Kamis, 12 September 2013

Sekuntum Cinta Yang Hampir Layu (Eps 3)


III
            Jarum pendek di jam yang melingkar pada pergelangan tangan Krishna baru menunjuk ke angka empat, dan jarum panjang baru meninggalkan angka dua belas, jam empat lewat lima menit. Sore itu sama seperti sore-sore sebelumnya, di stasiun Sudirman. Ramai oleh calon penumpang kereta yang menunggu keretanya. Begitupun Krishna yang baru saja menjejakkan kakinya di peron stasiun Sudirman, masih termenung memikirkan apa yang harus dilakukannya. Tetap mempertahankan cintanya kepada Tiffany atau memutar haluannya.
Andaikata dia ingin memutar haluan, Krishna hrus menentukan, ke arah manakah tujuannya. Tania, ataukah Kandita, karena patut diduga, Kandita juga menyimpan perasaan kepadanya. Bathin Krishna. Dugaan itu tumbul serta merta ketika Kandita dengan kebebasaannya mengatakan bahwa Krishna adalah pacar barunya. Meski Krishna merasa janggal akan semua itu, dia tidak mungkin meremehkan dugaan-dugaan yang muncul dari hatinya.
“Eh, Krishna, ngapain loe jauh-jauh!” kata Kandita yang ‘mencegat’ nya dari bangku tunggu di stasiun Sudirman.
“Kepo banget loe!” gurau Krishna.
“Eh, loe sudah makan belum?” tanya Kandita.
“Kenapa loe mau traktir gue?” canda Krishna.
“Hm, mau banget atau mau saja?”
            Sekalipun Kandita mencoba untuk kembali mencairkan cinta Krishna, dia tidak akan mampu membuat penyesalan Krishna hilang tak berbekas seperti air di daun talas. Seumur hidupnya, penyesalan terbesar bagi Krishna adalah terlalu cepat mengungkapkan perasaan cintanya.
            Kandita masih merasakan dingin yang sangat menusuk kulit dari Air Conditioner didalam rangkaian kereta listrik tipe Tokyu Metro Seri 7200. Rangkaian kereta Tokyu Metro atau disingkat TM ini, tidak jauh berbeda dengan kereta-kereta yang beroperasi di JABODETABEK. Memiliki delapan kereta dengan kereta khusus wanita di depan dan belakang rangkaian. Kereta ini berwarna silver, dengan warna merah di depan dan belakangnya, di sekujur tubuhnya, melintang garis berwarna kuning dan merah, dan di kereta satu dan kereta delapan, ada sebuah tanda, bisa dikatakan ‘batik’, yang mengartikan bahwa itu adalah kereta khusus wanita, atau kebanyakan orang mengenal KKW.
            Rasa dingin yang menusuk kulit Kandita, tidak sedingin hati Krishna yang sudah membeku, karena kekecewaannya. Bukan karena dia ditolak, tetapi karena terlalu cepat Krishna mengeksplanasikan semuanya. Semua sungai ingin kususuri, semua bukit akan kudaki, semua padang belantara akan kutembus. Harus kutemukan lagi sebutir cintaku yang hilang ditelan dusta kemarau panjang. Dia ingin mencari episode cintanya yang hilang, menurutnya. Sebenarnya episode cinta itu tidak hilang, hanya saja Krishna tidak menyadari bahwa episode itu sebenarnya ada di dekatnya.
            Semua terasa begitu cepat, secepat irama lagu yang mengalun di mp3 player milik Krishna dan Kandita. Kereta pun sudah masuk stasiun Depok, artinya tidak lama lagi kereta akan masuk stasiun Citayam, stasiun tujuan mereka. Stasiun Depok memiliki ketinggian sembilan puluh tiga meter di atas permukaan laut, sembilan belas meter dibawah stasiun Citayam, yang memiliki ketinggian seratus dua belas meter di atas permukaan laut. Kemacetannya masih belum dapat ditanggulangi. Penyebab utama kemacetan adalah angkutan kota yang ngetem menunggu penumpangnya yang baru turun dari kereta, dan sepeda motor yang sruntal-sruntul, kalau orang jawa bilang. Saking parahnya kemacetan di jalan itu, pejalan kaki sampai sulit menentukan langkah mana yang akan dipilihnya. Mau ke kiri ada spion motor, ke kanan ada angkot, maju sedikit ada knalpot motor. Maka dari itu, Krishna memutuskan diri untuk menunggu di ujung selatan peron stasiun Citayam, begitupun Kandita yang tegak berdiri selangkah disamping Krishna.
            Stasiun Citayam petang itu masih cukup ramai dengan penumpang yang baru turun dari kereta. Ada yang langsung menuju ke jalan raya untuk naik angkutan kota, ada pula yang bergegas masuk ke tempat penitipan sepeda motor untuk mengambil kendaraannya.
“Loe nggak pulang Krish?” tanya Kandita.
“Loe nggak lihat masih ramai begini? Ngelihatnya saja sudah eneg gue!” 
“Iya juga sih!”
            Dari keramaian penumpang yang berjejalan di peron tengah, ada sedikit kericuhan dari sesama penumpang. Krishna menoleh ke arah kericuhan tersebut, dan menyiapkan pistol airsoftgun nya, kemudian memberikannya kepada Kandita. Gadis itu dengan takut memegang senjata pemberian temannya itu, dia hanya menyembunyikan senjata itu dibalik jacket nya.
“Tembak kepada apa pun yang loe benci!” kata Krishna singkat, padat dan jelas, dan dia menyiapkan pistol dari sisi lain ikat pinggangnya.
“Jacket biru, topi hitam, dan pakai masker! Itu copet! Barang bukti ada di dia!” seru salah seorang penumpang dari seorang pria yang berjejalan di peron itu. Dan dengan segera, Krishna turun ke rel, dan menodongkan pistolnya kepada orang yang dimaksud. Pria dengan jacket biru dan topi hitam itu pun segera melempar apa yang didapatkannya itu ke kolong peron, tapi percuma saja. Ujung pistol Krishna sudah tepat di kepalanya, dan tidak lama setelah kejadian itu, lima orang anggota sentinel bersama tiga anggota Marinir yang diperbantukan untuk mengamankan stasiun pun mendekati pencopet yang bisa dikatakan bodoh.
“Buktinya, ada di bawah peron! Sersan Derry, segera ambil dan amankan!” perintah Krishna singkat dan jelas. Sersan Derry, memandangi Krishna dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Rambutnya sudah seperti potongan perwira Angkatan Laut, dia membawa pistol, dan mengenakan celana yang warnanya sama dengan celana Pakaian Dinas Harian PDH Angkatan Laut, tapi kenapa dia memakai kemeja putih, tingginya juga kurang dari tinggi rata-rata perwira Angkatan Laut dan kenapa dia baru pulang jam segini? Sersan Derry memperhatikan baik-baik, begitupun kedua prajurit muda yang menjadi bawahannya.
“Kamu tunggu apa sersan?” tanya Krishna pelan. “Cepat ambil dan amankan!” tambah Krishna dan, karena sersan Derry itu tunduk dan patuh kepada atasan dengan tidak pernah membantah perintah ataupun putusan, dia pun berkata.
“Siap ndan!” meski dia masih ragu untuk mengatakan itu. Krishna pun menyarungkan kembali pistolnya dan menggiring pencopet itu, dan juga orang yang meneriaki copet itu.
            Sersan Derry bersama dua anak buahnya, seorang komandan PAMSUS dan Krishna masih berada dalam ruangan PAMSUS stasiun Citayam. Menginterogasi pencopet itu, dengan cara mereka tentunya, cara militer. Lampu di arahkan ke pelaku, dan pelaku ditanyai segala hal, mulai dari nama, hingga kenapa sampai terjadi kejadian malam itu. Sampai pada satu pertanyaan.
“Berapa orang kalian beroperasi malam ini?” tanya Krishna, dan tidak mendapat jawaban yang pasti.
“Siapa dari antara kalian yang pernah ke Aceh?” tanya Krishna.
“Siap, belum pernah ndan!” Krishna lalu mengambil pisau komando yang menggantung di kopel sersan Derry dan menghunuskannya ke wajah pencopet itu.
“Berapa orang kalian beroperasi?” tanya Krishna.
“Tidak tahu!”
“Sersan, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan!” kata Krishna setelah melihat Kandita yang sudah menunggu di depan pintu.
“Mohon petunjuk ndan!”
“Kemungkinan sindikat ini sudah bekerjasama dengan polisi! Kalau diserahkan kepada polisi, mungkin polisi akan membebaskannya, dan mereka akan kembali beroperasi! Tanyakan pada penumpang, akan diapakan orang ini!” kata Krishna singkat.
“Siap ndan!”
“Pak, saya pulang duluan! Sudah ditunggu!” kata Krishna kepada komandan PAMSUS itu sambil menunjuk kepada Kandita yang sedang menunggu di ambang pintun ruangan itu.            
“Iya pak, terima kasih! Boleh minta nomor yang bisa dihubungi?” tanya komandan PAMSUS itu. Krishna pun memberikan nomor hand phone nya, dan pergi meninggalkan mereka.
            Kandita memandang Krishna dengan geramnya, dengan tatapan tidak suka, tatapan kebencian. Bukan karena Krishna telah menangkap pencopet itu, tapi karena Krishna telah menitipkan pistol airsoftgun nya kepada Kandita, hingga saat itu banyak orang di stasiun berjalan agak menjauhi Kandita, itu karena Kandita memegang pistol yang diberikan oleh Krishna, maka dari itu, Kandita ingin sekali mengembalikan pistol yang diberikan oleh Krishna.
“Hai Kandita!” sapa seorang pria dengan potongan yang cukup norak di mata Kandita, sehingga Kandita il feel dibuatnya.
“Ngapain loe?” tukas Kandita sambil mengeluarkan pistol milik Krishna, dia ingin mengembalikan kepada pemiliknya yang sudah tegak didepannya, namun pria di belakangnya menanggapi lain, dia menggigil ketakutan, dan memohon diri.
“Kenapa loe cengengesan?” tukas Kandita sambil memberikan pistol itu kepada pemiliknya, sama seperti waktu dia menerima dengan pegangan pistol yang teracung, bukan laras nya.
“Loe lucu!”
“Nggak ada yang lucu!” tukas Kandita sambil berjalan meninggalkan Krishna.
“Hei, jadi makan nggak?” canda Krishna. Dia sudah mengetahui bahwa Kandita hanya pura-pura marah kepadanya. Karena hanya itulah yang biasa dilakukannya sejak SMA.
            Seperti sebelumnya, di restoran padang itu, mereka memesan sepotong kepala kakap besar, dengan empat porsi nasi. Mereka duduk berhadapan. Mereka sudah dapat merasakan banyak perubahan sejak mereka lulus dari bangku Sekolah Menengah Atas, Kandita sudah menyadari, perasaan sayangnya sebagai seorang teman telah bermetamorfosis menjadi perasaan cinta seorang wanita kepada pria pujaan hatinya. Tapi apakah Krishna merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Kandita?
            Belum, Krishna belum merasakan hal itu, karena masih ada orang yang mengambil hatinya. He can’t love somebody when his heart somewhere far away. Krishna belum dapat mencintai siapa pun. Tidak juga Tania, eh belum! Paling tidak sampai Tiffany mengembalikan hati Krishna ke tempatnya.
            Kandita memulai makannya, dengan menuangkan kuah kepala kakap ke nasi yang ada di piringnya. Begitupun Krishna, dengan meminum segelas teh tawar hangat yang dipesannya. Sambil masih memandangi Kandita, Krishna mulai memasukkan nasi ke mulutnya.
“Ngapain loe lihat-lihat gue?” tanya Kandita.
“Sensi banget loe! Kenapa sih? Ini ‘kan bukan siklus loe!” Kandita merasa tersendat, sesak di kerongkongan dan tenggorokannya, nasi yang ada pun rasanya ingin menyembur keluar, Kandita sangat tidak menyangka kalau Krishna sampai memperhatikan kapan dinding rahim nya luluh dari tempatnya.
“Apa masalah loe sih?” gusar Kandita sambil menelan nasi yang masih ada di kerongkongannya dan melancarkannya dengan air jeruk hangat yang dipesannya.
“Gue heran saja!”
“Kok loe bisa tahu siklus gue?” heran Kandita.
“Gue ini Pengamat, Peneliti, dan Pelaksana muda komunikasi!”
“Apa hubungannya komunikasi dengan siklus haid gue?” selidik Kandita.
            Selama beberapa bulan, Krishna mengamati temannya itu, hanya mengamati, bagaimana sikap dan sifatnya. Membedakan sifat dan sikap, tidak jauh berbeda dengan membedakan iklim dan cuaca. Kalau cuaca itu mudah berubah, sedangkan iklim agak sulit untuk berubah, andaikata berubah pun memerlukan waktu puluhan tahun. Skup wilayah cuaca tergolong kecil jika dibandingkan dengan skup wilayah iklim. Seperti contoh, cuaca di Bogor, berbeda dengan cuaca di Surabaya, tapi berada pada satu iklim yang sama. Iklim tropis.
            Begitupun sikap dan sifat. Yang mudah berubah adalah sikap, beradaptasi sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi, berlangsung cepat. Sikap Kandita kepada Krishna jelas berbeda dengan sikapnya kepada Tiffany, ataupun mantan pacarnya. Tetapi kedua sikap itu msih berada di dalam satu sifat Kandita, pendiam, meski terkadang  cerewet. Perhatian, meski terkadang cuek. Baik, meski terkadang……
“Selama loe haid, loe mengeluarkan lambang komunikasi non verbal! Dan gue memperhatikan dari situ! Loe suka sensi, riweuh!” Mrtha hanya melanjutkan makannya, menikmati potongan daging yang menempel di kepala kakap itu.
“Setiap minggu ke-tiga ‘kan?” tebak Krishna, sehingga Kandita kaget dan.
“Nggak usah ngomongin itu lah!” gusar Kandita.
It’s oke! Nggak lagi!”
“Tdi ngomongin apa aja di ruang PAMSUS?” tanya Kandita sambil masih mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
“Hus, kalau makan jangan sambil ngomong! Nanti keselek!” gumam Krishna sambil mengambil sepotong kerupuk kulit dan memakannya.
“Iya, tadi ngomongin apa?” tanya Kandita.
“Hanya ditanya-tanya kok!”
“Kok tadi tiga orang marinir itu bisa nurut sama kamu?”
“Karena aku mirip perwira Angkatan Laut!” kata Krishna bangga.
“hm, nggaya mu Krish!” gumam Kandita.
“Terus  dompetnya bagaimana?” tanya Kandita lagi.
“Akan dikembalikan oleh petugas PAMSUS!” singkat Krishna
“Oh, baguslah!” gumam Kandita.
            Mereka pun mengakhiri makannya, tak terasa, sudah tidak ada segurat daging pun di tulang tengkorak ikan kakap itu, bersih, begitupun nasi yang ada di piring mereka masing-masing. Mereka saling menatap dan tersenyum, Kandita melemparkan senyuman yng melambangkan isi pesan cintanya kepada Krishna, tapi Krishna tidak mengetahui pesan non verbal itu. ‘Krishna, Krishna, kamu sarjana ilmu komunikasi dengan indeks prestasi kumulatif tiga koma dua puluh, tapi tidak bisa menafsirkan pesan dari komunikasi non verbal? Itu angka tiga koma dua puluh kamu dapat dari mana?’ Gumam Kandita dalam hatinya.
“Thank you banget ya Krish!” kata Kandita.
“Santai saja kali! Loe juga sering ‘kan traktir gue!” kata Krishna singkat.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Slamet Sumardi, pak Mardi baru saja masuk ke rumahnya, dan baru menyadari bahwa ada yang hilang dari saku celananya, dia memiliki dua buah dompet. Satu dompet digunakan untuk menyimpan barang berharga, kartu ATM, uang, dan kartu asuransi nya, dompet ini biasanya disimpan di tas nya, dan. Satu dompet lainnya digunakan untuk menyimpan kartu nama, KTP, dan kartu identitas lainnya, biasanya disimpan di saku belakang celananya, agar mudah diambil jika perlu untuk mengeluarkan kartu identitasnya.
“Dompet bapak kecopetan bu!” singkat pak Mardi setelah tidak menemukan handphone nya.
“Duh, bapak kok bisa sih!” gusar istri tercintanya.
“Bapak jug nggak tahu bu!”
“Dompet yang mana pak?”
“Yang ada KTP bapak disitu!”
“Oh, nanti juga pulang sendiri pak!” seru Tiffany.
“Iya, kalau nggak kembali bagaimana?”
“Ya, buat baru KTP!” singkat Tiffany.
“Sudah, pak! Makan dulu!” kata bu Mardi.
            Pak Mardi masih mencatat dan mengingat-ingat kartu apa saja yang ada di dompetnya itu, bahkan makannya pun tidak nyaman, karena disitu ada kartu pengenal untuk masuk ke kantornya, kalau tidak diketemukan sampai besok pagi, artinya dia nggak bisa masuk kantor. Kalau nggak masuk kantor artinya absen. Ditengah kegalauannya, bu Mardi, istrinya itu dengan gelisah menemui suaminya.
“Pak, bapak dicari dengan polisi dan marinir itu!” gusar nya.
“Polisi? Marinir?”
“Iya! Polisi nya bawa senjata! Tapi yang marinir nggak bawa!” tambah gusar lah bu Mardi.
“Mau ngapain ya?” pak Mardi bergegas ingin menemui mereka.
“Pak, hati-hati!” air mata bu Mardi mulai jatuh membasahi pipinya.
“Ada yang bisa di bantu?” tanya pak Mardi.
“Dengan bapak Slamet Sumardi?” tanya sersan Derry.
“Ya, saya sendiri!”
“Kami ingin mengembalikan ini pak!” kata sersan Derry sambil memberikan dompet pak Mardi.
“Oh, terima kasih pak! Mari, silakan mampir!” kata pak Mardi mempersilakan tamunya itu.
“Terima kasih pak! Kami harus melanjutkan tugas” kata Bripda Hassan.
“Sebentar pak! Tolong ceritakan bagaimana dompet saya bisa ada di bapak-bapak sekalian!” sersan Derry pun menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Bagaimana seorang pemuda mengarahkan pistol airsoft gun nya kepada pencopet dompet itu, sampai mereka bertemu dengan korban pencopetan itu.
“Oh, begitu ceritanya!” pak Mardi manggut-manggut. 
“Saya boleh minta nomor yang bisa dihubungi dari atasan anda?” tanya pak Mardi. Sersan Derry pun memberikan nomor handphone Krishna kepada pak Mardi.
“Maaf kalau boleh tahu, pangkatnya apa?” tanya pak Mardi.
“Saya kurang tahu pak! Beliau atasan saya dari keatuan lain!” singkat sersan Derry.
“Baik, terima kasih sersan!” kata pak Mardi.
“Sama-sama pak! Mari, kami harus kembali ke basis!” sersan Derry memohon diri.
“sekali lagi, terima kasih!”
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Kamis pagi di stasiun Bojonggede, masih ramai dengan calon penumpang yang akan berangkat ke tempat kerjanya. Sepanjang peron terisi oleh calon penumpang kereta listrik, jangankan peron, bahkan jalur satu, jalur ditempat kereta yang akan menuju Bogor pun telah menjadi tempat menunggu bagi sebagian besar penumpang, duduk-duduk, membaca koran, merokok. Kebanyakan yang menunggu dir el adalah penumpang kereta ekonomi.
            Diperhatikan, jalur dua dari selatan akan segera masuk KRL Commuter Line tujuan Jakarta Kota. Jangan menyeberangi jalur dua KRL Commuter Line tujuan Jakarta Kota. KRL Commuter Line tujuan Tanah Abang, Jatinegara rangkaiannya berangkat stasiun Bogor. Untuk KRL Commuter Line tujuan Bogor, rangkaiannya saat ini masuk stasiun Depok. Perhatikan karcis dan barang bawaan anda agar jangan tertinggal di stasiun maupun di dalam rangkaian kereta. Bagi penumpang yang tidak dapat naik, harap tidak memaksakan diri, utamakan keselamatan diri anda.
            Baru saja announcer selesai memberikan informasi tentang pemberangkatan kereta, dan Krishna sudah bersiap untuk naik kereta itu. Kereta yang akan membawanya ke stasiun Depok, dari stasiun Depok, dia akan naik kereta balik tujuan Tanah Abang sampai Jatinegara pemberangkatan jam tujuh lewat tujuh menit. Karena Krishna akan turun di stasiun Sudirman. Pintu kereta pun terbuka bagi penumpang-penumpang yang sudah memiliki karcis perjalanan.
            Pintu kereta pun tertutup, dan semua penumpang sudah berada di dalam lambung kereta itu. Padat, seperti layaknya ikan sarden, atau kornet. Jika dilihat memang tidak etis, membiarkan penumpang berjejalan seperti itu. Apalagi jika sampai naik ke atap kereta. Tapi mu bagaimana lagi? Pertumbuhan masyarakat Indonesia cukup tinggi, ditambah dengan adanya ‘sentralisasi penduduk’ yang tidak terkontrol. Banyak orang dari daerah yang berurbanisasi ke Jakarta. Jakarta menjadi daerah kodomain, jika dahulu jamannya group band legendaries Koes Ploes Jakarta adalah domain, Kembali Ke Jakarta kalau sekarang Berangkat Ke Jakarta, maka dari itu semrawut.
            Dalam sebuah perkuliahan, seorang dosen pernah menjelaskan tentang kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah orde baru. Transmigrasi, keluarga berencana (KB), pembangunan. Beliau menjelaskan betapa pentingnya program-program seperti itu diterapkan di Indonesia, hasilnya bukan untuk saat itu juga, tetapi untuk beberapa puluh tahun ke depan. Tergelitik dengan pernyataan ini, seorang mahasiswa yang kupu-kupu (kuliah, pulang – kuliah, pulang) mengajukan pertanyaan. ‘Jadi menurut bapak, runtuhnya rezim orde baru, dan lengsernya Jendral Soeharto sebagai presiden baik atau tidak untuk kemajuan bangsa Indonesia? Karena yang saya tahu, dari teman-teman pak termasuk mas-mas mahasiswa senior yang pernah mengalami langsung kejadian ini, katanya rezim orde baru itu malah menyengsarakan bangsa ini saya mohon penjelasannya pak!’ pertanyaan itu pun membuat mahasiswa lain bersahutan, kelas menjadi riuh ramai dengan komentar-komentar mahasiswa, mahasiswi lain tentang pertanyaan itu. Dosen itu menatap mahasiswa yang bertanya itu, dan tersenyum. Beberapa saat kemudian kelas pun menjadi sepi, tenang, dan semua mahasiswa yang ada di kelas itu menatap dosennya yang sedang menatap kawannya yang bertanya.
            Sebelum mengawali penjelasannya, pak dosen menerangkan bahwa sudah enam tahun terakhir dalam kegiatan mengajarnya, dia tidak mendengar dan menjawab pertanyaan itu. Buruk dalam hal apa? Dalam sistem dan kebijakan, saya rasa itu baik! Bayangkan, transmigrasi dapat mengurangi penduduk di Jakarta ini, jadi ada sebuah ‘desentralisasi penduduk’ tidak terpaku pada satu kota. Masih banyak hutan-hutan di Kalimantan yang masih belum digunakan! Ladang gambut bisa dijadikan PERUMNAS, dan dengan adanya penduduk, bukan tidak mungkin dibangun sarana dan prasarana yang mendukung, transportasi, perumahan penduduk, seperti itu contohnya. Lalu program KB (Keluarga Berencana) sepasang suami istri hanya cukup punya dua anak. Dalam sebuah RT, ada lima belas keluarga, dikalikan empat, enam puluh kepala. Bayangkan jika keluarga-keluarga di sebuah RT memiliki lima atau enam anak, delapan dikali lima belas, seratus dua puluh kepala. Hal ini yang menyebabkan pertumbuhan masyarakat Indonesia, di wilayah ini cukup pesat, dan tidak diimbngi dengan desentralisasi penduduk itu. Jadi ketika itu, kita bangsa Indonesia seperti pesawat yang sedang lepas landas, sudah siap terbang, dalam hal sistim lho ya, kalau sistim itu sudah terpenuhi, kita akan sejahtera. Kemudian dengan adanya peristiwa itu, kita jatuh kembali. Lebih lanjut lagi pak dosen menyesalkan bahwa sistim-sistim maupun kebijakan-kebijakan dari masa Orde Baru tidak diterapkan lagi. Untuk sejenak, pak dosen diam dan membiarkan mahasiswa-mahasiswinya mencerna perkataannya.
            Kenapa sih pak, orang-orang Indonesia khususnya di wilayah ini tidak mau menerima sistim itu? Dan diskusi pun kembli dimulai. Kali ini, seorang mahasiswi dua baris dari depan yang mengajukan pertanyaan itu.
            Bukannya tidak, kata pak dosen bijak. Orang-orang kita belum menyadari pentingnya program-program seperti itu. Disamping itu orang orang kita, masih beranggapan bahwa banyak anak banyak rejeki. Anak lah yang menjadi sumber kesejahteraan bagi keluarga. Lihat Amerika, Singapura negara maju mereka berusaha untuk tidak memiliki banyak anak, bahkan mereka mencoba untuk tidak memiliki anak. Kalian pasti sudah lulus dari sekolah menengah atas ‘kan? Perbedaan negara maju dan berkembang. Kita lihat saja itu.
            Jadi, sampai saat ini Indonesia masih sebagi negara berkembang karena itu pak? Bukankah kita punya wilayah yang luas pak? Sumber daya kita juga banyak ‘kan? Diskusi pun kembali dimulai.
            Luas wilayah tidak menjadi jaminan yang pasti bagi kemajuan dan kesejahteraan suatu bangsa. Seru mahasiswa yang kupu-kupu. Di tahun dua ribu sebelas, United Nations Development Programme (UNDP) mengadakan sebuah penelitian tentang kesejahteraan suatu bangsa, pencetusnya adalah Mahbub ul Haq ahli ekonomi Pakistan, bukan Pacitan ya! Dan Amartya Sen ahli ekonomi India, yang menyatakan bahwa kesejahteraan adalah terbukanya kesempatan untuk mendapatkan hak dasar. Mereka menciptakan rumus Indeks Pembangunan Manusia (HDP Human Development Programme) yang memperhitungkan tiga hal diantaranya kesehatan, pendidikan dan kelayakan hidup. Kesehatan diukur dengan panjang usia, pendidikan dengan lama sekolah, dan kelayakan hidup dengan rata-rata Gross National Income per kapita. Dan di tahun dua ribu sebelas, IPM Indonesia menurut laporan UNDP berada di peringkat seratus dua puluh empat dari seratus delapan puluh empat negara. Indonesia kalah dengan Malaysia, di peringkat enam puluh satu. Singapura, dua puluh enam. Brunei, tiga puluh tiga. Kita di atas Timor Leste, seratus empat puluh tujuh, dan Papua Nugini, seratus lima puluh tiga. Tapi apa kita mau bersaing dengan dua bangsa itu? Jadi kesimpulannya, manusia-manusia nya lah yang membuat sebuah bangsa menjadi sejahtera. Bukan luas wilayah atau sumber daya alam yang ada di negara itu. Lihat Singapura, luas wilayahya bahkan lebih kecil daripada luas wilayah DKI Jakarta, dan nggak ada sumber daya alam.
            Mereka memanfaatkan peluang bisnis! Singapura adalah pintu masuk kapal-kapal asing ke Indonesia maupun sebaliknya. Celetuk kawannya.
            Tepat sekali! Kalau Singapura bisa, kenapa kita tidak? Kata dosen itu sambil melihat jam tangannya. Tidak terasa, mereka sebanarnya sudah menghabiskan empat SKS, padahal matakuliah itu hanya tiga SKS, pak dosen pun mengakhiri kuliahnya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Krishna masih berada di meja kerjanya siang itu. Tugas-tugas kantornya sudah selesai semua, dia ingin segera makan siang, karena dari semalam perutnya belum diisi oleh sebutir nasi pun. Krishna ngelih lapar. Dia bergegas masuk ke ruangan atasannya dan menyerahkan laporannya.
“Permisi, pak!”
“Eh, iya Krishna, silahkan!”
“Ini laporan saya!” kata Krishna sambil memberikan sebuah flashdisk kepada atasannya. “Komputer di tempat saya lagi bermasalah pak!” singkat Krishna.
“Ya, terima kasih ya! Panggil teknisi saja!”
“Mungkin nanti pak!” kata Krishna sambil memohon diri kepada atasannya.
            Tidak jauh dari kantornya, ada sebuah warung Tegal (WARTEG) yang menjadi tempat makan bagi karyawan di kantor itu. Dia melihat Annisa, teman kantornya, yang juga sedang makan siang di warung itu.
“Eh, bu Nissa!” ledek Krishna.
“Wah, ada pak Krishna!”
“Duduk Krish, sini!” kebetulan disampingnya masih ada tempat kosong.
“Yup, thank you Niss!” kata Krishna yang masih memilih-milih lauk yang tesedia. Nasi putih dengan tumis usus ayam adalah menu santap siangnya, karena memang itu adalah makanan kesukaannya.
“Loe seneng banget sama usus ayam pak?” tanya Anissa.
“Enak kok! Emang loe nggak suka bu?”
“Nggak! Gue takut sama kolesterol!”
“Emang loe sudah punya penyakit kolesterol?” tanya Krishna.
“Belum!” singkatnya.
“Nah, mumpung belum kena penyakit kolesterol bu! Loe nikmatin deh!”
“Gila loe!” kata Anissa sambil menahan tawanya.
            Krishna masih menikmati makannya, siang itu, bersama dengan teman-teman sekerjanya. Saat Krishna hendak menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya, hand phone nya yang disimpan di saku baju nya berdering keras. Ada panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
“Halo, selamat siang!” Krishna mengawali pembicaraannya.
“Selamat siang, dengan bapak Krishna benar?” suara laki-laki tua di ujung telefonnya membuat Krishna bertanya-tanya, siapakah bapak tua itu.
“Ya, benar saya sendiri!”
“Maaf, apakah saya mengganggu kegiatan bapak?” tanya orang itu dengan logat jawa yang masih kental di lidahnya.
“Tidak, pak! Tidak sama sekali ada yang bisa saya bantu pak?”
“Begini, pak Krishna! Saya Slamet Sumardi, orang yang semalam kecopetan! Saya mendengar berita dari anak buah bapak, kalau bapak yang menangkap pencopet itu?”
“Oh, sebenarnya bukan saya, pak! Saya hanya mencegat! Bukan menangkap!”
“Ya, pada intinya bapak sudah membantu saya menyelamatkan surat-surat penting saya!”
“Oh, iya pak! Saya hanya membantu saja!”
“Bapak naik kereta dari stasiun apa?” tanya pak Mardi.
“Saya dari Sudirman, pak!” kata Krishna pelan.
“Bisa kita bertemu nanti sore?”
“Nanti akan saya usahakan pak!”
“Jam berapa bapak pulang kantor?” tanya pak Mardi.
“Nanti saya keluar kantor jam lima pak! Sampai stasiun jam lima seprapat!”
“Baik, pak! Nanti saya akan menunggu bapak!” kata pak Mardi singkat.
            Krishna baru memasuki stasiun Sudirman, sore itu jam lima lewat sepuluh waktu stasiun Sudirman. Ditangannya ada selembar uang dua puluh ribu untuk membeli dua lembar karcis kereta commuter line tujuan Bogor, satu untuknya dan satu untuk temannya, Kandita Adisti Ekaturangga. Dan dia memberi kabar kepada pak Mardi, orang yang mengaku pernah ditolongnya.
“Pak, saya sudah di stasiun!” kata Krishna.Dengan segera, pak Mardi menelfon Krishna.
“Halo selamat sore!” Krishna mengawali pembicaraannya.
“Ya selamat sore!” pak Mardi pun berdiri dari tempat duduknya dan melihat sekeliling.
“Pak, saya sudah lihat bapak!” kata Krishna sambil berjalan menghampiri pak Mardi.
            Pak Mardi tercengang melihat orang yang telah menolongnya, ternyata masih kinyis-kinyis, seusia anaknya. Dia melihat seorang perempuan di belakang Krishna.
“Pak Krishna ya?” kata pak Mardi.
“Pak, maaf. Jangan panggil saya ‘pak’ saya masih terlalu muda!”
“Oh, iya mas!” kata pak Mardi. “Terima kasih atas bantuannya mas!”
“Ya, pak! Saya hanya bisa bantu itu!” singkat Krishna.
“Mas, saya mengundang mas dan mbak untuk makan malam di rumah saya malam ini!” kata pak Mardi.
“Oh, nggak usah repot begini pak!” kata Krishna.
“Saya ingin kenalkan mas dan mbak ke keluarga saya!”
“Bagaimana?” tanya Krishna kepada Kandita.
“Ya, mari silakan!”
            Perbincangan hangat terjadi di rangkaian kereta commuter line tujuan Bogor, sore itu. Pak mardi menceritakan tentang keluarganya. Anak pertamanya yang sudah bekerja, anak keduanya yang masih kuliah, dan anak terakhirnya yang masih duduk di bangku kelas tiga Sekolah Menengah Pertama. Krishna dan Kandita pun menceritakan kehidupannya masing-masing.
“Jadi mas Krishna ini bukan marinir?”
“Bukan pak!”
“Bukan perwira Angkatan Laut juga?”
“Bukan pak! Saya orang sipil!” kata Krishna menjelaskan.
“Lalu, mas Krishna bisa dapat senjata?”
“Ini hanya replika pak!” kata Krishna sambil tersenyum.
“Jadi nggak terlalu bahaya ya mas?”
“Bahaya sih bahaya pak! Saya juga mengeluarkannya di saat-saat tertentu! Hanya untuk menjaga diri!”
“Oh, bagus!”
            Pak Mardi, dan Krishna berjalan berdampingan, sementara Kandita berjalan dibelakang Krishna. pak Mardi menganalisa bahwa Krishna dan Kandita adalah pasangan suami-istri. Jadi, pak Mardi tidak bertanya lebih banyak tentang hubungan mereka, meski pak Mardi sangat ingin mengetahuinya. Stasiun Cilebut, petang itu masih ramai oleh penumpang yang baru turun di stasiun itu, dan lembayung senja masih terlihat indah, awan gemawan yang berwarna putih sudah bercampur dengan warna biru langit dan warna jingga senja.
“Mari, mas Krishna, mbak Kandita!” pak Mardi mempersilakan Krishna dan Kandita untuk masuk ke rumahnya, kemudian memanggil istri dan anak ke dua dan ke tiganya lalu memperkenalkan kepada Krishna dan Kandita. Saat itu, Krishna dan Kandita duduk membelakangi pintu rumah itu.
“Anak saya yang pertama belum pulang! Sebentar lagi juga pulang!” kata pak Mardi.
Monggo, silahkan di minum mas!” kata bu Mardi.
Nggih, matur nuwun nggih bu!”
Kowe wong jowo tho le?” tanya pak Mardi.
Nggih, pak!” singkat Krishna.
Jowo ne endi?” tanya pak Mardi.
“Kebumen pak!” singkat Krishna
“O, Kebumen!”
            Dan tiba-tiba, seorang gadis masuk ke teras rumah itu, membuka sepatu dan menyampirkan sweater nya, lalu masuk ke ruang tamu rumah itu, dan melihat dua orang tamu yang tidak asing dimatanya.
“Tiffany, kamu ngapain disini?” gumam Krishna
“Oh, iya mas Krishna, ini anak pertama saya”
“Oh, anak pertama bapak!” tercekat kerongkongan Kandita mendengar itu.
            Apakah pertemuan ini sudah direncanakan sebelumnya? Apakah Krishna sengaja ingin mempermalukan Kandita di depan Tiffany? Beribu perasaan menghujam hati Kandita petang itu, dan dia harus berperang dengan perasaannya itu, perasaan yang sedang menyiksa hatinya. Kandita mulai menerka-nerka pembicaraan apa yang akan terjadi berikutnya, pak Mardi akan menanyakan apakah Kandita dan Krishna adalah pasangan suami-istri, lalu kemudian Krishna menyatakan bahwa Kandita bukanlah istrinya, dan krishna akan dijodohkan dengan Tiffany. Ohh, teriris hati Kandita jika harus mendengar percakapan itu.
“Kalian sudah saling kenal?” tanya pak Mardi.
“Nggak terlalu sih pak!” kata Tiffany singkat.
“Mari, langsung saja mas Krishna, mbak Kandita, istri saya sudah selesai memasak!” kata pak Mardi. Tiffany dan kedua adik nya pun membantu seperlunya, memindahkan nasi dan lauk pauk seadanya dari dapur ke ruang tamu. 
“Ya, mari pak!”
“Krish, ini minum nya!” kata Tiffany sambil memberikan segelas teh, apakah itu manis atau tawar, Krishna belum mencicipinya. Karena Tiffany memberikan segelas teh kepada Krishna, Kandita semakin bertempur dengan perasaannya, mengalahkan satu per satu perasaannya yang datang mengepung. Ah, mengenaskan. Bathin Kandita, melihat orang yang dicintainya itu dilayani oleh wanita lain yang secara definitive adalah saingannya sendiri, perih, pedih, seperti luka yang disiram dengan air laut. Begitulah perasaan hati Kandita saat itu.
“Mas Krishna dan mbak Kandita ini sudah lama hidup berkeluarga?” tanya pak Mardi. Kandita sangat mengharapkan Krishna menanggapi pertanyaan itu dengan jawaban ‘belum, pak! Baru tiga bulan!’ atau ‘ya, sudah dua tahun pak!’ tapi tidak kenyataannya.
“Kami? Kami hanya teman pak! Teman Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas”
“Saya kira mbak Kandita dan mas Krishna ini pasangan suami-istri! Ternyata bukan tho?”
“Iya, pak!”
“Atau pacaran?” tanya pak Mardi.
“Belum, pak!” kata Krishna. Belum, belum bukan berarti tidak! Kalau belum berarti akan terjadi, tapi kalau tidak……
“Bagus dong, nolongin calon mertua!” sindir Kandita, malam itu di stasiun Cilebut.
“Loe ngomong apaan sih?” gurau Krishna.
“Krishna Tritaksaka, loe ngerti nggak sih?” selidik Kandita.
“Apaan?” heran Krishna.
“Nggak jadi! Anggap saja pembicaraan ini nggak pernah terjadi!”
“Loe cemburu ya?” gurau Krishna.
“Cemburu? Memangnya gue siapa? Bukan istri loe, pacar juga bukan!”
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar