Kamis, 12 September 2013

Sekuntum Cinta Yang Hampir Layu (Eps 1)


I
Seorang pemuda berjalan menyusuri peron tiga stasiun Depok dari utara menuju selatan, dia baru turun dari kereta commuter line yang ada di jalur tiga. Pemuda itu, Krishna Tritaksaka, dengan tas laptop hitam, kemeja hitam yang memiliki kerah putih, dan sepatu sandal warna hitam kombinasi coklat. Pemuda itu tampak sedang menunggu. Menunggu seseorang? Ya, dia menunggu seseorang, seorang masinis yang mengemudikan kereta untuk menghantarnya pulang. Langkahnya tersendat ketika melihat seorang gadis dengan baju ungu dan celana panjang hitam, yang juga baru turun dari rangkaian kereta commuter line di jalur tiga. Rambutnya yang panjang tidak diikat, dan disampirkan di bahunya, dan jatuh tepat di dadanya. Poni nya melintang dari dahi kiri ke wajah sebelah kanan nya. Berdetak keras dada Krishna saat matanya bertatapan dengan mata gadis itu, dan darahnya mengalir bahkan lebih cepat daripada kecepatan maksimal kereta Biru Malam, sehingga nafas nya pun menjadi tak karuan. Gadis itu, mendebarkan hati dengan satu kejapan mata, dengan seuntai kalung dari perhiasan lehernya yang berbentuk huruf ‘T’.
Jalur empat diperhatikan KRL commuter line tujuan Bogor, jangan menyeberangi jalur empat krl commuter line tujuan Bogor. Perhatikan karcis dan barang bawaan anda agar tidak tertinggal, krl commuter line tujuan Bogor berikutnya, rangkaiannya persiapan masuk stasiun Pasarminggu Baru.
Gadis itu berusaha untuk masuk ke rangkaian kereta yang baru masuk jalur empat, tapi padatnya kereta, sepadat cinta si pujangga kereta membuatnya tidak bisa masuk kedalam rangkaian. Kereta pun meninggalkan stasiun Depok, dan kembali sepi. Hanya segelintir penumpang yang tidak dapat naik yang masih menunggu di stasiun Depok. Gadis itu duduk menunggu di sebatang rel keeta bekas, yang dirangkai sedemikian rupa menjadi tempat duduk. Krishna duduk sehasta disampingnya. Gadis itu sejenak melihat siapa yang duduk disampingnya, dan tertunduk. Tak lama, hand phone nya berbunyi dan kemudian.
“Iya bu, aku masih di stasiun!” katanya.
“Iya, tadi aku naik kereta sampai Depok, terus aku harus nunggu kereta lagi yang ke Bogor!”
“Tadi di Pasarminggu Baru!” tandasnya, dan tak lama kemudian dia menutup hand phone nya dan memasukkannya kembali di tasnya.
“Mbak mau ke Bogor?” tanya Krishna.
“Nggak, saya mau pulang mas!” katanya sedikit tidak mempedulikan Krishna.
“O, pulang! Emang rumahnya di mana?”
“Saya pulang ke tempat ibu saya mas!”
“Oh, iya” Krishna mencoba mencari materi pembicaraan baru.
“Mas pulang ke mana?” tanya gadis itu, tumbuh satu rasa ingin tahu di dirinya untuk mengetahui banyak hal tentang orang yang duduk disampingnya itu.
“Ke tempatnya bapak saya mbak!” singkat Krishna sambil masih mengatur gejolak dalam hatinya.
“Oh, iya mas! Di daerah mana?” tanyanya.
“Di Pabuaran!”
“Oh, di situ!”
“Mbak tahu?” tanya Krishna.
“Nggak sih! Mas yang punya rumah kok malah tanya ke saya?” kepo banget sih ini orang….
“Iya ya, saya juga bingung! Mbak tinggal di daerah mana?” tanya Krishna.
“Cilebut!”
“O, Cilebut ya!” seru Krishna.
“Mas tahu?” heran nya.
“Nggak begitu tahu sih! Tahu nya ya hanya stasiunnya saja!”
“Maaf, dengan mas siapa?” tanya gadis itu.
“Krishna Tritaksaka! Mbak siapa namanya?” kata Krishna sambil menjulurkan tangannya.
“Ludovica Tiffany! Pakai ‘C’ bukan pakai ‘K’ oke!” singkatnya sambil menjabat tangan Krishna.
 “O, jadi saya manggilnya mbak Vica atau mbak Tiffany?” tanya Krishna.
“Panggil Tiffany saja! Nggak usah pakai ‘mbak’ saya masih muda mas!”
“Oh, ya! Panggil saya Krishna saja! Saya juga masih muda!”
“Ya, Krishna!” kata Tiffany sambil tersenyum. Bibir nya meneteskan madu murni, madu dan susu ada di bawah lidah nya……
“Oiya Tiffany! Saya agak khawatir nih!”
“Khawatir kenapa Krishna?”
“Saya khawatir nanti pacar kamu marah lagi kalau saya kenalan sama kamu!”
“Pacar? Pacar dari mana?” kata Tiffany sambil tertawa.
“Ya siapa tahu aja! Lagipula, orang secantik kamu belum punya pacar? Dunia ini sungguh tidak adil!”
“Belum Krishna, saya belum punya pacar! Kamu kali! Nanti pacar kamu marah lagi!” singkat Tiffany.
“Nggak! Saya juga masih kosong! Kamu lihat wajah saya yang suram ini, mana ada yang mau dengan saya!” kata Krishna meratapi, meski ujung-ujungnya akan nggombal.
“Ya, orang cantik monjomblo, orang suram juga menjomblo! Lalu siapa yang bisa berpasang-pasangan?”
“Kurang tahu!”
“Ya, sudahlah! Tidak usah terlalu di pikirkan!”
Jalur empat di perhatikan KRL Commuter Line tujuan Bogor, jangan menyeberangi jalur empat KRL commuter Line tujuan Bogor. Bagi penumpang yang tidak dapat naik harap jangan memaksakan diri! KRL Commuter Line tujuan Bogor berikutnya, rangkaiannya sampai di stasiun Pondok Cina. Krishna dan Tiffany bergegas mempersiapkan dirinya untuk masuk kedalam rangkaian kereta itu, kereta yang cukup lengang.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Krishna baru turun  di stasiun Citayam, dia bergerak keluar meninggalkan stasiun, begitupun kereta Commuter Line yang juga perlahan meninggalkan stasiun Citayam. Tatpannya kosong, karena Tiffany sudah mengambil sebagian dari dirinya.uangnya? bukan! Hand phonenya? Juga bukan! Lalu apanya? Sudah bisa ditebak. Hatinya!  
“Woi, ngelamun loe? Kesurupan baru tahu rasa!” seseorang mengagetkannya dari belakang. Kandita. E tertulis jelas di jacket biru yang dipakainya. Kandita Ekaturangga, nama lengkapnya.
“Eh gue kira siapa!” gumam Krishna.
“Kenapa loe?” tanya Kandita.
“Mau tahu banget, atau mau tahu (s)aja!”
“Nggak mau tahu banget sih! Dan nggak mau tahu (s)aja juga!” nyebelin banget loe Krishna! Rasain loe nanti kualat sama gue! Gumam Kandita dalam hatinya.
“Oh, ya sudah! Loe sudah makan?” kata Krishna.
“Belum! Loe mau traktir gue?” tanya Kandita.
“Mau banget atau mau (s)aja?” canda Krishna.
“Awas loe Krish”
“Ngancam nih?” ledeknya.
“Bodo amat! Terserah deh!” katanya sambil cemberut.
“Loe kalau lagi marah cantik banget sih!” kata Krishna sambil berjalan perlahan.
“Ah, lebay loe! Gue mau cerita nih sama loe!” kata Kandita lesu.
“Cerita apa? Gue mau cerita juga nih sama loe!”
“O, ya sudah! Sekalian makan saja!”
“Iya! Makan di tempat biasa ya!”
“Terserah loe saja deh Krish”
Seperti biasanya, di restoran padang itu, Kandita memesan sepotong kepala kakap besar yang dimakannya berdua dengan Krishna, karena Kandita belum tentu bisa menghabiskan sepotong kepala kakap itu, dan tentunya mereka bergantian membayarnya. Satu waktu, Krishna yang membayar. Di lain waktu, Kandita yang membayar. Hal ini terjadi begitu saja sejak mereka duduk di Sekolah Menengah Atas, dulu karena mereka sangat ingin memakan kepala kakap, tapi tidak sanggup untuk menghabiskannya sendiri, juga tidak mampu untuk membayarnya sendiri. Krishna baru saja memulai makannya.
“Loe nggak laper banget ya Krish?” tanya Kandita setelah melihat piring Krishna yang berisi sedikit nasi, nasi padang memang sedikit, tapi Krishna terlihat sedikit melamun.
“Gue juga nggak tahu kok bisa begini! O, iya! Loe mau cerita apa?” kata Krishna sambil menuangkan kuah kakap di piringnya.
“Gue putus!” kata Kandita lesu.
“Kok bisa?” bergetar seluruh persendian Krishna, dia jadi tidak enak hati sendiri ingin menikmati makanan di hadapan kawan baiknya yang sedang putus cinta, dia merasakan kesedihan yang sama dengan apa yang dirasakan oleh temannya itu. Halllllah.
“Ya, gue rasa dia sudah punya cinta yang lain!” gumam Kandita.
“Perasaan loe ‘kan?” heran Krishna sambil menghentikan makannya.
“Dan itu benar!” sesal Kandita.
“Hm, ya!”
“Gue merasa bersalah karena gak perhatiin perkataan loe!”
“Nggak, gue nggak akan nyalahin loe! Yang salah itu dia, bukan loe! Loe nggak selingkuh ‘kan?”
“Nggak!” singkat Kandita.
“Ya berarti loe nggak salah!”
“Jadi loe nggak nyalahin gue Krish?”
“Ya loe nggak salah, untuk apa disalahin?”
“Makasih ya Krish!”
“Harusnya, gue yang terima kasih sama loe! Karena nanti loe yang traktir gue!” gurau Krishna.
 “Loe mau cerita apa Krish?” tanya Kandita penasaran.
“Gue nggak jadi cerita!” kata Krishna.
“Kenapa?” heran Kandita.
“Gue nggak bisa cerita tentang kebahagiaan gue sama temen gue yang lagi bersedih!”
“Ih, Krishna! Ayolah ceritain ke gue!” pinta Kandita.
“Nggak!”
“Loe masih menganggap gue sebagai teman ‘kan?” tantang Kandita.
“Iya, maka dari itu gue gak mau menambah kesedihan temen gue!”
“Nggak usah bertele-tele Krish!” kesal Kandita sambil melanjutkan makannya.
“Ya, nanti tunggu habis dulu makanannya! Belum klimaks nih!”
“Kayak apaan aja sih?” mereka melanjutkan makannya, sampai kepala kakap itu hanya tersisa tulang belulang.
Now, you have to tell me about your story!!” kata Kandita seusai membersihkan tangan dan mulutnya.
“Tadi di kereta…..” belum sempat Krishna menceritakan ceritanya, Kandita memberi kode kepada Krishna bahwa masih ada nasi di bibir atasnya, dengan memainkan lidah di bibir atasnya, Kandita memberi kode itu.
Njilani banget loe Kandita!” gumam Krishna.
“Dasar OMES! Ada nasi tuh di bibir loe!” kesal Kandita.
“Oh, yang jelas dong! Kirain apa!” gumam Krishna.
“Sudah, langsung cerita!” pinta Kandita.
“Gue ketemu sama cewe cantik tadi di stasiun Depok!” kata Krishna, padat dan jelas.
“Terus loe suka sama dia?” selidik Kandita.
“Gue juga belum tahu apa ini perasaan suka! Apakah ini cinta!”
“Hm, dicoba saja Krish!” kata Kandita sambil menyembunyikan kekecewaannya.
“Ya, nanti gue akan coba!”
“Siapa namanya?” tanya Kandita lagi.
“Tiffany! Ludovica Tiffany!”
“Oh, sip! Nanti gue bantu loe!” kata Kandita yang masih mencoba menyembunyikan kekecewaannya.
“Ngomong-ngomong OMES apaan sih??” heran Krishna.
“Otak Mesum” tandas Kandita
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jalur satu diperhatikan krl Commuter Line tujuan Manggarai, Sudirman, Tanah Abang, mengakhiri perjalanan di stasiun Jatinegara. Jangan menyeberangi jalur satu krl Commuter Line tujuan Tanah Abang. Announcer di stasiun Citayam masih memberikan informasi kepada calon penumpang kereta yang pagi itu memadati stasiun yang terletak di ketinggian seratus dua belas meter di atas permukaan laut itu. Kandita pun bergegas masuk kedalam rangkaian kereta itu, sebenarnya dia bertujuan ke Gondangdia, tapi dia harus naik kereta itu, dan akan menunggu kereta tujuan Gondangdia di stasiun Manggarai, atau menunggu di stasiun Depok, untuk menggunakan kereta ke Jakarta Kota.
Kereta pun meninggalkan stasiun Citayam, menuju stasiun Depok, membawa serta penumpang yang sudah mulai memadati lambung Naga Besi, dari luar kereta dapat terlihat jelas ribuan penumpang yang berjejalan di dalamnya. Ada yang membaca koran, mendengarkan music dari handphone nya, bermain hand phone, sampai tidur didalam rangkaian kereta, perjalanan dari Bogor-Jakarta Kota cukup panjang, bagi penumpang yang berdiri mempertahankan posisinya didalam rangkaian kereta listrik, bagi mereka yang tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepalanya di dalam rangkaian kereta, sebenarnya mereka ingin sekali melanjutkan tidurnya di dalam dinginnya beberapa kereta commuter line, bagi yang sudah terbiasa, mereka akan tidur sambil terjaga, dan terjaga sambil tidur, mirip seperti pasukan Pajajaran. Bagi mereka yang duduk di kursi yang telah teredia, bagi mereka yang menyandarkan kepalanya di dinding kereta, bagi mereka yang masih melanjutkan tidurnya di dalam rangkaian kereta, perjalanan Bogor-Jakarta Kota yang bagi kebanyakan penumpang menjadi perjalanan yang panjang, tapi tidak bagi mereka yang tidak bisa melanjutkan tidurnya di dalam kereta.
Kandita turun di stasiun Depok, dan bergegas menyeberangi jalur dua stasiun Depok, kemudian masuk ke dalam rangkaian kereta yang ada di jalur tiga stasiun Depok.
“Woi, Kandita!” colek Krishna di rangkaian kereta tujuan Jakarta Kota yang ada di jalur tiga stasiun Depok.
“Eh, Krish! Loe dapat tempat duduk?” herannya.
“Sudah! Loe duduk  saja!” kata Krishna sambil memberikan tempatnya kepada Kandita.
“Oh, thank you banget Krish!”
“Ya, santai (s)aja kali!” tandas Krishna sambil masih mendengarkan music dari mp3 player nya. There you are smiling at me from the next room, beautifull as a first day I meet you and I so sorry! Scorpion Your Last Song. Krishna masih berusaha untuk memanfaatkan waktunya dengan tidur sepanjang perjalanannya. Kereta baru masuk dan menaikturunkan penumpang di stasiun Depok Baru, ketika Kandita melihat seorang ibu hamil yang berusaha untuk mendapatkan tempat berdiri, dengan sukarela, dia berdiri dan memberikan tempatnya kepada ibu hamil itu, dan kemudian berdiri disamping Krishna.
“Krish, loe dengerin lagu apa sih?” heran Kandita.
“Kenapa?” Krishna membuka head set yang sengaja disumbatkan di kedua lubang telinganya.
“Loe dengerin lagu apa?” tanya Kandita.
“Oh, ini Scorpions!” kata Krishna sambil memberikan satu sisi head set nya kepada Kandita.
“Apaan nih judulnya?”
“Memang loe suka lagu rock?” heran Krishna.
“Kalau lagunya yang kayak gini, gue seneng Krish, tapi kalau rock nya murni rock, gue gak begitu seneng!”
“Game Of Life; The time has cometh for me to talk to you, and I don’t mean to hurt your pride. But everybody need a friend sometimes to make you see a light… You’re born to hunt and never run away, and then you’re hunted by the pray the wounded deer is highest to the sun until this day is done…. In the game of life we lived and die another breath begins another chance to win to fight from the moment that you hit the ground!”
“Keren juga Krish! Ngena banget! Gue butuh loe untuk melihat setitik cahaya!” kata Kandita sambil tersenyum.
“Untuk saat ini! Mungkin lain waktu, gue yang butuh loe!” tandas Krishna.
“Ya, mungkin!” timpal Kandita sambil masih memberikan pengharapan kepada Krishna.
“Sudah bisa lupa cowo loe ‘kan?” tanya Krishna.
“Bukan cowo gue sekarang! Hanya mantan!”
“Good lah! Terus rencana loe ke depan apa?”
“Kerja, dan menabung untuk modal kawin!”
“Kawin mah nggak usah banyak-banyak modal!”
 “Buat modal nikah maksud gue!”
“Nah, itu baru bener dan gue setuju! Kalau kawin, semua manusia sudah punya modal yang berlebih untuk kawin! Asal tidak penyakitan!”
“Kok begitu Krish?”
“Ya bagaimana lagi kalau sakit diabetes mellitus?”
“Benar juga ya! Nggak bisa tegang!!”
Siang itu, matahari di Jakarta cukup panas menyinari. Krishna masih berkelana di dunia maya melalui hand phone nya. Dia mencari sebuah nama. Ludovica Tiffany! Dan mengirimkan sebuah permintaan pertemanan. Dan sepuluh menit kemudian, orang yang dimaksud menerima permintaan pertemanan itu. Tidak memerlukan waktu yang lama untuk mencari seseorang melalui jejaring sosial.
“Terima kasih, konfirmasinya!”
“Hai, iya Krishna! Sama-sama!”
“Kamu berteman sama Kandita juga ya?” tanya Krishna melalui chating.
“Kandita siapa?” tanya Tiffany.
“Kandita Adisti Ekaturangga!” jawab Krishna.
“Oh, nggak tahu juga! Semalam dia add aku, ya aku confirm!” Ciee, sudah pakai aku-kamu.
“O, sudah chating sama dia?”
“Belum sih! Kenapa memangnya?”
“Nggak kenapa-kenapa sih!”
“Kamu lagi dimana Krishna?” tanya Tiffany.
“Di kantor nih! Kamu di mana?”
“Masih di kantor juga! Sudah dulu ya! Masih ada yang harus dikerjakan!” kat Tiffany.
“Oh, ya! Nanti bisa janjian ‘kan? Boleh minta nomor hape kamu?”
“Hm, telfon nomor ini saja!” jawab Tiffany sambil memberikan sebuah nomor handphone.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sore di daerah perkantoran Sudirman, disebuah parkiran yang letaknya tidak jauh dari stasiun Sudirman. Seorang pria mencoba untuk kembali menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya. Karena dia masih ingin memiliki Kandita, bukan ingin mencintainya. Dia menginginkan Kandita karena banyak yang bilang kalau Kandita adalah wanit paling cntik, dikantornya, di rumahnya, dan jika di kereta, Kandita masuk ke lima ratus besar dari hampir ribuan orang wanita muda yang menggunakan kereta sebagai transportasi utamanya. 
“Sudah gue bilang! Gue nggak mau! Jangan loe ganggu gue lagi ya!” tukas Kandita sambil hendak berlari ke arah stasiun Sudirman, tapi pria itu menariknya dan membuatnya dekat kembali.
“Please, tolong! Aku masih cinta sama kamu! Aku masih sayang!”
“Muna(fik)!” tandas Kandita sambil melayangkan tamparan ke wajah mantan pacarnya itu.
“Aku sudah coba ngomong pelan sama kamu! Tapi nggak bisa!” tandasnya sambil hendak membalas perlakuan Kandita kepadanya.
“Mas, jangan kasar sama wanita! Mau saya laporkan ke KOMNAS Wanita?” kata Krishna sesaat setelah menangkis pukulan itu.
“Jangan ikut campur loe! Siapa loe?” tanya pria itu.
“Saya tetangganya mbak Kandita ini! Dulu! Sekarang sudah nggak!”
“Krish, tolongin gue!” pinta Kandita dibalik pundak Krishna.
“Sayang, kamu kenal sama orang ini?” tanya pria itu kepada pacarnya; mantan sih yang sedang berada di belakang Krishna.
“Ya, ini! Pacar aku yang baru!” tantang Kandita. Bergetar jiwa Krishna setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Kandita, bukan karena dia grogi, tapi dia juga takut jika dia dipukuli oleh teman-temannya.
“Peduli setan!” tandasnya sambil melayangkan tinju ke wajah Krishna, dan pukulannya tepat masuk ke rahangnya. Tidak ada yang berani melerai kejadian itu, hanya beberapa teriakan yang menyuruh mereka untuk berhenti.
“Krishna, loe payah banget sih! Begitu doang masa nggak bisa?”
“Ini langkah awal! Dimana-mana jagoan itu menangnya belakangan!” kata Krishna sambil mengepalkan tinju, dan saat Krishna akan kembali menerima pukulan untuk kedua kalinya, pria itu tersandung sebuah baru kerikil, dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh Krishna untuk mengarahkan tinjunya, memutar tepat di kerongkongan pria itu, dan rebahlah dia. Karena takut, Kandita lalu menarik Krishna berlari masuk ke stasiun Sudirman. Tidak lama berselang, teman-temannya datang untuk menolong temannya yang sudah jatuh tak sadarkan diri. Kandita dan Krishna berjalan cepat menuju keretanya, kereta tujuan Bogor. Mereka berjalan cepat karena takut ketinggalan kereta, karena hanya kereta lah yang mereka gunakan untuk melarikan diri.
“Thank you banget ya Krish!” kata Kandita.
“Untuk apa?” datar Krishna.
“Loe sudah nolongin gue!”
“Ya, sama-sama!” katanya semakin datar dari biasanya.
“Loe kenapa Krish?” heran Kandita. “Nggak biasanya loe begini?”
“Nggak kenapa-kenapa kok!”
“Hai, Krishna, apa kabar!” seseorang menyapa nya, dan.
“Tiffany!” kata Krishna sumringah. “Oh, iya! Ini Kandita!”
“Oh, iya! Salam kenal ya!” kata Tiffany sambil memperkenalkan namanya.
“Ya, saya Kandita!” katanya sambil masih menyembunyikan rasa jengkelnya.
“Mbak Kandita ini, tunangannya…..”
“Oh, bukan Tiffany!! Kandita ini anaknya pak Suyatno!”
“Lhoh, pak Suyatno itu siapa?”
“Temannya pak Suroto!” singkat Krishna.
“Pak Suroto itu siapa?”
“Pak Suroto itu tukang bakso mbak!!” singkat Kandita.
“Pak Suroto itu bapak ku!” kata Krishna.
“Jadi bapakmu sama bapaknya mbak Kandita ini berteman?”
“Ya, begitulah!” gumam Kandita.
“O, iya Krish! Pukulan mu bagus!” kata Tiffany.
“Oh, biasa kok! Hanya saja tepat guna!”
“Krishna, tempat di samping mu kosong ‘kan?”
“Ya, kosong! Duduk saja Tiffany! Nggak ada yang ngelarang!”
“Terima kasih! Saya nggak ganggu kalian ‘kan?”
“Oh, nggak kok mbak! Silahkan saja!” kata Kandita sambil masih menahan kekesalannya.
            Kereta baru meninggalkan stasiun Sudirman, cepat secepat pasukan Tumenggung Jagabaya yang mendapat perintah dari Prabu Siliwangi untuk memberi teguran kepada Pangeran Cakrabuana dan Susuhunan Syarif Hidayatullah yang menjadi pimpinan kerajaan Cirebon, kereta itu membawa serta Krishna, Tiffany dan Kandita. Kepadatan di kereta itu seperti hari-hari biasa di jam pulang kerja. Ditengah kepadatan, Krishna masih mencuri kesempatan memandangi kecantikan Tiffany yang berdiri tepat di depannya. Alangkah senang hatiku, bila ku dekat denganmu. Alangkah senang hatiku, sayangku hanya untukmu. Meski handphone Krishna bukan termasuk dalam golongan smart phone, tapi kemampuannya jauh di atas smart phone. Handphone nya mengerti situasi-situasi yang terjadi pada pemiliknya. Seperti contoh lagu yang tadi.
“Krishna, kamu dengarin lagu apa sih? Kok sepertinya enak banget?” tanya Tiffany.
“kenapa?” tanya Krishna sambil membuka satu headset yang menutupi telinga kanan nya.
“Kamu dengar lagu apa?” tanya Tiffany.
“Oh, ini! Kamu mau dengarkan juga?” jawab Seno sambil memberikan satu bagian headset itu.
“Hm, Manis dan Sayang! Kamu kayak bapak ku Krish!” mendengar itu, Kandita tertawa dalam hatinya melihat kawannya yang sedang mencerna apa yang dikatakan oleh Tiffany.
“Artinya loe tua Krish!” celetuk Kandita.
“Sialan loe?” gumam Krishna.
“Nggak, nggak aneh sih kalau kamu suka lagu-lagu jadul!” kata Tiffany menjelaskan.
“Tuh, lihat Tiffany! Kumis nya saja mirip bemper kereta ekonomi!” ledek Kandita.
“Sialan loe Kandita!” gumam Krishna.
“Tiffany, kamu mau langsung pulang?” tanya Krishna.
“Hm, kenapa?”
“Nggak, maksudku, kamu nggak mau main ke Citayam dulu?”
“Ah, mungkin lain kali Krish!” kata Tiffany pelan.
“Oke lah, kalau begitu, saya akan hantar kamu ke Cilebut, sore ini!” kata Krishna dengan penuh kepastian.
“Nggak usah repot-repot Krish! Saya bisa sendiri kok!”
“Waduh, nanti kalau kamu jatuh, terus lecet bagaimana?”
“Sebegitunya Krish?”
“Ya, kamu itu seperti mutiara yang bernilai tinggi!” kata Krishna. Gomballllllll.
“Oh, begitu! Mbak Kandita; ini mas Krishna mau menghantar saya ke Cilebut! Boleh ‘kan?”
“Ya, silahkan mbak! Kalau macam-macam, dilempar saja dari kereta ya!” kata Kandita sambil masih menyembunyikan kejengkelan dalam hatinya. Ngapain sih ngomong begitu segala? Mau pamer kalau kamu bisa dapatkan Krishna? Apa sih bagusnya dia? Gumam Kandita dalam hatinya, dan masih terdengar jelas lagu Don’t Say Goodbye di handphone nya.
            Kereta baru meninggalkan stasiun Manggarai. Kereta itu bertambah padat, karena banyak penumpang di stasiun Manggarai yang juga menggunakan kereta itu sebagai transportasi yang paling praktis. Tebet, Cawang, Kalibata, Pasarminggu Baru, Pasar Minggu, Tanjung Barat, Lenteng Agung, Universitas Pancasila, Universitas Indonesia, Pondok Cin(t)a, Depok Baru, Depok, Citayam, Bojonggede, Cilebut, dan Bogor. Itulah stasiun-stasiun yang dilalui oleh kereta Commuter line tujuan Bogor. Kalau kereta Commuter Line tujuan Depok, ya hanya sampai stasiun Depok. Berbicara soal penumpang kereta, tidak akan pernah ada habisnya. Di setiap stasiun pasti ada yang naik, dan yang turun, seperti pasukan Cirebon yang mendapat bantuan dari pasukan Demak untuk mengalahkan pasukan Tumenggung Jagabaya.
“Lama ya Tiffany!”
“Yah, beginilah! Kamu kayak nggak pernah naik kereta saja Krish?” canda Tiffany.
“Oh, iya!”
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Stasiun Cilebut masih ramai dengan penumpang yang baru keluar dari rangkaian kereta. Krishna meminta Tiffany untuk tidak langsung meninggalkan stasiun dan berbincang sejenak di ujung peron yang sudah diperpanjang ke arah selatan.
“Kenapa Krish?” tanya Tiffany penasaran.
“Sebenarnya………”
“Kenapa? Kamu mau ngomong apa?”
“Sebenarnya, saya suka sama kamu! Sejak pertama kita bertemu!”
“Oh, begitu! Iya!”
“Iya apa? Setuju atau nggak kalau kita menjalin sebuah hubungan?” heran Krishna.
“Ya sudah! Aku belum bisa! Kita belum terbiasa satu sama lain!”
“Ini sudah sore menjelang malam! Kamu masih mau di sini?” tanya Tiffany.
“Oh, ya! Kamu harus pulang! Aku juga akan pulang!” kata Krishna gugup.
            Anggaplah Krishna gagal di pengalamannya yang pertama, eh jangan gagal, tapi belum berhasil. Kalau gagal, artinya tidak akan berhasil. Ya, mungkin lain kali akan berhasil. Krishna hanya terlalu cepat membuka ‘black box’ yang ada di hatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar