Sabtu, 07 September 2013

Melati Gugur Di Medan Laga


Seorang prajurit tampak tergesa, mengendarai sepeda dari batalyon nya, mengitari lapangan apel brigade, menuju batalyon di seberang lapangan apel. Dia lalu memarkir sepeda nya di markas batalyon, kemudian masuk dan entah apa yang dilakukan di dalam batalyon, sekitar lima belas menit dia kembali mengendarai sepedanya ke markas batalyon di sisi lain lapangan apel itu. Di tengah perjalanan menuju batalyon yang lain dia mendapat hormat dari beberapa prajurit. Sudah dapat ditebak bahwa dia memiliki pangkat yang lebih tinggi dari prajurit-prajurit yang memberi hormat itu. Dia, letnan Jono yang sedang mencari mayor Dibyo, bekas komandannya yang masih menjadi atasannya. Dia masih mematut-matut dirinya, mulai dari topi, lipatan lengan baju, kopel, pisau komando, dan sepatunya. Setelah dirasa semua cukup rapih, dia mengetuk pintu ruangan komandannya.
“Masuk!” perintah seseorang dari dalam, tegas dan jelas.
“Selamat pagi!” dengan sikap sempurna, letnan Jono memberi hormat kepada mayor Dibyo. Sudah ada di ruangan itu kolonel Wahyudi,  letnan Naryo, seorang anggota kepolisian berpangkat Inspektur Satu, iptu Arifin, dan seorang wanita dengan tinggi seratus tujuh puluh delapan sentimeter, berat badan seimbang, rambutnya dipotong pendek, standar untuk TNI dan POLRI, pernah memperhatikan Brigadir Eka Frestya, polisi yang bertugas di National Traffic Management Centre, wajahnya tidak beda jauh dengan dia, hanya saja pangkat gadis ini adalah letnan, sama dengan pangkat letnan Jono. Dia tidak dapat membaca jelas nama yang terjahit di atas saku kanan baju Pakaian Dinas Lapangan itu. Yang jelas pangkat letnan wanita itu sama dengan pangkat nya.
“Bagaimana letnan?”
“Mohon ijin?” letnan Jono meminta mayor Dibyo untuk mengulangi pertanyaannya.
“Sudah, silakan duduk!”
“Siap ndan!”
“Saat ini kita dalam masalah genting!” mayor Dibyo lalu mencoba merangkai kata.
“Mohon ijin, memangnya batalyon Zeni tidak sanggup mengurus genting?”
“Letnan, sekali lagi kamu berkata-kata konyol seperti ini, kamu keluar dari misi ini!” kata pak kolonel, singkat padat dan tegas “Mengeti kamu?”
“Siap mengerti!” kata si letnan gugup.
“Kita akan menyerang ke perbatasan” kata kolonel Wahyudi.
            Adalah sebuah kelompok yang menyelundupkan obat-obatan terlarang via jalur darat, dari China, melewati Laut Cina Selatan, Teluk Datu, lalu masuk ke Bengkayang, Singkawang, Mempawah lalu ke Pontianak. Kelompok tersebut adalah kunci dari perdagangan obat-obatan terlarang di Asia Tenggara. Pimpinan kelompok itu adalah Ling Siau Fat, seorang buronan Interpol.
“Menurut laporan intelijen, paket dimasukkan ke compressor, onderdil kendaraan bermotor!” kata letnan itu.
“Mohon ijin bu!” letnan Jono berusaha untuk menyampaikan pertanyaan. “Apakah kepolisian tidak mampu menangani?” tanya letnan Jono.
“Di kepolisian dan Angkatan Darat belakangan ini sedang mengalami titik rawan, mereka punya masalah!”  pak Kolonel memotong diskusi “saya tidak mengatakan kalau korps ini bebas dari masalah. Tapi perintah atas datang ke korps ini!”
“Lalu, apa tugas kami pak?”
“Saya perkenalkan Iptu Arifin!” kata Kolonel Wahyudi.
“Menggagalkan penyelundupan itu!” singkat Iptu Arifin. “Kami akan kirimkan beberapa anggota kami untuk turut serta dalam misi ini!”
“Nggak perlu inspektur! Urus saja dulu untuk kekompakan internal kalian!” celetuk letnan Jono.
Jo, ojo ngawur kon!” bisik letnan Naryo.
“Ya, terima kasih atas sarannya letnan!” kata inspektur Arifin dengan penuh penyesalan.
“Sama-sama!”
“Tolong, kami butuh mereka hidup-hidup!”
“Bagaimana jika mereka bersenjata lengkap? Kalau kami tidak membunuh, maka kami akan dibunuh!” tandas letnan Naryo.
“Nama Tim kalian Nanggala! Nanggala! Letnan Naryo, komando teknis! Letnan Jono komando taktis! Letnan Andina assisten komando taktis; gunakan pasukan perbatasan bila perlu!” perintah kolonel Wahyudi sambil memberikan surat tugas kepada tiga anak buahnya.
“Mohon petunjuk, apa yang harus kami siapkan ndan?” tanya letnan Jono.
“Prajurit terbaik kalian! dan jaga diri baik-baik!” kata kolonel Wahyudi “samakan waktu! Jam tangan saya menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit! Dalam delapan jam kedepan, kalian harus siap!” singkat pak Kolonel.
“Bubar!” perintah kolonel Wahyudi. Dan ke empat perwira itu pun meninggalkan ruangan itu.
“Inspektur, jangan tersinggung!” kata letnan Jono sambil menawarkan rokok kepada inspektur Arifin.
“Terima kasih! Saya tidak merokok!” kata inspektur Arifin.
“Kalau begitu, saya juga tidak!” letnan Jono mengembalikan bungkusan rokok itu kepada letnan Naryo.
“Letnan, saya dapat perintah untuk misi ini!”
“Oke! You have to kill !! Or you to be killed there” kata letnan Jono.
No killing someone even they want to kill you!” kata letnan Andina dengan gemas nya.
“Sudah! Nggak usah dibahas!” kata inspektur Arifin kepada letnan Andina.
“Saya Andina! Dan kami akan menikah dua minggu dari sekarang!”
“Oh, selamat ya!” singkat letnan Jono.
Come on Coy! Don’t wasting our time!” kata letnan Naryo yang langsung bergerak ke kesatuannya, diikuti letnan Jono.
“Kita butuh Tim Alfa!” singkat letnan Jono.
“Ya, lalu bagaimana untuk penyergapan?”
Aku mesti ndelok lokasi ne dhisik rek!” jawab letnan Jono.
            Letnan Naryo sudah siap dengan pasukannya, didampingi oleh letnan Jono, dan menerima perintah langsung dari kolonel Wahyudi. Tim yang dipilih oleh letnan Jono dan letnan Naryo terdiri dari dua puluh orang, dan akan segera diberangkatkan dengan dua unit helikopter Blackhawk yang baru dibeli oleh Indonesia satu minggu sebelum perintah itu turun, jadi misi itu adalah tugas pertama dari helikopter Blackhawk itu. Tim tersebut akan diturunkan di pos marinir terdekat, kira-kira jaraknya delapan kilometer dari titik penyergapan. Dari situ, tim akan dibantu oleh pasukan pengamanan perbatasan untuk mencapai lokasi.
“Ini, pakai ini! Kalau sudah selesai, tolong kembalikan!” kata letnan Jono sambil memberikan satu unit SS1-Marines kepada inspektur Arifin.
“Terima kasih!” kata inspektur Arifin “Tapi aku lebih suka SS1-Sabhara ini!” katanya sambil menepuk SS1-Sabhara miliknya.
“It’s oke lah!” jawab letnan Jono sambil menggantungkan senapan itu di punggungnya.
            Dua helikopter meluncur menembus kegelapan malam; dari Jakarta ke Kalimantan, dari Cilandak ke Bengkayang. Letnan Jono bersama letnan Andina dan inspektur Arifin serta seorang snipper, satu spotter, dan lima prajurit serbu berada di Blackhawk 2 dan Letnan Naryo bersama sembilan anak buahnya berada di Blackhawk 1. Mereka siap untuk bertugas kapan pun dan dimana pun. Letnan Andina masih setia disamping inspektur Arifin, sambil masih memeluk senapan miliknya. Dia membuka helmet nya dan meletakkan kepalanya di bahu inspektur Arifin, jemari tangan mereka berpilinan membuat kehangatan tersendiri di tengah angin malam, bagi mereka berdua.
Letnan Jono melihat beberapa anak buahnya sudah tertidur, dan dia merasakan kesendirian, perasaannya berkecamuk, seperti perang di timur tengah. Penerbangan menuju Bengkayang memakan waktu selama dua jam, dan letnan Jono hanya bisa menghabiskan air yang ada di botol minumnya. Letnan Jono melihat mitra nya, agak sedikit gugup. Inspektur Arifin berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
“Macan kumbang, bagaimana status ganti?” tanya letnan Jono kepada letnan Naryo.
“Kuda hitam, lima menit kita akan sampai tujuan!”
“Dimengerti ganti!” letnan Jono lalu membangunkan anak buahnya untuk bersiap, kemudian memandang inspektur Arifin.
lieutenant, welcome to the marine zone! Please follow our style or you would kill there! Don’t be naïve! I’m your commander here!
Yes Sir!” kata inspektur Arifin.
            Dengan tali, mereka diturunkan di tanah lapang yang jaraknya sekitar satu kilometer dari pos perbatasan yang dijaga oleh pasukan Marinir, setelah itu dua Blackhawk tersebut kembali ke pangkalan. Dan mereka mendapat sambutan hangat dari pasukan yang bertugas disitu. Letnan Hermawan adalah komandan peleton yang menjaga pos perbatasan itu merupakan adik kelas letnan Jono, dan letnan Naryo.
“Selamat malam! Selamat datang di pos marinir!” katanya sambil memberi hormat.
Wan, aku ngelih! Enek panganan opo?” tanya letnan Naryo.
“Mari kita ke pos” kata letnan Irwan yang langsung memandu rekan-rekannya ke pos perbatasan.
            Mereka baru selesai mengadakan patoli perbatasan pagi tadi, memeriksa seluruh patok perbatasan Indonesia dan Malaysia. Dan mereka siap jika harus membantu tim khusus ini menjalankan tugasnya.
“Ada berapa jalan perbatasan yang tidak dijaga?” tanya letnan Jono.
“Yang masuk jangkauan kami ada belasan ndan! Kebanyakan jalan setapak! Dan itu mengarah pada satu titik”
“Kemungkinan besar mereka lewat situ!” kata letnan Jono “Mereka tidak mungkin melalui jalan arteri!”
“Mohon ijin pak! Saya rasa kita perlu juga memperhatikan jalan arteri!” kata letnan Andina.
“Oh, begitu!” letnan Jono berpikir sejenak. “Letnan Irwan, tolong bawa pasukan mu yang masih sanggup, untuk mengawasi jalan setapak itu! Kami akan menghadang di jalan arteri”
“Siap ndan!” kata Irwan tegas.
“Inspektur, kamu punya hak untuk memilih! Dalam setengah jam saya ingin kamu memberikan jawaban akan bergabung di tim teknis atau tim taktis!”
“Saya akan membantu letnan Naryo bergabung di tim teknis!” katanya dengan penuh kepastian. Mendengar itu, letnan Andina terperanjat.
“Kita bubar!” kata letnan Jono, karena nalurinya mengatakan kalau letnan Andina tidak akan pernah rela kalau tunangannya bergabung di tim teknis. Dan benar saja, dengan geram letnan Andina menatap letnan Jono yang sedang meminum segelas air mineral yang ada di meja kerja letnan Irwan.
“Harusnya kamu menempatkan dia di tim taktis!” geram Andina kepada Jono.
“Dia bukan personel organikku! Aku tidak berhak menempatkan dimana dia bertugas!”
“Konyol!” geram nya yang langsung menemui tunangannya.
“Kamu nggak usah macem-macem deh!” gusar letnan Andina kepada tunangannya.
“Aku nggak macam-macam!” dia berpikir sejenak, menggandeng Andina untuk menjauhi tempat pertemuan itu.
“Aku nggak akan biarkan mereka menghabisi sasaran ku!” bisiknya “please tolong ngertiin aku! Sekali ini saja!”
“Oke, aku coba ngerti kamu! Hati-hati ya!” kata letnan Andina sambil melingkarkan pelukannya di pinggul Arifin.
“Aku sayang kamu! Kalau aku harus berakhir disini, aku ingin kamu mencari pengganti yang lebih baik dari pada aku!”
“Kamu ngomong apa sih?” katanya sambil mengeratkan pelukannya. Beberapa saat kemudian letnan Jono melalui tempat itu.
“Eh, maaf ganggu!” gurau nya yang langsung menuju gudang peluru. Inspektur Arifin pun mengikuti letnan Jono menuju gudang peluru.
“Sepertinya Andina benar-benar cinta sama kamu!” kata letnan Jono sambil masih konsen dengan senapannya.
“Ya, begitulah!” jawab iptu Arifin sambil masih memilih-milih amunisi.
“Jono, kalau aku harus berakhir disini, tolong jaga Andina!” katanya penuh harap.
“Ya, kalau itu tidak terjadi, aku tidak akan menjaga Andina ‘kan?”
“Karena hanya aku yang kan melakukan itu” kata iptu Arifin datar.
“Kamu masih bisa untuk masuk ke tim taktis!”
“Maaf letnan, saya tidak akan menyerahkan sasaran saya ini kepada kalian!” dan letnan Jono tertawa terkekeh, dan memuncak lah emosi iptu Arifin.
“Saya tidak akan membiarkan kalian mengambil sasaran kami!” geramnya sambil mencengkeram kerah baju PDL letnan Jono.
“komando atas telah jatuh pada kami, artinya komando atas mempercayakan kami untuk menangani ini dengan cara kami!”
“Ada apa nih?” tanya letnan Naryo yang tiba-tiba datang dan menengahi mereka.
“Tidak ada apa-apa!” kata letnan Jono sambil melepaskan tangan iptu Arifin dari bajunya. “Bukan waktunya kita untuk ribut! Kalau memang mau ribut, tunggu setelah kita keluar dari sini!” kata letnan Jono lagi “Bawa pasukan mu ke Cilandak! Kalau memang itu maumu!”
“Saya pegang janjimu!” kata iptu Arifin yang langsung meninggalkan mereka berdua.
Dobol tenan arek kui!”
Wis wis! Ojo nesu kon!” gumam letnan Jono. “Menangkap gembong narkoba!” ledek letnan Jono kepada dirinya sendiri.
“Daripada jaga stasiun! Pilih mana?” gurau letnan Naryo.
            Sambil masih menunggu komando atas, mereka menyantap makan malam. Letnan Jono tampak tidak menikmati makanan itu, bukan karena makannya tidak enak, tapi karena dia harus menjalankan tugas yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Dia memandangi satu demi satu anak buahnya yang kebanyakan masih bujang, mereka belum menikah. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Kalau dalam peperangan sudah pasti musuh membawa senjata, kalau musuh kali ini juga membawa bom, habislah beberapa pasukan terbaik yang dimiliki oleh Angkatan Laut Indonesia. Tapi tidak mungkin mereka membawa bom, untuk apa.
“Semua unit Nanggala segera menuju ke lokasi penyergapan! Semua unit Nanggala segera menuju lokasi penyergapan!” perintah kolonel Wahyudi meraung-raung di radio yang ada di tiap-tiap personel unit Nanggala. Dan mereka segera bersiap untuk menjalankan tugas mereka.
“Letnan, inspektur! Mohon maafkan kesalahan saya! Kalau ini adalah akhir bagi saya tolong minta komando atas untuk mencari pengganti yang lebih baik dari saya untuk menjadi komandan atas tim ini!”
“Ah, letnan nggak usah ngomong gitu! Tanpa perlu diminta, komando atas akan mencari pengganti yang lebih baik dari kamu!” celetuk letnan Andina.
“Kamu nggak salah letnan!” gumam iptu Arifin yang membarengi letnan Jono yang berjalan dibelakang pasukannya. Dengan begitu otomatis letnan Naryo lah yang memimpin penyerangan itu. Letnan Jono kemudian mengambil brevet detasemen dari saku bajunya dan memberikan benda itu kepada iptu Arifin, dan menatapnya dalam.
“Buatlah dirimu bangga, kamu adalah salah satu dari kami sekarang!” kata letnan Jono sambil menyematkan brevet itu di baju iptu Arifin. Seorang anggota batalyon intai amphibi sekalipun jika tidak memenuhi kualifikasi sebagai pasukan khusus anti terror tidak akan pernah bisa bergabung dengan tim Detasemen Jala Mangkara.
            Pasukan bantuan akan memisahkan diri untuk memeriksa jalan-jalan setapak yang ada di wilayah mereka. Dan pasukan inti akan langsung menuju lokasi penyergapan untuk melakukan eksekusi. Perjalanan menuju tempat penyergapan memerlukan waktu delapan jam. Pasukan berangkat pukul sembilan malam, tepat pada jam enam pagi pasukan sudah bersiap di lokasi untuk menanti “Musang” yang akan masuk ke Indonesia.
            Perlahan, ada setitik cahaya dari timur, cahaya mentari yang belum sepenuhnya menerangi rimba Kalimantan. Letnan Naryo memerintahkan semua pasukannya untuk bersiap snipper sudah ditempatkan di beberapa titik yang tepat. Kira-kira sepuluh kilometer dari garis batas, letnan Naryo dan pasukannya berjaga, dengan pakaian tempur komplit, rompi anti peluru, helmet, senapan, pistol, sangkur dan beberapa granat. Letnan Jono, letnan Andina, dan iptu Arifin juga memakai perlengkapan tempur itu. dengan keadaan siaga-1 senapan berada digantung didepan tubuh mereka dengan jari telunjuk siap untuk menarik pelatuk, dan satu butir peluru didalam bilik senapan.
“Maaf soal masalah sejak pertemuan kita!” kata letnan Jono kepada letnan Andina sambil menjulurkan tangannya.
“Ya, aku maafkan! Kopral!”
“Hah, apa kamu bilang?” gusar letnan Jono.
“Kopral! Kopral Jono!”
“Dancuk!” kata letnan Jono sambil sedikit tertawa kecil.
“Kenapa? Orang se-Indonesia sudah tahu yang namanya Jono itu pangkatnya adalah Kopral!”
“Ya, dulu Mayor Latief juga bilang hal demikian waktu aku masih di akademi!”
“Nah, itu kopral! Maaf, aku hanya bercanda!”
“Jadi, setelah ini apakah kami akan di undang ke pesta pernikahan kalian?” gurau letnan Jono.
“Aku mengundang kalian untuk hadir ke pernikahan kami!” kata letnan Andina sumringah.
“Aku hanya bercanda kok! Apa kesan mu saat pertama bertemu denganku?”
“Konyol! Menjengkelkan!”
“kenapa memangnya?”
“Kamu panggil aku dengan sebutan ‘ibu’ memangnya aku setua itu apa?”
“Sebentar lagi kamu akan menjadi ibu Arifin” dan merah lah pipi Andina saat mendengar gurauan itu.
            Letnan Naryo dan anak buahnya bersiap memeriksa seluruh kendaraan yang melintasi jalur itu salah satunya adalah kelengkapan kendaraan, dan mengecek barang bawaan. Sementara letnan Jono, letnan Andina dan beberapa prajurit bersembunyi di parit yang cukup lebar untuk bersembunyi.
            Sampai mereka menemukan tiga mobil bak tertutup, cukup besar hingga tak luput dari kecurigaan letnan Naryo. Dia memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa truk tersebut dan yang didapatinya hanya sayuran busuk. Letnan Naryo terkesiap ketika melihat isi dari truk pertama tersebut, dia melaporkan apa yang didapatinya kepada rekan kerja nya, dan dia kembali memeriksa truk kedua dan yang didapati juga tidak jauh berbeda dengan truk pertama, sayuran yang hampir busuk. Truk kedua berhasil lolos, sampai truk ketiga letnan Naryo mendapati sesuatu yang tidak jauh berbeda dengan yang ada di truk pertama dan truk kedua.
“Periksa semua!” perintah letnan Naryo kepada anak buahnya, namun apa yang terjadi, satu butir peluru mengarah ke dada letnan Naryo, hanya saja terkena rompi anti pelurunya. Pertempuran tidak dapat dihindari lagi, orang yang menembak letnan Naryo sudah rubuh bersimbah darah karena tertembak oleh snipper. Dua puluh anggota tim khusus itu harus menghadapi tiga puluh orang komplotan bersenjata.
“Tidak!! Jangan!!” teriak iptu Arifin. Letnan Jono pun keluar dari tempat persembunyiannya dan berusaha untuk menolong rekan sejawatnya.
Kulo dhereng sedo nggih?”
Tangi o! kon isih urip rek!” kata letnan Jono sambil masih berlindung di balik truk itu. Dan mereka memberi perlawanan kepada kelompok yang ternyata bersenjata itu.
            Sampai pada satu saat, letnan Jono, iptu Arifin dan seorang komplotan berada pada satu garis lurus, letnan Jono hendak menambakkan senapannya kepada komplotan itu, namun iptu Arifin menghalanginya. Begitupun komplotan tersebut yang hendak menembakkan senapannya ke arah letnan Jono.
“Jo, tolong! Ini berharga untuk kita!” pinta Arifin.
“Elang hitam, elang hitam, jangan matikan, buat dia lumpuh!” perintah letnan Jono kepada snipper.
“Dimengerti kuda hitam!” dan benar saja satu butir peluru caliber 50mm merusak lengan tangan orang itu, dan dengan segera iptu Arifin meringkus orang itu.
“Kejar mereka jo!” kata letnan Naryo.
“Semua pasukan naik ke truk!” dan semua pasukan pun menuruti apa kata komandannya, masuk kedalam truk yang penuh dengan sayuran-sayuran busuk, tidak terkecuali letnan Andina.
“San, cari informasi sebanyak-banyaknya!” perintah letnan Naryo kepada anak buahnya.
“Siap ndan!” dan mereka pun mengejar dua truk lainnya.
            Menurut informasi yang didapat oleh sersan Hadi, obat-obatan tersebut akan dibawa ke Jakarta melalui jalur darat. Di rombongan itu ada bandar ganja se Asia Tenggara, dia yang menjadi incaran Interpol selama ini.
“Kalau kita berhasil, Indonesia akan dipertimbangkan di mata dunia!” kata letnan Naryo sambil mengeluarkan proyektil peluru dari rompi anti peluru yang dipakainya.
“Dancuk!” misuh nya.
“Kuda hitam, kuda hitam! Saya akan segera kirimkan badak putih untuk membantu pengejaran!”
“Dimengerti merpati putih! Segera laksanakan!”
            Pengejaran terus berlangsung sampai letnan Naryo dapat melihat dua truk yang ‘menipu’ dirinya dan dinas imigrasi. Truk itu melaju dengan kecepatan tinggi di jalan besar yang sepi, memecah keheningan hutan Kalimantan.
“Kepada semua unit Nanggala, yang kita hadapi adalah kelompok bersenjata! Jika kalian tidak menembak, maka kalian akan ditembak! Jika kalian tidak membunuh, maka kalian akan dibunuh! Mari kita selamatkan bangsa kita dari jajahan narkoba!” kata letnan Naryo.
“Siap ndan!”
“Kobarkan terus semangat pertempuran!!!!” kata letnan Jono.
“Jo, itu kalimatnya komodor Yos!” bisik letnan Naryo.
“Ya, itu maksud ku!” canda letnan Jono.
            Pertempuran tidak dapat dihindari lagi, letnan Naryo dan anak buahnya berusaha untuk mengenai tepat sasaran ke komplotan penyelundup itu. Di tengah pertempuran, iptu Arifin berusaha merangsek maju, bersembunyi di balik pepohonan, dan berlari zig zag.
“Hei cuk! Ojo ngawur kon!” misuh letnan Naryo yang langsung memberi tembakan  perlindungan kepada iptu Arifin.
“Jo, ikutin Arifin!” perintah letnan Naryo.
“Siap ndan!” letnan Jono pun mengikuti iptu Arifin dan memberi perlawanan kepada komplotan bersenjata itu, letnan Jono berhasil menghabisi nyawa beberapa komplotan yang memberi perlawanan. Sampai dikiranya tidak ada yang tersisa, letnan Jono memberi isyarat kepada letnan Naryo kalau semua sudah tewas. Namun apa yang terjadi, seorang yang bersembunyi di pohon yang cukup besar,  mengarahkan senapannya ke arah iptu Arifin, dan tepat satu jengkal dibawah kerongkongannya. Tanpa pikir panjang, letnan Jono memberondongi komplotan itu dengan senapannya, dan langsung membantu Arifin.
“Medis!! Mediss!!” teriak letnan Jono. Tidak ada tim medis disana, karena mereka sangat optimis tidak akan terjadi pertempuran seperti itu.
“Arifin!!!” letnan Andina berteriak histeris ketika melihat calon suaminya itu rubuh tertembak. Dia lalu berlari menghampiri suaminya yang sudah rebah.
“Arifin, bangun!!”
“Aku bangga bisa mati saat menjalankan tugas bersama kalian!” katanya sambil terus berusaha untuk berbicara.
“Nggak! Ini kena rompi mu!” kata letnan Jono.
“Letnan, tolong berjanjilah!” kata iptu Arifin sambil menggenggam erat tangan letnan Jono.
“Tolong jaga Andina!!” kata iptu Arifin sambil menggenggam telapak tangan Andina, dan menyatukannya dengan tangan letnan Jono.
“Tidak! Kamu akan tetap bertahan!”
“Jika aku bertahan, aku tidak akan memintamu untuk melakukan ini letnan!” sejenak letnan Jono memperhatikan letnan Andina yang tidak dapat menahan air mata nya.
“Ya! Jika memang itu yang harus kulakukan!”
“Terima kasih letnan!” dia lalu menatap tunangannya.
“Sayang, aku ingin ciuman di kening ku!” katanya sambil masih menahan nafasnya, dia menyeka air mata yang jatuh dari mata letnan Andina, letnan Andina lalu meraih belaian tangan itu dan mencium kening tunangannya. Dan satu hal yang tidak bisa dilupakannya seumur hidup adalah nafas terakhir tunangannya yang lembut membelai wajahnya.
“Arifin!” tangisnya tidak dapat dibendung lagi. Menurut letnan Jono, selalu ada ‘tumbal’ untuk kemenangan yang diperoleh.
“Satu merah, satu merah!!!” ditengah kedukaannya, letnan Jono masih berusaha untuk mencari otak dari peredaran obat-obatan terlarang di Asia Tenggara. Dibalik pepohonan, letnan Jono dapat mendengar rintih kesakitan dari seseorang yang terluka, di bagian paha dan perut. Letnan Jono pun membawa orang itu ke pasukannya.
“Arifin, lihat! Aku membawa Ling Siau Fat hidup-hidup!” katanya sambil menatap jenazah iptu Arifin.
“Andina, maaf!” kata letnan Jono sambil berusaha untuk mengambil senapan yang dipegang oleh letnan Andina.
“Aku tidak akan pernah menjadi ibu Arifin!” katanya sambil masih menangisi kepergian iptu Arifin.
“Hubungi kepolisian setempat!” perintah letnan Naryo kepada sersan Hadi.
“San, segera buat laporan ke komando atas!” perintah letnan Jono kepada sersan Hadi.
“Siap ndan!” tegas sersan Hadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar