Kamis, 12 September 2013

Sekuntum Cinta Yang Hampir Layu (Eps 2)

II
            Sabtu pagi di penghujung Nopember, Krishna menumpahkan kegalauannya dengan bergabung di salah satu komunitas airsoft gun. Berharap di akhir Nopember itu, kegalauannya akan berakhir. Masih dengan replika senapan SS-1 yang dimilikinya, dan seragam loreng malvinas yang saat ini digunkan oleh pasukan Tentara Nasional Indonesia sebagai pakaian dinas lapangan. Krishna mengisi magasennya penuh dengan butiran plastik yang berfungsi sebagai peluru.
“Permisi, mas! Saya boleh bergabung?” tanya seorang gadis yang sudah siap dengan peralatan ‘tempur’ nya. Soft lens nya berwarna hijau, rambutnya yang panjang dikepang, tingginya seratus tujuh puluhan, sehingga Krishna yang tidak terlalu tinggi itu harus mendongak untuk menatap matanya.
“Oh, silakan mbak hubungi admin!” kata Krishna menjelaskan.
“Anton, ada yang mau gabung nih!” Krishna berteriak kepada kawan sepermainannya itu.
“Oh, terima kasih mas!”
“Ya, mbak! Nggak usah takut! Pangkat saya kapten! Anton hanya sersan!” kata Krishna sambil menunjukkan kerah kanannya.
“Oh, iya mas Krishna! Terima kasih!”
“Sebentar mbak, kok, mbak tahu nama saya?”
“Haduh, mas! Anak kelas lima SD juga tahu nama mas itu Krishna T. lha wong ada tulisannya!” katanya menjelaskan.
“Oh, ya mbak Andri…..”
“Tania Andriani!” kata gadis itu singkat.
“Ohh, ya mbak Tania Andriani!”
“Hai, kamu yang semalam telefon saya ya?” kata Anton sambil menghampiri Krishna dan Tania.
“Ya, mas!” kata Tania ramah.
“Nggak usah pakai mas! Panggil Anton saja! Kalau panggil mas ke dia saja!” Anton menunjuk kepada Krishna. “Lihat saja muka nya kayak mas-mas yang dagang bakso!”
“Oh, iya!”
“Sialan loe ton! Gue berani jamin, nanti loe yang kena dari laras senapan ini!” kata Krishna sambil menunjuk senapan yang dimiliki oleh Tania.
“Sudah pernah ikut latihan sebelumnya?”
“Belum! Saya hanya otodidak!” katanya merendah.
“Oh, iya! Mau langsung bergabung atau….”
“Gue masuk dimana ton?” tanya Krishna.
“Loe di tim Badak ya! Gue di Jaguar! Loe mau pakai teknik apa lagi Krish? Bajra Panjara? Atau Kidang Sumeka?” ledek Anton.
“Itu bukannya cara berperang pasukan Pajajaran?” heran Tania.
“Tania, kamu dengan tim Badak!” kata Anton singkat.
“Oke!” ‘pertempuran’ baru saja di mulai. Krishna, Tania, Gunawan, dan beberapa orang bergabung di tim Badak, sementara Anton, dan sepuluh orang lain tergabung di tim Jaguar. Diskenariokan, tim Jaguar sudah menguasai satu tempat publik, dan tim Badak harus mengamankan tempat public itu agar bisa kembali digunakan untuk kepentingan public. Kontak senjata tidak dapat dielakkan lagi ketika Gunawan, seorang personel tim Badak, mendekati lokasi dan harus berhadapan langsung dengan lima orang personel tim Jaguar. Dan, ‘gugur’ lah Gunawan di awal kontak senjata. Sampai di akhir, tinggal Krishna, Tania, dan Anton yang masih menguasai tempat itu.
“Krishna, kamu pernah nonton film The Raid?” tanya Tania.
“Ya, kira-kira seperti ini ‘kan?” tambah Krishna.
“Hei, awas!” kata Anton sambil menembakkan beberapa butir peluru ke arah Tania, tapi dengan cepat, Krishna menghalanginya, dan tepat mengenai rompi antipeluru nya. Sebelum peluru itu sampai, Krishna menyampaikan ‘pesan terakhir’ nya kepada Tania.
“Menangkan pertempuran ini!!” dan setelah mendengar perintah itu, Tania pun menembakkan peluru dari replika M-16 nya ke Anton, dan tim Badak memenangkan pertempuran itu.
“Kerjasama yang bagus!” gumam Anton kepada Krishna di sela-sela latihan.
“Ah, itu biasa! Teknik Modat Gelo!” canda Krishna sambil merangkul Anton.
“Bagaimana Tania, tadi tembakan mu bagus kok!” kata Anton memberi perhatian.
“Oh, ya terima kasih Anton!”
“Skenarionya biasa! Kapan nih skenario perang hutan?” tanya Krishna.
“Weits, kayaknya loe lagi bernapsu banget Krish!” ledek Gunawan.
“Nggak gitu juga! Masa’ perangnya nggak jauh-jauh dari antiteror, sandera!! Percumah nih gue punya baju loreng!”
“Kebut gunung bagaimana? Standar TNI!” kata Tania memberi saran.
“Ada channel nya nggak?” tanya Santi.
“Ada! Bintang satu! Marinir!”
“Wah, boleh tuh!” timpal Krishna.
“Ya, sudah di atur saja! Anton, bagaimana?”
“Nanti, saya akan atur jadwalnya!” kini, tinggal Krishna dan Tania yang berada di depan barak itu.
“Mas, boleh tanya nggak?” tanya Tania.
“Apa?”
“Krishna.T! T nya itu apa?”
“Tritaksaka!”
“Oh, aku kira kamu anaknya marinir! Nggak tahunya anaknya masinis ya?”
“Kok kamu tahu?”
“Ya, Taksaka itu ‘kan nama kereta! Paling tidak, orangtua kamu masih memiliki hubungan erat dengan perkeretaapian!”
“Ya, begitulah!” gumam Krishna sambil masih mengisi butiran peluru di pistol nya.
“Kalau kamu? Kenapa kamu bisa punya hobi seperti ini?”  tanya Krishna.
“Aku ingin jadi tentara!”
“Kenapa kamu mau jadi tentara?”
“Nggak tahu juga! Bawaan lahir! Sepertinya!”
“Wah, hebat juga ya!”
“Kalau kamu mas?”
“Aku, main seperti ini hanya untuk obat galau!”
“Obat galau? Wah, mas! Penyakit lama tuh” kata Tania sambil tertawa.
“Iya, sepertinya! Oh, iya tembakan mu lumayan bagus! Kamu latihan di mana?”
“Di rumah!”
“Wah, rumah kamu lumayan luas dong!”
“Nggak juga sih!” gumam Tania. “Sama tempat ini juga masih luas tempat ini!”
“Wah jangan dibandingkan sama tempat ini dong!” 
“Oh, iya! Dari mana kamu dapat atribut ini?”
“Tetangga ku Marinir!”
“Lalu, brevet-brevet itu, dan tanda kesatuan?” brevet itu tanda kualifikasi yang dimiliki oleh setiap anggota militer.
“Dari dia juga! Dan, nama nya saya ganti dengan nama saya!”
“Oh, begitu! Hebat-hebat!”
“Yah, terima kasih!”
“Lain kali, latihan di rumah ku ya mas!” kata Tania.
“Jangan panggil ‘mas’ Krishna saja!”
“Oh, iya Krishna!”
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Kandita Adisti Ekaturangga masih melihat-lihat akun jejaring sosial nya. Tidak ada yang on line sabtu sore itu. Hand phone nya berdering keras, dia melihat nama yang tertera di layar handphone nya. Krishna T…..
“Halo…”
“Woi, malam mingguan kemana loe?”
“Nggak kemana-mana nih! Loe ke mana?”
“Nggak kemana-mana juga sih!”
“Trus, ngapain loe telefon gue?” tanya Kandita.
“Nggak boleh ya? Sori…” belum sempat Krishna menyelesaikan perkataannya, Kandita pun menyahut.
“Nggak begitu! Sensi banget sih loe!!”
“Oh, terus gimana dong? Ngomong-ngomong, cowo loe nggak ada usaha rekonsiliasi sama loe?”
“Usaha apaan Krish?” heran Kandita setelah mendangar istilah yang cukup asing. Re: kembali. Konsiliasi: usaha mempertemukan keinginan pihak yang berselisih untuk mencapai persetujuan dan menyelesaikan perselisihan itu (KBBI edisi kedua pada cetakan ketiga) jadi rekonsiliasi adalah berusaha untuk kembali mempertemukan keinginan pihak yang berselisih dalam menyelesaikan persetujuan dan perselisihan itu.
“Kepo banget loe tanya-tanya!”
“Loe masih belum mau terbuka sama gue?”
“Emangnya siapa loe? Kalo loe suami gue, baru gue mau terbuka sama loe!”
“Bener juga sih! Gue kan bukan suami loe ya!” tandasnya sambil tertawa.
“Loe, nggak jalan tuh sama Tiffany??”
“Gue ditolak sama dia!” kata Krishna lesu.
“Ditolak? Kok bisa?” heran Kandita.
“Pendekatannya kurang!!”
“Loe juga sih! Belum apa-apa sudah main dor!!”
“Iseng-iseng berhadiah ‘kan!”
“Ya nggak gitu kalau loe suka sama cewe!!”
“Loe aja pacaran baru putus, sok-sok ngajarin gue lagi!!”
“Paling nggak, gue pernah pacaran!”
“Ya, tapi gue butuh orang yang pacaran itu nggak hanya setahun atau dua tahun! Gue nyari yang pacaran itu bisa dibawa ke jenjang pernikahan!”
“Dari lima puluh orang, mungkin hanya satu orang Krish yang bisa begitu!” kata Kandita pesimis.
“Kalau begitu, gue nyari yang satu orang itu dari lima puluh orang itu!” 
“Yah, kalau itu keputusan loe, gue cuma bisa mendoakan loe Krish”
            Kandita sangat ingin meng-irigasi kebun cinta yang ada di hati Krishna, dia ingin menjadi satu orang di antara dua puluh empat orang yang baru saja dibicarakan, tapi dia sadar. Bagaimana mampu dia mengairi kebun orang lain jika kebunnya sendiri kering, bagaimana bisa dia menumbuhkan cinta di hati orang lain jika di hatinya sendiri cinta tidak dapat tumbuh? Satu-satunya cara adalah…….. Ah, kalau ketauan sekarang nanti gak asik dong jalan ceritanya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Pagi, jam enam lewat lima puluh menit di stasiun Bojonggede, tidak sampai puluhan kilo meter di sebelah selatan stasiun Citayam, dengan ketinggian seratus dua puluh meter di atas permukaan laut, masih ramai dengan ratusan penumpang kereta listrik yang akan menjalankan aktivitas nya di pusat negara, Jakarta. Jika dahulu, group band legendaries Koes Ploes menciptakan sebuah lagu dengan judul Kembali Ke Jakarta, mungkin dalam konteks ini, akan diganti Berangkat Ke Jakarta. Disana kantor ku, dalam kabut biru, hatiku galau di hari Jum’at. Kereta terlambat, gaji ku di sunat, ditambah bentakan pimpinan ku. Ke Jakarta aku ‘kan berangkaaaat, walau pun kereta ‘kan terlambat…. Haiiah, akal-akalan penulis saja ini.
“Eh, loe naik dari Bojong juga Krish?” tanya Kandita mengagetkannya.
“Eh, loe ngapain disini?”
“Mau berangkat lah! Loe ngapain disini?”
“Mau sarapan!”
“Sarapan kok di stasiun?”
“Ya mau berangkat lah!”
            Dengan susah payah, Krishna hendak meletakkan tas nya di rak yang tersedia didalam rangkaian kereta. Bergerak saja susah, menggerakkan lengan sedikit sudah terkena lengan orang lain. Belum kualitas air conditioner dalam rangkaian kereta yang tergolong kurang baik, belum masuk Balai Yasa Manggarai, BYM, bisa dibilang bengkel nya kereta.
            Pernahkah kau coba menerka, apa yang tersembunyi di sudut hati, derita di mata, derita dalam jiwa. Kenapa tak engkau pedulikan? Gelora cinta, gelora dalam dada, kenapa tak pernah engkau hiraukan? Lagu itu masih mengalun di mp3 player Kandita. Krishna memang belum pernah mencoba menerka apa yang ada di hati Kandita, karena selama ini Krishna merasa tidak ada yang ditutupi oleh Kandita, mereka biasa cerita, bercanda, ceng-cengan, karena selama ini Krishna menganggap Kandita sebagai bagian dari hidupnya. Dalam hal ini, saudaranya.
            Kandita masih menikmati alunan musiknya, nadanya sedikit menggalaukan. Bahkan lagunya memang galau. Cinta Sebening Embun, itu judul lagunya, dari penyanyi terkenal Ebiet G. Ade. Dia merasakan bahwa apa yang terjadi di dirinya adalah sebuah kenyataan dari lagu yang didengarnya. Tapi dia masih yakin untuk bisa mendapatkan Krishna. Karena selama musim belum bergulir, masih ada waktu saling membuka diri. Sejauh batas pengertian, pintu pun tersibak, cinta mengalir sebening embun.
            Mereka turun di stasiun Depok, untuk naik kereta pemberangkatan stasiun Depok, jam tujuh lewat dua puluh satu menit. Cukup banyak penumpang dari kereta yang masuk di jalur satu stasiun Depok, yang kemudian turun dan naik kereta yang ada di jalur tiga, kereta tujuan Jakarta Kota. Dan tidak sedikit juga yang tetap di kereta commuter line yang ada di jalur satu. Stasiun Depok kembali dipadati penumpang kereta dari stasiun Bogor, Cilebut, Bojong Gede, dan Citayam, yang naik kereta balik Depok jam tujuh lewat dua puluh satu menit.
            Krishna sudah berdiri tegak disamping Kandita, pagi itu di kereta commuter line tujuan Jakarta Kota, pemberangkatan stasiun Depok jam tujuh lewat dua puluh satu menit. Dia masih asik dengan lagu di mp3 playernya, entah apa yang didengarnya, yang pasti kepalanya naik-turun, dan matanya terpejam. Kedua tangannya menyatu, tertaut di tempat kebanyakan penumpang menggantungkan tubuhnya. Diam-diam, Kandita memperhatikan temannya itu, sambil masih merasakan kehangatan senyuman temannya, sehangat cinta Prabu Surawisesa, kepada istrinya, Nyimas Kinawati.
            Masinis sudah membunyikan satu klakson panjang yang menandakan bahwa kereta akan segera berangkat. Perlahan, sangat perlahan kereta commuter line meninggalkan stasiun Depok, menuju stasiun Depok Baru. Kereta berjalan perlahan, karena akan melewati wessel, yang mengarahkan kereta untuk masuk ke jalur tujuan Jakarta. Tubuh-tubuh penumpang yang ada di dalam rangkaian kereta itu bergerak kesana kemari, seperti batang-batang bambu di tanah Pajajaran yang tertiup angin. Belum terlalu banyak penumpang di dalam rangkaian kereta itu, paling tidak sampai kereta masuk ke jalur satu stasiun  Depok Baru, dan membuka pintu-pintunya bagi calon penumpangnya.
            Kereta semakin padat ketika ribuan penumpang di stasiun Depok Baru, memadati rangkaian kereta itu. Krishna sudah menaruh tas nya di rak tas yang sudah tersedia, dan masih tegap disamping temannya yang diam-diam menyukai dirinya itu. Sejauh ini, Kandita hanya mampu menyatakan cintanya dengan bahasa-bahasa non-verbal, lambang-lambang komunikasi yang ambigu, yang menurut Krishna sulit dimengerti, dan memang begitu.
Dalam komunikasi amologi; (komunikasi adalah usaha manusia dalam menyampaikan isi pesan kepada manusia lain. Amologi berasal dari kata Amor: cinta dan Logos: Ilmu, jadi komunikasi amologi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana usaha manusia dalam menyampaikan perasaan cintanya kepada manusia lain) menjelaskan bahwa ada dua fase dalam menggunakan bahasa verbal dan non verbal. Pakar-pakar komunikasi Amologi menyatakan bahwa dalam mengungkapkan perasaan cinta, bisa dengan bahasa-bahasa non verbal, seperti tatapan mata, senyuman, maupun sikap. Tapi hal ini berlaku bagi pasangan yang sudah melalui tahap-tahap mencapai sebuah hubungan atau ‘jadian’ bahasa beken nya.
Menurut Altman dan Taylor, di tahap pertama, akan ada proses perkenalan, saling mengenal diperlukan sebuah bahasa verbal seperti ‘hai, siapa nama loe?’ atau ‘rumah loe dimana?’ hal ini akan terus menerus bekerja secara simultan, berkelanjutan, hingga mereka. Jika tahap ini bermanfaat, akan berlanjut sampai ke tahap berikutnya, di tahap berikutnya akan ada saling sedikit keterbukaan, dimana satu atau kedua-duanya saling menyatakan isi hatinya meski tidak langsung. Selanjutnya adalah keadaan dimana sepasang insane manusia saling mengkritik, hal ini juga dilakukan bagi mereka yang menerima manfaat yang sangat besar dari tahap sebelumnya. Dan yang terakhir adalah mereka akan saling merespon satu sama lain. Pria atau wanita, akan merespon dengan baik bagaimana tatapan mata, senyuman, maupun sikap pasangannya kepada dirinya.
Pendapat Altman dan Taylor ini diperkuat dengan pendapat dari beberapa pakar komunikasi amologi yang menyatakan bahwa tahap itu bukanlah akhir dari sebuah tahap pengembangan ‘hubungan’, apalagi dilihat dengan adanya Circulair Flow Diagram, yang menyatakan bahwa komunikasi tidak akan berakhir di satu titik, melainkan akan terus berputar dan berputar. Begitupun dengan hubungan. Tidak akan berhenti pada satu titik.
Kereta terus melaju, hanya sinyal merah lah yang akan membuatnya berhenti, dan jika lampu berwarna kuning, dia akan berjalan perlahan. Kandita masihmempertahankan tubuhnya agar tidak terjatuh.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tania baru saja mengawali aktivitasnya, hari itu di sebuah instansi pemerintahan yang bergerak di bidang transportasi, rambutnya yang panjang diikat dibalik bahu nya, tepat jatuh di punggungnya. Jam analog yang melingkar di pergelangan tangan kirinya menunjukkan jam delapan kurang lima belas menit, sambil masih meminum susu yang dipesannya di kantin kantor, dia membereskan meja kerjanya. Hal ini dilakukannya bukan untuk mendapat perhatian dari atasannya, melainkan karena dia tidak bisa bekerja jika meja kerjanya berantakan. Sementara teman-temannya sedang asik kluntrang klantrung nggak jelas. 
“Hai, Tania!” sapa Lukman, teman sekerjanya.
“Hai, man! Semangat ya!” tandas Tania.
“Pastilah!”
            Sejak dia bertemu lelaki bermata lembut, ada yang tersentak dari dalam dadanya. Dia selalu menyendiri, ingin menyepi dari keramaian, dia sedang kasmaran, dan senyumannya tidak tahu ditujukan untuk siapa, dia memahat langit dengan angan-angan, dan mengukir malam dengan bayang-bayang.
            Dia ingin bersikap jujur, terbuka. Dia ingin mengungkapkan perasaannya yang penuh dengan cinta, apakah lelaki itu untuk Tania? Apakah pandangan mata Krishna untuk Tania? Dia berusaha untuk fokus ke pekerjaannya, tapi tatapan Krishna selalu membayang-bayangi dirinya, kemana Tania pergi, selalu ada bayang-bayang Krishna di belakangnya. Apakah ini jatuh cinta? Apakah mungkin? Secepat itukah? Dia terus mencoba meyakinkan dirinya bahwa dia tidak sedang jatuh cinta, tapi tidak bisa. Selalu saja dia teringat akan Krishna Tritaksaka.
            Sementara orang yang sedang dibayangkannya, tidak merasakan apa yang dirasakan. Krishna sedang ditepi jeram kehancuran, karena ketulusan cintanya belum diterima oleh Tiffany. Ya jelas saja Tiffany belum menerima cinta yang diberikan oleh Krishna, lha wong masih terlalu cepat, baru dua hari mereka bertemu, Krishna sudah meng-eksploitasi perasaan yang ada di dalam hatinya.
            Krishna masih sulit untuk mendekatkan diri kepada wanita manapun, termasuk Kandita Adisti Ekaturangga, temannya sendiri. Duka yang teramat sangat dalam tidak bisa disembunyikan dari sorot mata Krishna, duka karena cintanya yang belum matang itu ditolak mentah-mentah. Memang, Krishna masih terlalu bodoh dalam hal ini. Dia memberikan daging yang bahkan belum setengah matang kepada pelanggannya, jelas saja pelanggannya pergi dan tidak ingin datang kembali kepadanya.
            Sepanjang hari, kinerja nya di tempat kerja menurun dua puluh persen. Jika biasanya Krishna adalah seorang yang energik, semangat, tidak bisa diam, saat itu sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Dia memikirkan apa yang harus dilakukan jika dia bertemu dengan wanita lain.
“Loe terlalu cepat Krish!” kata Kandita.
            Ya, Krishna baru menyadarinya. Tanpa Kandita, mungkin kalimat itu tidak terpikirkan olehnya, karena selama hidupnya, Krishna menjadi penerang bagi Kandita jika Kandita sedang dalam kegelapan, begitupun sebaliknya.
“Terus gue harus nunggu sampai tuh cewe bilang cinta ke gue?”
            Bukan begitu juga! Krishna seharusnya tahu saat yang tepat untuk meng eksplanasikan semua perasaan yang ada dalam hatinya. Sama seperti sistim perkuliahan, tidak bisa langsung mengambil matakuliah skripsi, tapi ada tahapan-tahapannya. Begitupun kehidupan percintaan, dalam masalah ini, diperlukan tahap-tahap yang sudah dijelaskan oleh pakar komunikasi di atas.
It’s oke, kalau begitu mulai sekarang, gue akan menjalani tahap-tahap itu!”
“Berapa lama loe butuh waktu?”
“Beri gue waktu tiga setengah tahun!”
“Gila loe?”
“Itu sudah paling cepet lho!”
“Koplak loe Krishna!” gumam Kandita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar