Seorang prajurit tampak tergesa,
mengendarai sepeda dari batalyon nya, mengitari lapangan apel brigade, menuju
batalyon di seberang lapangan apel. Dia lalu memarkir sepeda nya di markas
batalyon, kemudian masuk dan entah apa yang dilakukan di dalam batalyon,
sekitar lima belas menit dia kembali mengendarai sepedanya ke markas batalyon
di sisi lain lapangan apel itu. Di tengah perjalanan menuju batalyon yang lain
dia mendapat hormat dari beberapa prajurit. Sudah dapat ditebak bahwa dia
memiliki pangkat yang lebih tinggi dari prajurit-prajurit yang memberi hormat
itu. Dia, letnan Jono yang sedang mencari mayor Dibyo, bekas komandannya yang
masih menjadi atasannya. Dia masih mematut-matut dirinya, mulai dari topi, lipatan
lengan baju, kopel, pisau komando, dan sepatunya. Setelah dirasa semua cukup
rapih, dia mengetuk pintu ruangan komandannya.
“Masuk!” perintah seseorang dari dalam,
tegas dan jelas.
“Selamat pagi!” dengan sikap sempurna,
letnan Jono memberi hormat kepada mayor Dibyo. Sudah ada di ruangan itu kolonel
Wahyudi, letnan Naryo, seorang anggota
kepolisian berpangkat Inspektur Satu, iptu Arifin, dan seorang wanita dengan
tinggi seratus tujuh puluh delapan sentimeter, berat badan seimbang, rambutnya
dipotong pendek, standar untuk TNI dan POLRI, pernah memperhatikan Brigadir Eka
Frestya, polisi yang bertugas di National
Traffic Management Centre, wajahnya tidak beda jauh dengan dia, hanya saja
pangkat gadis ini adalah letnan, sama dengan pangkat letnan Jono. Dia tidak
dapat membaca jelas nama yang terjahit di atas saku kanan baju Pakaian Dinas
Lapangan itu. Yang jelas pangkat letnan wanita itu sama dengan pangkat nya.
“Bagaimana letnan?”
“Mohon ijin?” letnan Jono meminta mayor
Dibyo untuk mengulangi pertanyaannya.
“Sudah, silakan duduk!”
“Siap ndan!”
“Saat ini kita dalam masalah genting!”
mayor Dibyo lalu mencoba merangkai kata.
“Mohon ijin, memangnya batalyon Zeni
tidak sanggup mengurus genting?”
“Letnan, sekali lagi kamu berkata-kata
konyol seperti ini, kamu keluar dari misi ini!” kata pak kolonel, singkat padat
dan tegas “Mengeti kamu?”
“Siap mengerti!” kata si letnan gugup.
“Kita akan menyerang ke perbatasan” kata
kolonel Wahyudi.
Adalah
sebuah kelompok yang menyelundupkan obat-obatan terlarang via jalur darat, dari
China, melewati Laut Cina Selatan, Teluk Datu, lalu masuk ke Bengkayang,
Singkawang, Mempawah lalu ke Pontianak. Kelompok tersebut adalah kunci dari
perdagangan obat-obatan terlarang di Asia Tenggara. Pimpinan kelompok itu
adalah Ling Siau Fat, seorang buronan Interpol.
“Menurut laporan intelijen, paket
dimasukkan ke compressor, onderdil kendaraan bermotor!” kata letnan itu.
“Mohon ijin bu!” letnan Jono berusaha
untuk menyampaikan pertanyaan. “Apakah kepolisian tidak mampu menangani?” tanya
letnan Jono.
“Di kepolisian dan Angkatan Darat
belakangan ini sedang mengalami titik rawan, mereka punya masalah!” pak Kolonel memotong diskusi “saya tidak
mengatakan kalau korps ini bebas dari masalah. Tapi perintah atas datang ke
korps ini!”
“Lalu, apa tugas kami pak?”
“Saya perkenalkan Iptu Arifin!” kata
Kolonel Wahyudi.
“Menggagalkan penyelundupan itu!”
singkat Iptu Arifin. “Kami akan kirimkan beberapa anggota kami untuk turut
serta dalam misi ini!”
“Nggak perlu inspektur! Urus saja dulu
untuk kekompakan internal kalian!” celetuk letnan Jono.
“Jo,
ojo ngawur kon!” bisik letnan Naryo.
“Ya, terima kasih atas sarannya letnan!”
kata inspektur Arifin dengan penuh penyesalan.
“Sama-sama!”
“Tolong, kami butuh mereka hidup-hidup!”
“Bagaimana jika mereka bersenjata
lengkap? Kalau kami tidak membunuh, maka kami akan dibunuh!” tandas letnan
Naryo.
“Nama Tim kalian Nanggala! Nanggala! Letnan
Naryo, komando teknis! Letnan Jono komando taktis! Letnan Andina assisten
komando taktis; gunakan pasukan perbatasan bila perlu!” perintah kolonel Wahyudi
sambil memberikan surat tugas kepada tiga anak buahnya.
“Mohon petunjuk, apa yang harus kami
siapkan ndan?” tanya letnan Jono.
“Prajurit terbaik kalian! dan jaga diri
baik-baik!” kata kolonel Wahyudi “samakan waktu! Jam tangan saya menunjukkan
pukul sebelas lewat lima belas menit! Dalam delapan jam kedepan, kalian harus
siap!” singkat pak Kolonel.
“Bubar!” perintah kolonel Wahyudi. Dan
ke empat perwira itu pun meninggalkan ruangan itu.
“Inspektur, jangan tersinggung!” kata
letnan Jono sambil menawarkan rokok kepada inspektur Arifin.
“Terima kasih! Saya tidak merokok!” kata
inspektur Arifin.
“Kalau begitu, saya juga tidak!” letnan Jono
mengembalikan bungkusan rokok itu kepada letnan Naryo.
“Letnan, saya dapat perintah untuk misi
ini!”
“Oke! You have to kill !! Or you to be killed there” kata letnan Jono.
“No
killing someone even they want to kill you!” kata letnan Andina dengan
gemas nya.
“Sudah! Nggak usah dibahas!” kata
inspektur Arifin kepada letnan Andina.
“Saya Andina! Dan kami akan menikah dua
minggu dari sekarang!”
“Oh, selamat ya!” singkat letnan Jono.
“Come
on Coy! Don’t wasting our time!”
kata letnan Naryo yang langsung bergerak ke kesatuannya, diikuti letnan Jono.
“Kita butuh Tim Alfa!” singkat letnan Jono.
“Ya, lalu bagaimana untuk penyergapan?”
“Aku
mesti ndelok lokasi ne dhisik rek!” jawab letnan Jono.
Letnan
Naryo sudah siap dengan pasukannya, didampingi oleh letnan Jono, dan menerima
perintah langsung dari kolonel Wahyudi. Tim yang dipilih oleh letnan Jono dan
letnan Naryo terdiri dari dua puluh orang, dan akan segera diberangkatkan
dengan dua unit helikopter Blackhawk yang baru dibeli oleh Indonesia satu
minggu sebelum perintah itu turun, jadi misi itu adalah tugas pertama dari
helikopter Blackhawk itu. Tim tersebut akan diturunkan di pos marinir terdekat,
kira-kira jaraknya delapan kilometer dari titik penyergapan. Dari situ, tim
akan dibantu oleh pasukan pengamanan perbatasan untuk mencapai lokasi.
“Ini, pakai ini! Kalau sudah selesai,
tolong kembalikan!” kata letnan Jono sambil memberikan satu unit SS1-Marines
kepada inspektur Arifin.
“Terima kasih!” kata inspektur Arifin
“Tapi aku lebih suka SS1-Sabhara ini!” katanya sambil menepuk SS1-Sabhara
miliknya.
“It’s oke lah!” jawab letnan Jono sambil
menggantungkan senapan itu di punggungnya.
Dua
helikopter meluncur menembus kegelapan malam; dari Jakarta ke Kalimantan, dari
Cilandak ke Bengkayang. Letnan Jono bersama letnan Andina dan inspektur Arifin
serta seorang snipper, satu spotter, dan lima prajurit serbu berada di
Blackhawk 2 dan Letnan Naryo bersama sembilan anak buahnya berada di Blackhawk
1. Mereka siap untuk bertugas kapan pun dan dimana pun. Letnan Andina masih
setia disamping inspektur Arifin, sambil masih memeluk senapan miliknya. Dia
membuka helmet nya dan meletakkan kepalanya di bahu inspektur Arifin, jemari
tangan mereka berpilinan membuat kehangatan tersendiri di tengah angin malam,
bagi mereka berdua.
Letnan Jono
melihat beberapa anak buahnya sudah tertidur, dan dia merasakan kesendirian,
perasaannya berkecamuk, seperti perang di timur tengah. Penerbangan menuju
Bengkayang memakan waktu selama dua jam, dan letnan Jono hanya bisa
menghabiskan air yang ada di botol minumnya. Letnan Jono melihat mitra nya,
agak sedikit gugup. Inspektur Arifin berusaha untuk menenangkan dirinya
sendiri.
“Macan kumbang, bagaimana status ganti?”
tanya letnan Jono kepada letnan Naryo.
“Kuda hitam, lima menit kita akan sampai
tujuan!”
“Dimengerti ganti!” letnan Jono lalu
membangunkan anak buahnya untuk bersiap, kemudian memandang inspektur Arifin.
“lieutenant,
welcome to the marine zone! Please follow our style or you would kill there!
Don’t be naïve! I’m your commander here!”
“Yes
Sir!” kata inspektur Arifin.
Dengan
tali, mereka diturunkan di tanah lapang yang jaraknya sekitar satu kilometer
dari pos perbatasan yang dijaga oleh pasukan Marinir, setelah itu dua Blackhawk
tersebut kembali ke pangkalan. Dan mereka mendapat sambutan hangat dari pasukan
yang bertugas disitu. Letnan Hermawan adalah komandan peleton yang menjaga pos
perbatasan itu merupakan adik kelas letnan Jono, dan letnan Naryo.
“Selamat malam! Selamat datang di pos
marinir!” katanya sambil memberi hormat.
“Wan,
aku ngelih! Enek panganan opo?” tanya letnan Naryo.
“Mari kita ke pos” kata letnan Irwan
yang langsung memandu rekan-rekannya ke pos perbatasan.
Mereka
baru selesai mengadakan patoli perbatasan pagi tadi, memeriksa seluruh patok
perbatasan Indonesia dan Malaysia. Dan mereka siap jika harus membantu tim
khusus ini menjalankan tugasnya.
“Ada berapa jalan perbatasan yang tidak
dijaga?” tanya letnan Jono.
“Yang masuk jangkauan kami ada belasan
ndan! Kebanyakan jalan setapak! Dan itu mengarah pada satu titik”
“Kemungkinan besar mereka lewat situ!”
kata letnan Jono “Mereka tidak mungkin melalui jalan arteri!”
“Mohon ijin pak! Saya rasa kita perlu
juga memperhatikan jalan arteri!” kata letnan Andina.
“Oh, begitu!” letnan Jono berpikir
sejenak. “Letnan Irwan, tolong bawa pasukan mu yang masih sanggup, untuk
mengawasi jalan setapak itu! Kami akan menghadang di jalan arteri”
“Siap ndan!” kata Irwan tegas.
“Inspektur, kamu punya hak untuk
memilih! Dalam setengah jam saya ingin kamu memberikan jawaban akan bergabung
di tim teknis atau tim taktis!”
“Saya akan membantu letnan Naryo bergabung
di tim teknis!” katanya dengan penuh kepastian. Mendengar itu, letnan Andina
terperanjat.
“Kita bubar!” kata letnan Jono, karena
nalurinya mengatakan kalau letnan Andina tidak akan pernah rela kalau
tunangannya bergabung di tim teknis. Dan benar saja, dengan geram letnan Andina
menatap letnan Jono yang sedang meminum segelas air mineral yang ada di meja
kerja letnan Irwan.
“Harusnya kamu menempatkan dia di tim
taktis!” geram Andina kepada Jono.
“Dia bukan personel organikku! Aku tidak
berhak menempatkan dimana dia bertugas!”
“Konyol!” geram nya yang langsung
menemui tunangannya.
“Kamu nggak usah macem-macem deh!” gusar
letnan Andina kepada tunangannya.
“Aku nggak macam-macam!” dia berpikir
sejenak, menggandeng Andina untuk menjauhi tempat pertemuan itu.
“Aku nggak akan biarkan mereka
menghabisi sasaran ku!” bisiknya “please tolong ngertiin aku! Sekali ini saja!”
“Oke, aku coba ngerti kamu! Hati-hati
ya!” kata letnan Andina sambil melingkarkan pelukannya di pinggul Arifin.
“Aku sayang kamu! Kalau aku harus
berakhir disini, aku ingin kamu mencari pengganti yang lebih baik dari pada
aku!”
“Kamu ngomong apa sih?” katanya sambil
mengeratkan pelukannya. Beberapa saat kemudian letnan Jono melalui tempat itu.
“Eh, maaf ganggu!” gurau nya yang
langsung menuju gudang peluru. Inspektur Arifin pun mengikuti letnan Jono
menuju gudang peluru.
“Sepertinya Andina benar-benar cinta
sama kamu!” kata letnan Jono sambil masih konsen dengan senapannya.
“Ya, begitulah!” jawab iptu Arifin
sambil masih memilih-milih amunisi.
“Jono, kalau aku harus berakhir disini,
tolong jaga Andina!” katanya penuh harap.
“Ya, kalau itu tidak terjadi, aku tidak
akan menjaga Andina ‘kan?”
“Karena hanya aku yang kan melakukan
itu” kata iptu Arifin datar.
“Kamu masih bisa untuk masuk ke tim
taktis!”
“Maaf letnan, saya tidak akan
menyerahkan sasaran saya ini kepada kalian!” dan letnan Jono tertawa terkekeh,
dan memuncak lah emosi iptu Arifin.
“Saya tidak akan membiarkan kalian
mengambil sasaran kami!” geramnya sambil mencengkeram kerah baju PDL letnan Jono.
“komando atas telah jatuh pada kami,
artinya komando atas mempercayakan kami untuk menangani ini dengan cara kami!”
“Ada apa nih?” tanya letnan Naryo yang
tiba-tiba datang dan menengahi mereka.
“Tidak ada apa-apa!” kata letnan Jono sambil
melepaskan tangan iptu Arifin dari bajunya. “Bukan waktunya kita untuk ribut!
Kalau memang mau ribut, tunggu setelah kita keluar dari sini!” kata letnan Jono
lagi “Bawa pasukan mu ke Cilandak! Kalau memang itu maumu!”
“Saya pegang janjimu!” kata iptu Arifin
yang langsung meninggalkan mereka berdua.
“Dobol
tenan arek kui!”
“Wis
wis! Ojo nesu kon!” gumam letnan Jono.
“Menangkap gembong narkoba!” ledek letnan Jono kepada dirinya sendiri.
“Daripada jaga stasiun! Pilih mana?”
gurau letnan Naryo.
Sambil
masih menunggu komando atas, mereka menyantap makan malam. Letnan Jono tampak
tidak menikmati makanan itu, bukan karena makannya tidak enak, tapi karena dia
harus menjalankan tugas yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Dia memandangi
satu demi satu anak buahnya yang kebanyakan masih bujang, mereka belum menikah.
Dia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Kalau dalam peperangan sudah pasti
musuh membawa senjata, kalau musuh kali ini juga membawa bom, habislah beberapa
pasukan terbaik yang dimiliki oleh Angkatan Laut Indonesia. Tapi tidak mungkin
mereka membawa bom, untuk apa.
“Semua unit Nanggala segera menuju ke
lokasi penyergapan! Semua unit Nanggala segera menuju lokasi penyergapan!”
perintah kolonel Wahyudi meraung-raung di radio yang ada di tiap-tiap personel
unit Nanggala. Dan mereka segera bersiap untuk menjalankan tugas mereka.
“Letnan, inspektur! Mohon maafkan
kesalahan saya! Kalau ini adalah akhir bagi saya tolong minta komando atas
untuk mencari pengganti yang lebih baik dari saya untuk menjadi komandan atas
tim ini!”
“Ah, letnan nggak usah ngomong gitu!
Tanpa perlu diminta, komando atas akan mencari pengganti yang lebih baik dari
kamu!” celetuk letnan Andina.
“Kamu nggak salah letnan!” gumam iptu
Arifin yang membarengi letnan Jono yang berjalan dibelakang pasukannya. Dengan
begitu otomatis letnan Naryo lah yang memimpin penyerangan itu. Letnan Jono
kemudian mengambil brevet detasemen dari saku bajunya dan memberikan benda itu
kepada iptu Arifin, dan menatapnya dalam.
“Buatlah dirimu bangga, kamu adalah
salah satu dari kami sekarang!” kata letnan Jono sambil menyematkan brevet itu
di baju iptu Arifin. Seorang anggota batalyon intai amphibi sekalipun jika
tidak memenuhi kualifikasi sebagai pasukan khusus anti terror tidak akan pernah
bisa bergabung dengan tim Detasemen Jala Mangkara.
Pasukan
bantuan akan memisahkan diri untuk memeriksa jalan-jalan setapak yang ada di
wilayah mereka. Dan pasukan inti akan langsung menuju lokasi penyergapan untuk
melakukan eksekusi. Perjalanan menuju tempat penyergapan memerlukan waktu
delapan jam. Pasukan berangkat pukul sembilan malam, tepat pada jam enam pagi
pasukan sudah bersiap di lokasi untuk menanti “Musang” yang akan masuk ke
Indonesia.
Perlahan,
ada setitik cahaya dari timur, cahaya mentari yang belum sepenuhnya menerangi
rimba Kalimantan. Letnan Naryo memerintahkan semua pasukannya untuk bersiap
snipper sudah ditempatkan di beberapa titik yang tepat. Kira-kira sepuluh
kilometer dari garis batas, letnan Naryo dan pasukannya berjaga, dengan pakaian
tempur komplit, rompi anti peluru, helmet, senapan, pistol, sangkur dan
beberapa granat. Letnan Jono, letnan Andina, dan iptu Arifin juga memakai
perlengkapan tempur itu. dengan keadaan siaga-1 senapan berada digantung
didepan tubuh mereka dengan jari telunjuk siap untuk menarik pelatuk, dan satu
butir peluru didalam bilik senapan.
“Maaf soal masalah sejak pertemuan
kita!” kata letnan Jono kepada letnan Andina sambil menjulurkan tangannya.
“Ya, aku maafkan! Kopral!”
“Hah, apa kamu bilang?” gusar letnan
Jono.
“Kopral! Kopral Jono!”
“Dancuk!” kata letnan Jono sambil
sedikit tertawa kecil.
“Kenapa? Orang se-Indonesia sudah tahu
yang namanya Jono itu pangkatnya adalah Kopral!”
“Ya, dulu Mayor Latief juga bilang hal
demikian waktu aku masih di akademi!”
“Nah, itu kopral! Maaf, aku hanya
bercanda!”
“Jadi, setelah ini apakah kami akan di
undang ke pesta pernikahan kalian?” gurau letnan Jono.
“Aku mengundang kalian untuk hadir ke
pernikahan kami!” kata letnan Andina sumringah.
“Aku hanya bercanda kok! Apa kesan mu saat
pertama bertemu denganku?”
“Konyol! Menjengkelkan!”
“kenapa memangnya?”
“Kamu panggil aku dengan sebutan ‘ibu’
memangnya aku setua itu apa?”
“Sebentar lagi kamu akan menjadi ibu
Arifin” dan merah lah pipi Andina saat mendengar gurauan itu.
Letnan
Naryo dan anak buahnya bersiap memeriksa seluruh kendaraan yang melintasi jalur
itu salah satunya adalah kelengkapan kendaraan, dan mengecek barang bawaan.
Sementara letnan Jono, letnan Andina dan beberapa prajurit bersembunyi di parit
yang cukup lebar untuk bersembunyi.
Sampai
mereka menemukan tiga mobil bak tertutup, cukup besar hingga tak luput dari
kecurigaan letnan Naryo. Dia memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa truk
tersebut dan yang didapatinya hanya sayuran busuk. Letnan Naryo terkesiap ketika
melihat isi dari truk pertama tersebut, dia melaporkan apa yang didapatinya
kepada rekan kerja nya, dan dia kembali memeriksa truk kedua dan yang didapati
juga tidak jauh berbeda dengan truk pertama, sayuran yang hampir busuk. Truk
kedua berhasil lolos, sampai truk ketiga letnan Naryo mendapati sesuatu yang
tidak jauh berbeda dengan yang ada di truk pertama dan truk kedua.
“Periksa semua!” perintah letnan Naryo
kepada anak buahnya, namun apa yang terjadi, satu butir peluru mengarah ke dada
letnan Naryo, hanya saja terkena rompi anti pelurunya. Pertempuran tidak dapat
dihindari lagi, orang yang menembak letnan Naryo sudah rubuh bersimbah darah
karena tertembak oleh snipper. Dua puluh anggota tim khusus itu harus
menghadapi tiga puluh orang komplotan bersenjata.
“Tidak!! Jangan!!” teriak iptu Arifin.
Letnan Jono pun keluar dari tempat persembunyiannya dan berusaha untuk menolong
rekan sejawatnya.
“Kulo
dhereng sedo nggih?”
“Tangi
o! kon isih urip rek!” kata
letnan Jono sambil masih berlindung di balik truk itu. Dan mereka memberi
perlawanan kepada kelompok yang ternyata bersenjata itu.
Sampai
pada satu saat, letnan Jono, iptu Arifin dan seorang komplotan berada pada satu
garis lurus, letnan Jono hendak menambakkan senapannya kepada komplotan itu,
namun iptu Arifin menghalanginya. Begitupun komplotan tersebut yang hendak
menembakkan senapannya ke arah letnan Jono.
“Jo, tolong! Ini berharga untuk kita!” pinta
Arifin.
“Elang hitam, elang hitam, jangan
matikan, buat dia lumpuh!” perintah letnan Jono kepada snipper.
“Dimengerti kuda hitam!” dan benar saja
satu butir peluru caliber 50mm merusak lengan tangan orang itu, dan dengan
segera iptu Arifin meringkus orang itu.
“Kejar mereka jo!” kata letnan Naryo.
“Semua pasukan naik ke truk!” dan semua
pasukan pun menuruti apa kata komandannya, masuk kedalam truk yang penuh dengan
sayuran-sayuran busuk, tidak terkecuali letnan Andina.
“San, cari informasi
sebanyak-banyaknya!” perintah letnan Naryo kepada anak buahnya.
“Siap ndan!” dan mereka pun mengejar dua
truk lainnya.
Menurut
informasi yang didapat oleh sersan Hadi, obat-obatan tersebut akan dibawa ke
Jakarta melalui jalur darat. Di rombongan itu ada bandar ganja se Asia
Tenggara, dia yang menjadi incaran Interpol selama ini.
“Kalau kita berhasil, Indonesia akan
dipertimbangkan di mata dunia!” kata letnan Naryo sambil mengeluarkan proyektil
peluru dari rompi anti peluru yang dipakainya.
“Dancuk!” misuh nya.
“Kuda hitam, kuda hitam! Saya akan
segera kirimkan badak putih untuk membantu pengejaran!”
“Dimengerti merpati putih! Segera
laksanakan!”
Pengejaran
terus berlangsung sampai letnan Naryo dapat melihat dua truk yang ‘menipu’
dirinya dan dinas imigrasi. Truk itu melaju dengan kecepatan tinggi di jalan
besar yang sepi, memecah keheningan hutan Kalimantan.
“Kepada semua unit Nanggala, yang kita
hadapi adalah kelompok bersenjata! Jika kalian tidak menembak, maka kalian akan
ditembak! Jika kalian tidak membunuh, maka kalian akan dibunuh! Mari kita
selamatkan bangsa kita dari jajahan narkoba!” kata letnan Naryo.
“Siap ndan!”
“Kobarkan terus semangat
pertempuran!!!!” kata letnan Jono.
“Jo, itu kalimatnya komodor Yos!” bisik
letnan Naryo.
“Ya, itu maksud ku!” canda letnan Jono.
Pertempuran
tidak dapat dihindari lagi, letnan Naryo dan anak buahnya berusaha untuk
mengenai tepat sasaran ke komplotan penyelundup itu. Di tengah pertempuran,
iptu Arifin berusaha merangsek maju, bersembunyi di balik pepohonan, dan
berlari zig zag.
“Hei cuk! Ojo ngawur kon!” misuh letnan Naryo yang langsung memberi tembakan perlindungan kepada iptu Arifin.
“Jo, ikutin Arifin!” perintah letnan
Naryo.
“Siap ndan!” letnan Jono pun mengikuti
iptu Arifin dan memberi perlawanan kepada komplotan bersenjata itu, letnan Jono
berhasil menghabisi nyawa beberapa komplotan yang memberi perlawanan. Sampai
dikiranya tidak ada yang tersisa, letnan Jono memberi isyarat kepada letnan
Naryo kalau semua sudah tewas. Namun apa yang terjadi, seorang yang bersembunyi
di pohon yang cukup besar, mengarahkan
senapannya ke arah iptu Arifin, dan tepat satu jengkal dibawah kerongkongannya.
Tanpa pikir panjang, letnan Jono memberondongi komplotan itu dengan senapannya,
dan langsung membantu Arifin.
“Medis!! Mediss!!” teriak letnan Jono.
Tidak ada tim medis disana, karena mereka sangat optimis tidak akan terjadi pertempuran
seperti itu.
“Arifin!!!” letnan Andina berteriak
histeris ketika melihat calon suaminya itu rubuh tertembak. Dia lalu berlari
menghampiri suaminya yang sudah rebah.
“Arifin, bangun!!”
“Aku bangga bisa mati saat menjalankan
tugas bersama kalian!” katanya sambil terus berusaha untuk berbicara.
“Nggak! Ini kena rompi mu!” kata letnan Jono.
“Letnan, tolong berjanjilah!” kata iptu
Arifin sambil menggenggam erat tangan letnan Jono.
“Tolong jaga Andina!!” kata iptu Arifin
sambil menggenggam telapak tangan Andina, dan menyatukannya dengan tangan
letnan Jono.
“Tidak! Kamu akan tetap bertahan!”
“Jika aku bertahan, aku tidak akan
memintamu untuk melakukan ini letnan!” sejenak letnan Jono memperhatikan letnan
Andina yang tidak dapat menahan air mata nya.
“Ya! Jika memang itu yang harus
kulakukan!”
“Terima kasih letnan!” dia lalu menatap
tunangannya.
“Sayang, aku ingin ciuman di kening ku!”
katanya sambil masih menahan nafasnya, dia menyeka air mata yang jatuh dari
mata letnan Andina, letnan Andina lalu meraih belaian tangan itu dan mencium
kening tunangannya. Dan satu hal yang tidak bisa dilupakannya seumur hidup
adalah nafas terakhir tunangannya yang lembut membelai wajahnya.
“Arifin!” tangisnya tidak dapat
dibendung lagi. Menurut letnan Jono, selalu ada ‘tumbal’ untuk kemenangan yang
diperoleh.
“Satu merah, satu merah!!!” ditengah
kedukaannya, letnan Jono masih berusaha untuk mencari otak dari peredaran
obat-obatan terlarang di Asia Tenggara. Dibalik pepohonan, letnan Jono dapat
mendengar rintih kesakitan dari seseorang yang terluka, di bagian paha dan
perut. Letnan Jono pun membawa orang itu ke pasukannya.
“Arifin, lihat! Aku membawa Ling Siau
Fat hidup-hidup!” katanya sambil menatap jenazah iptu Arifin.
“Andina, maaf!” kata letnan Jono sambil
berusaha untuk mengambil senapan yang dipegang oleh letnan Andina.
“Aku tidak akan pernah menjadi ibu
Arifin!” katanya sambil masih menangisi kepergian iptu Arifin.
“Hubungi kepolisian setempat!” perintah
letnan Naryo kepada sersan Hadi.
“San, segera buat laporan ke komando
atas!” perintah letnan Jono kepada sersan Hadi.
“Siap ndan!” tegas sersan Hadi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar