuju tempatnya bertugas setelah dia memberikan laporan kepada atasannya. Setelah sampai di pos nya, dia mengambil satu kantong plastik yang cukup besar dan memasukkan rompi antipeluru milik letnan Jono kedalam kantong plastik itu, dan membawa benda itu ke ruang perawatan letnan Andina. Di seberang ranjang letnan Andina sudah ada ibu hamil yang sedang menjalani perawatan, jadi suster Rahma menutup tirai yang mengelilingi ranjang Andina. Sambil masih menahan tangisnya, dia mengeluarkan rompi antipeluru itu. Dan meminta penjelasan kepada letnan Andina. Letnan cantik itu sempat terperanjat ketika mengetahui hal itu menimpa rekannya.
“Terkena tulang bahu! Bukan organ vital!” kata letnan Andina. Suster Rahma dapat bernafas lega setelah mendengar penjelasan dari Andina.
            Tapi peluru yang masuk di bahu letnan Jono peluru timah atau peluru mesiu? Jika peluru timah, hanya akan bersarang di bahu letnan Jono dan bisa diangkat. Tapi jika peluru timah dan mesiu yang biasa digunakan oleh tentara, kemungkinan akan membusuk di sana dan untuk mencapai kesembuhan letnan Jono harus diamputasi untuk menghentikan pembusukan akibat ledakan mesiu di dalam tubuhnya.
“Kamu jangan nakut-nakutin aku dong!” pinta Rahma. Air mata mulai menetes dari matanya.
“Kenapa? kamu sayang sama dia?”
“Sepertinya begitu!” katanya sambil terisak.
“Kenapa kamu sayang sama dia?”
“Karena aku nggak tahu kenapa setiap bertemu dia ada yang bergejolak di hatiku!”
“Cie!! Sudah, kalau kalian memang jodoh, pasti ketemu deh! Takkan lari gunung dikejar!”
“Ya, semoga saja dia nggak kenapa-kenapa!”
            Rahma tidak tahu apa yang terjadi di dalam dirinya, membuat perasaannya semakin berkecamuk. Seperti gelombang laut selatan perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya. Menciptakan getaran-getaran lain dalam dirinya. Dia sendiri tidak mengerti kenapa secepat itu dia bisa menyukai letnan Jono, letnan muda yang pada pagi hari menyapanya, yang mengajaknya makan siang bersama saat menjelang siang, dan yang menatapnya dengan tatapan cinta beberapa saat sebelum satu butir peluru menembus bahunya.
“Harus segera di operasi untuk mengangkat proyektil!” kata dokter Intan kepada letnan Agus dan suster Rahma.
“Apa harus diamputasi dok?” Tanya suster Rahma khawatir.
“Nggak kok! Pelurunya tidak terlalu membahayakan, lagipula yang tertembak bukan di organ vital!” kata dokter Intan.
“Silahkan dokter lakukan sesuai prosedur!” kata letnan Agus.
“Baik! Kami akan berusaha sebisa kami!” kata dokter Intan.
“Dokter, ijinkan saya ikut membantu dokter mengeluarkan proyektil peluru itu!” pinta suster Rahma.
“Saya akan bilang dulu ke atasan kamu, serka Rini kan! Lalu kalau nanti diizinkan, kamu boleh bergabung di tim saya!” kata dokter Intan.
            Setelah dokter Intan kembali ke ruang Instalasi Gawat Darurat, suster Rahma duduk di samping letnan Agus, sambil masih terpekur memandangi rompi anti peluru yang bersimbah darah di bagian bahu kanannya.
“Kamu pacarnya Jono ya?” Tanya letnan Agus yang hanya mendapat gelengan kepala dari suster Rahma.
“Adiknya? Atau mbak nya?” dan lagi-lagi suster Rahma menggeleng.
“Lalu kamu siapanya? Mantan pacarnya?”
“Letnan, di saat seperti ini kamu masih sempat mewawancarai aku?” keluh suster Rahma.
“Maaf! Saya nggak bermaksud!”
            Dokter Intan terperanjat ketika mendapati letnan Jono sudah duduk di samping ranjangnya, dengan beberapa perawat yang tercengang melihat letnan Jono menyiramkan sebotol alcohol ke luka di bahunya.
“Letnan, kamu harus segera di operasi!” kata dokter Intan. Letnan Jono menatap dokter Intan dan membuka pakaian yang melekat di tubuhnya dan tatapannya kini mengarah kepada luka yang masih mengucurkan sedikit darah.
“Apa pangkat mu?” Tanya letnan Jono, tanpa pikir panjang, dokter Intan melepas pakaian dokternya, dan terlihat jelas dua strip kuning di bahu nya.
“Kita sama!” kata letnan Intan.
“Aku minta morfin!” kata letnan Jono.
“Permintaanmu ditolak tujuh kali!”
“Ya sudah!” kata letnan Jono yang langsung melipat bajunya, menggigitnya, kemudian mengambil satu pinset yang ada di ruangan itu, dan mengorek lukanya sendiri untuk mengambil proyektil yang bersarang di bahunya. Tidak sampai lima menit, proyektil peluru sudah dapat dicabut oleh letnan Jono sendiri. Dia lalu berdiri, menyiram alcohol di lukanya dan menghampiri letnan Intan, kemudian memberikan proyektil peluru itu kepada letnan Intan.
“Butuh waktu berapa lama untuk operasi pengangkatan ini?” kata letnan Jono sambil meninggalkan ruangan itu.
            Suster Rahma terkesiap ketika melihat letnan Jono yang sudah keluar ruang instalasi gawat darurat dengan tertatih-tatih, air matanya kembali meleleh. Sebuah keharuan tiba-tiba muncul dari dalam dirinya. Dia lalu mendekati letnan Jono dan memandanginya dengan tatapan bahagia, rasa syukur karena mas Jono ternyata tidak meninggal tiba-tiba muncul dari dalam hatinya. Letnan Jono pun kewalahan mendapat tatapan dari suster Rahma.
“Kamu nggak kenapa-kenapa?” Tanya suster Rahma.
“Nggak kok! hanya kedinginan di dalam sana!” mereka sejenak terdiam, saling menatap.
“Kamu kenapa nangis?” Tanya letnan Jono sambil menyeka airmata yang keluar dari mata suster Rahma.
“Aku takut kamu kenapa-kenapa!”
“Lihat, aku baik-baik saja! Dan masih bisa menjalankan tugas!”
“Syukurlah kalau begitu!” 
            Letnan Jono kembali memakai bajunya yang sudah berlumuran darah. Dia ingin kembali ke markas dan mengganti bajunya, tapi dokter Intan melarangnya karena letnan Jono masih harus menjalani perawatan intensif. Sempat terjadi ketegangan antara dokter Intan dan letnan Jono masalah hal kecil seperti itu, letnan Jono merasa bahwa dirinya kuat kenapa harus dirawat, disamping itu letnan Jono melihat pangkat dokter Intan sama dengan pangkat dirinya, jadi untuk apa dia menuruti perintah dokter Intan. Bagi letnan Jono, kamar  perawatan hanya untuk orang sakit yang tidak bisa berjalan sedangkan letnan Jono masih dapat berlari dengan kekuatannya. Di tengah perdebatan itu suster Rahma dengan linangan air mata, dan dengan suara lirih memohon kepada letnan Jono.
“Mas, kamu harus dirawat!” katanya lagi. “Aku yang akan merawat kamu!” akhirnya, keteguhan letnan Jono luluh karena beberapa tetes air mata dari mata suster Rahma.
            Dia dirawat di paviliun yang sama dengan paviliun tempat letnan Andina dirawat, hanya di ruangan lain. Malam itu baru jam tujuh, tapi letnan Jono sudah terlelap dalam tidurnya karena memang dia sudah terlalu lelah sedari pagi letnan Jono menjalani tugas dan latihan di sore harinya. Suster Rahma tidak bisa terus menerus menunggui letnan Jono, dia masih punya banyak tugas yang harus diselesaikan dia meninggalkan letnan Jono setelah menaikkan selimut ke dada letnan Jono. Dia kembali ke ‘pos’ dan memberikan laporan kepada atasannya. Suster Rahma tercekat ketika melihat letnan Andina dengan PDH (Pakaian Dinas Harian) lengkap dengan tanda pangkat dan beberapa brevet yang pernah didapatinya berjalan keluar dari kamar perawatannya dan menemui suster Rahma.
“Saya ingin menjenguk letnan Jono!”
“Tapi dia sudah tidur!” kata suster itu pelan.
“Aku hanya ingin lihat bagaimana keadaannya dia!”
“Ya! Perlu dihantar?” suster Rahma menawarkan jasa.
“Hm, nggak perlu! Terima kasih!”
            Letnan Andina melihat satu kegelisahan di raut wajah letnan Jono malam itu. Seakan ada penyesalan yang tidak bisa hilang dari dalam dirinya. Kenapa letnan Jono bisa se menyesal itu, padahal mereka berdua baru bertemu kurang dari dua puluh empat jam setelah kejadian itu, kejadian yang menewaskan iptu Arifin. Letnan Jono mengalami mimpi buruk. Hampir setiap malam sejak tewasnya iptu Arifin, letnan Jono tidak bisa tidur nyenyak. Dihantui perasaan bersalah karena telah membiarkan iptu Arifin memilih. Lebih-lebih sejak mendengar kabar bahwa Andina berusaha untuk melupakan Arifin
“Letnan, ada yang menjenguk!” kata suster Rahma.
“Siapa?” Tanya letnan Andina.
“Keluarga kamu, dan kolonel Wahyudi!”
“Ciyus??” heran letnan Andina sambil mematut-matut pakaian dinasnya. Sementara itu kolonel Wahyudi, pak Wiwit dan istrinya sudah berada di ambang pintu ruang perawatan itu. dengan sikap sempurna, letnan Andina memberi hormat kepada kolonel Wahyudi dan menyalaminya serta kedua orangtuanya.
“Bagaimana kabar kalian?”
“Saya sudah agak mendingan ndan! Tapi Jono!”
“Dia akan segera sembuh!” katanya lagi. “Saya sangat mengenal anak ini! dia sangat kuat!”
“Siap ndan!”
“Santai saja nak! Ini bukan jam tugas!” kata kolonel Wahyudi. Pak kolonel mash menunggu laporan dari alat komunikasi yang dipegang di tangan kanannya.
“Bagaimana keadaannya Naryo mohon ijin?” Tanya letnan Andina.
“Beberapa menit lalu mereka sudah sampai di lokasi” kata kolonel Wahyudi sambil masih menunggu kabar dari anak buahnya. Alat komunikasi itu terhubung langsung ke markas detasemen, dan sarana komunikasi yang ada di markas detasemen berhubungan langsung dengan prajurit yang sedang bertugas. Tidak lama, terdengar kabar dari markas detasemen.
            Pasukan DENJAKA berhasil merebut kapal minyak yang disandera di perairan Somalia dalam waktu kurang dari satu jam. Dari pihak lawan tiga orang tewas saat memberikan perlawanan, dan dua puluh lainnya dapat ditangkap hidup-hidup. Dari pihak sandera satu orang terkena luka tembak sehingga harus diberikan pertolongan medis. Dan dari tim detasemen, satu orang KIA (Killed In Action) Sersan Hadi gugur saat menjalankan tugasnya. Mendengar berita itu, kolonel Wahyudi menundukkan kepala mengheningkan cipta dan hal tersebut dilakukan juga oleh letnan Andina.
“Hadi!!” letnan Jono tersentak dari tidurnya.
“Hadi kenapa Jono?” Tanya Andina.
“Dia gugur!”
“Ya, Jono!”
“Kalau tidak salah, istrinya sedang melahirkan!” kata suster Rahma yang dari tadi sudah bersama mereka.
            Sudah pembukaan sembilan, entah kenapa tidak ada kesulitan bagi Diana istri dari sersan Hadi untuk melahirkan anaknya, anak pertama dari sersan Hadi anak laki-laki yang akan menjadi kuat seperti bapaknya. Usianya ketika melahirkan anak sersan Hadi adalah dua puluh empat tahun, dan sersan Hadi berusia dua puluh lima tahun. Diana masih terlalu muda untuk hidup sebagai seorang janda. Diana dengan setia menanti suaminya pulang untuk memberitakan kabar bahagia kelahiran anaknya. Sambil masih menyusui bayinya, dia tidak menyangka akan kedatangan seorang yang berpakaian sama dengan pakaian suaminya, hanya saja ada tiga kembang di kerah bajunya.
“Selamat ya atas kelahiran anak kalian!” kata pak kolonel ramah.
“Ya, pak! Terima kasih!”
            Kolonel Wahyudi sangat tidak bisa menyusun kata-kata untuk menyampaikan berita kematian sersan Hadi.  Dia tidak bisa menghancurkan perasaan dari seorang ibu yang baru melahirkan anaknya dan di saat bersamaan ibu itu harus mendengar kabar kematian suaminya. Jadi kolonel Wahyudi memutuskan untuk tidak memberitakan kabar itu kepada Diana. Biar Naryo atau yang bertugas disana yang akan menyampaikan berita itu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Satu peleton tim Detasemen Jala Mangkara, pasukan khusus anti terror aspek laut sedang menjalankan tugasnya memberantas terorisme di sebuah kapal minyak Indonesia yang dibajak di lautan Somalia, karena itulah fungsi Detasemen Jala Mangkara, sebagai anti terror aspek laut yang dibentuk pada 4 Nopember 1986. Sersan Hadi adalah satu dari anggota detasemen yang ditugaskan untuk membebaskan kapal itu dari perompak yang membajaknya.
“Sersan, kamu baik-baik saja?” Tanya letnan Naryo, komandan tim nya.
“Siap, baik (koma)ndan!” tegasnya menjawab pertanyaan dari atasannya itu.
“Ini bulan kesembilan istri kamu mengandung ‘kan?” Tanya atasannya lagi.
“Siap benar ndan!” jawabnya.
“Ikut saya sekarang!” perintah letnan Naryo yang langsung diikuti oleh sersan Hadi. Letnan Naryo membawanya ke belakang pesawat. Dia ingin bicara hal pribadi.
“Maafkan saya, melibatkanmu dalam misi ini!”  kata letnan Naryo.
“Dari dulu, saya sangat ingin sekali meneruskan perjuangan kakek saya sebagai seorang marinir, dulu kakek saya selalu bercerita tentang kisah heroiknya kepada kami. Saya, kakak saya, dan kepada adik-adik saya”
“Tapi sekarang berbeda dengan yang dahulu! Kalau dulu memang kita masih berperang! Tapi, sekarang lain!”
“Biar bagaimanapun, ini adalah pilihan kata hati saya! Menjadi seorang yang berjuang untuk negaranya” letnan Naryo mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Sejenak, dia memperhatikan anggota tim nya.
“Disini hanya kamu yang sudah menikah! Apakah kamu ingin mundur?” tanyanya.
“Tidak ndan! Saya tidak akan mundur! Saya sudah melihat kematian saya!”
“Aku menghargai itu sersan!”
“Lima menit bersiap!” pilot pesawat sudah memberi aba-aba untuk mempersiapkan dirinya masing-masing dalam lima menit. Satu peleton itu pun mempersiapkan dirinya untuk melakukan pendaratan di kapal yang sudah dibajak oleh bajak laut itu.
“Jangan ada kesalahan mengerti!!” perintah letnan Naryo.
“Siap mengerti!” tegas mereka. Satu per satu pasukan terjun malam itu menuju titik penyelamatan. Bukanlah hal yang sulit bagi mereka untuk terjun di malam hari, karena untuk itulah mereka dilatih, pasukan Detasemen Jala Mangkara bergelayutan di parasut mereka masing-masing seperti buah belimbing matang yang masih bergantungan di dahannya. Semua pasukan sudah berada di geladak kapal itu. Seperti semboyannya. Maya Netra Yama Dipati, tak terlihat tapi mematikan. Begitulah seharusnya pertempuran malam itu, kalau tidak ada kesalahan dari sersan Aris, rekan sejawat sersan Hadi, ketika seorang perompak melihat dirinya, dan menembakkan sebutir peluru ke arah sersan Aris.
“Cuk!” sersan Aris menembakkan senjatanya ke arah perompak itu, dan suara senjatanya itu membuat semua perompak bersiap untuk melawan mereka.
“Ris, ojo bengok-bengok dobol kon!” misuh sersan Miskan. Kontak senjata tidak dapat dihindari lagi malam itu. Letnan Naryo, sersan Hadi, prajurit Sapto, dan sersan Aris mencari teroris lain yang ada, sambil masih menembakkan peluru dari senapannya masing-masing. Sampai pada satu ruangan, sersan Hadi yang berada di depan bersiap untuk mendobrak pintu itu.
“Mohon ijin ndan! Masih ada munisi?” Tanya sersan Hadi. Letnan Naryo lalu memberikan satu magasen berisi penuh peluru, dan memberikan satu unit pistol FN miliknya.
“Jangan boros!” perintahnya. Pintu terbuka, dan seorang perompak langsung menembakkan senapannya ke sersan Hadi, tepat di kerongkongannya dan roboh lah sersan Hadi. Sersan Hadi bahkan belum menembakkan sebutir peluru pun dari pistol yang diberikan oleh letnan Naryo.
“Satu merah!” seru letnan Naryo sambil memberondongi perompak itu dengan senapan SS1 Marines nya, dan matilah perompak itu. Letnan Naryo melihat jam yang ada di tangannya. Pukul empat lewat tiga puluh menit. Detasemen Jala Mangkara, berhasil menggagalkan perompakan itu dalam waktu kurang dari satu jam, tapi harus kehilangan seorang prajurit terbaiknya. Sersan Hadi, gugur di taman bhakti, tepat saat puteranya menangis untuk pertama kalinya, putera yang merindukan dekapan kehangatan dari seorang ayah, dan anak itu tidak akan mendapatkan pelukan itu dari ayah kandungnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar