II
Sabtu
pagi di penghujung Nopember, Krishna
menumpahkan kegalauannya dengan bergabung di salah satu komunitas airsoft gun. Berharap di akhir Nopember itu,
kegalauannya akan berakhir. Masih dengan replika senapan SS-1 yang dimilikinya,
dan seragam loreng malvinas yang saat ini digunkan oleh pasukan Tentara
Nasional Indonesia sebagai pakaian dinas lapangan. Krishna
mengisi magasennya penuh dengan butiran plastik yang berfungsi sebagai peluru.
“Permisi, mas! Saya boleh bergabung?” tanya
seorang gadis yang sudah siap dengan peralatan ‘tempur’ nya. Soft lens nya
berwarna hijau, rambutnya yang panjang dikepang, tingginya seratus tujuh
puluhan, sehingga Krishna yang tidak terlalu
tinggi itu harus mendongak untuk menatap matanya.
“Oh, silakan mbak hubungi admin!” kata Krishna menjelaskan.
“Anton, ada yang mau gabung nih!” Krishna berteriak kepada kawan sepermainannya itu.
“Oh, terima kasih mas!”
“Ya, mbak! Nggak usah takut! Pangkat saya
kapten! Anton hanya sersan!” kata Krishna
sambil menunjukkan kerah kanannya.
“Oh, iya mas Krishna!
Terima kasih!”
“Sebentar mbak, kok, mbak tahu nama saya?”
“Haduh, mas! Anak kelas lima
SD juga tahu nama mas itu Krishna
T. lha wong ada tulisannya!” katanya menjelaskan.
“Oh, ya mbak Andri…..”
“Tania Andriani!” kata gadis itu singkat.
“Ohh, ya mbak Tania Andriani!”
“Hai, kamu yang semalam telefon saya ya?” kata
Anton sambil menghampiri Krishna dan Tania.
“Ya, mas!” kata Tania ramah.
“Nggak usah pakai mas! Panggil Anton saja! Kalau
panggil mas ke dia saja!” Anton menunjuk kepada Krishna.
“Lihat saja muka nya kayak mas-mas yang dagang bakso!”
“Oh, iya!”
“Sialan loe ton! Gue berani jamin, nanti loe
yang kena dari laras senapan ini!” kata Krishna
sambil menunjuk senapan yang dimiliki oleh Tania.
“Sudah pernah ikut latihan sebelumnya?”
“Belum! Saya hanya otodidak!” katanya merendah.
“Oh, iya! Mau langsung bergabung atau….”
“Gue masuk dimana ton?” tanya Krishna.
“Loe di tim Badak ya! Gue di Jaguar! Loe mau
pakai teknik apa lagi Krish? Bajra Panjara? Atau Kidang Sumeka?” ledek Anton.
“Itu bukannya cara berperang pasukan Pajajaran?”
heran Tania.
“Tania, kamu dengan tim Badak!” kata Anton
singkat.
“Oke!” ‘pertempuran’ baru saja di mulai. Krishna, Tania, Gunawan, dan beberapa orang bergabung di
tim Badak, sementara Anton, dan sepuluh orang lain tergabung di tim Jaguar.
Diskenariokan, tim Jaguar sudah menguasai satu tempat publik, dan tim Badak
harus mengamankan tempat public itu agar bisa kembali digunakan untuk
kepentingan public. Kontak senjata tidak dapat dielakkan lagi ketika Gunawan,
seorang personel tim Badak, mendekati lokasi dan harus berhadapan langsung
dengan lima
orang personel tim Jaguar. Dan, ‘gugur’ lah Gunawan di awal kontak senjata.
Sampai di akhir, tinggal Krishna, Tania, dan
Anton yang masih menguasai tempat itu.
“Krishna, kamu
pernah nonton film The Raid?” tanya
Tania.
“Ya, kira-kira seperti ini ‘kan?”
tambah Krishna.
“Hei, awas!” kata Anton sambil menembakkan beberapa
butir peluru ke arah Tania, tapi dengan cepat, Krishna
menghalanginya, dan tepat mengenai rompi antipeluru nya. Sebelum peluru itu
sampai, Krishna menyampaikan ‘pesan terakhir’
nya kepada Tania.
“Menangkan pertempuran ini!!” dan setelah
mendengar perintah itu, Tania pun menembakkan peluru dari replika M-16 nya ke
Anton, dan tim Badak memenangkan pertempuran itu.
“Kerjasama yang bagus!” gumam Anton kepada Krishna di sela-sela latihan.
“Ah, itu biasa! Teknik Modat Gelo!” canda Krishna sambil merangkul Anton.
“Bagaimana Tania, tadi tembakan mu bagus kok!”
kata Anton memberi perhatian.
“Oh, ya terima kasih Anton!”
“Skenarionya biasa! Kapan nih skenario perang
hutan?” tanya Krishna.
“Weits, kayaknya loe lagi bernapsu banget
Krish!” ledek Gunawan.
“Nggak gitu juga! Masa’ perangnya nggak
jauh-jauh dari antiteror, sandera!! Percumah nih gue punya baju loreng!”
“Kebut gunung bagaimana? Standar TNI!” kata
Tania memberi saran.
“Ada
channel nya nggak?” tanya Santi.
“Ada!
Bintang satu! Marinir!”
“Wah, boleh tuh!” timpal Krishna.
“Ya, sudah di atur saja! Anton, bagaimana?”
“Nanti, saya akan atur jadwalnya!” kini, tinggal
Krishna dan Tania yang berada di depan barak
itu.
“Mas, boleh tanya nggak?” tanya Tania.
“Apa?”
“Krishna.T! T nya itu apa?”
“Tritaksaka!”
“Oh, aku kira kamu anaknya marinir! Nggak
tahunya anaknya masinis ya?”
“Kok kamu tahu?”
“Ya, Taksaka itu ‘kan nama kereta! Paling tidak, orangtua kamu
masih memiliki hubungan erat dengan perkeretaapian!”
“Ya, begitulah!” gumam Krishna
sambil masih mengisi butiran peluru di pistol nya.
“Kalau kamu? Kenapa kamu bisa punya hobi seperti
ini?” tanya Krishna.
“Aku ingin jadi tentara!”
“Kenapa kamu mau jadi tentara?”
“Nggak tahu juga! Bawaan lahir! Sepertinya!”
“Wah, hebat juga ya!”
“Kalau kamu mas?”
“Aku, main seperti ini hanya untuk obat galau!”
“Obat galau? Wah, mas! Penyakit lama tuh” kata
Tania sambil tertawa.
“Iya, sepertinya! Oh, iya tembakan mu lumayan
bagus! Kamu latihan di mana?”
“Di rumah!”
“Wah, rumah kamu lumayan luas dong!”
“Nggak juga sih!” gumam Tania. “Sama tempat ini
juga masih luas tempat ini!”
“Wah jangan dibandingkan sama tempat ini
dong!”
“Oh, iya! Dari mana kamu dapat atribut ini?”
“Tetangga ku Marinir!”
“Lalu, brevet-brevet itu, dan tanda kesatuan?”
brevet itu tanda kualifikasi yang dimiliki oleh setiap anggota militer.
“Dari dia juga! Dan, nama nya saya ganti dengan
nama saya!”
“Oh, begitu! Hebat-hebat!”
“Yah, terima kasih!”
“Lain kali, latihan di rumah ku ya mas!” kata
Tania.
“Jangan panggil ‘mas’ Krishna
saja!”
“Oh, iya Krishna!”
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kandita
Adisti Ekaturangga masih melihat-lihat akun jejaring sosial nya. Tidak ada yang
on line sabtu sore itu. Hand phone nya berdering keras, dia melihat nama yang
tertera di layar handphone nya. Krishna T…..
“Halo…”
“Woi, malam mingguan kemana loe?”
“Nggak kemana-mana nih! Loe ke mana?”
“Nggak kemana-mana juga sih!”
“Trus, ngapain loe telefon gue?” tanya Kandita.
“Nggak boleh ya? Sori…” belum sempat Krishna menyelesaikan perkataannya, Kandita pun menyahut.
“Nggak begitu! Sensi banget sih loe!!”
“Oh, terus gimana dong? Ngomong-ngomong, cowo
loe nggak ada usaha rekonsiliasi sama loe?”
“Usaha apaan Krish?” heran Kandita setelah mendangar
istilah yang cukup asing. Re: kembali. Konsiliasi: usaha mempertemukan
keinginan pihak yang berselisih untuk mencapai persetujuan dan menyelesaikan
perselisihan itu (KBBI edisi kedua pada
cetakan ketiga) jadi rekonsiliasi adalah berusaha untuk kembali
mempertemukan keinginan pihak yang berselisih dalam menyelesaikan persetujuan
dan perselisihan itu.
“Kepo banget loe tanya-tanya!”
“Loe masih belum mau terbuka sama gue?”
“Emangnya siapa loe? Kalo loe suami gue, baru
gue mau terbuka sama loe!”
“Bener juga sih! Gue kan bukan suami loe ya!” tandasnya sambil
tertawa.
“Loe, nggak jalan tuh sama Tiffany??”
“Gue ditolak sama dia!” kata Krishna
lesu.
“Ditolak? Kok bisa?” heran Kandita.
“Pendekatannya kurang!!”
“Loe juga sih! Belum apa-apa sudah main dor!!”
“Iseng-iseng berhadiah ‘kan!”
“Ya nggak gitu kalau loe suka sama cewe!!”
“Loe aja pacaran baru putus, sok-sok ngajarin
gue lagi!!”
“Paling nggak, gue pernah pacaran!”
“Ya, tapi gue butuh orang yang pacaran itu nggak
hanya setahun atau dua tahun! Gue nyari yang pacaran itu bisa dibawa ke jenjang
pernikahan!”
“Dari lima
puluh orang, mungkin hanya satu orang Krish yang bisa begitu!” kata Kandita
pesimis.
“Kalau begitu, gue nyari yang satu orang itu
dari lima puluh
orang itu!”
“Yah, kalau itu keputusan loe, gue cuma bisa
mendoakan loe Krish”
Kandita
sangat ingin meng-irigasi kebun cinta yang ada di hati Krishna,
dia ingin menjadi satu orang di antara dua puluh empat orang yang baru saja
dibicarakan, tapi dia sadar. Bagaimana mampu dia mengairi kebun orang lain jika
kebunnya sendiri kering, bagaimana bisa dia menumbuhkan cinta di hati orang
lain jika di hatinya sendiri cinta tidak dapat tumbuh? Satu-satunya cara
adalah…….. Ah, kalau ketauan sekarang nanti gak asik dong jalan ceritanya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pagi,
jam enam lewat lima puluh menit di stasiun
Bojonggede, tidak sampai puluhan kilo meter di sebelah selatan stasiun Citayam,
dengan ketinggian seratus dua puluh meter di atas permukaan laut, masih ramai
dengan ratusan penumpang kereta listrik yang akan menjalankan aktivitas nya di
pusat negara, Jakarta.
Jika dahulu, group band legendaries Koes Ploes menciptakan sebuah lagu dengan
judul Kembali Ke Jakarta, mungkin
dalam konteks ini, akan diganti Berangkat
Ke Jakarta. Disana kantor ku, dalam kabut biru, hatiku galau di hari
Jum’at. Kereta terlambat, gaji ku di sunat, ditambah bentakan pimpinan ku. Ke
Jakarta aku ‘kan berangkaaaat, walau pun
kereta ‘kan
terlambat…. Haiiah, akal-akalan penulis saja ini.
“Eh, loe naik dari Bojong juga Krish?” tanya Kandita
mengagetkannya.
“Eh, loe ngapain disini?”
“Mau berangkat lah! Loe ngapain disini?”
“Mau sarapan!”
“Sarapan kok di stasiun?”
“Ya mau berangkat lah!”
Dengan
susah payah, Krishna hendak meletakkan tas nya
di rak yang tersedia didalam rangkaian kereta. Bergerak saja susah,
menggerakkan lengan sedikit sudah terkena lengan orang lain. Belum kualitas air
conditioner dalam rangkaian kereta yang tergolong kurang baik, belum masuk
Balai Yasa Manggarai, BYM, bisa dibilang bengkel nya kereta.
Pernahkah kau coba menerka, apa yang
tersembunyi di sudut hati, derita di mata, derita dalam jiwa. Kenapa tak engkau
pedulikan? Gelora cinta, gelora dalam dada, kenapa tak pernah engkau hiraukan?
Lagu itu masih mengalun di mp3 player Kandita. Krishna memang belum pernah
mencoba menerka apa yang ada di hati Kandita, karena selama ini Krishna merasa
tidak ada yang ditutupi oleh Kandita, mereka biasa cerita, bercanda, ceng-cengan, karena selama ini Krishna
menganggap Kandita sebagai bagian dari hidupnya. Dalam hal ini, saudaranya.
Kandita
masih menikmati alunan musiknya, nadanya sedikit menggalaukan. Bahkan lagunya
memang galau. Cinta Sebening Embun,
itu judul lagunya, dari penyanyi terkenal Ebiet G. Ade. Dia merasakan bahwa apa
yang terjadi di dirinya adalah sebuah kenyataan dari lagu yang didengarnya.
Tapi dia masih yakin untuk bisa mendapatkan Krishna.
Karena selama musim belum bergulir, masih
ada waktu saling membuka diri. Sejauh batas pengertian, pintu pun tersibak,
cinta mengalir sebening embun.
Mereka
turun di stasiun Depok, untuk naik kereta pemberangkatan stasiun Depok, jam
tujuh lewat dua puluh satu menit. Cukup banyak penumpang dari kereta yang masuk
di jalur satu stasiun Depok, yang kemudian turun dan naik kereta yang ada di
jalur tiga, kereta tujuan Jakarta Kota. Dan tidak sedikit juga yang tetap di
kereta commuter line yang ada di jalur satu. Stasiun Depok kembali dipadati
penumpang kereta dari stasiun Bogor,
Cilebut, Bojong Gede, dan Citayam, yang naik kereta balik Depok jam tujuh lewat
dua puluh satu menit.
Krishna sudah berdiri tegak disamping Kandita, pagi itu
di kereta commuter line tujuan Jakarta Kota, pemberangkatan stasiun Depok jam
tujuh lewat dua puluh satu menit. Dia masih asik dengan lagu di mp3 playernya,
entah apa yang didengarnya, yang pasti kepalanya naik-turun, dan matanya
terpejam. Kedua tangannya menyatu, tertaut di tempat kebanyakan penumpang
menggantungkan tubuhnya. Diam-diam, Kandita memperhatikan temannya itu, sambil
masih merasakan kehangatan senyuman temannya, sehangat cinta Prabu Surawisesa,
kepada istrinya, Nyimas Kinawati.
Masinis
sudah membunyikan satu klakson panjang yang menandakan bahwa kereta akan segera
berangkat. Perlahan, sangat perlahan kereta commuter line meninggalkan stasiun
Depok, menuju stasiun Depok Baru. Kereta berjalan perlahan, karena akan
melewati wessel, yang mengarahkan kereta untuk masuk ke jalur tujuan Jakarta. Tubuh-tubuh
penumpang yang ada di dalam rangkaian kereta itu bergerak kesana kemari,
seperti batang-batang bambu di tanah Pajajaran yang tertiup angin. Belum
terlalu banyak penumpang di dalam rangkaian kereta itu, paling tidak sampai
kereta masuk ke jalur satu stasiun Depok
Baru, dan membuka pintu-pintunya bagi calon penumpangnya.
Kereta
semakin padat ketika ribuan penumpang di stasiun Depok Baru, memadati rangkaian
kereta itu. Krishna sudah menaruh tas nya di
rak tas yang sudah tersedia, dan masih tegap disamping temannya yang diam-diam
menyukai dirinya itu. Sejauh ini, Kandita hanya mampu menyatakan cintanya
dengan bahasa-bahasa non-verbal, lambang-lambang komunikasi yang ambigu, yang
menurut Krishna sulit dimengerti, dan memang
begitu.
Dalam
komunikasi amologi; (komunikasi adalah usaha manusia dalam menyampaikan isi
pesan kepada manusia lain. Amologi berasal dari kata Amor: cinta dan Logos:
Ilmu, jadi komunikasi amologi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana usaha
manusia dalam menyampaikan perasaan cintanya kepada manusia lain) menjelaskan
bahwa ada dua fase dalam menggunakan bahasa verbal dan non verbal. Pakar-pakar
komunikasi Amologi menyatakan bahwa dalam mengungkapkan perasaan cinta, bisa
dengan bahasa-bahasa non verbal, seperti tatapan mata, senyuman, maupun sikap.
Tapi hal ini berlaku bagi pasangan yang sudah melalui tahap-tahap mencapai
sebuah hubungan atau ‘jadian’ bahasa beken nya.
Menurut Altman
dan Taylor, di
tahap pertama, akan ada proses perkenalan, saling mengenal diperlukan sebuah
bahasa verbal seperti ‘hai, siapa nama loe?’ atau ‘rumah loe dimana?’ hal ini
akan terus menerus bekerja secara simultan, berkelanjutan, hingga mereka. Jika
tahap ini bermanfaat, akan berlanjut sampai ke tahap berikutnya, di tahap
berikutnya akan ada saling sedikit keterbukaan, dimana satu atau kedua-duanya
saling menyatakan isi hatinya meski tidak langsung. Selanjutnya adalah keadaan
dimana sepasang insane manusia saling mengkritik, hal ini juga dilakukan bagi
mereka yang menerima manfaat yang sangat besar dari tahap sebelumnya. Dan yang
terakhir adalah mereka akan saling merespon satu sama lain. Pria atau wanita,
akan merespon dengan baik bagaimana tatapan mata, senyuman, maupun sikap
pasangannya kepada dirinya.
Pendapat
Altman dan Taylor ini diperkuat dengan pendapat dari beberapa pakar komunikasi
amologi yang menyatakan bahwa tahap itu bukanlah akhir dari sebuah tahap
pengembangan ‘hubungan’, apalagi dilihat dengan adanya Circulair Flow Diagram,
yang menyatakan bahwa komunikasi tidak akan berakhir di satu titik, melainkan
akan terus berputar dan berputar. Begitupun dengan hubungan. Tidak akan
berhenti pada satu titik.
Kereta terus melaju, hanya sinyal merah lah yang
akan membuatnya berhenti, dan jika lampu berwarna kuning, dia akan berjalan
perlahan. Kandita masihmempertahankan tubuhnya agar tidak terjatuh.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tania baru
saja mengawali aktivitasnya, hari itu di sebuah instansi pemerintahan yang
bergerak di bidang transportasi, rambutnya yang panjang diikat dibalik bahu nya,
tepat jatuh di punggungnya. Jam analog yang melingkar di pergelangan tangan
kirinya menunjukkan jam delapan kurang lima
belas menit, sambil masih meminum susu yang dipesannya di kantin kantor, dia
membereskan meja kerjanya. Hal ini dilakukannya bukan untuk mendapat perhatian
dari atasannya, melainkan karena dia tidak bisa bekerja jika meja kerjanya
berantakan. Sementara teman-temannya sedang asik kluntrang klantrung nggak jelas.
“Hai, Tania!” sapa Lukman, teman
sekerjanya.
“Hai, man! Semangat ya!” tandas
Tania.
“Pastilah!”
Sejak
dia bertemu lelaki bermata lembut, ada yang tersentak dari dalam dadanya. Dia
selalu menyendiri, ingin menyepi dari keramaian, dia sedang kasmaran, dan
senyumannya tidak tahu ditujukan untuk siapa, dia memahat langit dengan
angan-angan, dan mengukir malam dengan bayang-bayang.
Dia
ingin bersikap jujur, terbuka. Dia ingin mengungkapkan perasaannya yang penuh
dengan cinta, apakah lelaki itu untuk Tania? Apakah pandangan mata Krishna untuk Tania? Dia berusaha untuk fokus ke pekerjaannya,
tapi tatapan Krishna selalu membayang-bayangi dirinya, kemana Tania pergi,
selalu ada bayang-bayang Krishna di
belakangnya. Apakah ini jatuh cinta? Apakah mungkin? Secepat itukah? Dia terus
mencoba meyakinkan dirinya bahwa dia tidak sedang jatuh cinta, tapi tidak bisa.
Selalu saja dia teringat akan Krishna Tritaksaka.
Sementara
orang yang sedang dibayangkannya, tidak merasakan apa yang dirasakan. Krishna sedang ditepi jeram kehancuran, karena ketulusan
cintanya belum diterima oleh Tiffany. Ya jelas saja Tiffany belum menerima
cinta yang diberikan oleh Krishna, lha wong masih terlalu cepat, baru dua hari
mereka bertemu, Krishna sudah meng-eksploitasi
perasaan yang ada di dalam hatinya.
Krishna masih sulit untuk mendekatkan diri kepada wanita manapun,
termasuk Kandita Adisti Ekaturangga, temannya sendiri. Duka yang teramat sangat
dalam tidak bisa disembunyikan dari sorot mata Krishna,
duka karena cintanya yang belum matang itu ditolak mentah-mentah. Memang, Krishna masih terlalu bodoh dalam hal ini. Dia memberikan
daging yang bahkan belum setengah matang kepada pelanggannya, jelas saja
pelanggannya pergi dan tidak ingin datang kembali kepadanya.
Sepanjang
hari, kinerja nya di tempat kerja menurun dua puluh persen. Jika biasanya Krishna adalah seorang yang energik, semangat, tidak bisa
diam, saat itu sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Dia memikirkan
apa yang harus dilakukan jika dia bertemu dengan wanita lain.
“Loe terlalu cepat Krish!” kata Kandita.
Ya,
Krishna baru menyadarinya. Tanpa Kandita,
mungkin kalimat itu tidak terpikirkan olehnya, karena selama hidupnya, Krishna menjadi penerang bagi Kandita jika Kandita sedang
dalam kegelapan, begitupun sebaliknya.
“Terus gue harus nunggu sampai
tuh cewe bilang cinta ke gue?”
Bukan
begitu juga! Krishna seharusnya tahu saat yang
tepat untuk meng eksplanasikan semua perasaan yang ada dalam hatinya. Sama
seperti sistim perkuliahan, tidak bisa langsung mengambil matakuliah skripsi,
tapi ada tahapan-tahapannya. Begitupun kehidupan percintaan, dalam masalah ini,
diperlukan tahap-tahap yang sudah dijelaskan oleh pakar komunikasi di atas.
“It’s oke, kalau begitu mulai sekarang, gue akan menjalani
tahap-tahap itu!”
“Berapa lama loe butuh waktu?”
“Beri gue waktu tiga setengah
tahun!”
“Gila loe?”
“Itu sudah paling cepet lho!”
“Koplak loe Krishna!”
gumam Kandita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar