III
Jarum
pendek di jam yang melingkar pada pergelangan tangan Krishna baru menunjuk ke
angka empat, dan jarum panjang baru meninggalkan angka dua belas, jam empat lewat
lima menit.
Sore itu sama seperti sore-sore sebelumnya, di stasiun Sudirman. Ramai oleh
calon penumpang kereta yang menunggu keretanya. Begitupun Krishna yang baru
saja menjejakkan kakinya di peron stasiun Sudirman, masih termenung memikirkan
apa yang harus dilakukannya. Tetap mempertahankan cintanya kepada Tiffany atau
memutar haluannya.
Andaikata dia
ingin memutar haluan, Krishna hrus menentukan,
ke arah manakah tujuannya. Tania, ataukah Kandita, karena patut diduga, Kandita
juga menyimpan perasaan kepadanya. Bathin Krishna.
Dugaan itu tumbul serta merta ketika Kandita dengan kebebasaannya mengatakan
bahwa Krishna adalah pacar barunya. Meski
Krishna merasa janggal akan semua itu, dia tidak mungkin meremehkan
dugaan-dugaan yang muncul dari hatinya.
“Eh, Krishna,
ngapain loe jauh-jauh!” kata Kandita yang ‘mencegat’ nya dari bangku tunggu di
stasiun Sudirman.
“Kepo banget loe!” gurau Krishna.
“Eh, loe sudah makan belum?”
tanya Kandita.
“Kenapa loe mau traktir gue?”
canda Krishna.
“Hm, mau banget atau mau saja?”
Sekalipun
Kandita mencoba untuk kembali mencairkan cinta Krishna, dia tidak akan mampu
membuat penyesalan Krishna hilang tak berbekas
seperti air di daun talas. Seumur hidupnya, penyesalan terbesar bagi Krishna adalah terlalu cepat mengungkapkan perasaan
cintanya.
Kandita
masih merasakan dingin yang sangat menusuk kulit dari Air Conditioner didalam
rangkaian kereta listrik tipe Tokyu Metro
Seri 7200. Rangkaian kereta Tokyu Metro atau disingkat TM ini, tidak jauh
berbeda dengan kereta-kereta yang beroperasi di JABODETABEK. Memiliki delapan
kereta dengan kereta khusus wanita di depan dan belakang rangkaian. Kereta ini
berwarna silver, dengan warna merah di depan dan belakangnya, di sekujur
tubuhnya, melintang garis berwarna kuning dan merah, dan di kereta satu dan
kereta delapan, ada sebuah tanda, bisa dikatakan ‘batik’, yang mengartikan
bahwa itu adalah kereta khusus wanita, atau kebanyakan orang mengenal KKW.
Rasa
dingin yang menusuk kulit Kandita, tidak sedingin hati Krishna
yang sudah membeku, karena kekecewaannya. Bukan karena dia ditolak, tetapi
karena terlalu cepat Krishna mengeksplanasikan
semuanya. Semua sungai ingin kususuri,
semua bukit akan kudaki, semua padang
belantara akan kutembus. Harus kutemukan lagi sebutir cintaku yang hilang ditelan
dusta kemarau panjang. Dia ingin mencari episode cintanya yang hilang,
menurutnya. Sebenarnya episode cinta itu tidak hilang, hanya saja Krishna tidak menyadari bahwa episode itu sebenarnya ada
di dekatnya.
Semua
terasa begitu cepat, secepat irama lagu yang mengalun di mp3 player milik Krishna dan Kandita. Kereta pun sudah masuk stasiun
Depok, artinya tidak lama lagi kereta akan masuk stasiun Citayam, stasiun
tujuan mereka. Stasiun Depok memiliki ketinggian sembilan puluh tiga meter di
atas permukaan laut, sembilan belas meter dibawah stasiun Citayam, yang
memiliki ketinggian seratus dua belas meter di atas permukaan laut.
Kemacetannya masih belum dapat ditanggulangi. Penyebab utama kemacetan adalah
angkutan kota
yang ngetem menunggu penumpangnya
yang baru turun dari kereta, dan sepeda motor yang sruntal-sruntul, kalau orang jawa bilang. Saking parahnya kemacetan
di jalan itu, pejalan kaki sampai sulit menentukan langkah mana yang akan
dipilihnya. Mau ke kiri ada spion motor, ke kanan ada angkot, maju sedikit ada
knalpot motor. Maka dari itu, Krishna memutuskan diri untuk menunggu di ujung
selatan peron stasiun Citayam, begitupun Kandita yang tegak berdiri selangkah
disamping Krishna.
Stasiun
Citayam petang itu masih cukup ramai dengan penumpang yang baru turun dari
kereta. Ada yang langsung menuju ke jalan raya
untuk naik angkutan kota,
ada pula yang bergegas masuk ke tempat penitipan sepeda motor untuk mengambil
kendaraannya.
“Loe nggak pulang Krish?” tanya Kandita.
“Loe nggak lihat masih ramai begini?
Ngelihatnya saja sudah eneg gue!”
“Iya juga sih!”
Dari
keramaian penumpang yang berjejalan di peron tengah, ada sedikit kericuhan dari
sesama penumpang. Krishna menoleh ke arah
kericuhan tersebut, dan menyiapkan pistol airsoftgun nya, kemudian memberikannya
kepada Kandita. Gadis itu dengan takut memegang senjata pemberian temannya itu,
dia hanya menyembunyikan senjata itu dibalik jacket nya.
“Tembak kepada apa pun yang loe
benci!” kata Krishna singkat, padat dan jelas,
dan dia menyiapkan pistol dari sisi lain ikat pinggangnya.
“Jacket biru, topi hitam, dan
pakai masker! Itu copet! Barang bukti ada di dia!” seru salah seorang penumpang
dari seorang pria yang berjejalan di peron itu. Dan dengan segera, Krishna turun ke rel, dan menodongkan pistolnya kepada
orang yang dimaksud. Pria dengan jacket biru dan topi hitam itu pun segera
melempar apa yang didapatkannya itu ke kolong peron, tapi percuma saja. Ujung
pistol Krishna sudah tepat di kepalanya, dan tidak lama setelah kejadian itu, lima orang anggota
sentinel bersama tiga anggota Marinir yang diperbantukan untuk mengamankan
stasiun pun mendekati pencopet yang bisa dikatakan bodoh.
“Buktinya, ada di bawah peron!
Sersan Derry, segera ambil dan amankan!” perintah Krishna
singkat dan jelas. Sersan Derry, memandangi Krishna
dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Rambutnya sudah seperti potongan
perwira Angkatan Laut, dia membawa pistol, dan mengenakan celana yang warnanya
sama dengan celana Pakaian Dinas Harian PDH Angkatan Laut, tapi kenapa dia
memakai kemeja putih, tingginya juga kurang dari tinggi rata-rata perwira
Angkatan Laut dan kenapa dia baru pulang jam segini? Sersan Derry memperhatikan
baik-baik, begitupun kedua prajurit muda yang menjadi bawahannya.
“Kamu tunggu apa sersan?” tanya Krishna pelan. “Cepat ambil dan amankan!” tambah Krishna
dan, karena sersan Derry itu tunduk dan patuh
kepada atasan dengan tidak pernah membantah perintah ataupun putusan, dia pun
berkata.
“Siap ndan!” meski dia masih ragu
untuk mengatakan itu. Krishna pun menyarungkan
kembali pistolnya dan menggiring pencopet itu, dan juga orang yang meneriaki
copet itu.
Sersan
Derry bersama dua anak buahnya, seorang komandan PAMSUS dan Krishna
masih berada dalam ruangan PAMSUS stasiun Citayam. Menginterogasi pencopet itu,
dengan cara mereka tentunya, cara militer. Lampu di arahkan ke pelaku, dan
pelaku ditanyai segala hal, mulai dari nama, hingga kenapa sampai terjadi
kejadian malam itu. Sampai pada satu pertanyaan.
“Berapa orang kalian beroperasi
malam ini?” tanya Krishna, dan tidak mendapat
jawaban yang pasti.
“Siapa dari antara kalian yang
pernah ke Aceh?” tanya Krishna.
“Siap, belum pernah ndan!”
Krishna lalu mengambil pisau komando yang menggantung di kopel sersan Derry dan menghunuskannya ke wajah pencopet itu.
“Berapa orang kalian beroperasi?”
tanya Krishna.
“Tidak tahu!”
“Sersan, kamu tahu apa yang harus
kamu lakukan!” kata Krishna setelah melihat Kandita
yang sudah menunggu di depan pintu.
“Mohon petunjuk ndan!”
“Kemungkinan sindikat ini sudah
bekerjasama dengan polisi! Kalau diserahkan kepada polisi, mungkin polisi akan
membebaskannya, dan mereka akan kembali beroperasi! Tanyakan pada penumpang,
akan diapakan orang ini!” kata Krishna
singkat.
“Siap ndan!”
“Pak, saya pulang duluan! Sudah
ditunggu!” kata Krishna kepada komandan PAMSUS
itu sambil menunjuk kepada Kandita yang sedang menunggu di ambang pintun
ruangan itu.
“Iya pak, terima kasih! Boleh
minta nomor yang bisa dihubungi?” tanya komandan PAMSUS itu. Krishna
pun memberikan nomor hand phone nya, dan pergi meninggalkan mereka.
Kandita
memandang Krishna dengan geramnya, dengan
tatapan tidak suka, tatapan kebencian. Bukan karena Krishna telah menangkap
pencopet itu, tapi karena Krishna telah menitipkan pistol airsoftgun nya kepada
Kandita, hingga saat itu banyak orang di stasiun berjalan agak menjauhi Kandita,
itu karena Kandita memegang pistol yang diberikan oleh Krishna, maka dari itu, Kandita
ingin sekali mengembalikan pistol yang diberikan oleh Krishna.
“Hai Kandita!” sapa seorang pria
dengan potongan yang cukup norak di mata Kandita, sehingga Kandita il feel
dibuatnya.
“Ngapain loe?” tukas Kandita
sambil mengeluarkan pistol milik Krishna, dia
ingin mengembalikan kepada pemiliknya yang sudah tegak didepannya, namun pria
di belakangnya menanggapi lain, dia menggigil ketakutan, dan memohon diri.
“Kenapa loe cengengesan?” tukas Kandita
sambil memberikan pistol itu kepada pemiliknya, sama seperti waktu dia menerima
dengan pegangan pistol yang teracung, bukan laras nya.
“Loe lucu!”
“Nggak ada yang lucu!” tukas Kandita
sambil berjalan meninggalkan Krishna.
“Hei, jadi makan nggak?” canda Krishna. Dia sudah mengetahui bahwa Kandita hanya
pura-pura marah kepadanya. Karena hanya itulah yang biasa dilakukannya sejak
SMA.
Seperti
sebelumnya, di restoran padang
itu, mereka memesan sepotong kepala kakap besar, dengan empat porsi nasi.
Mereka duduk berhadapan. Mereka sudah dapat merasakan banyak perubahan sejak
mereka lulus dari bangku Sekolah Menengah Atas, Kandita sudah menyadari,
perasaan sayangnya sebagai seorang teman telah bermetamorfosis menjadi perasaan
cinta seorang wanita kepada pria pujaan hatinya. Tapi apakah Krishna
merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Kandita?
Belum,
Krishna belum merasakan hal itu, karena masih
ada orang yang mengambil hatinya. He
can’t love somebody when his heart somewhere far away. Krishna
belum dapat mencintai siapa pun. Tidak juga Tania, eh belum! Paling tidak
sampai Tiffany mengembalikan hati Krishna ke
tempatnya.
Kandita
memulai makannya, dengan menuangkan kuah kepala kakap ke nasi yang ada di
piringnya. Begitupun Krishna, dengan meminum segelas teh tawar hangat yang
dipesannya. Sambil masih memandangi Kandita, Krishna
mulai memasukkan nasi ke mulutnya.
“Ngapain loe lihat-lihat gue?”
tanya Kandita.
“Sensi banget loe! Kenapa sih?
Ini ‘kan
bukan siklus loe!” Kandita merasa tersendat, sesak di kerongkongan dan
tenggorokannya, nasi yang ada pun rasanya ingin menyembur keluar, Kandita
sangat tidak menyangka kalau Krishna sampai
memperhatikan kapan dinding rahim nya luluh dari tempatnya.
“Apa masalah loe sih?” gusar Kandita
sambil menelan nasi yang masih ada di kerongkongannya dan melancarkannya dengan
air jeruk hangat yang dipesannya.
“Gue heran saja!”
“Kok loe bisa tahu siklus gue?”
heran Kandita.
“Gue ini Pengamat, Peneliti, dan
Pelaksana muda komunikasi!”
“Apa hubungannya komunikasi
dengan siklus haid gue?” selidik Kandita.
Selama
beberapa bulan, Krishna mengamati temannya
itu, hanya mengamati, bagaimana sikap dan sifatnya. Membedakan sifat dan sikap,
tidak jauh berbeda dengan membedakan iklim dan cuaca. Kalau cuaca itu mudah
berubah, sedangkan iklim agak sulit untuk berubah, andaikata berubah pun
memerlukan waktu puluhan tahun. Skup wilayah cuaca tergolong kecil jika
dibandingkan dengan skup wilayah iklim. Seperti contoh, cuaca di Bogor, berbeda dengan cuaca di Surabaya, tapi berada pada satu iklim yang
sama. Iklim tropis.
Begitupun
sikap dan sifat. Yang mudah berubah adalah sikap, beradaptasi sesuai dengan
situasi dan kondisi yang sedang terjadi, berlangsung cepat. Sikap Kandita
kepada Krishna jelas berbeda dengan sikapnya
kepada Tiffany, ataupun mantan pacarnya. Tetapi kedua sikap itu msih berada di
dalam satu sifat Kandita, pendiam, meski terkadang cerewet. Perhatian, meski terkadang cuek. Baik,
meski terkadang……
“Selama loe haid, loe
mengeluarkan lambang komunikasi non verbal! Dan gue memperhatikan dari situ!
Loe suka sensi, riweuh!” Mrtha hanya
melanjutkan makannya, menikmati potongan daging yang menempel di kepala kakap
itu.
“Setiap minggu ke-tiga ‘kan?” tebak Krishna,
sehingga Kandita kaget dan.
“Nggak usah ngomongin itu lah!”
gusar Kandita.
“It’s oke! Nggak lagi!”
“Tdi ngomongin apa aja di ruang
PAMSUS?” tanya Kandita sambil masih mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
“Hus, kalau makan jangan sambil
ngomong! Nanti keselek!” gumam Krishna sambil
mengambil sepotong kerupuk kulit dan memakannya.
“Iya, tadi ngomongin apa?” tanya Kandita.
“Hanya ditanya-tanya kok!”
“Kok tadi tiga orang marinir itu
bisa nurut sama kamu?”
“Karena aku mirip perwira
Angkatan Laut!” kata Krishna bangga.
“hm, nggaya mu Krish!” gumam Kandita.
“Terus dompetnya bagaimana?” tanya Kandita lagi.
“Akan dikembalikan oleh petugas
PAMSUS!” singkat Krishna
“Oh, baguslah!” gumam Kandita.
Mereka
pun mengakhiri makannya, tak terasa, sudah tidak ada segurat daging pun di
tulang tengkorak ikan kakap itu, bersih, begitupun nasi yang ada di piring
mereka masing-masing. Mereka saling menatap dan tersenyum, Kandita melemparkan
senyuman yng melambangkan isi pesan cintanya kepada Krishna, tapi Krishna tidak mengetahui pesan non verbal itu. ‘Krishna, Krishna, kamu sarjana ilmu komunikasi dengan indeks
prestasi kumulatif tiga koma dua puluh, tapi tidak bisa menafsirkan pesan dari
komunikasi non verbal? Itu angka tiga koma dua puluh kamu dapat dari mana?’
Gumam Kandita dalam hatinya.
“Thank you banget ya Krish!” kata
Kandita.
“Santai saja kali! Loe juga
sering ‘kan traktir gue!” kata Krishna singkat.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Slamet
Sumardi, pak Mardi baru saja masuk ke rumahnya, dan baru menyadari bahwa ada
yang hilang dari saku celananya, dia memiliki dua buah dompet. Satu dompet
digunakan untuk menyimpan barang berharga, kartu ATM, uang, dan kartu asuransi
nya, dompet ini biasanya disimpan di tas nya, dan. Satu dompet lainnya
digunakan untuk menyimpan kartu nama, KTP, dan kartu identitas lainnya,
biasanya disimpan di saku belakang celananya, agar mudah diambil jika perlu
untuk mengeluarkan kartu identitasnya.
“Dompet bapak kecopetan bu!”
singkat pak Mardi setelah tidak menemukan handphone nya.
“Duh, bapak kok bisa sih!” gusar
istri tercintanya.
“Bapak jug nggak tahu bu!”
“Dompet yang mana pak?”
“Yang ada KTP bapak disitu!”
“Oh, nanti juga pulang sendiri
pak!” seru Tiffany.
“Iya, kalau nggak kembali
bagaimana?”
“Ya, buat baru KTP!” singkat
Tiffany.
“Sudah, pak! Makan dulu!” kata bu
Mardi.
Pak
Mardi masih mencatat dan mengingat-ingat kartu apa saja yang ada di dompetnya
itu, bahkan makannya pun tidak nyaman, karena disitu ada kartu pengenal untuk
masuk ke kantornya, kalau tidak diketemukan sampai besok pagi, artinya dia
nggak bisa masuk kantor. Kalau nggak masuk kantor artinya absen. Ditengah
kegalauannya, bu Mardi, istrinya itu dengan gelisah menemui suaminya.
“Pak, bapak dicari dengan polisi
dan marinir itu!” gusar nya.
“Polisi? Marinir?”
“Iya! Polisi nya bawa senjata!
Tapi yang marinir nggak bawa!” tambah gusar lah bu Mardi.
“Mau ngapain ya?” pak Mardi
bergegas ingin menemui mereka.
“Pak, hati-hati!” air mata bu
Mardi mulai jatuh membasahi pipinya.
“Ada yang bisa di bantu?” tanya pak Mardi.
“Dengan bapak Slamet Sumardi?”
tanya sersan Derry.
“Ya, saya sendiri!”
“Kami ingin mengembalikan ini
pak!” kata sersan Derry sambil memberikan
dompet pak Mardi.
“Oh, terima kasih pak! Mari,
silakan mampir!” kata pak Mardi mempersilakan tamunya itu.
“Terima kasih pak! Kami harus
melanjutkan tugas” kata Bripda Hassan.
“Sebentar pak! Tolong ceritakan
bagaimana dompet saya bisa ada di bapak-bapak sekalian!” sersan Derry pun menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Bagaimana
seorang pemuda mengarahkan pistol airsoft gun nya kepada pencopet dompet itu,
sampai mereka bertemu dengan korban pencopetan itu.
“Oh, begitu ceritanya!” pak Mardi
manggut-manggut.
“Saya boleh minta nomor yang bisa
dihubungi dari atasan anda?” tanya pak Mardi. Sersan Derry pun memberikan nomor
handphone Krishna kepada pak Mardi.
“Maaf kalau boleh tahu,
pangkatnya apa?” tanya pak Mardi.
“Saya kurang tahu pak! Beliau
atasan saya dari keatuan lain!” singkat sersan Derry.
“Baik, terima kasih sersan!” kata
pak Mardi.
“Sama-sama pak! Mari, kami harus
kembali ke basis!” sersan Derry memohon diri.
“sekali lagi, terima kasih!”
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kamis pagi di stasiun Bojonggede, masih ramai dengan calon penumpang yang akan berangkat ke tempat kerjanya. Sepanjang peron terisi oleh calon penumpang kereta listrik, jangankan peron, bahkan jalur satu, jalur ditempat kereta yang akan menuju Bogor pun telah menjadi tempat menunggu bagi sebagian besar penumpang, duduk-duduk, membaca koran, merokok. Kebanyakan yang menunggu dir el adalah penumpang kereta ekonomi.
Kamis pagi di stasiun Bojonggede, masih ramai dengan calon penumpang yang akan berangkat ke tempat kerjanya. Sepanjang peron terisi oleh calon penumpang kereta listrik, jangankan peron, bahkan jalur satu, jalur ditempat kereta yang akan menuju Bogor pun telah menjadi tempat menunggu bagi sebagian besar penumpang, duduk-duduk, membaca koran, merokok. Kebanyakan yang menunggu dir el adalah penumpang kereta ekonomi.
Diperhatikan, jalur dua dari selatan akan
segera masuk KRL Commuter Line tujuan Jakarta Kota. Jangan menyeberangi
jalur dua KRL Commuter Line tujuan Jakarta Kota. KRL Commuter Line
tujuan Tanah Abang, Jatinegara rangkaiannya berangkat stasiun Bogor. Untuk KRL Commuter Line tujuan Bogor,
rangkaiannya saat ini masuk stasiun Depok. Perhatikan karcis dan barang bawaan
anda agar jangan tertinggal di stasiun maupun di dalam rangkaian kereta. Bagi
penumpang yang tidak dapat naik, harap tidak memaksakan diri, utamakan
keselamatan diri anda.
Baru
saja announcer selesai memberikan informasi tentang pemberangkatan kereta, dan Krishna sudah bersiap untuk naik kereta itu. Kereta yang
akan membawanya ke stasiun Depok, dari stasiun Depok, dia akan naik kereta
balik tujuan Tanah Abang sampai Jatinegara pemberangkatan jam tujuh lewat tujuh
menit. Karena Krishna akan turun di stasiun Sudirman. Pintu kereta pun terbuka
bagi penumpang-penumpang yang sudah memiliki karcis perjalanan.
Pintu
kereta pun tertutup, dan semua penumpang sudah berada di dalam lambung kereta
itu. Padat, seperti layaknya ikan sarden, atau kornet. Jika dilihat memang
tidak etis, membiarkan penumpang berjejalan seperti itu. Apalagi jika sampai
naik ke atap kereta. Tapi mu bagaimana lagi? Pertumbuhan masyarakat Indonesia cukup
tinggi, ditambah dengan adanya ‘sentralisasi penduduk’ yang tidak terkontrol.
Banyak orang dari daerah yang berurbanisasi ke Jakarta. Jakarta menjadi daerah kodomain, jika dahulu
jamannya group band legendaries Koes Ploes Jakarta adalah domain, Kembali Ke Jakarta kalau sekarang
Berangkat Ke Jakarta, maka dari itu semrawut.
Dalam
sebuah perkuliahan, seorang dosen pernah menjelaskan tentang
kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah orde baru. Transmigrasi,
keluarga berencana (KB), pembangunan. Beliau menjelaskan betapa pentingnya
program-program seperti itu diterapkan di Indonesia, hasilnya bukan untuk saat
itu juga, tetapi untuk beberapa puluh tahun ke depan. Tergelitik dengan
pernyataan ini, seorang mahasiswa yang kupu-kupu
(kuliah, pulang – kuliah, pulang) mengajukan pertanyaan. ‘Jadi menurut bapak,
runtuhnya rezim orde baru, dan lengsernya Jendral Soeharto sebagai presiden
baik atau tidak untuk kemajuan bangsa Indonesia? Karena yang saya tahu,
dari teman-teman pak termasuk mas-mas mahasiswa senior yang pernah mengalami
langsung kejadian ini, katanya rezim orde baru itu malah menyengsarakan bangsa
ini saya mohon penjelasannya pak!’ pertanyaan itu pun membuat mahasiswa lain
bersahutan, kelas menjadi riuh ramai dengan komentar-komentar mahasiswa,
mahasiswi lain tentang pertanyaan itu. Dosen itu menatap mahasiswa yang
bertanya itu, dan tersenyum. Beberapa saat kemudian kelas pun menjadi sepi,
tenang, dan semua mahasiswa yang ada di kelas itu menatap dosennya yang sedang
menatap kawannya yang bertanya.
Sebelum
mengawali penjelasannya, pak dosen menerangkan bahwa sudah enam tahun terakhir
dalam kegiatan mengajarnya, dia tidak mendengar dan menjawab pertanyaan itu. Buruk
dalam hal apa? Dalam sistem dan kebijakan, saya rasa itu baik! Bayangkan,
transmigrasi dapat mengurangi penduduk di Jakarta
ini, jadi ada sebuah ‘desentralisasi penduduk’ tidak terpaku pada satu kota. Masih banyak
hutan-hutan di Kalimantan yang masih belum digunakan! Ladang gambut bisa
dijadikan PERUMNAS, dan dengan adanya penduduk, bukan tidak mungkin dibangun
sarana dan prasarana yang mendukung, transportasi, perumahan penduduk, seperti
itu contohnya. Lalu program KB (Keluarga Berencana) sepasang suami istri hanya
cukup punya dua anak. Dalam sebuah RT, ada lima belas keluarga, dikalikan empat, enam
puluh kepala. Bayangkan jika keluarga-keluarga di sebuah RT memiliki lima atau enam anak, delapan dikali lima belas, seratus dua puluh kepala. Hal ini
yang menyebabkan pertumbuhan masyarakat Indonesia, di wilayah ini cukup
pesat, dan tidak diimbngi dengan desentralisasi penduduk itu. Jadi ketika itu,
kita bangsa Indonesia
seperti pesawat yang sedang lepas landas, sudah siap terbang, dalam hal sistim
lho ya, kalau sistim itu sudah terpenuhi, kita akan sejahtera. Kemudian dengan
adanya peristiwa itu, kita jatuh kembali. Lebih lanjut lagi pak dosen
menyesalkan bahwa sistim-sistim maupun kebijakan-kebijakan dari masa Orde Baru
tidak diterapkan lagi. Untuk sejenak, pak dosen diam dan membiarkan
mahasiswa-mahasiswinya mencerna perkataannya.
Kenapa
sih pak, orang-orang Indonesia
khususnya di wilayah ini tidak mau menerima sistim itu? Dan diskusi pun kembli
dimulai. Kali ini, seorang mahasiswi dua baris dari depan yang mengajukan
pertanyaan itu.
Bukannya
tidak, kata pak dosen bijak. Orang-orang kita belum menyadari pentingnya
program-program seperti itu. Disamping itu orang orang kita, masih beranggapan
bahwa banyak anak banyak rejeki. Anak lah yang menjadi sumber kesejahteraan
bagi keluarga. Lihat Amerika, Singapura negara maju mereka berusaha untuk tidak
memiliki banyak anak, bahkan mereka mencoba untuk tidak memiliki anak. Kalian
pasti sudah lulus dari sekolah menengah atas ‘kan? Perbedaan negara maju dan berkembang. Kita
lihat saja itu.
Jadi,
sampai saat ini Indonesia
masih sebagi negara berkembang karena itu pak? Bukankah kita punya wilayah yang
luas pak? Sumber daya kita juga banyak ‘kan?
Diskusi pun kembali dimulai.
Luas
wilayah tidak menjadi jaminan yang pasti bagi kemajuan dan kesejahteraan suatu
bangsa. Seru mahasiswa yang kupu-kupu. Di tahun dua ribu sebelas, United Nations Development Programme
(UNDP) mengadakan sebuah penelitian tentang kesejahteraan suatu bangsa,
pencetusnya adalah Mahbub ul Haq ahli ekonomi Pakistan, bukan Pacitan ya! Dan
Amartya Sen ahli ekonomi India,
yang menyatakan bahwa kesejahteraan adalah terbukanya kesempatan untuk
mendapatkan hak dasar. Mereka menciptakan rumus Indeks Pembangunan Manusia (HDP
Human Development Programme) yang
memperhitungkan tiga hal diantaranya kesehatan, pendidikan dan kelayakan hidup.
Kesehatan diukur dengan panjang usia, pendidikan dengan lama sekolah, dan
kelayakan hidup dengan rata-rata Gross
National Income per kapita. Dan di tahun dua ribu sebelas, IPM Indonesia
menurut laporan UNDP berada di peringkat seratus dua puluh empat dari seratus
delapan puluh empat negara. Indonesia
kalah dengan Malaysia,
di peringkat enam puluh satu. Singapura, dua puluh enam. Brunei, tiga
puluh tiga. Kita di atas Timor Leste, seratus empat puluh tujuh, dan Papua
Nugini, seratus lima
puluh tiga. Tapi apa kita mau bersaing dengan dua bangsa itu? Jadi
kesimpulannya, manusia-manusia nya lah yang membuat sebuah bangsa menjadi
sejahtera. Bukan luas wilayah atau sumber daya alam yang ada di negara itu.
Lihat Singapura, luas wilayahya bahkan lebih kecil daripada luas wilayah DKI
Jakarta, dan nggak ada sumber daya alam.
Mereka
memanfaatkan peluang bisnis! Singapura adalah pintu masuk kapal-kapal asing ke Indonesia
maupun sebaliknya. Celetuk kawannya.
Tepat
sekali! Kalau Singapura bisa, kenapa kita tidak? Kata dosen itu sambil melihat
jam tangannya. Tidak terasa, mereka sebanarnya sudah menghabiskan empat SKS,
padahal matakuliah itu hanya tiga SKS, pak dosen pun mengakhiri kuliahnya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Krishna masih berada di meja kerjanya siang itu.
Tugas-tugas kantornya sudah selesai semua, dia ingin segera makan siang, karena
dari semalam perutnya belum diisi oleh sebutir nasi pun. Krishna
ngelih lapar. Dia bergegas masuk ke
ruangan atasannya dan menyerahkan laporannya.
“Permisi, pak!”
“Eh, iya Krishna,
silahkan!”
“Ini laporan saya!” kata Krishna sambil memberikan sebuah flashdisk kepada
atasannya. “Komputer di tempat saya lagi bermasalah pak!” singkat Krishna.
“Ya, terima kasih ya! Panggil
teknisi saja!”
“Mungkin nanti pak!” kata Krishna sambil memohon diri kepada atasannya.
Tidak
jauh dari kantornya, ada sebuah warung Tegal (WARTEG) yang menjadi tempat makan
bagi karyawan di kantor itu. Dia melihat Annisa, teman kantornya, yang juga
sedang makan siang di warung itu.
“Eh, bu Nissa!” ledek Krishna.
“Wah, ada pak Krishna!”
“Duduk Krish, sini!” kebetulan
disampingnya masih ada tempat kosong.
“Yup, thank you Niss!” kata Krishna yang masih memilih-milih lauk yang tesedia. Nasi
putih dengan tumis usus ayam adalah menu santap siangnya, karena memang itu
adalah makanan kesukaannya.
“Loe seneng banget sama usus ayam
pak?” tanya Anissa.
“Enak kok! Emang loe nggak suka
bu?”
“Nggak! Gue takut sama
kolesterol!”
“Emang loe sudah punya penyakit
kolesterol?” tanya Krishna.
“Belum!” singkatnya.
“Nah, mumpung belum kena penyakit
kolesterol bu! Loe nikmatin deh!”
“Gila loe!” kata Anissa sambil
menahan tawanya.
Krishna masih menikmati makannya, siang itu, bersama
dengan teman-teman sekerjanya. Saat Krishna hendak menyuapkan sesendok nasi ke
mulutnya, hand phone nya yang disimpan di saku baju nya berdering keras. Ada panggilan dari nomor
yang tidak dikenal.
“Halo, selamat siang!” Krishna mengawali pembicaraannya.
“Selamat siang, dengan bapak
Krishna benar?” suara laki-laki tua di ujung telefonnya membuat Krishna bertanya-tanya, siapakah bapak tua itu.
“Ya, benar saya sendiri!”
“Maaf, apakah saya mengganggu
kegiatan bapak?” tanya orang itu dengan logat jawa yang masih kental di
lidahnya.
“Tidak, pak! Tidak sama sekali
ada yang bisa saya bantu pak?”
“Begini, pak Krishna!
Saya Slamet Sumardi, orang yang semalam kecopetan! Saya mendengar berita dari
anak buah bapak, kalau bapak yang menangkap pencopet itu?”
“Oh, sebenarnya bukan saya, pak!
Saya hanya mencegat! Bukan menangkap!”
“Ya, pada intinya bapak sudah
membantu saya menyelamatkan surat-surat penting saya!”
“Oh, iya pak! Saya hanya membantu
saja!”
“Bapak naik kereta dari stasiun
apa?” tanya pak Mardi.
“Saya dari Sudirman, pak!” kata Krishna pelan.
“Bisa kita bertemu nanti sore?”
“Nanti akan saya usahakan pak!”
“Jam berapa bapak pulang kantor?”
tanya pak Mardi.
“Nanti saya keluar kantor jam lima pak! Sampai stasiun
jam lima
seprapat!”
“Baik, pak! Nanti saya akan
menunggu bapak!” kata pak Mardi singkat.
Krishna
baru memasuki stasiun Sudirman, sore itu jam lima lewat sepuluh waktu stasiun Sudirman. Ditangannya
ada selembar uang dua puluh ribu untuk membeli dua lembar karcis kereta
commuter line tujuan Bogor,
satu untuknya dan satu untuk temannya, Kandita Adisti Ekaturangga. Dan dia
memberi kabar kepada pak Mardi, orang yang mengaku pernah ditolongnya.
“Pak, saya sudah di stasiun!”
kata Krishna.Dengan segera, pak Mardi menelfon Krishna.
“Halo selamat sore!” Krishna mengawali pembicaraannya.
“Ya selamat sore!” pak Mardi pun
berdiri dari tempat duduknya dan melihat sekeliling.
“Pak, saya sudah lihat bapak!”
kata Krishna sambil berjalan menghampiri pak
Mardi.
Pak
Mardi tercengang melihat orang yang telah menolongnya, ternyata masih
kinyis-kinyis, seusia anaknya. Dia melihat seorang perempuan di belakang Krishna.
“Pak Krishna ya?” kata pak Mardi.
“Pak, maaf. Jangan panggil saya
‘pak’ saya masih terlalu muda!”
“Oh, iya mas!” kata pak Mardi.
“Terima kasih atas bantuannya mas!”
“Ya, pak! Saya hanya bisa bantu
itu!” singkat Krishna.
“Mas, saya mengundang mas dan
mbak untuk makan malam di rumah saya malam ini!” kata pak Mardi.
“Oh, nggak usah repot begini
pak!” kata Krishna.
“Saya ingin kenalkan mas dan mbak
ke keluarga saya!”
“Bagaimana?” tanya Krishna kepada Kandita.
“Ya, mari silakan!”
Perbincangan
hangat terjadi di rangkaian kereta commuter line tujuan Bogor, sore itu. Pak mardi menceritakan
tentang keluarganya. Anak pertamanya yang sudah bekerja, anak keduanya yang
masih kuliah, dan anak terakhirnya yang masih duduk di bangku kelas tiga
Sekolah Menengah Pertama. Krishna dan Kandita
pun menceritakan kehidupannya masing-masing.
“Jadi mas Krishna
ini bukan marinir?”
“Bukan pak!”
“Bukan perwira Angkatan Laut
juga?”
“Bukan pak! Saya orang sipil!” kata
Krishna menjelaskan.
“Lalu, mas Krishna
bisa dapat senjata?”
“Ini hanya replika pak!” kata Krishna sambil tersenyum.
“Jadi nggak terlalu bahaya ya
mas?”
“Bahaya sih bahaya pak! Saya juga
mengeluarkannya di saat-saat tertentu! Hanya untuk menjaga diri!”
“Oh, bagus!”
Pak
Mardi, dan Krishna berjalan berdampingan, sementara Kandita berjalan dibelakang
Krishna. pak Mardi menganalisa bahwa Krishna dan Kandita adalah pasangan suami-istri. Jadi,
pak Mardi tidak bertanya lebih banyak tentang hubungan mereka, meski pak Mardi
sangat ingin mengetahuinya. Stasiun Cilebut, petang itu masih ramai oleh
penumpang yang baru turun di stasiun itu, dan lembayung senja masih terlihat
indah, awan gemawan yang berwarna putih sudah bercampur dengan warna biru
langit dan warna jingga senja.
“Mari, mas Krishna, mbak Kandita!”
pak Mardi mempersilakan Krishna dan Kandita untuk masuk ke rumahnya, kemudian
memanggil istri dan anak ke dua dan ke tiganya lalu memperkenalkan kepada Krishna dan Kandita. Saat itu, Krishna
dan Kandita duduk membelakangi pintu rumah itu.
“Anak saya yang pertama belum
pulang! Sebentar lagi juga pulang!” kata pak Mardi.
“Monggo, silahkan di minum mas!” kata bu Mardi.
“Nggih, matur nuwun nggih bu!”
“Kowe wong jowo tho le?” tanya pak Mardi.
“Nggih, pak!” singkat Krishna.
“Jowo ne endi?” tanya pak Mardi.
“Kebumen pak!” singkat Krishna
“O, Kebumen!”
Dan
tiba-tiba, seorang gadis masuk ke teras rumah itu, membuka sepatu dan
menyampirkan sweater nya, lalu masuk ke ruang tamu rumah itu, dan melihat dua orang
tamu yang tidak asing dimatanya.
“Tiffany, kamu ngapain disini?”
gumam Krishna
“Oh, iya mas Krishna,
ini anak pertama saya”
“Oh, anak pertama bapak!”
tercekat kerongkongan Kandita mendengar itu.
Apakah
pertemuan ini sudah direncanakan sebelumnya? Apakah Krishna sengaja ingin
mempermalukan Kandita di depan Tiffany? Beribu perasaan menghujam hati Kandita
petang itu, dan dia harus berperang dengan perasaannya itu, perasaan yang
sedang menyiksa hatinya. Kandita mulai menerka-nerka pembicaraan apa yang akan
terjadi berikutnya, pak Mardi akan menanyakan apakah Kandita dan Krishna adalah
pasangan suami-istri, lalu kemudian Krishna menyatakan bahwa Kandita bukanlah
istrinya, dan krishna akan dijodohkan dengan Tiffany. Ohh, teriris hati Kandita
jika harus mendengar percakapan itu.
“Kalian sudah saling kenal?”
tanya pak Mardi.
“Nggak terlalu sih pak!” kata
Tiffany singkat.
“Mari, langsung saja mas Krishna, mbak Kandita, istri saya sudah selesai memasak!”
kata pak Mardi. Tiffany dan kedua adik nya pun membantu seperlunya, memindahkan
nasi dan lauk pauk seadanya dari dapur ke ruang tamu.
“Ya, mari pak!”
“Krish, ini minum nya!” kata
Tiffany sambil memberikan segelas teh, apakah itu manis atau tawar, Krishna belum mencicipinya. Karena Tiffany memberikan
segelas teh kepada Krishna, Kandita semakin
bertempur dengan perasaannya, mengalahkan satu per satu perasaannya yang datang
mengepung. Ah, mengenaskan. Bathin Kandita, melihat orang yang dicintainya itu
dilayani oleh wanita lain yang secara definitive adalah saingannya sendiri,
perih, pedih, seperti luka yang disiram dengan air laut. Begitulah perasaan
hati Kandita saat itu.
“Mas Krishna
dan mbak Kandita ini sudah lama hidup berkeluarga?” tanya pak Mardi. Kandita
sangat mengharapkan Krishna menanggapi
pertanyaan itu dengan jawaban ‘belum, pak! Baru tiga bulan!’ atau ‘ya, sudah
dua tahun pak!’ tapi tidak kenyataannya.
“Kami? Kami hanya teman pak!
Teman Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas”
“Saya kira mbak Kandita dan mas Krishna ini pasangan suami-istri! Ternyata bukan tho?”
“Iya, pak!”
“Atau pacaran?” tanya pak Mardi.
“Belum, pak!” kata Krishna. Belum, belum bukan berarti tidak! Kalau belum
berarti akan terjadi, tapi kalau tidak……
“Bagus dong, nolongin calon
mertua!” sindir Kandita, malam itu di stasiun Cilebut.
“Loe ngomong apaan sih?” gurau Krishna.
“Krishna Tritaksaka, loe ngerti
nggak sih?” selidik Kandita.
“Apaan?” heran Krishna.
“Nggak jadi! Anggap saja
pembicaraan ini nggak pernah terjadi!”
“Loe cemburu ya?” gurau Krishna.
“Cemburu? Memangnya gue siapa?
Bukan istri loe, pacar juga bukan!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar