I
Seorang pemuda berjalan
menyusuri peron tiga stasiun Depok dari utara menuju selatan, dia baru turun
dari kereta commuter line yang ada di jalur tiga. Pemuda itu, Krishna
Tritaksaka, dengan tas laptop hitam, kemeja hitam yang memiliki kerah putih,
dan sepatu sandal warna hitam kombinasi coklat. Pemuda itu tampak sedang
menunggu. Menunggu seseorang? Ya, dia menunggu seseorang, seorang masinis yang
mengemudikan kereta untuk menghantarnya pulang. Langkahnya tersendat ketika
melihat seorang gadis dengan baju ungu dan celana panjang hitam, yang juga baru
turun dari rangkaian kereta commuter line di jalur tiga. Rambutnya yang panjang
tidak diikat, dan disampirkan di bahunya, dan jatuh tepat di dadanya. Poni nya
melintang dari dahi kiri ke wajah sebelah kanan nya. Berdetak keras dada Krishna saat matanya bertatapan dengan mata gadis itu,
dan darahnya mengalir bahkan lebih cepat daripada kecepatan maksimal kereta
Biru Malam, sehingga nafas nya pun menjadi tak karuan. Gadis itu, mendebarkan
hati dengan satu kejapan mata, dengan seuntai kalung dari perhiasan lehernya
yang berbentuk huruf ‘T’.
Jalur empat diperhatikan KRL commuter line tujuan Bogor,
jangan menyeberangi jalur empat krl commuter line tujuan Bogor. Perhatikan karcis dan barang bawaan
anda agar tidak tertinggal, krl commuter line tujuan Bogor berikutnya,
rangkaiannya persiapan masuk stasiun Pasarminggu Baru.
Gadis itu berusaha untuk
masuk ke rangkaian kereta yang baru masuk jalur empat, tapi padatnya kereta,
sepadat cinta si pujangga kereta membuatnya tidak bisa masuk kedalam rangkaian.
Kereta pun meninggalkan stasiun Depok, dan kembali sepi. Hanya segelintir
penumpang yang tidak dapat naik yang masih menunggu di stasiun Depok. Gadis itu
duduk menunggu di sebatang rel keeta bekas, yang dirangkai sedemikian rupa
menjadi tempat duduk. Krishna duduk sehasta
disampingnya. Gadis itu sejenak melihat siapa yang duduk disampingnya, dan
tertunduk. Tak lama, hand phone nya berbunyi dan kemudian.
“Iya bu, aku masih di stasiun!” katanya.
“Iya, tadi aku naik kereta sampai Depok, terus
aku harus nunggu kereta lagi yang ke Bogor!”
“Tadi di Pasarminggu Baru!” tandasnya, dan tak
lama kemudian dia menutup hand phone nya dan memasukkannya kembali di tasnya.
“Mbak mau ke Bogor?”
tanya Krishna.
“Nggak, saya mau pulang mas!” katanya sedikit
tidak mempedulikan Krishna.
“O, pulang! Emang rumahnya di mana?”
“Saya pulang ke tempat ibu saya mas!”
“Oh, iya” Krishna
mencoba mencari materi pembicaraan baru.
“Mas pulang ke mana?” tanya gadis itu, tumbuh
satu rasa ingin tahu di dirinya untuk mengetahui banyak hal tentang orang yang
duduk disampingnya itu.
“Ke tempatnya bapak saya mbak!” singkat Krishna sambil masih mengatur gejolak dalam hatinya.
“Oh, iya mas! Di daerah mana?” tanyanya.
“Di Pabuaran!”
“Oh, di situ!”
“Mbak tahu?” tanya Krishna.
“Nggak sih! Mas yang punya rumah kok malah tanya
ke saya?” kepo banget sih ini orang….
“Iya ya, saya juga bingung! Mbak tinggal di
daerah mana?” tanya Krishna.
“Cilebut!”
“O, Cilebut ya!” seru Krishna.
“Mas tahu?” heran nya.
“Nggak begitu tahu sih! Tahu nya ya hanya
stasiunnya saja!”
“Maaf, dengan mas siapa?” tanya gadis itu.
“Krishna
Tritaksaka! Mbak siapa namanya?” kata Krishna
sambil menjulurkan tangannya.
“Ludovica Tiffany! Pakai ‘C’ bukan pakai ‘K’
oke!” singkatnya sambil menjabat tangan Krishna.
“O, jadi
saya manggilnya mbak Vica atau mbak Tiffany?” tanya Krishna.
“Panggil Tiffany saja! Nggak usah pakai ‘mbak’
saya masih muda mas!”
“Oh, ya! Panggil saya Krishna
saja! Saya juga masih muda!”
“Ya, Krishna!”
kata Tiffany sambil tersenyum. Bibir nya meneteskan madu murni, madu dan susu
ada di bawah lidah nya……
“Oiya Tiffany! Saya agak khawatir nih!”
“Khawatir kenapa Krishna?”
“Saya khawatir nanti pacar kamu marah lagi kalau
saya kenalan sama kamu!”
“Pacar? Pacar dari mana?” kata Tiffany sambil
tertawa.
“Ya siapa tahu aja! Lagipula, orang secantik
kamu belum punya pacar? Dunia ini sungguh tidak adil!”
“Belum Krishna, saya belum punya pacar! Kamu
kali! Nanti pacar kamu marah lagi!” singkat Tiffany.
“Nggak! Saya juga masih kosong! Kamu lihat wajah
saya yang suram ini, mana ada yang mau dengan saya!” kata Krishna
meratapi, meski ujung-ujungnya akan nggombal.
“Ya, orang cantik monjomblo, orang suram juga
menjomblo! Lalu siapa yang bisa berpasang-pasangan?”
“Kurang tahu!”
“Ya, sudahlah! Tidak usah terlalu di pikirkan!”
Jalur empat di perhatikan KRL Commuter Line tujuan Bogor,
jangan menyeberangi jalur empat KRL commuter Line tujuan Bogor. Bagi penumpang yang tidak dapat naik
harap jangan memaksakan diri! KRL Commuter Line tujuan Bogor berikutnya,
rangkaiannya sampai di stasiun Pondok Cina. Krishna dan Tiffany bergegas
mempersiapkan dirinya untuk masuk kedalam rangkaian kereta itu, kereta yang
cukup lengang.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Krishna baru turun di stasiun Citayam, dia bergerak keluar
meninggalkan stasiun, begitupun kereta Commuter Line yang juga perlahan
meninggalkan stasiun Citayam. Tatpannya kosong, karena Tiffany sudah mengambil
sebagian dari dirinya.uangnya? bukan! Hand phonenya? Juga bukan! Lalu apanya?
Sudah bisa ditebak. Hatinya!
“Woi, ngelamun loe? Kesurupan baru tahu rasa!”
seseorang mengagetkannya dari belakang. Kandita. E tertulis jelas di jacket
biru yang dipakainya. Kandita Ekaturangga, nama lengkapnya.
“Eh gue kira siapa!” gumam Krishna.
“Kenapa loe?” tanya Kandita.
“Mau tahu banget, atau mau tahu (s)aja!”
“Nggak mau tahu banget sih! Dan nggak mau tahu
(s)aja juga!” nyebelin banget loe Krishna!
Rasain loe nanti kualat sama gue! Gumam Kandita dalam hatinya.
“Oh, ya sudah! Loe sudah makan?” kata Krishna.
“Belum! Loe mau traktir gue?” tanya Kandita.
“Mau banget atau mau (s)aja?” canda Krishna.
“Awas loe Krish”
“Ngancam nih?” ledeknya.
“Bodo amat! Terserah deh!” katanya sambil
cemberut.
“Loe kalau lagi marah cantik banget sih!” kata Krishna sambil berjalan perlahan.
“Ah, lebay loe! Gue mau cerita nih sama loe!”
kata Kandita lesu.
“Cerita apa? Gue mau cerita juga nih sama loe!”
“O, ya sudah! Sekalian makan saja!”
“Iya! Makan di tempat biasa ya!”
“Terserah loe saja deh Krish”
Seperti biasanya, di
restoran padang itu, Kandita memesan sepotong kepala kakap besar yang
dimakannya berdua dengan Krishna, karena Kandita belum tentu bisa menghabiskan
sepotong kepala kakap itu, dan tentunya mereka bergantian membayarnya. Satu
waktu, Krishna yang membayar. Di lain waktu, Kandita
yang membayar. Hal ini terjadi begitu saja sejak mereka duduk di Sekolah
Menengah Atas, dulu karena mereka sangat ingin memakan kepala kakap, tapi tidak
sanggup untuk menghabiskannya sendiri, juga tidak mampu untuk membayarnya
sendiri. Krishna baru saja memulai makannya.
“Loe nggak laper banget ya Krish?” tanya Kandita
setelah melihat piring Krishna yang berisi sedikit nasi, nasi padang
memang sedikit, tapi Krishna terlihat sedikit
melamun.
“Gue juga nggak tahu kok bisa begini! O, iya!
Loe mau cerita apa?” kata Krishna sambil
menuangkan kuah kakap di piringnya.
“Gue putus!” kata Kandita lesu.
“Kok bisa?” bergetar seluruh persendian Krishna, dia jadi tidak enak hati sendiri ingin menikmati
makanan di hadapan kawan baiknya yang sedang putus cinta, dia merasakan
kesedihan yang sama dengan apa yang dirasakan oleh temannya itu. Halllllah.
“Ya, gue rasa dia sudah punya cinta yang lain!”
gumam Kandita.
“Perasaan loe ‘kan?”
heran Krishna sambil menghentikan makannya.
“Dan itu benar!” sesal Kandita.
“Hm, ya!”
“Gue merasa bersalah karena gak perhatiin
perkataan loe!”
“Nggak, gue nggak akan nyalahin loe! Yang salah
itu dia, bukan loe! Loe nggak selingkuh ‘kan?”
“Nggak!” singkat Kandita.
“Ya berarti loe nggak salah!”
“Jadi loe nggak nyalahin gue Krish?”
“Ya loe nggak salah, untuk apa disalahin?”
“Makasih ya Krish!”
“Harusnya, gue yang terima kasih sama loe!
Karena nanti loe yang traktir gue!” gurau Krishna.
“Loe mau
cerita apa Krish?” tanya Kandita penasaran.
“Gue nggak jadi cerita!” kata Krishna.
“Kenapa?” heran Kandita.
“Gue nggak bisa cerita tentang kebahagiaan gue
sama temen gue yang lagi bersedih!”
“Ih, Krishna!
Ayolah ceritain ke gue!” pinta Kandita.
“Nggak!”
“Loe masih menganggap gue sebagai teman ‘kan?” tantang Kandita.
“Iya, maka dari itu gue gak mau menambah
kesedihan temen gue!”
“Nggak usah bertele-tele Krish!” kesal Kandita
sambil melanjutkan makannya.
“Ya, nanti tunggu habis dulu makanannya! Belum
klimaks nih!”
“Kayak apaan aja sih?” mereka melanjutkan
makannya, sampai kepala kakap itu hanya tersisa tulang belulang.
“Now, you
have to tell me about your story!!” kata Kandita seusai membersihkan tangan
dan mulutnya.
“Tadi di kereta…..” belum sempat Krishna
menceritakan ceritanya, Kandita memberi kode kepada Krishna
bahwa masih ada nasi di bibir atasnya, dengan memainkan lidah di bibir atasnya,
Kandita memberi kode itu.
“Njilani
banget loe Kandita!” gumam Krishna.
“Dasar OMES! Ada nasi tuh di bibir loe!” kesal Kandita.
“Oh, yang jelas dong! Kirain apa!” gumam Krishna.
“Sudah, langsung cerita!” pinta Kandita.
“Gue ketemu sama cewe cantik tadi di stasiun
Depok!” kata Krishna, padat dan jelas.
“Terus loe suka sama dia?” selidik Kandita.
“Gue juga belum tahu apa ini perasaan suka!
Apakah ini cinta!”
“Hm, dicoba saja Krish!” kata Kandita sambil
menyembunyikan kekecewaannya.
“Ya, nanti gue akan coba!”
“Siapa namanya?” tanya Kandita lagi.
“Tiffany! Ludovica Tiffany!”
“Oh, sip! Nanti gue bantu loe!” kata Kandita
yang masih mencoba menyembunyikan kekecewaannya.
“Ngomong-ngomong OMES apaan sih??” heran
Krishna.
“Otak Mesum” tandas Kandita
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jalur satu diperhatikan krl Commuter Line tujuan Manggarai,
Sudirman, Tanah Abang, mengakhiri perjalanan di stasiun Jatinegara. Jangan
menyeberangi jalur satu krl Commuter Line tujuan Tanah Abang. Announcer di stasiun
Citayam masih memberikan informasi kepada calon penumpang kereta yang pagi itu
memadati stasiun yang terletak di ketinggian seratus dua belas meter di atas
permukaan laut itu. Kandita pun bergegas masuk kedalam rangkaian kereta itu,
sebenarnya dia bertujuan ke Gondangdia, tapi dia harus naik kereta itu, dan
akan menunggu kereta tujuan Gondangdia di stasiun Manggarai, atau menunggu di
stasiun Depok, untuk menggunakan kereta ke Jakarta Kota.
Kereta pun meninggalkan
stasiun Citayam, menuju stasiun Depok, membawa serta penumpang yang sudah mulai
memadati lambung Naga Besi, dari luar kereta dapat terlihat jelas ribuan
penumpang yang berjejalan di dalamnya. Ada yang membaca koran, mendengarkan
music dari handphone nya, bermain hand phone, sampai tidur didalam rangkaian
kereta, perjalanan dari Bogor-Jakarta Kota cukup panjang, bagi penumpang yang
berdiri mempertahankan posisinya didalam rangkaian kereta listrik, bagi mereka
yang tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepalanya di dalam rangkaian
kereta, sebenarnya mereka ingin sekali melanjutkan tidurnya di dalam dinginnya
beberapa kereta commuter line, bagi yang sudah terbiasa, mereka akan tidur
sambil terjaga, dan terjaga sambil tidur, mirip seperti pasukan Pajajaran. Bagi
mereka yang duduk di kursi yang telah teredia, bagi mereka yang menyandarkan
kepalanya di dinding kereta, bagi mereka yang masih melanjutkan tidurnya di
dalam rangkaian kereta, perjalanan Bogor-Jakarta Kota yang bagi kebanyakan
penumpang menjadi perjalanan yang panjang, tapi tidak bagi mereka yang tidak
bisa melanjutkan tidurnya di dalam kereta.
Kandita turun di stasiun
Depok, dan bergegas menyeberangi jalur dua stasiun Depok, kemudian masuk ke
dalam rangkaian kereta yang ada di jalur tiga stasiun Depok.
“Woi, Kandita!” colek Krishna di rangkaian
kereta tujuan Jakarta Kota yang ada di jalur tiga stasiun Depok.
“Eh, Krish! Loe dapat tempat duduk?” herannya.
“Sudah! Loe duduk saja!” kata Krishna sambil memberikan
tempatnya kepada Kandita.
“Oh, thank
you banget Krish!”
“Ya, santai (s)aja kali!” tandas Krishna sambil
masih mendengarkan music dari mp3 player nya. There you are smiling at me from the next room, beautifull as a first
day I meet you and I so sorry! Scorpion Your
Last Song. Krishna masih berusaha untuk memanfaatkan waktunya dengan tidur
sepanjang perjalanannya. Kereta baru masuk dan menaikturunkan penumpang di
stasiun Depok Baru, ketika Kandita melihat seorang ibu hamil yang berusaha
untuk mendapatkan tempat berdiri, dengan sukarela, dia berdiri dan memberikan
tempatnya kepada ibu hamil itu, dan kemudian berdiri disamping Krishna.
“Krish, loe dengerin lagu apa sih?” heran Kandita.
“Kenapa?” Krishna membuka head set yang sengaja disumbatkan di kedua lubang telinganya.
“Loe dengerin lagu apa?” tanya Kandita.
“Oh, ini Scorpions!” kata Krishna sambil
memberikan satu sisi head set nya kepada Kandita.
“Apaan nih judulnya?”
“Memang loe suka lagu rock?” heran Krishna.
“Kalau lagunya yang kayak gini, gue seneng
Krish, tapi kalau rock nya murni rock, gue gak begitu seneng!”
“Game Of Life; The time has cometh for me to talk to you, and I don’t mean to hurt
your pride. But everybody need a friend sometimes to make you see a light…
You’re born to hunt and never run away, and then you’re hunted by the pray the
wounded deer is highest to the sun until this day is done…. In the game of life
we lived and die another breath begins another chance to win to fight from the
moment that you hit the ground!”
“Keren juga Krish! Ngena banget! Gue butuh loe
untuk melihat setitik cahaya!” kata Kandita sambil tersenyum.
“Untuk saat ini! Mungkin lain waktu, gue yang
butuh loe!” tandas Krishna.
“Ya, mungkin!” timpal Kandita sambil masih
memberikan pengharapan kepada Krishna.
“Sudah bisa lupa cowo loe ‘kan?” tanya Krishna.
“Bukan cowo gue sekarang! Hanya mantan!”
“Good lah! Terus rencana loe ke depan apa?”
“Kerja, dan menabung untuk modal kawin!”
“Kawin mah nggak usah banyak-banyak modal!”
“Buat
modal nikah maksud gue!”
“Nah, itu baru bener dan gue setuju! Kalau
kawin, semua manusia sudah punya modal yang berlebih untuk kawin! Asal tidak
penyakitan!”
“Kok begitu Krish?”
“Ya bagaimana lagi kalau sakit diabetes
mellitus?”
“Benar juga ya! Nggak bisa tegang!!”
Siang itu, matahari di
Jakarta cukup panas menyinari. Krishna masih berkelana di dunia maya melalui
hand phone nya. Dia mencari sebuah nama. Ludovica Tiffany! Dan mengirimkan
sebuah permintaan pertemanan. Dan sepuluh menit kemudian, orang yang dimaksud
menerima permintaan pertemanan itu. Tidak memerlukan waktu yang lama untuk
mencari seseorang melalui jejaring sosial.
“Terima kasih, konfirmasinya!”
“Hai, iya Krishna! Sama-sama!”
“Kamu berteman sama Kandita juga ya?” tanya
Krishna melalui chating.
“Kandita siapa?” tanya Tiffany.
“Kandita Adisti Ekaturangga!” jawab Krishna.
“Oh, nggak tahu juga! Semalam dia add aku, ya aku confirm!” Ciee, sudah pakai aku-kamu.
“O, sudah chating sama dia?”
“Belum sih! Kenapa memangnya?”
“Nggak kenapa-kenapa sih!”
“Kamu lagi dimana Krishna?” tanya Tiffany.
“Di kantor nih! Kamu di mana?”
“Masih di kantor juga! Sudah dulu ya! Masih ada
yang harus dikerjakan!” kat Tiffany.
“Oh, ya! Nanti bisa janjian ‘kan? Boleh minta
nomor hape kamu?”
“Hm, telfon nomor ini saja!” jawab Tiffany
sambil memberikan sebuah nomor handphone.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sore di daerah
perkantoran Sudirman, disebuah parkiran yang letaknya tidak jauh dari stasiun
Sudirman. Seorang pria mencoba untuk kembali menjalin hubungan dengan mantan
kekasihnya. Karena dia masih ingin memiliki Kandita, bukan ingin mencintainya.
Dia menginginkan Kandita karena banyak yang bilang kalau Kandita adalah wanit
paling cntik, dikantornya, di rumahnya, dan jika di kereta, Kandita masuk ke
lima ratus besar dari hampir ribuan orang wanita muda yang menggunakan kereta
sebagai transportasi utamanya.
“Sudah gue bilang! Gue nggak mau!
Jangan loe ganggu gue lagi ya!” tukas Kandita sambil hendak berlari ke arah
stasiun Sudirman, tapi pria itu menariknya dan membuatnya dekat kembali.
“Please, tolong! Aku masih cinta
sama kamu! Aku masih sayang!”
“Muna(fik)!” tandas Kandita
sambil melayangkan tamparan ke wajah mantan pacarnya itu.
“Aku sudah coba ngomong pelan
sama kamu! Tapi nggak bisa!” tandasnya sambil hendak membalas perlakuan Kandita
kepadanya.
“Mas, jangan kasar sama wanita!
Mau saya laporkan ke KOMNAS Wanita?” kata Krishna sesaat setelah menangkis
pukulan itu.
“Jangan ikut campur loe! Siapa
loe?” tanya pria itu.
“Saya tetangganya mbak Kandita
ini! Dulu! Sekarang sudah nggak!”
“Krish, tolongin gue!” pinta Kandita
dibalik pundak Krishna.
“Sayang, kamu kenal sama orang
ini?” tanya pria itu kepada pacarnya; mantan sih yang sedang berada di belakang
Krishna.
“Ya, ini! Pacar aku yang baru!”
tantang Kandita. Bergetar jiwa Krishna setelah mendengar apa yang dikatakan
oleh Kandita, bukan karena dia grogi, tapi dia juga takut jika dia dipukuli
oleh teman-temannya.
“Peduli setan!” tandasnya sambil
melayangkan tinju ke wajah Krishna, dan pukulannya tepat masuk ke rahangnya.
Tidak ada yang berani melerai kejadian itu, hanya beberapa teriakan yang
menyuruh mereka untuk berhenti.
“Krishna, loe payah banget sih!
Begitu doang masa nggak bisa?”
“Ini langkah awal! Dimana-mana
jagoan itu menangnya belakangan!” kata Krishna sambil mengepalkan tinju, dan
saat Krishna akan kembali menerima pukulan untuk kedua kalinya, pria itu
tersandung sebuah baru kerikil, dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh Krishna
untuk mengarahkan tinjunya, memutar tepat di kerongkongan pria itu, dan
rebahlah dia. Karena takut, Kandita lalu menarik Krishna berlari masuk ke
stasiun Sudirman. Tidak lama berselang, teman-temannya datang untuk menolong
temannya yang sudah jatuh tak sadarkan diri. Kandita dan Krishna berjalan cepat
menuju keretanya, kereta tujuan Bogor. Mereka berjalan cepat karena takut
ketinggalan kereta, karena hanya kereta lah yang mereka gunakan untuk melarikan
diri.
“Thank you banget ya Krish!” kata
Kandita.
“Untuk apa?” datar Krishna.
“Loe sudah nolongin gue!”
“Ya, sama-sama!” katanya semakin
datar dari biasanya.
“Loe kenapa Krish?” heran Kandita.
“Nggak biasanya loe begini?”
“Nggak kenapa-kenapa kok!”
“Hai, Krishna, apa kabar!”
seseorang menyapa nya, dan.
“Tiffany!” kata Krishna
sumringah. “Oh, iya! Ini Kandita!”
“Oh, iya! Salam kenal ya!” kata
Tiffany sambil memperkenalkan namanya.
“Ya, saya Kandita!” katanya
sambil masih menyembunyikan rasa jengkelnya.
“Mbak Kandita ini,
tunangannya…..”
“Oh, bukan Tiffany!! Kandita ini
anaknya pak Suyatno!”
“Lhoh, pak Suyatno itu siapa?”
“Temannya pak Suroto!” singkat
Krishna.
“Pak Suroto itu siapa?”
“Pak Suroto itu tukang bakso
mbak!!” singkat Kandita.
“Pak Suroto itu bapak ku!” kata
Krishna.
“Jadi bapakmu sama bapaknya mbak Kandita
ini berteman?”
“Ya, begitulah!” gumam Kandita.
“O, iya Krish! Pukulan mu bagus!”
kata Tiffany.
“Oh, biasa kok! Hanya saja tepat
guna!”
“Krishna, tempat di samping mu
kosong ‘kan?”
“Ya, kosong! Duduk saja Tiffany!
Nggak ada yang ngelarang!”
“Terima kasih! Saya nggak ganggu
kalian ‘kan?”
“Oh, nggak kok mbak! Silahkan
saja!” kata Kandita sambil masih menahan kekesalannya.
Kereta
baru meninggalkan stasiun Sudirman, cepat secepat pasukan Tumenggung Jagabaya
yang mendapat perintah dari Prabu Siliwangi untuk memberi teguran kepada
Pangeran Cakrabuana dan Susuhunan Syarif Hidayatullah yang menjadi pimpinan
kerajaan Cirebon, kereta itu membawa serta Krishna, Tiffany dan Kandita.
Kepadatan di kereta itu seperti hari-hari biasa di jam pulang kerja. Ditengah
kepadatan, Krishna masih mencuri kesempatan memandangi kecantikan Tiffany yang
berdiri tepat di depannya. Alangkah
senang hatiku, bila ku dekat denganmu. Alangkah senang hatiku, sayangku hanya
untukmu. Meski handphone Krishna bukan termasuk dalam golongan smart phone,
tapi kemampuannya jauh di atas smart phone. Handphone nya mengerti
situasi-situasi yang terjadi pada pemiliknya. Seperti contoh lagu yang tadi.
“Krishna, kamu dengarin lagu apa
sih? Kok sepertinya enak banget?” tanya Tiffany.
“kenapa?” tanya Krishna sambil
membuka satu headset yang menutupi telinga kanan nya.
“Kamu dengar lagu apa?” tanya
Tiffany.
“Oh, ini! Kamu mau dengarkan
juga?” jawab Seno sambil memberikan satu bagian headset itu.
“Hm, Manis dan Sayang! Kamu kayak
bapak ku Krish!” mendengar itu, Kandita tertawa dalam hatinya melihat kawannya
yang sedang mencerna apa yang dikatakan oleh Tiffany.
“Artinya loe tua Krish!” celetuk Kandita.
“Sialan loe?” gumam Krishna.
“Nggak, nggak aneh sih kalau kamu
suka lagu-lagu jadul!” kata Tiffany menjelaskan.
“Tuh, lihat Tiffany! Kumis nya
saja mirip bemper kereta ekonomi!” ledek Kandita.
“Sialan loe Kandita!” gumam
Krishna.
“Tiffany, kamu mau langsung
pulang?” tanya Krishna.
“Hm, kenapa?”
“Nggak, maksudku, kamu nggak mau
main ke Citayam dulu?”
“Ah, mungkin lain kali Krish!”
kata Tiffany pelan.
“Oke lah, kalau begitu, saya akan
hantar kamu ke Cilebut, sore ini!” kata Krishna dengan penuh kepastian.
“Nggak usah repot-repot Krish!
Saya bisa sendiri kok!”
“Waduh, nanti kalau kamu jatuh,
terus lecet bagaimana?”
“Sebegitunya Krish?”
“Ya, kamu itu seperti mutiara
yang bernilai tinggi!” kata Krishna.
Gomballllllll.
“Oh, begitu! Mbak Kandita; ini
mas Krishna mau menghantar saya ke Cilebut!
Boleh ‘kan?”
“Ya, silahkan mbak! Kalau
macam-macam, dilempar saja dari kereta ya!” kata Kandita sambil masih
menyembunyikan kejengkelan dalam hatinya. Ngapain sih ngomong begitu segala?
Mau pamer kalau kamu bisa dapatkan Krishna?
Apa sih bagusnya dia? Gumam Kandita dalam hatinya, dan masih terdengar jelas
lagu Don’t Say Goodbye di handphone
nya.
Kereta
baru meninggalkan stasiun Manggarai. Kereta itu bertambah padat, karena banyak
penumpang di stasiun Manggarai yang juga menggunakan kereta itu sebagai
transportasi yang paling praktis. Tebet, Cawang, Kalibata, Pasarminggu Baru,
Pasar Minggu, Tanjung Barat, Lenteng Agung, Universitas Pancasila, Universitas
Indonesia, Pondok Cin(t)a, Depok Baru, Depok, Citayam, Bojonggede, Cilebut, dan
Bogor. Itulah stasiun-stasiun yang dilalui oleh kereta Commuter line tujuan Bogor. Kalau kereta
Commuter Line tujuan Depok, ya hanya sampai stasiun Depok. Berbicara soal penumpang
kereta, tidak akan pernah ada habisnya. Di setiap stasiun pasti ada yang naik,
dan yang turun, seperti pasukan Cirebon
yang mendapat bantuan dari pasukan Demak untuk mengalahkan pasukan Tumenggung
Jagabaya.
“Lama ya Tiffany!”
“Yah, beginilah! Kamu kayak nggak
pernah naik kereta saja Krish?” canda Tiffany.
“Oh, iya!”
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Stasiun
Cilebut masih ramai dengan penumpang yang baru keluar dari rangkaian kereta. Krishna meminta Tiffany untuk tidak langsung meninggalkan
stasiun dan berbincang sejenak di ujung peron yang sudah diperpanjang ke arah
selatan.
“Kenapa Krish?” tanya Tiffany
penasaran.
“Sebenarnya………”
“Kenapa? Kamu mau ngomong apa?”
“Sebenarnya, saya suka sama kamu!
Sejak pertama kita bertemu!”
“Oh, begitu! Iya!”
“Iya apa? Setuju atau nggak kalau
kita menjalin sebuah hubungan?” heran Krishna.
“Ya sudah! Aku belum bisa! Kita
belum terbiasa satu sama lain!”
“Ini sudah sore menjelang malam!
Kamu masih mau di sini?” tanya Tiffany.
“Oh, ya! Kamu harus pulang! Aku
juga akan pulang!” kata Krishna gugup.
Anggaplah
Krishna gagal di pengalamannya yang pertama, eh jangan gagal, tapi belum
berhasil. Kalau gagal, artinya tidak akan berhasil. Ya, mungkin lain kali akan
berhasil. Krishna hanya terlalu cepat membuka
‘black box’ yang ada di hatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar