V
Dalam
sebuah diskusi kuliah mahasiswa ilmu komunikasi tingkat tiga, sampai pada satu
pertanyaan. Bagaimanakah sebuah sistim komunikasi bisa dibilang efektif?
Seorang mahasiswa yang duduk di tengah-tengah kelas, tepat di bawah kipas angin
pun tunjuk tangan di tengah keheningan mahasiswa dan mahasiswi yang taku jika
pertanyaan itu mengarah kepada dirinya. Dengan tegas, dia menjelaskan.
Komunikasi
yang efektif adalah jika komunikan (orang yang menerima isi pesan) dapat
memahami isi pesan sebagaimana adanya yang dimaksud oleh komunikator (orang
yang mengirim isi pesan) jika komunikan tidak mengerti apa yang dimaksud dengan
komunikator dengan apa adanya, berarti komunikasi itu tidak berjalan efektif.
Ada pun komunikasi harus menjalani dua bagian besar yaitu
encoding dan decoding lalu lima
tahap. Tahap pertama adalah tahap penyusunan isi pesan oleh komunikator. Isi
pesan berasal dari ide yang tergolong abstrak, menurut prespektif orang
komunikasi lho ya. Lalu ide itu sendiri di olah oleh peralatan rohaniah (akal,
budi, hati nurani.) setelah menjadi isi pesan, lalu disampaikan ke komunikan
dengan lambang komunikasi. Lalu komunikan menerima pesan dari komunikator
kemudian memaknainya melalui peralatan rohaniah yang dimiliki oleh komunikan.
Setelah komunikan menerima dan memaknai isi pesan, maka komunikan akan menyusun
sebuah umpan balik, dan mengirimkannya lagi ke komunikator. Dan yang tidak bisa
dibantah dalam ilmu komunikasi bahwa komunikasi itu sendiri akan berhenti jika
satu dari tiga unsur komunikasi (komunikator, komunikan, dan isi pesan) itu
menghilang.
Bagaimana
dengan Tania? Sudah lima bulan dia melakukan
komunikasi dengan Krishna, tapi dia belum juga mendapat isi pesan dari Krishna
yang menyatakan kalau Krishna mencintainya.
Tania sudah tidak sabar menunggu Krishna
mengungkapkan perasaan kepadanya, setelah sekian lama tidak ada pria yang masuk
kedalam hatinya. Dan Krishna sudah mengetuk pintu hatinya, menurutnya lho ya.
Bagaimana dengan Krishna?
Krishna sedang berusaha keras untuk menyusun isi pesan
melalui peralatan rohaniah nya. Dia masih harus berusaha untuk menyusun isi
pesan sebaik mungkin agar komunikan nya mengerti sebagaimana mestinya.
Disamping itu, Krishna masih tidak bisa melupakan luka lama nya, isi pesan yang
tidak dimengerti dengan baik oleh komunikan sebelumnya, itulah yang membuat Krishna masih harus mematangkan daging yang akan
diberikannya kepada Tania. Dan dilubuk hatinya yang terdalam, Krishna
masih belum mampu untuk memikirkan hubungan kedepannya. Jadi, ada tiga masalah
yang menyebabkan Krishna tidak menyampaikan
isi pesan cintanya kepada Tania.
“Kamu sibuk banget ya?” tanya
Tania.
“Ya, beginilah! Lagi banyak
kerjaan!” singkat Krishna, siang itu di Kebun Raya Bogor.
“Iya deh yang orang kantoran!”
ledek Tania sambil masih menikmati sejuknya udara di tempat wisata itu.
“Memangnya kamu bukan orang
kantoran?”
“Iya sih!” katanya sambil
melemparkan senyuman yang paling manis.
“Nanti pacar kamu marah nggak nih
kalau aku ngajak kamu jalan?” ledek Krishna.
“Pacar? Pacar dari mana?” gurau
Tania.
“Jadi belum punya pacar?” kata
Krishna meyakinkan.
“Belum!”
“Mantan pacar pernah punya dong?”
tanya Krishna.
“Ya, sudah tiga tahun lalu!”
“Wah, lama juga ya kamu njomblo
atau single?”
“Memang ada bedanya Krish?”
“Kalau single itu pilihan!”
sejenak Krishna terdiam.
“Kalau njomblo?” tanya Tania.
“Itu nasib!” dan meledak lah tawa
Tania di situ.
“Aku njomblo!” sambil masih
ketawa cekikikan.
“Semoga kamu dapat pengganti yang
lebih baik!”
Aku
harap itu kamu! Bathin Tania. Aku ingin kamu yang menggantikan dia, menjadi
pacarku! Tapi nggak mungkin kalau aku yang ngomong duluan! Aku ini wanita! Tapi
kalau diperlukan, aku hanya akan memancing-mancing perkataan yang menjurus
kesana!
Tania,
bagaimana aku bisa menyatakan perasaan cintaku pada mu jika tatapan matamu
membuat gempa amonik di dalam hatiku? Jika gempa tektonik, berasal dari dalam
perut bumi, gempa vulkanik berasal dari gunung berapi. Maka gempa amonik,
berasal dari cinta yang siap untuk meledak. Aku mersa hina untuk menjadi
pendampingmu! Kamu anak jendral! Sedangkan aku, hanya anak seorang masinis tua
yang sudah mau pensiun. Sebenarnya aku sangat ingin mengungkapkan perasaanku
kepadamu!
“Kamu sering kesini?” tanya
Tania.
“Nggak sih! Memangnya kenapa?”
“Gak kenapa-kenapa!”
“Kamu masih mau disini?” tanya
Krishna.
“Ya!” jawab Tania dengan penuh
kepastian.
Kota
Bogor sudah mulai menunjukkan cirri khas nya sebagai kota hujan. Kota yang
disebut kota hujan, karena hujan orografis yang tidak sampai ke Sukabumi,
melainkan ‘menabrak’ pegunungan yang ada di Bogor, dan jatuhlah air hujan di
Bogor.
Sama
seperti cinta Krishna, yang tidak akan berderai sebelum ‘menabrak’ sesuatu yang
mungkin menghalangi jalannya. Apakah yang bisa menghalangi jalannya itu? Apakah
sinyal merah? Tentu saja bukan! Ini bukan Serangkai
Kereta Menuju Stasiun Terakhir yang selalu berhubungan dengan rel, sinyal,
wesel, stasiun dan penumpang. Ini Sekuntum
Cinta Yang Hampir Layu. Bagaimana agar cinta itu tetap bersemi setelah
musim kemarau? Harus ada hujan tentunya.
“Yah, mau hujan ya Krish?” keluh
Tania.
“Ya, ayo, kita harus cepat ke
pintu keluar!” kata Krishna sambil berjalan cepat, diiringi oleh Tania yang
berjalan tepat disampingnya.
Harapan
mereka ternyata sama. Semoga hujan tidak turun sebelum kami sampai di Kapten
Muslihat. Karena Krishna lupa membawa jas hujannya. Begitu juga Tania yang lupa
membawa payung. Apakah yang akan terjadi kepada mereka? Akankah cerita ‘cinta’
Seno dan Silvana dalam Serangkai Kereta
Menuju Stasiun Terakhir II mereka alami?
Dan
mereka sudah sampai di pintu keluar kebun raya Bogor, setelah menyeberang dan
menyusuri sungai Ciliwung, melewati petilasan Nyai Ratu Galuh, istri prabu
Siliwangi. Hujan belum turun, Krishna bergegas mengajak Tania menuju terminal
Baranangsiang, tepat di depan institut pertanian yang lulusannya tidak ada yang
menjadi petani, tapi lulusan dari institut itu bisa bekerja di segala bidang,
tapi tidak ada yang menjadi petani. Entah harus dibanggakan atau menjadi bahan
refleksi diri bagi bangsa Indonesia.
Angkutan
kota berwarna hijau dengan nomor 03 itu melaju mengikuti jalan yang melingkari
kebun raya Bogor yang notabenenya didirikan oleh gubernur jenderal Inggris,
Thomas Stamford Rafles. Angkot itu terus melewati lapangan Sempur, dan
lagi-lagi menyeberangi sungai Ciliwung, dari arah Timur ke Barat. Terlihat
inggi menjulang pagar istana negara Bogor, dengan seribu rusa yang menjadi ikon dari kota Bogor itu
sendiri. Konon katanya rusa-rusa itu import dari luar negeri, pada masa
pemerintahan gubernur jenderal itu. Sudah ratusan tahun berlalu, mungkin rusa
yang paling muda di situ adalah generasi yang ke berapa ratus.
Angkot
terus melaju menembus hujan yang sudah mulai turun. Kemudian angkot itu
berhenti dan ternyata traffic light menuju jalan kapten Muslihat. Tampak jelas
menara katedral Bogor menjulang dari rimbunnya dedaunan dari pepohonan yang ada
di dua bahu jalan itu. Hal inilah yang menyebabkan kota Bogor berbeda dari
Jakarta. Di Bogor, masih ada pohon besar yang menyejukkan pengguna jalan raya.
Sedangkan di Jakarta, semua sudah dijadikan lahan parkir, bahkan trotoar yang
diperuntukkan bagi pejalan kaki. Dan tidak terlalu banyak kendaraan roda dua di
Bogor. Justru angkutan kota lah yang mendominasi jalan raya. Andai saja proyek
MRT Mass Rapid Transportation bisa
diterapkan di Bogor.
“Ayo cepat!” kata Krishna sambil
menggandeng tangan Tania dengan lembut, memasuki gang Selot, orang Bogor
seharusnya tahu dimana letak gang ini. Di tengah-tengah polres Bogor, dan pusat
perbelanjaan di Bogor. Disitu tempat menjual makanan matang seperti kwetiaw,
bubur, lhoh, kok jadi mengiklankan kota Bogor ya?
“Haus banget ya?” kata Tania
sambil menuangkan teh yang ada di teko ke cangkir yang digunakan Krishna untuk
minum.
“Ya, dingin lagi!” jawab Krishna
sambil merapatkan duduknya ke arah Tania.
Sudah
hampir dua jam, mereka menunggu hujan reda di kedai makanan itu. Dan
kemungkinan sudah hampir dua setengah jam, hujan membasahi kota Bogor. Dan
sudah tidak ada jarak diantara mereka, Krishna dan Tania. Mereka sama-sama
belum mampu untuk menyampaikan isi pernyataannya satu sama lain, masih berusaha
menyusun gagasan pesan cinta nya.
Waktu
terus berputar. Jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri Krishna
sudah menunjukkan pukul enam lewat lima menit. Mereka masih saling berusaha
mencuri-curi pandang, tertunduk,tersenyum, kadang-kadang tersipu. Begitupun
untuk selanjutnya, sampai hujan benar-benar reda jam setengah tujuh malam, dan
Krishna pun mengajak Tania untuk pulang.
“Maaf ya, sampai malam begini!”
kata Krishna dengan nada penyesalan.
“Ya, nggak kenapa-kenapa kok!
Kalau nggak hujan ‘kan juga nggak sampai malam!” kata Tania. Dalam perjalanan
menuju stasiun Bogor.
“Maaf banget ya, kamu ‘kan
harusnya nggak boleh pulang malam-malam!” kata Krishna dengan nada yang penuh
penyesalan.
“Krishna, jangan lebay deh! Aku
juga kalau kerja pulangnya jam sembilan, sampai setengah sepuluh!”
“Oke lah”
Stasiun
Bogor terletak di ketinggian dua ratus empat puluh enam meter di atas permukaan
laut, memiliki delapan jalur dengan satu dippo kereta dengan kapasitas kereta
tidak lebih dari tiga puluh rangkaian. Dari delapan jalur tersebut, yang
digunakan untuk pemberangkatan kereta listrik adalah jalur dua sampai jalur
delapan, sementara jalur satu, biasa digunakan untuk kereta Bumi Geulis, kereta
trayek Bogor-Sukabumi PP, berangkat dari stasiun Bogor jam lima sore, dan
sampai di Sukabumi jam tujuh malam, kemudian dari Sukabumi, kereta berangkat
jam lima pagi, dan sampai di Bogor jam tujuh pagi, adapun tariff karcis kereta
Bumi Geulis adalah sama dengan tariff karcis Bogor-Depok, dan
Jakarta/Jatinegara-Depok, delapan ribu rupiah. Tepat ketika mereka masuk ke
gedung utama stasiun Bogor, handphone Krishna berdering keras, meski tidak
sampai terdengar oleh seluruh calon penumpang.
“Halo, selamat malam!”
“Krish, loe dimana?” tanya Kandita.
Setelah mengetahui bahwa Kandita yang menelefon nya, Krishna menjauhkan diri
dari Tania, mendekat ke arah mesin ATM (Automatic
Teller Machine) dan melanjutkan pembicaraannya.
“Gue lagi di Bogor!”
“Loe nanti kesini nggak?”
“Nggak tahu! Kenapa memangnya?”
“Gue lagi bikin masakan nih!”
“Terus kok loe telefon gue?”
heran Krishna.
“Ya, nanti gue usahain ya!”
Tania,
dalam hatinya sudah bertanya-tanya. Siapa yang menelefon Krishna? kenapa
Krishna harus menjauh? Apa yang mereka bicarakan? Dan semua pertanyaan itu
belum akan terjawab.
“Ini! Terima kasih ya!” kata
Tania sambil memberikan sepotong karcis tujuan Depok kepada Krishna.
“Lhoh, kamu yakin akan pulang
sendiri?” heran Krishna.
“Ya, aku yakin! Kenapa?”
“Nggak! Aku harus menghantar kamu
sampai ke sana!” kata Krishna yang hendak menukar karcisnya.
“Nggak usah Krishna!” kata Tania
sambil meraih lengan Krishna. sejenak mereka bertatapan, dan dengan cepat Tania
memalingkan tatapannya.
“Kamu hati-hati ya!” kata
Krishna.
“Ya, aku akan hati-hati!”
Seperti
biasa, mereka melewati portir dengan tatapan angkuh dari petugas sentinel.
Tatapan angkuh itu bukan hanya untuk mereka berdua, tetapi untuk semua
penumpang yang akan naik kereta. Apakah begini servis yang maksimal untuk
penumpang? Kalau mau kasar-kasaran, sebenarnya penumpang lah yang menggaji
mereka, tapi kenapa petugas itu malah bersikap tidak semestinya kepada orang
yang menggaji nya?
“Krish, boleh tanya nggak?”
taanya Tania.
“Boleh kenapa nggak!” jawab
Krishna dengan penuh kepastian.
“Kamu jawab jujur ya!” pinta
Tania.
“Iya, jujur!”
“Tadi siapa yang telefon?” tanya
Tania. Apa yang keluar dari mulut Tania, lebih mirip seperti interogasi kepada
tawanan perang di telinga Krishna.
“Kandita!” katanya gugup.
“Dia ngomong apa?”
“Dia tanya, apakah malam ini aku
ke rumahnya dia? Dia sudah memasak!”
“Lhoh, kalian pacaran?” tanya
Tania lagi.
“Nggak! Kami hanya berteman!”
“Teman ya? Lalu kenapa tadi waktu
terima telefon dari dia, kamu menjauh dari aku?”
“Aku nggak mau dia terluka!”
“Terluka gimana?” heran Tania.
“Hari ini dia masih datang
bulan!”
“Wah, kamu sampai tahu kapan dia
datang bulan?” kata Tania dengan nada penuh kekaguman.
“Ya, hanya sekedar tahu!”
“Lalu, kenapa dia bisa terluka?”
Karena
selama ini hanya Krishna teman pria yang bisa mengerti keadaan Kandita. Dia
masih trauma untuk menjalin hubungan. Jadi Krishna sebagai teman baiknya, tidak
mau menambah kepedihan dengan terang-terangan menyampikan berita kalau dia
sedang berjalan-jalan dengan Tania.
“Kamu suka sama dia?” tanya
Tania.
“Aku sendiri nggak tahu!”
“Kok nggak tahu? Harusnya kamu
tahu dong!”
“Tahu dari mana?”
“Membaca situasi!”
“Kamu cemburu ya?” tanya Krishna.
“Cemburu? Untuk apa? Aku ‘kan
bukan pacar kamu!”
“Tania! Please tolong! Jangan
bicara soal dia! Sekarang disini hanya ada aku dan kamu!” kata Krishna.
“It’s oke! Aku nggak tanya-tanya
tentang dia lagi!”
“Thanks ya!”
“Kalau dia bertanya tentang aku,
apakah kamu akan tetap jujur?” selidik Tania.
“Ya, aku akan jujur!” jawab
Krishna dengan penuh kepastian.
Kereta
commuter line tujuan Jakarta Kota perlahan berangkat meninggalkan stasiun
Bogor. Krishna duduk tepat disamping Tania, di tengah-tengah rangkaian kereta.
Dari jalur lima, kereta itu melintasi wessel dan keluar dari stasiun Bogor.
“Krishna, aku pinjam bahu kamu
ya!” pinta Tania.
“Pinjam bahu?” heran Krishna.
“Boleh atau nggak?” tanya Tania.
“Ya, boleh!” dan seketika itu
juga Tania meletakkan kepalanya di bahu Krishna.
Denyut
darah Krishna saat itu bahkan melebihi kecepatan kereta commuter yang membawa
mereka ke stasiun tujuannya. Detak jantungnya bahkan lebih keras dari sambungan
rel yang dihentak oleh roda kereta. Dan hatinya sudah siap menumpahkan seluruh
cinta yang terbendung. Perlahan, Krishna hendak menyibakkan beberapa helai rabut
Tania yang jatuh menutupi wajahnya, tapi dengan sigap, Tania meraih tangan
Krishna dan menggenggamnya. Dan apa yang dirasakan oleh krishna bahkan lebih
parah dari sebelumnya, sebenarnya hatinya sudah meledak. Dia ingin langsung
mengungkapkan perasaannya kepada Tania. Tapi dia sadar itu bukanlah waktu yang
tepat. Dia akan menunggu, sampai saat dia mendapat gilirannya. Tapi dia juga
tidak boleh terlalu lama berdiam diri, karena kalau terlalu lama, dia akan
kehilangan keindahan yang tengah digenggamnya.
Kereta
pun memasuki stasiun Bojonggede, dan dari ujung kereta Tania sudah dapat
mendengar suara petugas yang sedang memeriksa karcis. ‘Permisi, karcis!’
diiringi suara alat pembolong karcis ‘ctak, ctak!!’ meskipun Tania sudah
bangun, dia tidak ingin mengangkat kepalanya dari bahu Krishna. Meski pada
akhirnya dia harus. ‘Sentinel sialan! Nggak bisa lihat orang senang apa ya?’
bathin Krishna. dan mereka pun menyerahkan karcisnya kepada petugas itu. Untuk
sejenak, Tania melepaskan tangannya dari tangan Krishna.
“Kita sampai dimana Krish?” heran
Tania.
“Bojonggede!” jawab Krishna
sambil meraih tangan Tania.
“Stasiun Citayam masih jauh?” tanya
Tania sambil mengeratkan genggaman tangannya.
“Setelah ini kok!” singkat
Krishna.
“Kamu hati-hati ya!”
“Ya, aku akan hati-hati, kamu
hati-hati juga ya!”
“Iya, Krishna, aku akan
hati-hati!”
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Krishna
duduk di teras rumah Kandita, malm itu jam setengah delapan, dan Kandita masih
tidak bisa untuk mengungkapkan perasaannya kepada Krishna. dia masih tetap
memilih untuk diam, menunggu.
“Tadi ada acara?” tanya Kandita.
“Nggak kok!”
“Kamu tadi sendiri ke Bogor?”
“Nggak! Sama Tania!” singkat
Krishna.
“Tania?” gusar Kandita.
“kenapa? Loe cemburu ya?” gurau
Krishna.
“Cemburu? Untuk apa? Gue ‘kan
bukan pacar loe!”
“Cemburu juga nggak kenapa-kenapa
kok!”
“Nggak ada gunanya juga kali!”
kalau cemburu bisa membuat seseorang yang akan menikah membatalkan
pernikahannya, baru aku akan mencemburui kamu. Tapi selama ini, yang namanya
cemburu itu tidak akan membuat seseorang putus dari pacarnya atau istri dari
suaminya. Yang namanya cemburu hanya akan menyakiti hati orang yang sedang
cemburu. Kalau kamu sudah ditakdirkan dengan dia, lalu aku cemburu sama dia,
itu artinya aku mencoba untuk melawan takdir, melawan takdir itu fatal
akibatnya. Tapi Kandita tidak mengatakan hal itu langsung kepada Krishna.
Sebenarnya, ini adalah pengalaman penulis… Ya, Kandita akan memberitahu pesan
itu kepada Krishna tepat pada waktunya.
Malam-malam ku bagai malam seribu bintang
yang terbentang di angkasa bila kau disini! Tuk sekedar menemani tuk melintasi
wangi yang slalu tersaji di satu sisi hati. Ah, entah Kandita sengaja
menyetel lagu itu atau karena kepintaran handphone nya. Setelah menyadari lirik
lagunya, dia bergegas mematikan handphone nya. Sikapnya itu justru mengundang
tanya dari pihak Krishna, kenapa begitu?
“Kok dimatiin?” heran Krishna.
“Syairnya nggak enak!” singkat Kandita.
“Kenapa begitu?”
“Coba saja dengerin lagi!”
Cinta ku tak harus miliki dirimu, meski
perih mengiris-iris segala janji. Ya, Kandita sangat ingin memiliki
Krishna, dia sudah terlalu sering disakiti oleh lelaki, dan sampai sejauh ini
hanya Krishna yang bisa mengerti dirinya. Jadi, dia sangat ingin memiliki
Krishna, memiliki untuk dicintai! Tentunya begitu, bagaimana bisa dia mencintai
sesuatu yang bukan miliknya. Untuk mencintai, seseorang harus memiliki. Kalau
tidak memiliki, apa yang ingin dicintainya. Untuk mencintai Krishna, Kandita
harus memilikinya. Apakah sanggup Kandita mencintai Krishna sementara Krishna
bukan miliknya? Tidak akan sanggup!
Krishna
masih memikirkan perasannya kepada Kandita. Apakah dia mencintai Kandita? Dia
belum merasakan hal itu. Krishna ingin menanyakan langsung kepada Kandita soal
perasaannya. Tapi masih ada Tania yang selalu hadir di setiap langkahnya. Jadi,
Krishna belum berani untuk menanyakannya, padahal, sudah lama Kandita memberi
sebuah ‘code’ untuk mencintai dengan sepenuh hati.
“Sudah lah! Sudah malam nih! loe
istirahat ya!” kata Krishna kepada Kandita.
“Ya! Loe juga ya!”
“Terima kasih masakannya! Enak!
Berbahagialah orang yang akan menjadi suami kamu nantinya!” kata Krishna. Dan
setelah mendengar perkataan itu, Kandita tersipu, dan menundukkan wajahnya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jumat
pagi di pertengahan bulan Juni, matahari bersinar terang, menerangi seluruh
sudut stasiun Citayam, tapi sinar matahari itu belum mampu menelisik ke sudut
hati Kandita yang masih diselimuti kabut kekalutan, mungkin diperlukan matahari
yang lain untuk menerangi sudut hatinya. Ya, Krishna yang menurutnya cocok
untuknya. Dia masih bersandar di dinding stasiun Citayam, menunggu kereta
commuter line tujuan Sudirman, Tanah Abang, Duri, Angke, Kampung Bandan,
mengakhiri perjalanan di stasiun Jatinegara.
Agar diperhatikan, jalur satu dari arah
selatan akan segera masuk KRL commuter line tujuan Jakarta Kota, jalur dua dari
arah utara akan segera masuk KRL commuter line tujuan Bogor. KRL commuter line
tujuan Manggarai, Sudirman, Tanah Abang, mengakhiri perjalanan di stasiun
Jatinegara, rangkaiannya persiapan berangkat stasiun Cilebut. Diperhatikan
jalur satu segera masuk KRL commuter line tujuan Jakarta Kota. Perhatikan
karcis dan barang bawaan anda, agar jangan tertinggal di stasiun Citayam. Bagi
penumpang yang tidak dapat naik, harap jangan memaksakan diri, krl commuter
line tujuan Jakarta Kota berikutnya, rangkaiannya persiapan masuk stasiun
Cilebut. Atas kepercayaannya menggunakan jasa angkutan kereta api, kami ucapkan
terima kasih.
Bergegas,
Kandita bergerak ke peron tengah stasiun Citayam, karena dia akan turun di
stasiun Depok, dan melanjutkan perjalanannya sampai stasiun Sudirman dengan
kereta pemberangkatan jam tujuh lewat tujuh, dari stasiun Depok. Pintu kereta
tujuan Jakarta kota itu terbuka bagi penumpang sudah memiliki karcis, kereta
semakin padat ketika hampir seluruh penumpang di stasiun Citayam masuk melalui
pintu-pintu itu.
“Hei Kandita!” dia mendengar
suara yang sudah tidak asing ditelinganya. Suara Krishna dari pintu ke-tiga
kereta nomor lima dari depan. Bergegas Kandita berlari dan masuk melalui pintu
itu. Dan pintu kereta pun ditutup oleh seseorang dari kabin depan. Sangat
dekat, bahkan bisa dibilang tidak ada jarak diantara Kandita dan Krishna,
mereka sudah sangat dekat. Kalau tidak di kereta, mungkin mereka sudah
berciuman. Untuk mengurangi rasa gugupnya, Kandita mencengkeram erat lengan
Krishna, dengan alasan agar tidak terjepit pintu otomatis, karena saat itu Kandita
lah yang membelakangi pintu otomatis. Dan saat pintu sudah tertutup, Kandita
masih mencengkeram lengan Krishna dengan eratnya, lengan Krishna juga tidak
terlalu ber otot.
“Hei, sudah! Tangan gue sakit!”
kata Krishna sambil meletakkan tangannya di bahu Kandita dan menyandarkannya di
pintu sebelah kiri kereta itu. Jiwanya bergetar, lembut tangan Krishna mendarat
di bahunya, dan menyandarkannya di pintu otomatis. Kemarin dulu, tepat pada
pagi hari Krishna telah menyentuh kening Kandita dengan lembut tangannya, dan
di hari itu juga ketika malam, Krishna telah membersihkan nasi yang tersisa di
bibir Kandita dengan lembut jemari tangannya. Dan sekarang, Krishna mendaratkan
tangannya dengan lembut di bahu Kandita, gadis itu masih membayangkan dimanakah
tangan Krishna akan mendarat malam nanti….. Ah, kok jadi kepikiran hal itu?
Pipinya tiba-tiba saja memerah, dan dia berusaha mencuri-curi pandang ke arah
Krishna yang sedang mendengarkan music dari mp3 player nya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kereta
terus melaju melewati jalurnya, dua bilah besi panjang yang tak tahu dimana
ujungnya. Bisa dikatakan dua bilah besi itu sudah melilit pulau Jawa, dari
Citayam, melalui Manggarai, Jatinegara, Bekasi, keluar wilayah daops satu
Jakarta, melewati jalur utara, Semarang, Surabaya, dari Surabaya rel terus ke
tenggara, Banyuwangi, dan dari Banyuwangi kembali ke timur, jalur selatan,
Yogyakarta, Bandung, Cianjur, Sukabumi, dan Bogor. Tapi ya tidak semua kereta
melintasi jalur itu!
Kereta
commuter line tujuan Jakarta Kota yang ditumpangi Kandita dan Krishna sudah
akan memasuki stasiun Depok, karena hentakan roda besi kereta dengan wesel yang
ada sebelum stasiun Depok, tidak hanya bisa didengar, tapi juga bisa dirasakan,
keras. Krishna membuka matanya, dan melihat Kandita yang sebenarnya sedang
memandangi wajahnya. Untuk sementara, mereka saling menatap tanpa bisa
mengatakan apa-apa. Sebenarnya Krishna juga sedikit kewalahan menanggulangi
tatapan Kandita yang datang seperti ribuan anak panah pasukan Kurawa yang
menyerang pasukan Pandawa. Kereta pun berhenti, dan mereka harus mengakhiri
tatapannya, untuk turun, dan pindah ke kereta yang ada di jalur dua stasiun
Depok.
Jalur satu KRL commuter line tujuan Jakarta
Kota, selesai naik-turun penumpang, terima aspek sinyal hijau aman, silahkan
berangkat! Jalur dua masih tersedia KRL commuter line tujuan Sudirman, Tanah
Abang, mengakhiri perjalanan di stasiun Jatinegara, jadwal berangkat stasiun
Depok, pukul tujuh lewat tujuh menit. masih tersedia di jalur tiga, KRL
commuter line tujuan Jakarta Kota pemberangkatan stasiun Depok, pukul tujuh
lewt dua puluh satu menit! KRL commuter line tujuan Jakarta Kota selanjutnya,
rangkaiannya berangkat stasiun Cilebut! Untuk KRL ekonomi tujuan Jakarta Kota,
rangkaiannya berangkat stasiun Bogor! Perhatikan karcis dan barang bawaan anda
agar jangan tertinggal di stasiun Depok. pemberangkatan selanjutnya dari jalur
dua, KRL commuter line tujuan Manggarai, Sudirman, Tanah Abang, mengakhiri
perjalanan di stasiun Jatinegara.
Sudah
tidak ada tempat duduk kosong di kereta itu. Kandita lalu menaruh tas nya di
rak yang sudah tersedia. Hal yang sama dilakukan oleh Krishna kemudian kembali
bersandari di pintu sebelah kiri, karena pintu itu tidak akan dibuka selama
perjalanannya dari Depok sampai stasiun Manggarai, begitupun dari Manggarai
sampai stasiun Sudirman.
Mereka masih
berhadapan satu sama lain, tapi Kandita tidak sanggup untu memandangi wajah
temannya itu. Hal serupa dialami oleh Krishna yng tak mampu menatang tatapan Kandita
yang baginya sangat mematikan seluruh perasaannya. Krishna sangat ingin
mengklarifikasi apa yang dirasakan oleh Kandita. Tapi kembali ke masalah awalnya,
dia sulit untuk menyusun pesan klarifikasi itu. Menyusun pesan saja sudah
sulit, bagaimana nanti harus menyampaikan isi pesan?
Jadi, Krishna
hanya bisa menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya, paling tidak sampai
dia menemukan waktu yang tepat untuk menyampaikan isi pesannya. Tapi bagaimana
dia ingin menyampaikan isi pesan, jika peralatan rohaniah nya sulit untuk
menyusun isi pesan itu? Jika begitu kenyataannya, isi pesan praktis belum
tersusun. Jika isi pesan belum tersusun, apa yang akan disampaikan dalam sebuah
proses komunikasi amologi?
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Krishna
baru sampai di kantornya, pagi itu jam delapan lewat sepuluh menit, dia masih
bersenandung lagu yang tadi didengarnya. When I Look Into Your Eyes, firehouse.
Tapi apakah itu cinta? Krishna masih terlalu dini untuk mengerti. Atau mungkin
terlalu bodoh untuk mengerti semuanya. Tidak, karena Krishna belum terlalu
matang untuk memikirkan hal-hal seperti itu. Jadi, tidak disalahkan. Tidak juga
dibenarkan. Karena pemuda seusia Krishna harusnya sudah mengerti tentang
perasaan seorang wanita kepada dirinya, atau mungkin karena Krishna dan Kandita
sudah terlalu dekat, jadi kepekaan Krishna jadi terdegradasi dengan kedekatan
itu. Seperti yang akan diuji oleh seorang mahasiswa program pascasarjana dari
program studi komunikasi amologi, bahwa semakin dekat hubungan seseorang, maka
kepekaan diantara mereka akan terdegradasi. Hipotesis ini sedang dalam tahap
pengujian oleh yang bersangkutan.
“Hei, loe kayaknya lagi seneng
banget ya!” celetuk Anissa.
“Gue juga nggak tahu bu! Bingung
gue?” keluh Krishna.
“Kenapa pak?”
“Gue lagi berada di persimpangan
jalan bu!” kata Krishna.
“Hallah, gaya loe pak!”
“Eh, bu! Loe ‘kan cewe nih! loe
ngerti nggak sih keadaan psikis cewe waktu jatuh cinta?”
“Maksud loe?”
“Iya, loe ‘kan bahkan sudah
nikah!”
“Harusnya loe tahu bagaimana psikis
komunikan! Loe ngakunya orang komunikasi!” ledek Nissa yang notabenenya adalah
orang perkantoran.
“Masalahnya, selama gue kuliah
dulu, gue diajarin untuk jadi komunikator! Bukan sebaliknya!”
“nah, itu! Loe harus belajar jadi
komunikan!”
“Gue nggak terlalu tahu tentang
komunikasi secara mendalam lah ya! Yang pasti, cewe itu ingin dimengerti!
Maksud gue, cewe itu nggak mau menyampaikan cinta!”
“Jadi, gue yang harus
menyampaikan begitu?”
“Yups! Loe ‘kan sudah di’godok’
untuk menjadi komunikator! Harusnya bisa!”
“Tapi bagaimana gue bisa tahu
kalau dia juga suka sama gue?”
“Penelitian!” singkat Nissa.
“Waduh, pake metode kualitatif
atau kuantitatif nih?”
“Nggak usah pake begituan! Loe
cukup mencoba untuk memahami perasaan wanita!” tandas Nissa.
“Oh, oke lah!” kata Krishna yang
langsung melanjutkan pekerjaannya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kandita
Adisti Ekaturangga baru saja keluar dari ruangan atasannya, memberikan laporan
mingguannya. Ketika ditemuinya Michele sudah tidak ada di tempatnya, padahal
mereka sudahn berjanji untuk makan siang bareng. Dan Kandita juga ingin
berkonsultasi dengan Michele masalah apa yang harus dilakukan dalam menghadapi
perasaannya.
“Aduh, loe harusnya tanya hal
begini ke orang yang sudah berpengalaman!” gurau Michele.
“Ayolah! Loe ‘kan bisa bijak
dalam hal kayak begini!”
“Memangnya gue Aristoteles apa?”
canda Michele.
“Michele, please!” Kandita
menghentikan makannya dan menatap Michele.
“Oke, apa masalah loe?”
“Gue suka sama cowo! Tapi gue
bingung gimana ngomongnya ke dia!” kata Kandita.
“Hm, begitu! Dia tahu loe suka
sama dia?”
“Belum!”
“Kenapa loe nggak kasih tahu
dia?”
“Gue nggak tahu harus bilang apa
lagi!”
“Aduh, Kandita! Sudah dari kapan
loe begini?”
“Yah, sudah enam bulanan lah!”
“Kenapa loe nggak bilang! Loe
sudah akut nih!” gurau Michele.
Kandita
masih mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa dia tidak benar-benar cinta kepada
Krishna, tapi semakin dia mencoba meyakinkan diri bahwa dia tidak mencintai
Krishna, semakin yakinlah dia bahwa sebenarnya dia mencintai Krishna. Kandita
mengharapkan A’ karena tidak menginginkan A, tapi semakin Kandita mencoba untuk
membuang A, A itu semakin ada, bahkan semakin melekat di jiwa, hati dan
pikirannya.
Apa
yang dirasakan oleh Krishna? Dia belum merasakan hal yang berarti didalam dirinya.
Padahal, Kandita sudah mengakui kalau Krishna adalah pacar barunya, dulu
didepan mantan pacarnya. Tapi kenapa Krishna samasekali tidak merasakan hal
itu? Kenapa Krishna tidak menyadarinya?
Jelas
saja! Bagaimana bisa Krishna menyadari bahwa Kandita mencintainya, jika Tiffany
dan Tania belum mau pergi dari benaknya? Dalam hal ini, tidak ada yang perlu
disalahkan! Karena mereka sama-sama mencintai, tapi mencintai siapa, itu bukan
masalah! Yang penting mereka sudah mau mencintai satu sama lain.
Sudah
sore, di stasiun Sudirman, Kandita masih duduk menunggu di halte atas stasiun
yang dulunya bernama stasiun Dukuh Atas. Kenapa namanya dukuh atas? Nggak tahu!
Mungkin karena letaknya diatas. Stasiun ini sempat mati, ketika tanggul
Latuharhary jebol karena tidak bisa menampung luapan air. Begitupun dengan hati
Kandita, jika tidak mampu lagi menampung gejolak perasaannya, mungkin semua
perasaannya akan mati. Yang paling ditakuti terjadi di Kandita adalah ketika
dia ke-Cowo, lalu di ke-Cewa kan, lalu akan berubah ke-Cewe. Andaikata itu
terjadi, tidak akan ada yang rugi, tapi jelas jika Kandita menyukai sesama
wanita, hal itu akan merusak sistim sosial yang ada di masyarakat.
“Nungguin siapa loe?” tanya
Krishna yang baru turun dari metromini.
“Nungguin loe!” singkat Kandita.
“Ngapain ditungguin?”
“Gue tahu kalau gue pulang
duluan, loe bakalan nyariin gue!” gurau Kandita yang masih berusaha untuk
menanggulangi gejolak perasaan yang berkecamuk di hatinya.
“Ayo, cepet!” kata Krishna sambil
menggandengan tangan Kandita. Ah… Seperti tersengat kabel LAA, tangannya
lengket di tangan Krishna, dia tidak ingin melepas genggaman tangannya.
Kandita
ingin cepat-cepat memiliki Krishna, karena hanya dengan memiliki Kandita dapat
mencintai Krishna. Hal ini diamini oleh pakar-pakar amologi teoritika, jelas
karena dengan memiliki, seseorang pasti mencintai benda yang akan dimilikinya
itu, tapi kalau orang hanya mencintai, dia tidak akan pernah memiliki barang
yang diinginkannya. Karena cinta tak harus memiliki. Tapi dengan memiliki apa
yang diinginkannya, maka seseorang akan mencintai. Praktisnya, seorang pria
muda mungkin mencintai mantan pacarnya yang sudah menikah dengan orang lain,
tapi dia tidak akan pernah memiliki mantan pacarnya itu kembali. Sebaliknya,
seorang istri dan seorang ibu yang memiliki selingkuhan, dia akan mencintai
selingkuhannya itu lebih dari dia mencintai suaminya sendiri. Tapi kalau kita
terpaku pada contoh diatas, kita akan merusak sistim sosial yang sudah ada di
masyarakat. Kita harus membuka pikiran untuk masukan-masukan, contoh-contoh
yang lain untuk dieksplanasikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar