Letnan Jono terbangun dari tidurnya yang tidak
terlalu nyenyak malam itu baru menunjukkan jam setengah dua pagi. Dia merasakan
dingin di sekujur tubuhnya, tapi tidak di telapak tangan kanannya. Dia
merasakan kehangatan tangan seseorang. Ada
yang menggenggam tangannya, dan tertidur di dipan tempat tidur itu. Letnan
Andina sudah terlelap dengan memeluk Pakaian Dinas Lapangan milik letnan Jono.
Perlahan, letnan Jono melepas genggaman tangan rekannya dan dengan susah payah
dia menaikkan letnan Andina ke tempat tidur nya se tenang mungkin, agar tidak
mengganggu pasien lainnya. Dia melihat satu set Pakaian Dinas Lapangan miliknya
yang sudah tidak dipelukan letnan Andina. Dia lalu memakai PDL itu dan keluar
ruang perawatan. Dia ingin sekedar melihat wajah cantik suster Rahma.
Haruskah ku bilang cinta, hati senang namun
bimbang ada cemburu juga rindu ku tetap menunggu. Haruskah ku bilang cinta,
hati senang namun bimbang, dan kau sudah ada yang punya. Ku tetap menunggu.
Letnan Jono sudah bisa mengetahui siapa yang menyanyikan lagu itu, sudah pasti
suster Rahma yang menjadi gebetannya. Karena tidak mungkin serka Rini yang
melakukannya, dia sedang sibuk menulis entah menulis apa. Serka Rini adalah
kepala paviliun tempat letnan Jono dan letnan Andina menjalani perawatan. Ibu
dengan dua orang anak ini agak sedikit terkejut ketika melihat letnan Jono
sudah berdiri tegak di depannya dan meminta dirinya untuk tetap tenang. Tapi
sepertinya suster Rahma mengetahui kedatangan letnan Jono, dia seperti
kura-kura dalam perahu. Alias pura-pura tidak tahu.
“Sssttt! Tenang san!” bisik letnan Jono sambil
masih mendengarkan senandung dari suster Rahma, mendengar perintah itu serka
Rini pun berusaha menahan suara yang akan keluar dari mulutnya. Sekalipun
letnan Jono tidak bertugas di Rumah Sakit, pangkatnya lebih tinggi dari pangkat
serka Rini, jadi sersan kepala itu menuruti perintah letnan Jono. Meski kecil,
letnan Jono tetap dapat mendengar senandung nyanyian itu, karena udara yang
dingin membuat suara yang kecil terdengar lebih besar.
“Suara kamu bagus!” celetuk letnan Jono. “kenapa
nggak jadi penyanyi?”
“Kopral! Kamu nggak istirahat!” katanya datar.
Serka Rini agak terkejut mendengar jawaban dari anak buahnya itu.
“Kamu yang bener!” tukas serka Rini.
“orang se-Indonesia sudah tahu mbak. Yang
namanya Jono tuh pangkatnya kopral, bukan letnan!” ledeknya.
“Nggak kenapa-kenapa san! Dia memang suka
begitu!”
“Mohon maaf ndan!” kata serka Rini lagi. “Ada yang bisa dibantu?”
“Saya tidak bisa tidur! Mohon ijin untuk ngobrol
dengan suster Rahma!” serka Rini berusaha menyusun kalimat untuk menolak
permintaan letnan Jono, karena giliran jaga suster Rahma masih tersisa lima belas menit.
“Aku masih tugas! Tunggu lima belas menit lagi ya!” kata suster Rahma.
“Lima belas
menit lagi aku sudah dapat giliran istirahat!” suster Rahma tahu bahwa
atasannya berada di posisi yang serba salah. Di satu sisi dia harus menuruti
kata letnan Jono karena pangkat yang lebih tinggi dari pangkatnya. Di sisi
lain, dia harus menjalankan peraturan yang dibuatnya sendiri.
“Oh iya! Aku pasti tunggu kamu!” letnan Jono pun
berlalu dan menuju kamar perawatannya, dan duduk di teras paviliun itu.
Setelah
jam tugasnya berakhir, suster Rahma langsung menemui letnan Jono yang sedang
duduk di teras paviliun. Suster Rahma pun duduk di sebelahnya kemudian
memandangi letnan Jono.
“Kamu kenapa? Nggak istirahat?”
“Aku susah tidur! Sejak kejadian itu aku terus
merasa bersalah!”
“Semua orang pasti punya salah mas letnan!”
“Ya, kamu benar!” letnan Jono terdiam. “Aku
ingin lebih mengenal kamu!”
“Setiap hari kita akan bertemu! Gunakanlah waktu
itu untuk mengenal aku!”
“Bagaimana caranya?”
“Aduh, pangkat kamu letnan tapi pikiranmu
kopral?” kata suster Rahma sambil cekikikan. “Gunakan luka ini!” kata suster
Rahma sambil menunjuk luka yang ada di bahu letnan Jono.
“Bagaimana caranya?”
“Semakin lama kamu dirawat, semakin lama juga
kamu akan mengenalku!” kata suster itu sambil menyodorkan jari kelingkingnya,
dan menyatukan di kelingking letnan Jono. “Aku janji!”
“Ya, terima kasih!” mereka terdiam sejenak.
“Ngomong-ngomong, siapa yang membawakan seragamku?”
“Letnan Agus tadi menghantar, kamu sudah tidur!”
“Hadi telah gugur ya!”
“Ya, apakah dia hebat?”
“Ya pastilah! Kalau tidak, dia tidak mungkin
menjadi salah satu dari antara kami!”
“Iya aku tahu!”
“Aku boleh minta sesuatu ke kamu?”
“Apa?”
“Aku mau dengar kamu bernyanyi!” suster Rahma
berpikir sejenak dan mengajukan satu syarat.
“Setelah aku bernyanyi, kamu harus istirahat!”
dan syarat itu disetujui oleh letnan Jono.
Gung dupa mengalun, buka tabir purbakala.
Riwayat priyangan, ibu nan menanggung malang.
Dipercinta oleh putera Sangkuriang sakti, walau mengetahui itu ibunya sejati.
Agar dapat berlari di tengah malam, dimintanya menyiapkan telaga dan perahu
semalam. Nun di timur fajar, tiba sebelum waktunya. Sangkuriang putera tak
menepati janjinya. Suster Rahma menyanyikan lagu itu dengan merdu, seirama desir
angin malam yang menerpa wajah letnan Jono yang sudah bersandar di dinding.
“Mas, kamu masuk ke kamar saja! Diluar dingin!”
kata suster Rahma membangunkan letnan Jono.
“Ya, aku akan masuk!”
……
Letnan
Andina terbangun dari tidurnya jam setengah enam pagi. Dia mengingat-ingat lagi
kenapa dia bisa sampai terbaring di tempat tidur perawatan, padahal semalam dia
tidur di tempat letnan Jono sedang tidur. Ah, pasti dia yang memindahkanku
untuk tidur disini. Ah, kenapa harus Jono? Andina mulai merasakan getar-getar
yang tidak dapat dideskripsikan dengan kata-kata dari dalam hatinya. Di balik senyummu ada cinta untukku, dibalik
matamu ada hati yang menunggu, ah. Jono, andai kamu datang beberapa bulan
sebelum aku mengenal Arifin.
Andina sudah terlanjur
mencintai Arifin, sampai dua minggu setelah kematian Arifin, Andina masih belum
bisa melupakannya, melupakan kenangan indah dengan Arifin. Tetapi dia merasa
lain sejak Jono datang dan memberikan penghiburan, Jono seakan menjadi
penghapus kenangan indah antara Arifin dan Andina, sekalipun Jono hanya
bermaksud untuk merealisasikan janjinya kepada Arifin untuk menjaga Andina.
Ya, Jono hanya ingin
merealisasikan janjinya kepada Arifin untuk menjaga Andina dengan penuh
ketulusan. Ketulusan Jono inilah yang menjadi faktor yang menggetarkan hati
Andina sedikit demi sedikit. Setiap kali Andina melihat wajah Jono, kenangannya
akan Arifin seakan terhapus. Wajah Jono memang tidak setampan perwira-perwira
lulusan Akademi Angkatan Laut di jamannya, tidak juga setampan Arifin. Tapi
ketulusan dari dalam diri Jono seakan mementahkan ketampanan lahiriah seorang
pria.
Letnan Andina memutuskan
untuk bangun dari tidurnya dan duduk, ternyata gerakannya itu membangunkan
letnan Jono sehingga dia harus menggenggam tangan Andina erat. Karena kaget, Andina
hampir berteriak.
“Jono, ini aku!”
“Ah, kamu! Kukira siapa!”
“Jono, ini sarapanmu!” kata Andina setelah
melihat se paket makanan di samping kasur itu.
“Ah, makanan rumah sakit! Harusnya kamu yang
makan makanan ini! aku ‘kan
gak kena sakit tipes!”
“Terus kamu mau makan apa?”
“Gulai atau tongseng!”
“Ngaco kamu!” kata Andina sambil meraup wajah
letnan Jono.
Mereka
kaget karena pintu ruang perawatan itu
terbuka, dan bukan suster Rahma yang membuka pintu itu. Bukan juga serka Rini.
Mereka harus tertegun beberapa detik karena yang dilihatnya adalah letnan Naryo,
letnan Soewoko dan beberapa pasukan detasemen yang semalam bertugas. Mereka
sengaja dibawa oleh letnan Naryo untuk memberitakan kabar dukacita itu kepada
Diana, istri dari sersan Hadi. Rupanya seturun mereka dari helicopter, mereka
langsung memberikan laporan kepada komando atas, kemudian menuju Rumah Sakit,
dengan setiap senapan digantung di punggung mereka masing-masing dan tidak satu
pun magasen terpasang disana. Helm baja telah mereka ganti dengan baret merah
Detasemen Jala Mangkara. Letnan Naryo dan letnan Soewoko tahu bahwa hal itu
akan sangat mengundang perhatian publik, maka atas keputusan dua letnan itu
mereka masuk melalui pintu belakang, melipir melalui kamar jenazah RSMC, gudang,
dan ke paviliun.
“Kalian sudah memutuskan untuk hidup bersama?”
Tanya letnan Naryo yang masih melihat tangan letnan Jono menggenggam telapak
tangan letnan Andina. Mendengar pertanyaan itu, letnan Jono melepaskan
tangannya, sementara letnan Andina hanya tertunduk tersipu.
Andina,
apa yang kamu pikirkan? Bathinnya kepada dirinya sendiri. Kamu nggak ada
perasaan apa-apa dengan Jono. Letnan Jono sudah menambatkan hatinya kepada
suster Rahma, jadi jangan ganggu dia.
“Temani kami! Ke Diana!”
“Diana?” heran letnan Jono.
Menyampaikan berita
kematian memang berat, namun berita itu harus segera sampai kepada pihak
keluarga. Letnan Naryo meminta supaya letnan Jono dan letnan Andina turut serta
membantu menyampaikan berita itu, letnan Naryo lebih meminta kepada letnan
Andina. Pada awalnya letnan Andina menolak, tapi ketika letnan Naryo melihat
brevet Detasemen Jala Mangkara yang tersemat di dadanya, letnan Andina tidak
dapat menolak.
“Disamping itu, kamu wanita! Kamu lebih mengerti
bagaimana psikis seorang wanita!”
Diana
masih terbaring di kasur perawatannya, sudah ada ibu, dan bapaknya, serta ibu
mertuanya. Bapak mertuanya tidak hadir, karena harus mengurus segala sesuatu
yang diperlukan untuk pemakaman sersan Hadi. Kolonel Wahyudi memang meminta
kepada orangtua Diana serta mertuanya untuk tidak memberitakan kabar ini dengan
tergesa-gesa. Jadi, ketiga orangtua itu tidak mengungkit-ungkit berita kematian
anak menantunya supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Ditengah
kebahagiaan Diana yang sedang menyusui anaknya, sekitar sepuluh orang anggota
Detasemen Jala Mangkara yang menggunakan pakaian tempur lengkap, dengan satu
orang yang berjalan pincang sersan Aris yang tertembak di pahanya, terlihat
kaki kirinya dipantek dengan kayu seadanya selain mereka, seorang letnan
mengenakan Pakaian Dinas Lapangan, dan seorang letnan dari Korps Wanita
Angkatan Laut dengan selang infuse yang masih tertancap di lengan kirinya,
mereka langsung mengisi tempat disekitar ruang perawatan itu, bu Suroto
langsung mengambil anak yang ada di pelukan Diana, dan memeluknya dengan penuh
kehangatan seorang nenek kepada cucunya. Sejenak, mereka tidak mengatakan
apa-apa, letnan Andina hanya mendekat ke Diana, dan tersenyum. Letnan Naryo
tidak pandai menyusun kata-kata, hal yang sama terjadi pada letnan Soewoko.
Biasanya letnan Jono yang menjadi juru bicara diantara teman-temanya, tapi letnan
Jono tidak ikut operasi itu jadi tidak bisa menceritakan keadaan yang
sebenarnya. Ditengah keheran-heranan Diana, terdengar satu suara yang cukup
tegas dan dapat didengar oleh semua orang yang ada di ruangan itu.
“Mohon ijin bicara ndan!!” kata sersan Aris yang
tertembak di paha kirinya. Setelah mendapat persetujuan dari tida komandannya,
dengan dibantu dua orang bawahannya sersan Aris agak maju mendekat ke Diana,
hingga posisinya kini sejajar dengan letnan Andina, letnan Jono, letnan Naryo,
dan letnan Soewoko.
“Yang suruh kamu maju siapa?” Tanya letnan Jono.
Sersan Aris pun kembali mundur, dan dari mulut letnan Jono terdengar suara
“Yang suruh kamu mundur siapa?” bukan hanya sersan Aris yang bingung, tapi dua
prajurit yang membantunya pun heran akan perintah letnan Jono.
“Jono!!” gusar Andina. “Sudah, san! Lanjutkan!”
kata letnan Andina lagi sambil meraih tangan Diana, ingin memberikan penguatan
kepadanya.
“Siap!!” sersan Aris menarik nafas panjang dan
berkata dengan singkat, padat dan jelas “Suamimu, Hadi adalah teman terbaikku!
Dia telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik!”
Diana
memperhatikan satu per satu wajah dari anggota pasukan yang terpekur memandangi
lantai ruang perawatan, dan tidak dilihat wajah suaminya. Dia sudah tahu bahwa
suaminya akan mati, tapi tidak secepat ini. air matanya mulai merembes
membasahi pipinya, jatuh di lengannya, dia menangis sejadi-jadinya. Letnan
Andina hampir dapat merasakan kepedihan yang dialami oleh Diana, karena sampai
saat itu, letnan Andina juga masih merasakan kepedihan ditinggal mati oleh
calon suaminya di tempat tugas.
“Saya sudah tahu apa yang akan terjadi! Boleh
saya minta sesuatu?” empat perwira yang ada di ruangan itu pun saling menatap,
kemudian mengangguk tanda setuju.
“Jika kami sanggup akan kami berikan! Tapi jika
tidak, kami akan bicarakan dengan komando atas!” kata letnan Jono.
Anak
yang baru dilahirkan itu suatu ketika pasti akan menanyakan bapaknya. Dia akan
mencari tahu kemana ayahnya. Diana meminta semua tentara yang ada di ruangan
itu, tak perduli perwira, bintara atau tamtama untuk memberi kesaksian kepada
anak itu jika satu ketika anak itu menanyakan keberadaan bapaknya. Memang tidak
berat bagi mereka, dan jika itu disetujui juga tidak akan melanggar perintah,
toh komando atas tidak memberi perintah untuk merahasiakan kisah heroik dari
sersan Hadi. Untuk ke sekian kalinya empat perwira yang ada di ruangan itu
saling menatap, dan semua memberi anggukan kepada letnan Jono. Letnan yang
terluka di bahunya itu pun kembali menarik nafas panjang, dan menghembuskannya
perlahan.
“Saya sanggup!” kata letnan Jono. Setelah itu
diikuti oleh letnan Soewoko, letnan Naryo, dan letnan Andina “Bagi kalian yang
sanggup untuk mengabulkan permohonan Diana, sampaikan kesanggupan kalian satu
per satu!” kata letnan Soewoko. Dan satu demi satu prajurit menyatakan
kesanggupannya untuk memenuhi permintaan Diana. Air mata haru mengalir dari
sudut mata sendu Diana.
“Terima kasih!” jawab Diana sambil menyeka air
matanya.
“Ya, sejak kamu menjadi istri Hadi, kamu adalah
keluarga kami!” kata letnan Naryo.
“Prajurit, siapkan diri untuk pemakaman rekan
kita!” kata letnan Soewoko.
“Siap ndan!” tegas semua prajurit yang ada di
situ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar