Kamis, 12 September 2013

Sekuntum Cinta Yang Hampir Layu (Eps 5)


V
            Dalam sebuah diskusi kuliah mahasiswa ilmu komunikasi tingkat tiga, sampai pada satu pertanyaan. Bagaimanakah sebuah sistim komunikasi bisa dibilang efektif? Seorang mahasiswa yang duduk di tengah-tengah kelas, tepat di bawah kipas angin pun tunjuk tangan di tengah keheningan mahasiswa dan mahasiswi yang taku jika pertanyaan itu mengarah kepada dirinya. Dengan tegas, dia menjelaskan.
            Komunikasi yang efektif adalah jika komunikan (orang yang menerima isi pesan) dapat memahami isi pesan sebagaimana adanya yang dimaksud oleh komunikator (orang yang mengirim isi pesan) jika komunikan tidak mengerti apa yang dimaksud dengan komunikator dengan apa adanya, berarti komunikasi itu tidak berjalan efektif.
            Ada pun komunikasi harus menjalani dua bagian besar yaitu encoding dan decoding lalu lima tahap. Tahap pertama adalah tahap penyusunan isi pesan oleh komunikator. Isi pesan berasal dari ide yang tergolong abstrak, menurut prespektif orang komunikasi lho ya. Lalu ide itu sendiri di olah oleh peralatan rohaniah (akal, budi, hati nurani.) setelah menjadi isi pesan, lalu disampaikan ke komunikan dengan lambang komunikasi. Lalu komunikan menerima pesan dari komunikator kemudian memaknainya melalui peralatan rohaniah yang dimiliki oleh komunikan. Setelah komunikan menerima dan memaknai isi pesan, maka komunikan akan menyusun sebuah umpan balik, dan mengirimkannya lagi ke komunikator. Dan yang tidak bisa dibantah dalam ilmu komunikasi bahwa komunikasi itu sendiri akan berhenti jika satu dari tiga unsur komunikasi (komunikator, komunikan, dan isi pesan) itu menghilang.
            Bagaimana dengan Tania? Sudah lima bulan dia melakukan komunikasi dengan Krishna, tapi dia belum juga mendapat isi pesan dari Krishna yang menyatakan kalau Krishna mencintainya. Tania sudah tidak sabar menunggu Krishna mengungkapkan perasaan kepadanya, setelah sekian lama tidak ada pria yang masuk kedalam hatinya. Dan Krishna sudah mengetuk pintu hatinya, menurutnya lho ya. Bagaimana dengan Krishna?
            Krishna sedang berusaha keras untuk menyusun isi pesan melalui peralatan rohaniah nya. Dia masih harus berusaha untuk menyusun isi pesan sebaik mungkin agar komunikan nya mengerti sebagaimana mestinya. Disamping itu, Krishna masih tidak bisa melupakan luka lama nya, isi pesan yang tidak dimengerti dengan baik oleh komunikan sebelumnya, itulah yang membuat Krishna masih harus mematangkan daging yang akan diberikannya kepada Tania. Dan dilubuk hatinya yang terdalam, Krishna masih belum mampu untuk memikirkan hubungan kedepannya. Jadi, ada tiga masalah yang menyebabkan Krishna tidak menyampaikan isi pesan cintanya kepada Tania.
“Kamu sibuk banget ya?” tanya Tania.
“Ya, beginilah! Lagi banyak kerjaan!” singkat Krishna, siang itu di Kebun Raya Bogor.
“Iya deh yang orang kantoran!” ledek Tania sambil masih menikmati sejuknya udara di tempat wisata itu.
“Memangnya kamu bukan orang kantoran?”
“Iya sih!” katanya sambil melemparkan senyuman yang paling manis.
“Nanti pacar kamu marah nggak nih kalau aku ngajak kamu jalan?” ledek Krishna.
“Pacar? Pacar dari mana?” gurau Tania.
“Jadi belum punya pacar?” kata Krishna meyakinkan.
“Belum!”
“Mantan pacar pernah punya dong?” tanya Krishna.
“Ya, sudah tiga tahun lalu!”
“Wah, lama juga ya kamu njomblo atau single?”
“Memang ada bedanya Krish?”
“Kalau single itu pilihan!” sejenak Krishna terdiam.
“Kalau njomblo?” tanya Tania.
“Itu nasib!” dan meledak lah tawa Tania di situ.
“Aku njomblo!” sambil masih ketawa cekikikan.
“Semoga kamu dapat pengganti yang lebih baik!”
            Aku harap itu kamu! Bathin Tania. Aku ingin kamu yang menggantikan dia, menjadi pacarku! Tapi nggak mungkin kalau aku yang ngomong duluan! Aku ini wanita! Tapi kalau diperlukan, aku hanya akan memancing-mancing perkataan yang menjurus kesana!
            Tania, bagaimana aku bisa menyatakan perasaan cintaku pada mu jika tatapan matamu membuat gempa amonik di dalam hatiku? Jika gempa tektonik, berasal dari dalam perut bumi, gempa vulkanik berasal dari gunung berapi. Maka gempa amonik, berasal dari cinta yang siap untuk meledak. Aku mersa hina untuk menjadi pendampingmu! Kamu anak jendral! Sedangkan aku, hanya anak seorang masinis tua yang sudah mau pensiun. Sebenarnya aku sangat ingin mengungkapkan perasaanku kepadamu!
“Kamu sering kesini?” tanya Tania.
“Nggak sih! Memangnya kenapa?”
“Gak kenapa-kenapa!”
“Kamu masih mau disini?” tanya Krishna.
“Ya!” jawab Tania dengan penuh kepastian.
            Kota Bogor sudah mulai menunjukkan cirri khas nya sebagai kota hujan. Kota yang disebut kota hujan, karena hujan orografis yang tidak sampai ke Sukabumi, melainkan ‘menabrak’ pegunungan yang ada di Bogor, dan jatuhlah air hujan di Bogor.
            Sama seperti cinta Krishna, yang tidak akan berderai sebelum ‘menabrak’ sesuatu yang mungkin menghalangi jalannya. Apakah yang bisa menghalangi jalannya itu? Apakah sinyal merah? Tentu saja bukan! Ini bukan Serangkai Kereta Menuju Stasiun Terakhir yang selalu berhubungan dengan rel, sinyal, wesel, stasiun dan penumpang. Ini Sekuntum Cinta Yang Hampir Layu. Bagaimana agar cinta itu tetap bersemi setelah musim kemarau? Harus ada hujan tentunya.
“Yah, mau hujan ya Krish?” keluh Tania.
“Ya, ayo, kita harus cepat ke pintu keluar!” kata Krishna sambil berjalan cepat, diiringi oleh Tania yang berjalan tepat disampingnya.
            Harapan mereka ternyata sama. Semoga hujan tidak turun sebelum kami sampai di Kapten Muslihat. Karena Krishna lupa membawa jas hujannya. Begitu juga Tania yang lupa membawa payung. Apakah yang akan terjadi kepada mereka? Akankah cerita ‘cinta’ Seno dan Silvana dalam Serangkai Kereta Menuju Stasiun Terakhir II mereka alami?
            Dan mereka sudah sampai di pintu keluar kebun raya Bogor, setelah menyeberang dan menyusuri sungai Ciliwung, melewati petilasan Nyai Ratu Galuh, istri prabu Siliwangi. Hujan belum turun, Krishna bergegas mengajak Tania menuju terminal Baranangsiang, tepat di depan institut pertanian yang lulusannya tidak ada yang menjadi petani, tapi lulusan dari institut itu bisa bekerja di segala bidang, tapi tidak ada yang menjadi petani. Entah harus dibanggakan atau menjadi bahan refleksi diri bagi bangsa Indonesia.
            Angkutan kota berwarna hijau dengan nomor 03 itu melaju mengikuti jalan yang melingkari kebun raya Bogor yang notabenenya didirikan oleh gubernur jenderal Inggris, Thomas Stamford Rafles. Angkot itu terus melewati lapangan Sempur, dan lagi-lagi menyeberangi sungai Ciliwung, dari arah Timur ke Barat. Terlihat inggi menjulang pagar istana negara Bogor, dengan seribu rusa  yang menjadi ikon dari kota Bogor itu sendiri. Konon katanya rusa-rusa itu import dari luar negeri, pada masa pemerintahan gubernur jenderal itu. Sudah ratusan tahun berlalu, mungkin rusa yang paling muda di situ adalah generasi yang ke berapa ratus.
            Angkot terus melaju menembus hujan yang sudah mulai turun. Kemudian angkot itu berhenti dan ternyata traffic light menuju jalan kapten Muslihat. Tampak jelas menara katedral Bogor menjulang dari rimbunnya dedaunan dari pepohonan yang ada di dua bahu jalan itu. Hal inilah yang menyebabkan kota Bogor berbeda dari Jakarta. Di Bogor, masih ada pohon besar yang menyejukkan pengguna jalan raya. Sedangkan di Jakarta, semua sudah dijadikan lahan parkir, bahkan trotoar yang diperuntukkan bagi pejalan kaki. Dan tidak terlalu banyak kendaraan roda dua di Bogor. Justru angkutan kota lah yang mendominasi jalan raya. Andai saja proyek MRT Mass Rapid Transportation bisa diterapkan di Bogor.
“Ayo cepat!” kata Krishna sambil menggandeng tangan Tania dengan lembut, memasuki gang Selot, orang Bogor seharusnya tahu dimana letak gang ini. Di tengah-tengah polres Bogor, dan pusat perbelanjaan di Bogor. Disitu tempat menjual makanan matang seperti kwetiaw, bubur, lhoh, kok jadi mengiklankan kota Bogor ya?
“Haus banget ya?” kata Tania sambil menuangkan teh yang ada di teko ke cangkir yang digunakan Krishna untuk minum.
“Ya, dingin lagi!” jawab Krishna sambil merapatkan duduknya ke arah Tania.  
            Sudah hampir dua jam, mereka menunggu hujan reda di kedai makanan itu. Dan kemungkinan sudah hampir dua setengah jam, hujan membasahi kota Bogor. Dan sudah tidak ada jarak diantara mereka, Krishna dan Tania. Mereka sama-sama belum mampu untuk menyampaikan isi pernyataannya satu sama lain, masih berusaha menyusun gagasan pesan cinta nya.  
            Waktu terus berputar. Jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri Krishna sudah menunjukkan pukul enam lewat lima menit. Mereka masih saling berusaha mencuri-curi pandang, tertunduk,tersenyum, kadang-kadang tersipu. Begitupun untuk selanjutnya, sampai hujan benar-benar reda jam setengah tujuh malam, dan Krishna pun mengajak Tania untuk pulang.
“Maaf ya, sampai malam begini!” kata Krishna dengan nada penyesalan.
“Ya, nggak kenapa-kenapa kok! Kalau nggak hujan ‘kan juga nggak sampai malam!” kata Tania. Dalam perjalanan menuju stasiun Bogor.
“Maaf banget ya, kamu ‘kan harusnya nggak boleh pulang malam-malam!” kata Krishna dengan nada yang penuh penyesalan.
“Krishna, jangan lebay deh! Aku juga kalau kerja pulangnya jam sembilan, sampai setengah sepuluh!”
“Oke lah”
            Stasiun Bogor terletak di ketinggian dua ratus empat puluh enam meter di atas permukaan laut, memiliki delapan jalur dengan satu dippo kereta dengan kapasitas kereta tidak lebih dari tiga puluh rangkaian. Dari delapan jalur tersebut, yang digunakan untuk pemberangkatan kereta listrik adalah jalur dua sampai jalur delapan, sementara jalur satu, biasa digunakan untuk kereta Bumi Geulis, kereta trayek Bogor-Sukabumi PP, berangkat dari stasiun Bogor jam lima sore, dan sampai di Sukabumi jam tujuh malam, kemudian dari Sukabumi, kereta berangkat jam lima pagi, dan sampai di Bogor jam tujuh pagi, adapun tariff karcis kereta Bumi Geulis adalah sama dengan tariff karcis Bogor-Depok, dan Jakarta/Jatinegara-Depok, delapan ribu rupiah. Tepat ketika mereka masuk ke gedung utama stasiun Bogor, handphone Krishna berdering keras, meski tidak sampai terdengar oleh seluruh calon penumpang.
“Halo, selamat malam!”
“Krish, loe dimana?” tanya Kandita. Setelah mengetahui bahwa Kandita yang menelefon nya, Krishna menjauhkan diri dari Tania, mendekat ke arah mesin ATM (Automatic Teller Machine) dan melanjutkan pembicaraannya.
“Gue lagi di Bogor!”
“Loe nanti kesini nggak?”
“Nggak tahu! Kenapa memangnya?”
“Gue lagi bikin masakan nih!”
“Terus kok loe telefon gue?” heran Krishna.
“Ya, nanti gue usahain ya!”
            Tania, dalam hatinya sudah bertanya-tanya. Siapa yang menelefon Krishna? kenapa Krishna harus menjauh? Apa yang mereka bicarakan? Dan semua pertanyaan itu belum akan terjawab.
“Ini! Terima kasih ya!” kata Tania sambil memberikan sepotong karcis tujuan Depok kepada Krishna.
“Lhoh, kamu yakin akan pulang sendiri?” heran Krishna.
“Ya, aku yakin! Kenapa?”
“Nggak! Aku harus menghantar kamu sampai ke sana!” kata Krishna yang hendak menukar karcisnya.
“Nggak usah Krishna!” kata Tania sambil meraih lengan Krishna. sejenak mereka bertatapan, dan dengan cepat Tania memalingkan tatapannya.
“Kamu hati-hati ya!” kata Krishna.
“Ya, aku akan hati-hati!”
            Seperti biasa, mereka melewati portir dengan tatapan angkuh dari petugas sentinel. Tatapan angkuh itu bukan hanya untuk mereka berdua, tetapi untuk semua penumpang yang akan naik kereta. Apakah begini servis yang maksimal untuk penumpang? Kalau mau kasar-kasaran, sebenarnya penumpang lah yang menggaji mereka, tapi kenapa petugas itu malah bersikap tidak semestinya kepada orang yang menggaji nya?
“Krish, boleh tanya nggak?” taanya Tania.
“Boleh kenapa nggak!” jawab Krishna dengan penuh kepastian.
“Kamu jawab jujur ya!” pinta Tania.
“Iya, jujur!”
“Tadi siapa yang telefon?” tanya Tania. Apa yang keluar dari mulut Tania, lebih mirip seperti interogasi kepada tawanan perang di telinga Krishna.
“Kandita!” katanya gugup.
“Dia ngomong apa?”
“Dia tanya, apakah malam ini aku ke rumahnya dia? Dia sudah memasak!”
“Lhoh, kalian pacaran?” tanya Tania lagi.
“Nggak! Kami hanya berteman!”
“Teman ya? Lalu kenapa tadi waktu terima telefon dari dia, kamu menjauh dari aku?”
“Aku nggak mau dia terluka!”
“Terluka gimana?” heran Tania.
“Hari ini dia masih datang bulan!”
“Wah, kamu sampai tahu kapan dia datang bulan?” kata Tania dengan nada penuh kekaguman.
“Ya, hanya sekedar tahu!”
“Lalu, kenapa dia bisa terluka?”
            Karena selama ini hanya Krishna teman pria yang bisa mengerti keadaan Kandita. Dia masih trauma untuk menjalin hubungan. Jadi Krishna sebagai teman baiknya, tidak mau menambah kepedihan dengan terang-terangan menyampikan berita kalau dia sedang berjalan-jalan dengan Tania.
“Kamu suka sama dia?” tanya Tania.
“Aku sendiri nggak tahu!”
“Kok nggak tahu? Harusnya kamu tahu dong!”
“Tahu dari mana?”
“Membaca situasi!”
“Kamu cemburu ya?” tanya Krishna.
“Cemburu? Untuk apa? Aku ‘kan bukan pacar kamu!”
“Tania! Please tolong! Jangan bicara soal dia! Sekarang disini hanya ada aku dan kamu!” kata Krishna.
“It’s oke! Aku nggak tanya-tanya tentang dia lagi!”
“Thanks ya!”
“Kalau dia bertanya tentang aku, apakah kamu akan tetap jujur?” selidik Tania.
“Ya, aku akan jujur!” jawab Krishna dengan penuh kepastian.
            Kereta commuter line tujuan Jakarta Kota perlahan berangkat meninggalkan stasiun Bogor. Krishna duduk tepat disamping Tania, di tengah-tengah rangkaian kereta. Dari jalur lima, kereta itu melintasi wessel dan keluar dari stasiun Bogor.
“Krishna, aku pinjam bahu kamu ya!” pinta Tania.
“Pinjam bahu?” heran Krishna.
“Boleh atau nggak?” tanya Tania.
“Ya, boleh!” dan seketika itu juga Tania meletakkan kepalanya di bahu Krishna.
            Denyut darah Krishna saat itu bahkan melebihi kecepatan kereta commuter yang membawa mereka ke stasiun tujuannya. Detak jantungnya bahkan lebih keras dari sambungan rel yang dihentak oleh roda kereta. Dan hatinya sudah siap menumpahkan seluruh cinta yang terbendung. Perlahan, Krishna hendak menyibakkan beberapa helai rabut Tania yang jatuh menutupi wajahnya, tapi dengan sigap, Tania meraih tangan Krishna dan menggenggamnya. Dan apa yang dirasakan oleh krishna bahkan lebih parah dari sebelumnya, sebenarnya hatinya sudah meledak. Dia ingin langsung mengungkapkan perasaannya kepada Tania. Tapi dia sadar itu bukanlah waktu yang tepat. Dia akan menunggu, sampai saat dia mendapat gilirannya. Tapi dia juga tidak boleh terlalu lama berdiam diri, karena kalau terlalu lama, dia akan kehilangan keindahan yang tengah digenggamnya.
            Kereta pun memasuki stasiun Bojonggede, dan dari ujung kereta Tania sudah dapat mendengar suara petugas yang sedang memeriksa karcis. ‘Permisi, karcis!’ diiringi suara alat pembolong karcis ‘ctak, ctak!!’ meskipun Tania sudah bangun, dia tidak ingin mengangkat kepalanya dari bahu Krishna. Meski pada akhirnya dia harus. ‘Sentinel sialan! Nggak bisa lihat orang senang apa ya?’ bathin Krishna. dan mereka pun menyerahkan karcisnya kepada petugas itu. Untuk sejenak, Tania melepaskan tangannya dari tangan Krishna.
“Kita sampai dimana Krish?” heran Tania.
“Bojonggede!” jawab Krishna sambil meraih tangan Tania.
“Stasiun Citayam masih jauh?” tanya Tania sambil mengeratkan genggaman tangannya.
“Setelah ini kok!” singkat Krishna.
“Kamu hati-hati ya!”
“Ya, aku akan hati-hati, kamu hati-hati juga ya!”
“Iya, Krishna, aku akan hati-hati!”
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Krishna duduk di teras rumah Kandita, malm itu jam setengah delapan, dan Kandita masih tidak bisa untuk mengungkapkan perasaannya kepada Krishna. dia masih tetap memilih untuk diam, menunggu.
“Tadi ada acara?” tanya Kandita.
“Nggak kok!”
“Kamu tadi sendiri ke Bogor?”
“Nggak! Sama Tania!” singkat Krishna.
“Tania?” gusar Kandita.
“kenapa? Loe cemburu ya?” gurau Krishna.
“Cemburu? Untuk apa? Gue ‘kan bukan pacar loe!”
“Cemburu juga nggak kenapa-kenapa kok!”
“Nggak ada gunanya juga kali!” kalau cemburu bisa membuat seseorang yang akan menikah membatalkan pernikahannya, baru aku akan mencemburui kamu. Tapi selama ini, yang namanya cemburu itu tidak akan membuat seseorang putus dari pacarnya atau istri dari suaminya. Yang namanya cemburu hanya akan menyakiti hati orang yang sedang cemburu. Kalau kamu sudah ditakdirkan dengan dia, lalu aku cemburu sama dia, itu artinya aku mencoba untuk melawan takdir, melawan takdir itu fatal akibatnya. Tapi Kandita tidak mengatakan hal itu langsung kepada Krishna. Sebenarnya, ini adalah pengalaman penulis… Ya, Kandita akan memberitahu pesan itu kepada Krishna tepat pada waktunya.
            Malam-malam ku bagai malam seribu bintang yang terbentang di angkasa bila kau disini! Tuk sekedar menemani tuk melintasi wangi yang slalu tersaji di satu sisi hati. Ah, entah Kandita sengaja menyetel lagu itu atau karena kepintaran handphone nya. Setelah menyadari lirik lagunya, dia bergegas mematikan handphone nya. Sikapnya itu justru mengundang tanya dari pihak Krishna, kenapa begitu?
“Kok dimatiin?” heran Krishna.
“Syairnya nggak enak!” singkat Kandita.
“Kenapa begitu?”
“Coba saja dengerin lagi!”
            Cinta ku tak harus miliki dirimu, meski perih mengiris-iris segala janji. Ya, Kandita sangat ingin memiliki Krishna, dia sudah terlalu sering disakiti oleh lelaki, dan sampai sejauh ini hanya Krishna yang bisa mengerti dirinya. Jadi, dia sangat ingin memiliki Krishna, memiliki untuk dicintai! Tentunya begitu, bagaimana bisa dia mencintai sesuatu yang bukan miliknya. Untuk mencintai, seseorang harus memiliki. Kalau tidak memiliki, apa yang ingin dicintainya. Untuk mencintai Krishna, Kandita harus memilikinya. Apakah sanggup Kandita mencintai Krishna sementara Krishna bukan miliknya? Tidak akan sanggup!
            Krishna masih memikirkan perasannya kepada Kandita. Apakah dia mencintai Kandita? Dia belum merasakan hal itu. Krishna ingin menanyakan langsung kepada Kandita soal perasaannya. Tapi masih ada Tania yang selalu hadir di setiap langkahnya. Jadi, Krishna belum berani untuk menanyakannya, padahal, sudah lama Kandita memberi sebuah ‘code’ untuk mencintai dengan sepenuh hati.
“Sudah lah! Sudah malam nih! loe istirahat ya!” kata Krishna kepada Kandita.
“Ya! Loe juga ya!”
“Terima kasih masakannya! Enak! Berbahagialah orang yang akan menjadi suami kamu nantinya!” kata Krishna. Dan setelah mendengar perkataan itu, Kandita tersipu, dan menundukkan wajahnya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Jumat pagi di pertengahan bulan Juni, matahari bersinar terang, menerangi seluruh sudut stasiun Citayam, tapi sinar matahari itu belum mampu menelisik ke sudut hati Kandita yang masih diselimuti kabut kekalutan, mungkin diperlukan matahari yang lain untuk menerangi sudut hatinya. Ya, Krishna yang menurutnya cocok untuknya. Dia masih bersandar di dinding stasiun Citayam, menunggu kereta commuter line tujuan Sudirman, Tanah Abang, Duri, Angke, Kampung Bandan, mengakhiri perjalanan di stasiun Jatinegara.
            Agar diperhatikan, jalur satu dari arah selatan akan segera masuk KRL commuter line tujuan Jakarta Kota, jalur dua dari arah utara akan segera masuk KRL commuter line tujuan Bogor. KRL commuter line tujuan Manggarai, Sudirman, Tanah Abang, mengakhiri perjalanan di stasiun Jatinegara, rangkaiannya persiapan berangkat stasiun Cilebut. Diperhatikan jalur satu segera masuk KRL commuter line tujuan Jakarta Kota. Perhatikan karcis dan barang bawaan anda, agar jangan tertinggal di stasiun Citayam. Bagi penumpang yang tidak dapat naik, harap jangan memaksakan diri, krl commuter line tujuan Jakarta Kota berikutnya, rangkaiannya persiapan masuk stasiun Cilebut. Atas kepercayaannya menggunakan jasa angkutan kereta api, kami ucapkan terima kasih.
            Bergegas, Kandita bergerak ke peron tengah stasiun Citayam, karena dia akan turun di stasiun Depok, dan melanjutkan perjalanannya sampai stasiun Sudirman dengan kereta pemberangkatan jam tujuh lewat tujuh, dari stasiun Depok. Pintu kereta tujuan Jakarta kota itu terbuka bagi penumpang sudah memiliki karcis, kereta semakin padat ketika hampir seluruh penumpang di stasiun Citayam masuk melalui pintu-pintu itu.
“Hei Kandita!” dia mendengar suara yang sudah tidak asing ditelinganya. Suara Krishna dari pintu ke-tiga kereta nomor lima dari depan. Bergegas Kandita berlari dan masuk melalui pintu itu. Dan pintu kereta pun ditutup oleh seseorang dari kabin depan. Sangat dekat, bahkan bisa dibilang tidak ada jarak diantara Kandita dan Krishna, mereka sudah sangat dekat. Kalau tidak di kereta, mungkin mereka sudah berciuman. Untuk mengurangi rasa gugupnya, Kandita mencengkeram erat lengan Krishna, dengan alasan agar tidak terjepit pintu otomatis, karena saat itu Kandita lah yang membelakangi pintu otomatis. Dan saat pintu sudah tertutup, Kandita masih mencengkeram lengan Krishna dengan eratnya, lengan Krishna juga tidak terlalu ber otot.
“Hei, sudah! Tangan gue sakit!” kata Krishna sambil meletakkan tangannya di bahu Kandita dan menyandarkannya di pintu sebelah kiri kereta itu. Jiwanya bergetar, lembut tangan Krishna mendarat di bahunya, dan menyandarkannya di pintu otomatis. Kemarin dulu, tepat pada pagi hari Krishna telah menyentuh kening Kandita dengan lembut tangannya, dan di hari itu juga ketika malam, Krishna telah membersihkan nasi yang tersisa di bibir Kandita dengan lembut jemari tangannya. Dan sekarang, Krishna mendaratkan tangannya dengan lembut di bahu Kandita, gadis itu masih membayangkan dimanakah tangan Krishna akan mendarat malam nanti….. Ah, kok jadi kepikiran hal itu? Pipinya tiba-tiba saja memerah, dan dia berusaha mencuri-curi pandang ke arah Krishna yang sedang mendengarkan music dari mp3 player nya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Kereta terus melaju melewati jalurnya, dua bilah besi panjang yang tak tahu dimana ujungnya. Bisa dikatakan dua bilah besi itu sudah melilit pulau Jawa, dari Citayam, melalui Manggarai, Jatinegara, Bekasi, keluar wilayah daops satu Jakarta, melewati jalur utara, Semarang, Surabaya, dari Surabaya rel terus ke tenggara, Banyuwangi, dan dari Banyuwangi kembali ke timur, jalur selatan, Yogyakarta, Bandung, Cianjur, Sukabumi, dan Bogor. Tapi ya tidak semua kereta melintasi jalur itu!
            Kereta commuter line tujuan Jakarta Kota yang ditumpangi Kandita dan Krishna sudah akan memasuki stasiun Depok, karena hentakan roda besi kereta dengan wesel yang ada sebelum stasiun Depok, tidak hanya bisa didengar, tapi juga bisa dirasakan, keras. Krishna membuka matanya, dan melihat Kandita yang sebenarnya sedang memandangi wajahnya. Untuk sementara, mereka saling menatap tanpa bisa mengatakan apa-apa. Sebenarnya Krishna juga sedikit kewalahan menanggulangi tatapan Kandita yang datang seperti ribuan anak panah pasukan Kurawa yang menyerang pasukan Pandawa. Kereta pun berhenti, dan mereka harus mengakhiri tatapannya, untuk turun, dan pindah ke kereta yang ada di jalur dua stasiun Depok.
            Jalur satu KRL commuter line tujuan Jakarta Kota, selesai naik-turun penumpang, terima aspek sinyal hijau aman, silahkan berangkat! Jalur dua masih tersedia KRL commuter line tujuan Sudirman, Tanah Abang, mengakhiri perjalanan di stasiun Jatinegara, jadwal berangkat stasiun Depok, pukul tujuh lewat tujuh menit. masih tersedia di jalur tiga, KRL commuter line tujuan Jakarta Kota pemberangkatan stasiun Depok, pukul tujuh lewt dua puluh satu menit! KRL commuter line tujuan Jakarta Kota selanjutnya, rangkaiannya berangkat stasiun Cilebut! Untuk KRL ekonomi tujuan Jakarta Kota, rangkaiannya berangkat stasiun Bogor! Perhatikan karcis dan barang bawaan anda agar jangan tertinggal di stasiun Depok. pemberangkatan selanjutnya dari jalur dua, KRL commuter line tujuan Manggarai, Sudirman, Tanah Abang, mengakhiri perjalanan di stasiun Jatinegara.
            Sudah tidak ada tempat duduk kosong di kereta itu. Kandita lalu menaruh tas nya di rak yang sudah tersedia. Hal yang sama dilakukan oleh Krishna kemudian kembali bersandari di pintu sebelah kiri, karena pintu itu tidak akan dibuka selama perjalanannya dari Depok sampai stasiun Manggarai, begitupun dari Manggarai sampai stasiun Sudirman.
Mereka masih berhadapan satu sama lain, tapi Kandita tidak sanggup untu memandangi wajah temannya itu. Hal serupa dialami oleh Krishna yng tak mampu menatang tatapan Kandita yang baginya sangat mematikan seluruh perasaannya. Krishna sangat ingin mengklarifikasi apa yang dirasakan oleh Kandita. Tapi kembali ke masalah awalnya, dia sulit untuk menyusun pesan klarifikasi itu. Menyusun pesan saja sudah sulit, bagaimana nanti harus menyampaikan isi pesan?
Jadi, Krishna hanya bisa menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya, paling tidak sampai dia menemukan waktu yang tepat untuk menyampaikan isi pesannya. Tapi bagaimana dia ingin menyampaikan isi pesan, jika peralatan rohaniah nya sulit untuk menyusun isi pesan itu? Jika begitu kenyataannya, isi pesan praktis belum tersusun. Jika isi pesan belum tersusun, apa yang akan disampaikan dalam sebuah proses komunikasi amologi?
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Krishna baru sampai di kantornya, pagi itu jam delapan lewat sepuluh menit, dia masih bersenandung lagu yang tadi didengarnya. When I Look Into Your Eyes, firehouse. Tapi apakah itu cinta? Krishna masih terlalu dini untuk mengerti. Atau mungkin terlalu bodoh untuk mengerti semuanya. Tidak, karena Krishna belum terlalu matang untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Jadi, tidak disalahkan. Tidak juga dibenarkan. Karena pemuda seusia Krishna harusnya sudah mengerti tentang perasaan seorang wanita kepada dirinya, atau mungkin karena Krishna dan Kandita sudah terlalu dekat, jadi kepekaan Krishna jadi terdegradasi dengan kedekatan itu. Seperti yang akan diuji oleh seorang mahasiswa program pascasarjana dari program studi komunikasi amologi, bahwa semakin dekat hubungan seseorang, maka kepekaan diantara mereka akan terdegradasi. Hipotesis ini sedang dalam tahap pengujian oleh yang bersangkutan.  
“Hei, loe kayaknya lagi seneng banget ya!” celetuk Anissa.
“Gue juga nggak tahu bu! Bingung gue?” keluh Krishna.
“Kenapa pak?”
“Gue lagi berada di persimpangan jalan bu!” kata Krishna.
“Hallah, gaya loe pak!”
“Eh, bu! Loe ‘kan cewe nih! loe ngerti nggak sih keadaan psikis cewe waktu jatuh cinta?”
“Maksud loe?”
“Iya, loe ‘kan bahkan sudah nikah!”
“Harusnya loe tahu bagaimana psikis komunikan! Loe ngakunya orang komunikasi!” ledek Nissa yang notabenenya adalah orang perkantoran.
“Masalahnya, selama gue kuliah dulu, gue diajarin untuk jadi komunikator! Bukan sebaliknya!”
“nah, itu! Loe harus belajar jadi komunikan!”
“Gue nggak terlalu tahu tentang komunikasi secara mendalam lah ya! Yang pasti, cewe itu ingin dimengerti! Maksud gue, cewe itu nggak mau menyampaikan cinta!”
“Jadi, gue yang harus menyampaikan begitu?”
“Yups! Loe ‘kan sudah di’godok’ untuk menjadi komunikator! Harusnya bisa!”
“Tapi bagaimana gue bisa tahu kalau dia juga suka sama gue?”
“Penelitian!” singkat Nissa.
“Waduh, pake metode kualitatif atau kuantitatif nih?”
“Nggak usah pake begituan! Loe cukup mencoba untuk memahami perasaan wanita!” tandas Nissa.
“Oh, oke lah!” kata Krishna yang langsung melanjutkan pekerjaannya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Kandita Adisti Ekaturangga baru saja keluar dari ruangan atasannya, memberikan laporan mingguannya. Ketika ditemuinya Michele sudah tidak ada di tempatnya, padahal mereka sudahn berjanji untuk makan siang bareng. Dan Kandita juga ingin berkonsultasi dengan Michele masalah apa yang harus dilakukan dalam menghadapi perasaannya.
“Aduh, loe harusnya tanya hal begini ke orang yang sudah berpengalaman!” gurau Michele.
“Ayolah! Loe ‘kan bisa bijak dalam hal kayak begini!”
“Memangnya gue Aristoteles apa?” canda Michele.
“Michele, please!” Kandita menghentikan makannya dan menatap Michele.
“Oke, apa masalah loe?”
“Gue suka sama cowo! Tapi gue bingung gimana ngomongnya ke dia!” kata Kandita.
“Hm, begitu! Dia tahu loe suka sama dia?”
“Belum!”
“Kenapa loe nggak kasih tahu dia?”
“Gue nggak tahu harus bilang apa lagi!”
“Aduh, Kandita! Sudah dari kapan loe begini?”
“Yah, sudah enam bulanan lah!”
“Kenapa loe nggak bilang! Loe sudah akut nih!” gurau Michele.
            Kandita masih mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa dia tidak benar-benar cinta kepada Krishna, tapi semakin dia mencoba meyakinkan diri bahwa dia tidak mencintai Krishna, semakin yakinlah dia bahwa sebenarnya dia mencintai Krishna. Kandita mengharapkan A’ karena tidak menginginkan A, tapi semakin Kandita mencoba untuk membuang A, A itu semakin ada, bahkan semakin melekat di jiwa, hati dan pikirannya.
            Apa yang dirasakan oleh Krishna? Dia belum merasakan hal yang berarti didalam dirinya. Padahal, Kandita sudah mengakui kalau Krishna adalah pacar barunya, dulu didepan mantan pacarnya. Tapi kenapa Krishna samasekali tidak merasakan hal itu? Kenapa Krishna tidak menyadarinya?
            Jelas saja! Bagaimana bisa Krishna menyadari bahwa Kandita mencintainya, jika Tiffany dan Tania belum mau pergi dari benaknya? Dalam hal ini, tidak ada yang perlu disalahkan! Karena mereka sama-sama mencintai, tapi mencintai siapa, itu bukan masalah! Yang penting mereka sudah mau mencintai satu sama lain.
            Sudah sore, di stasiun Sudirman, Kandita masih duduk menunggu di halte atas stasiun yang dulunya bernama stasiun Dukuh Atas. Kenapa namanya dukuh atas? Nggak tahu! Mungkin karena letaknya diatas. Stasiun ini sempat mati, ketika tanggul Latuharhary jebol karena tidak bisa menampung luapan air. Begitupun dengan hati Kandita, jika tidak mampu lagi menampung gejolak perasaannya, mungkin semua perasaannya akan mati. Yang paling ditakuti terjadi di Kandita adalah ketika dia ke-Cowo, lalu di ke-Cewa kan, lalu akan berubah ke-Cewe. Andaikata itu terjadi, tidak akan ada yang rugi, tapi jelas jika Kandita menyukai sesama wanita, hal itu akan merusak sistim sosial yang ada di masyarakat.
“Nungguin siapa loe?” tanya Krishna yang baru turun dari metromini.
“Nungguin loe!” singkat Kandita.
“Ngapain ditungguin?”
“Gue tahu kalau gue pulang duluan, loe bakalan nyariin gue!” gurau Kandita yang masih berusaha untuk menanggulangi gejolak perasaan yang berkecamuk di hatinya.
“Ayo, cepet!” kata Krishna sambil menggandengan tangan Kandita. Ah… Seperti tersengat kabel LAA, tangannya lengket di tangan Krishna, dia tidak ingin melepas genggaman tangannya.
            Kandita ingin cepat-cepat memiliki Krishna, karena hanya dengan memiliki Kandita dapat mencintai Krishna. Hal ini diamini oleh pakar-pakar amologi teoritika, jelas karena dengan memiliki, seseorang pasti mencintai benda yang akan dimilikinya itu, tapi kalau orang hanya mencintai, dia tidak akan pernah memiliki barang yang diinginkannya. Karena cinta tak harus memiliki. Tapi dengan memiliki apa yang diinginkannya, maka seseorang akan mencintai. Praktisnya, seorang pria muda mungkin mencintai mantan pacarnya yang sudah menikah dengan orang lain, tapi dia tidak akan pernah memiliki mantan pacarnya itu kembali. Sebaliknya, seorang istri dan seorang ibu yang memiliki selingkuhan, dia akan mencintai selingkuhannya itu lebih dari dia mencintai suaminya sendiri. Tapi kalau kita terpaku pada contoh diatas, kita akan merusak sistim sosial yang sudah ada di masyarakat. Kita harus membuka pikiran untuk masukan-masukan, contoh-contoh yang lain untuk dieksplanasikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar