Kamis, 12 September 2013

Sekuntum Cinta Yang Hampir Layu (Eps 4)


IV
            Jarum jam terus berputar, dan hari berganti, secepat irama roda kereta di hari Sabtu itu. Krishna sudah berjanji mengajak Kandita untuk ikut berlatih airsoft gun. Kandita sudah mulai menyukai permainan itu, karena dengan senapan airsoft gun, Kandita bisa menakut-nakuti orang yang paling membuatnya il feel. Padahal airsoft gun bukan untuk itu. Airsoft gun bisa dikatakan permainan bagi orang-orang yang tidak kesampaian untuk maju ke medan perang, jadi pakai sarana seperti itu.
            Rambutnya yang panjang diikat ke belakang, Kandita membiarkan tengkuknya yang jenjang, putih dan mulus terbuka. Tantu saja Kandita tidak langsung diterjunkan di ‘medan perang’ ini. Dia harus menjalani tahap-tahap pelatihan, salah satunya adalah sejauh mana Kandita bisa menggunakan senjata airsoftgun itu, pelatihan khusus diberikan kepada Kandita.
“Oke, Kandita! Krishna sudah ngajarin apa saja ke kamu?” tanya Tania.
“Hm, menembak!” singkat Kandita.
“Coba kamu tembak sasaran itu!” kata Tania yang menunjuk lima sasaran yang berjarak dua ratus meter di depan mereka.
“Hm, oke!” dan beberapa tembakan Kandita sudah mampu membuat Tania tercengang, meski Tania berusaha untuk menutupi rasa kagetnya itu.
“Gimana Tania?” tanya Kandita.
“Bagus untuk ukuran pemula!” jawab Tania sambil tersenyum.
            Pada awalnya Kandita menganggap kedekatan Tania dan Krishna hanya sebatas partner dalam permainan. Memang seperti itu kenyataannya, tapi presepsi Kandita terus berubah seiring dengan makin sering nya Tania dan Krishna bergurau, katanya teman! Kenapa hanya bercanda berdua saja? Kenapa tidak ikut ngobrol dengan teman-teman yang lainnya? Kenapa kalau duduk selalu samping-sampingan? Kayak nggak ada tempat lain saja.
“Tania, ini kan malam minggu!” Krishna mencoba mengawali pembicaraan.
“Ya, memang kenapa?”
“Kamu nggak diajak jalan sama pacar kamu?”
“Pacar dari mana?” kata Tania tersipu. “Kamu kali tuh, pacaran sama Kandita!”
“Bukan! Dia teman ku!”
“Teman?”
“Ya, eh! Kamu belum punya pacar?” pertanyaan Krishna hanya dijawab dengan gelengan dan.
“Belum!” katanya sambil menunduk, pipinya memerah, karena Krishna menanyakan hal itu kepadanya.  
“Bodoh!” gumam Krishna.
“Siapa yang bodoh?” gusar Tania.
“Semua laki-laki yang kenal sama kamu! Kamu cantik, baik! Tapi kenapa nggak dipacarin ya?”
“Gombal kamu yaa!!” kata Tania sambil mencubit lengan Krishna.
“Aku jujur kok!” kata Krishna.
“Yang bener nih?” kata Tania dengan nada sedikit menggoda.
“Tania, Tania! Kamu seperti bunga mawar yang tidak mengetahui keindahan dirinya!” kata Krishna.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Kandita masih termenung di kamarnya, sambil masih memandangi pistol softgun yang dititipkan oleh Krishna kepadanya. Adiknya yang pertama perempuan, masih dalam perjalanan pulang dari kampus. Dan yang terakhir laki-laki sedang berkelana di dunia maya, sedang liburan sekolah. Ibunya masih menonton siaran televisi di ruang tengah. Bapaknya sedang dalam perjalanan melayani kereta Gumarang, dari Pasar Turi sampai Gambir. Besok pagi baru pulang. Dia ingin membuka akun facebook nya tetapi tidak ada notification atau berita-berita baru. Jadi dia hanya memandangi dan merasakan pistol softgun milik Krishna sambil masih menyesali kelemahannya, kenapa dia tidak mampu untuk mendeskripsikan perasaannya kepada Krishna.
            Apakah karena Tania? Sepertinya bukan! Dengan atau tanpa Tania, Kandita masih bisa mengungkapkan perasaanya kepada Krishna. Apa karena Kandita takut hubungannya dengan Krishna menjadi renggang dengan pernyataan cintanya?
            Dalam sebuah diskusi tentang sebuah hubungan, prespektif komunikasi, di sebuah kampus, sekelompok mahasiswa mempresentasikan makalahnya di depan teman-teman mahasiswa lainnya. Kelompok itu menjelaskan bahwa dalam sebuah hubungan ada beberapa tahap. Orientasi, pertukaran afektif-eksploratif, pertukaran afektif, dan pertukaran yang seimbang. Hal itu terjadi berurutan, mulai dari pendekatan atau bahasa bekennya pedekate, kencan pertama, kencan kedua, dan seterusnya hingga mereka memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius.
            Lebih lanjut lagi kelompok itu menjelaskan tentang teori Penetrasi Sosial, yang menyatakan bahwa pembukaan diri dapat mengarah menuju hubungan yang lebih intim, lebih dekat, karena satu sama lain dapat saling mengetahui tentang sifat masing masing, hal ini terjadi jika dan hanya jika mereka dapat saling menerima sifat atau isi pernyataan pasangannya itu. Di sisi lain, pembukaan diri juga dapat membuat sebuah hubungan menjadi renggang. Renggangnya hubungan ini disebabkan karena satu individu yang menjalani hubungan itu tidak dapat menerima sifat atau isi pernyataan yang keluar dari pasangannya. Jadinya il feel.
            Seorang mahasiswa di dekat dinding kelas mengajukan sebuah pertanyaan kepada temannya yang sedang mempresentasikan makalahnya itu. ‘Jadi menurut kelompok anda, pembukaan diri itu baik atau tidak dalam sebuah hubungan?’ Situasi kelas yang tadinya ramai pun berubah menjadi sepi. Terlihat mahasiswa, mahasiswi yang berbisik bisik, entah membicarakan apa.
            Seperti sudah dijelaskan bahwa pembukaan diri adalah suatu situasi yang baik, karena dapat membuat pasangan menjadi lebih intim, menjadi lebih dekat. jadi hanya dengan pembukaan diri saja hubungan itu dapat menjadi lebih intim, il feel adalah resiko dari pembukaan diri itu. Kata anggota kelompok yang memberikan presentasi tentang masalah itu.
            Seorang mahasiswi di dekat jendela pun mengacungkan tangannya dan memohon ijin untuk mengajukan pertanyaan, lebih tepatnya menyambung pertanyaan dari kawannya yang duduk di dekat dinding kelas. Tadi dijelaskan bahwa pembukaan diri dapat membuat sebuah individu menjadi il feel dengan pasangannya, dan dengan il feel ini, hubungan akan semakin renggang. Bayangkan saja, hubungan yang tadinya baik-baik saja, dengan danya pembukaan diri dapat menjadi renggang, bahkan hancur. Bukankah pembukaan diri malah merusak sebuah hubungan? Oke, saya terima kalau il feel adalah resiko, tapi resiko itu sangat fatal, merusak hubungan, tidak ada hubungan artinya tidak ada komunikasi. Mau jadi apa manusia kalau tidak berkomunikasi?
            Kelompok yang sedang memberikan presentasi itu pun mebuka-buka kembali bukunya dan mencari sintesis yang tepat untuk menggantikan antitesis dari temannya. Sesekali mereka terlihat berbisik-bisik antar anggota kelompok, mencari jawaban untuk pertanyaan itu.
            Semua tergantung individu yang bersangkutan! Pak dosen pun mencoba menengahi diskusi yang jika diteruskan tidak akan menemukan titik temu. Jika kamu, mbak yang duduk di dekat jendela menganggap bahwa pembukaan diri adalah suatu yang buruk dan dapat merusak sebuah hubungan itu tidak disalahkan. Begitu juga dengan kelompok ini. Siapa yang sudah punya pacar? Tanya pak dosen. Sebagian dari mahasiswa yang mengikuti kelas itu pun mengangkat tangannya. Rupa-rupanya mahasiswi yang duduk di dekat jendela, dan mahasiswa yang duduk di dekat dinding kelas itu belum punya pacar. Kalian mau nggak sih dibohongin sama pacar kalian? Dan serempak mereka menjawab ‘Tidak, pak!!’ sejenak dosen itu memandang mahasiswi yang berada di dekat jendela, kemudian memandang mahasiswa yang duduk di dekat dinding kelas.
            Jadi singkat, dengan adanya pembukaan diri, kamu bisa memutuskan ingin melanjutkan hubungan atau tidak. Semakin kalian menyimpan perkara di dalam hati kalian, kalian akan semakin cepat bertemu dengan Tuhan, semakin cepat kalian bertemu dengan Tuhan artinya kalian akan mati, karena masalah yang terus dipendam, akan menyesakkan, dada kalian akan sesak, jika tidak dikeluarkan akan jadi bahaya. Jadi dikeluarkan saja. Kalau kamu tahu pacar kamu sudah punya wanita lain, putuskan saja! Daripada menyakitkan hati kamu.
            Kandita masih termenung di kamarnya. Meski dia tidak memiliki pengetahuan lebih tentang ilmu komunikasi, dia dapat merasakannya. Memang ada benarnya. Tapi semua butuh waktu, pikir Kandita. Paling tidak sampai Krishna benar-benar kosong, benar-benar tidak ada orang yang mengisi bilik di hatinya yang paling dalam.
“Hei, gue sudah di depan rumah loe nih!” kata Krishna dari telefon genggam nya.
“Sebentar ya!”
            Kandita melihat cermin yang ada di pintu lemarinya. Dia tidak ingin Krishna membaca pikirannya. Dia tidak ingin Krishna mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Sejenak, dia melakukan senam wajah. Dia membawa softgun milik Krishna yang dititipkan padanya, untuk dikembalikan maksudnya.
“Belum tidur loe?” tanya Krishna.
“Kalau gue tidur, gue nggak mungkin disini Krish!” gumam Kandita. Sambil memberikan soft gun milik Krishna.
“Kenapa? sudah, loe simpan saja! Buat jaga-jaga! Sekalian latihan!” kata Krishna menjelaskan.
“Gila loe! Nyokap gue tahu, bisa diamuk gue!”
“Loe ini yang di amuk!” gurau Krishna.
“Sialan loe!”
            Kandita masih mencoba menyembunyikan perasaanya. Perasaan cintanya, dia merasa belum saatnya Krishna mengetahui semua hal tentang perasaannya. Terlalu cepat untuk mengerti masalah ini, masalahnya sekarang Kandita tidak hanya ingin menjadi pacar Krishna, dia ingin menjadi istrinya, cinta seumur hidupnya.
“Oh, iya! Gue bawa gorengan nih!” kata Krishna sambil mengeluarkan seplastik gorengan dari tas nya.
“Repot-repot banget Krish! Thank you ya!” kata Kandita datar, sedatar penggaris yang diletakkan di mejanya.
“Ya, sama-sama! Adik loe mana?”
“Loe kesini mau nemuin gue atau adik gue?” selidik Kandita.
“Loe sensi banget sih!” gurau Krishna.
“Nggak malam mingguan loe?” tanya Kandita.
“Sama siapa?” heran Krishna.
“Sama siapa kek! Tania, Tiffany!” pancing Kandita sambil masih memainkan handphone nya.
            Jarum jam sudah menunjukkan bahwa waktu sudah jam setengah sepuluh malam. Kandita harus tidur, karena memang begitulah peraturan yang ditetapkan oleh keluarganya, terutama ibunya. Krishna pun segera memohon diri untuk pulang dan beristirahat, karena ‘medan perang’ sore tadi sudah cukup melelahkan baginya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Senin pagi, pada pertengahan April, jam tujuh pagi di stasiun Depok, sudah ramai dengan ratusan penumpang yang akan menggunakan kereta sebagai alat transportasi utama nya, ke tempat kerja. Stasiun itu masih terlihat rapih dan teratur. Tempat duduk untuk menunggu sudah terisi padat oleh calon penumpang yang akan naik kereta. Sebagian ada yang bersandar di tiang-tiang penyangga atap peron, kebanyakan dari mereka memakai headset, bermain hand phone, dan membaca koran, tapi yang membaca koran sudah dapat dihitung dengan jari, karena sudah banyak yang beralih ke berita online, dari hand phone mereka masing-masing sudah dapat mengakses berita terbaru. Maka dari itu, media on line disebut-sebut sebagai media baru, karena di media on line bisa membaca koran, mendengarkan streaming radio, sampai menyaksikan siaran berita. Dan media on line diatur oleh Undang-Undang ITE Informasi Teknologi Elektronik, karena siaran radio dan siaran televisi yang disiarkan sudah melalui media on line.   
            Agar diperhatikan jalur satu dari arah utara akan segera masuk KRL Commuter Line tujuan Manggarai, Sudirman, Tanah Abang, Duri, Angke, Kampung Bandan, mengakhiri perjalanan di stasiun Jatinegara. Jalur dua masih tersedia KRL Commuter Line tujuan stasiun Jatinegara pemberangkatan stasiun Depok pukul tujuh lewat tujuh menit. Di jalur tiga perhatikan akan segera masuk KRL Commuter Line tujuan Jakarta Kota, pemberangkatan stasiun Depok pukul tujuh lewat dua puluh satu menit. Jangan menyeberangi jalur satu dan jalur dua! Perhatikan karcis dan barang bawaan anda agar tidak tertinggal di dalam rangkaian kereta, maupun stasiun. Utamakan selalu keselamatan diri anda. Atas kepercayaannya menggunakan jasa angkutan kereta api, kami ucapkan terima kasih.
            Untuk sesaat, terjadi sebuah kegaduhan di stasiun Depok. Banyak penumpang dari Bogor, yang berbondong-bondong turun unuk pindah kereta, entah itu yang ada di jalur dua, atau jalur tiga. Dan tidak sedikit juga penumpang yang masuk kereta yang ada di jalur satu. Penumpang yang tadi turun, bergegas untuk pindah kereta. Terlihat seperti beribu-ribu pasukan Pajajaran yang bergerak menyerang Kasuhunan Cirebon. Cepat berpindah ke kereta yang lainnya, tepat masuk melalui pintu-pintu kereta, dan dapat tempat duduk yang nyaman.
“Eh, Kandita! Sini!” kata Krishna saat melihat satu tempat kosong tepat di tengah tengah kereta. Kandita memandang Krishna dan langsung duduk di tempat yan dimaksud oleh temannya itu.
Thank you Krish!” jawab Kandita sambil masih mengatur degup jantungnya. Dia kecapean, berlari, meloncat, melompat, dan akhirnya dia bisa duduk di tempat itu.
“Pagi-pagi sudah keringetan! Mau jadi apa loe?” kata Krishna sambil menyeka beberapa titik keringat yang ada di kening Kandita.  
            Jantungnya tiba-tiba berdegup keras, seakan ada sebuah getaran dari jemari tangan Krishna yang mendarat lembut di keningnya, Kandita makin tak kuasa mengatur degup jantungnya itu, hatinya serasa ingin meledak, disebabkan karena rasa bahagia yang meletup-letup didalamnya, dan yang pasti dia merasa GELISAH, Geli dan Basah di keningnya. Kandita menganggap bahwa Krishna juga menyukainya, padahal belum tentu, karena Krishna belum menyampaikan gagasan tentang perasaannya.
Menurut pakar komunikasi amologi, ada beberapa kemungkinan yang akan dilakukan oleh Kandita. Yang pertama, Kandita akan menepis tangan Krishna, dan berkata ‘nggak usah! Nanti juga kering’. Yang ke dua, Kandita akan meraih jemari tangan Krishna, menggenggamnya dengan lembut, dan memberikan sebuah ‘sinyal’ kepada Krishna untuk masuk ke hatinya. Kemungkinan ke tiga, Kandita akan melakukan dua-duanya, dan kemungkinan terakhir, Kandita tidak melakukan ke dua-duanya.
            Pakar komunikasi amologi pernah mengadakan penelitian dengan sample sepuluh wanita yang dipilih secara acak, dari latar belakang yang berbeda-beda. Penelitian dilakukan dengan questioner berbentuk multiple choice variasi, dengan kasus yang persis sama dengan yang dialami oleh Kandita Adisti Ekaturangga.
 Dari sepuluh wanita yang diteliti, tiga orang memilih pilihan pertama, dari tiga orang itu, dua orang merasa malu, dan satu orang merasa tidak mampu membendung perasaanya. Empat orang memilih pilihan ke dua, dari empat orang itu, semua tidak bisa menanggulangi perasaan cinta yang membanjiri hatinya. Dan tiga orang lainnya, memilih pilihan terakhir karena mereka ingin dicintai. Tiga orang yang memilih pilihan terakhir ini, ternyata memiliki masa lalu yang kelam, sering tersakiti, bahkan disakiti oleh pasangannya. Dan ketika sepuluh wanita tersebut dihadapkan pada satu pertanyaan, bagaimanakah perasaan anda ketika itu? Dan seratus persen jawaban mereka adalah senang. Jadi, hipotesa peneliti yang berbunyi ‘Ada hubungan antara perasaan seseorang terhadap sikap yang akan diambil dalam sebuah situasi sosioamologi’ sudah teruji.
Dan Kandita memilih untuk tidak melakukan apa pun. Dia adalah wanita yang memilih untuk dicintai, dia sudah cukup tersakiti, oleh mantan pacarnya. Dia tidak ingin mengatakan apa-apa. Dia hanya akan diam, dan menunggu Krishna mengungkapkan semuanya. Jadi kalau Krishna tidak mengungkapkan perasaanya, maka mereka tidak akan bisa saling mencintai. Kandita sudah berjanji dalam hatinya untuk menunggu orang yang mencintainya, dan mengatakan kepadanya ‘aku cinta kamu!!’ dan yang diharapkan adalah Krishna Tritaksaka.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Kandita Adisti Ekaturangga, masih duduk termenung di meja kerjanya, siang itu. Tugas-tugasnya sudah diselesaikan. Dia memaksakan dirinya untuk konsentrasi, meski selalu saja ada bayangan Krishna di sela-sela jam kerjanya. Lembutnya jemari tangan Krishna masih terasa di keningnya. Kandita menyadari betapa kecilnya dia, baru mendapat sentuhan di kening saja sudah sebegitu bahagianya. Bagaimana jika dia nanti mendapat ciuman, atau…. Ah, sudahlah!
            Untuk sementara, Krishna sebenarnya masih menganggap Kandita adalah temannya. Krishna belum memiliki perasaan cinta kepada Kandita. Dia melakukan hal itu atas dasar perhatian kepada temannya, teman yang mentraktirnya makan, apalagi saat ini Kandita sudah memiliki hobi yang sama dengan Krishna. Lagipula, masih ada Tania yang menunggu untuk masuk ke hati Krishna saat ini, saling memasuki sih.
“Woi, bukannya kerja, malah on line!” sapa Krishna di facebook Kandita.
“Loe sendiri? Kenapa gak kerja? Gue sih lagi istirahat!” balas Kandita.
“O, istirahat! Nanti loe pulang sama siapa?”
“Sendiri lah! Kalau ketemu loe ya gue bareng sama loe!” jawab Kandita.
“Lhoh, memangnya cowo loe kemana? ^_^” canda Krishna.
“Kalao loe mau ngeledek gue, mendingan sekarang gue off line deh!” gerutu Kandita.
“Its, oke! Sorri!”
“Loe nggak makan?” tanya Kandita.
“Nanti sebentar lagi juga selesai!”
“Makan bareng yuk!” ajak Kandita.
“Loe mau traktir gue? Makan dimana?”
“Kalau gue sih di deket kantor gue!”
“terus gue mesti ke kantor loe gitu?” tanya Krishna.
“Nggak usah! Loe makan di mana kek! Tapi nanti gue makan jam satu siang! Loe juga jam satu siang ya!” jadi itu yang dimaksud ‘makan bareng’ oleh Kandita.
“Yah, kalau begtu sih mendingan gak usah!”
“Terus loe maunya bagaimana?”
“Gue mau off dulu ya! Kalau ada masalah telefon atau SMS saja!” singkat Krishna.
“Sip lah! Nanti gue kabarin!”
            Krishna belum memiliki pikiran untuk mencintai Kandita, karena memang dia masih menganggap Kandita adalah seorang teman, teman yang harus dilindungi. Pada waktunya nanti Krishna akan tahu betapa besar cinta Kandita kepadanya, betapa Kandita ingin mencintai Krishna seumur hidupnya.
            Sementara Kandita, masih termenung memikirkan bagaimana dia harus menumbuhkan cinta yang hampir layu? Bagaimana mampu dia menumbuhkan cinta di hati Krishna, kalau di hatinya sendiri cinta tidak dapat tumbuh? Pemikiran itu terus menghujam otaknya, bagaikan ribuan anak panah pasukan Persia yang menghujami tiga ratus pasukan Sparta. Lamunannya terhenti ketika atasannya keluar dari ruangannya.
“Kandita, saya pulang duluan! Istri saya sedang sakit!” kata pak Darno.
“Iya, pak!” kata Kandita gugup.
“Kamu kenapa?” tanya pak Darno, yang tiga hari lagi akan berusia setengah abad.
“Nggak kenapa-kenapa kok pak! Mungkin kurang tidur!”
“Ya, sudah saya pergi dulu!”
“Ya, pak! Hati-hati!”
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Ada seorang pria muda berusia dua puluh tahun yang memiliki dua tunas pohon yang akan ditanam di kebun belakang rumahnya, kebunnya berukuran panjang lima belas meter, dengan lebar sepuluh meter. Tunas yang dibawanya adalah tunas pohon yang akan menjadi besar. Yang pertama adalah tunas pohon Kayu Besi, dan yang lainnya adalah tunas pohon Jati. Maka dari itu, dia menanam dua tunas pohon itu berdampingan, dengan jarak lima meter dari pohon satu ke pohon yang lainnya, dengan maksud supaya anak-anaknya nanti bisa menikmati rimbunnya dua pohon itu. Setiap pagi dan sore, orang itu menyirami pohon kayu besi dan pohon jati miliknya itu. Dia selalu berbicara kepada dua pohon itu seperti dia berbicara dengan sahabatnya, dan kedua pohon itu membalas dengan menggoyang-goyangkan batang dan daunnya.
            Di musim penghujan orang itu hanya memandangi kedua sahabatnya itu sambil masih berbicara dari kejauhan. Berteriak, tertawa, dan marah sudah dilalui orang itu kepada kedua ‘sahabat’nya yang seakan tidak pernah mempedulikannya, tapi kedua sahabatnya itu terus tumbuh sesuai dengan apa yang diinginkan olehnya.
            Di musim kemarau, saat pohon kayu besi sedang di ujung jurang kekeringan, pohon jati meranggas menggugurkan daunnya, sebagai sumber makanan selama musim kemarau, sementara pohon kayu besi mencari sumber air melalui akarnya yang ada di bawah tanah. Pohon jati pun tidak memiliki sehelai daun pun di tubuhnya selama musim kemarau panjang, untuk mengurangi penguapan maksudnya.
            Ketika pemuda itu berusia tiga puluh tahun, dia menabur bibit-bibit mawar hutan di sekitar dua pohon itu. Dengan alasan supaya tidak perlu membeli bunga untuk pacarnya. Jika ingin memberikan bunga, cukup memetik dari bunga mawar yang dimilikinya. Dan pohon jati memang tetap meranggas ketika musim kemarau panjang. Ketika daun-daun di pohon jati tidak mampu untuk melindungi kuncup-kuncup mawar, pohon kayu besi lah yang menggantikan tugasnya melindungi dari terik matahari, agar mawar-mawar itu tidak kering.
            Sampai saatnya mawar pun mekar berseri, dan orang yang menabur benih pun pergi memetik tiga tangkai bunga itu dan memberikannya kepada pacarnya. Dia berkata kepada pacarnya ‘Ini adalah bunga mawar yang tumbuh diantara dua pohon yang menjadi sahabatku! Merekalah yang sebenarnya merawat bunga ini!’
            Pemuda itu menikah di usianya yang ke tiga puluh dua, dan dikaruniai anak di usianya yang ke tiga puluh tiga. Kedua pohon itu pun menjadi sahabat bagi anaknya. Ada sebuah ayunan dibawah pohon itu. Dan pemuda yang dahulu menanam kedua pohon itu kini sudah berusia lanjut. Tujuh puluh tiga tahun. Dia berpesan kepada anak-anaknya, untuk memakamkannya di sekitar pohon yang ditanamnya, pohon yang sudah berpuluh-puluh tahun, dan sudah menjadi besar.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
              Kandita terbangun dari tidurnya, dia melihat teman sekerjanya sudah duduk disampingnya sambil memperhatikannya, memandanginya, dan menatapnmya dengan heran.
“Michele! Loe ngapain?” herannya sambil mengucek-ucek matanya.
“Gue mau kasih tahu loe, sekarang sudah jam lima kurang lima belas menit!”
“Oh, terus gue tadi?”
“Loe tadi tidur!”
“Tidur?” heran Kandita.
“Iya! Lagian loe jangan tidur sampai malam-malam lah!” kata Michele.
“Thank you banget ya!”
“Tadi Krishna telefon loe? Tapi loe tidur!”
“Krishna? loe terima telefonnya?”
“Nggak sih! Loe lihat saja! Ada tiga kali dia telefon loe!” kata Michele sambil masih menyiapkan barang-barangnya, dan merapihkan meja kerjanya. “cowo baru loe ya?” tanya Michele.
“Belum!”
“Maksud loe belum gimana?”
“Dia belum tahu kalau gue suka sama dia!”
“Aduh, Kandita! Kenapa nggak loe omongin saja ke dia?” kata Michele sambil memperhatikan raut wajah Kandita.
“Gue takut! Gue nggak mau kejadian kemarin tuh terulang lagi!”
“Mau sampai kapan loe begini?”
            Sampai kapan pun Krishna tidak akan pernah mengetahui bahwa Kandita mencintai dirinya, kalau Kandita tidak pernah mengeksplanasikan perasaannya, paling tidak beberapa keywords untuk membuka pembicaraan. Kandita memang sedang berada di belantara kebimbangan, tenggelam dalam telaga ketidak berdayaan, dan terbawa angin ketidak pastian, dan kesemuaannya itu lebih disebabkan oleh perasaannya kepada Krishna. Dan ternyata Krishna sudah menunggu di halte stasiun Sudirman.
“Hei, dimana loe?” tanya Krishna dari telefonnya.
“Gue masih di kantor nih!” katanya. Nada bicaranya menunjukkan bahwa dia sebenarnya sedang tergesa-gesa.
“Gue tunggu di Sudirman nih!” kata Krishna singkat.
            Apa lagi ini? Tadi pagi, Krishna menyeka keringat yang ada di keningnya. Dan sekarang, dia menunggu di stasiun Sudirman? Apakah Krishna punya ilmu ngerti sak durunge winarah? Ilmu mengetahui apa yang belum terjadi. Memang hanya orang pintar yang bisa memiliki ilmu ini, bagaimana caranya? Belajar, membaca, dan memperhatikan ketika guru atau dosen menjelaskan di kelas. Dahulu memang orang yang memiliki ilmu ini identik dengan ilmu-ilmu supranatural. Tapi sekarang, untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, seseorang harus mengamati sebuah masalah, dan membelahnya dengan teori yang berhubungan dengan masalah tersebut.
“Ayo, cepetan! Kereta nya pasti sudah di Tanah Abang!” kata Kandita sambil bergegas memasuki stasiun. Dia berusaha sebisa mungkin untuk menghindari kontak mata dengan Krishna. dia tidak ingin perasaannya yang berkecamuk di dalam hatinya diketahui oleh Krishna.
“Oh, iya!” jawab Krishna sambil membarengi langkah kaki Kandita.
“Sudah lama nunggu?” tanya Kandita.
“Ya, dari gue telefon tadi!”
“Sori banget ya!” kata Kandita dengan nada penyesalan.
“Santai saja kali! Cuma gue yang pulangnya kesorean!”
“Ya sudah!”
“Pakai ini saja!” kata Krishna sambil memberikan selembar uang dua puluh ribu kepada Kandita untuk membeli karcis commuter line tujuan Citayam.
“Oh, thanks Krish!”
“Yups, ayo cepat!” setelah membeli karcis, Kandita langsung bergerak ke arah Krishna yang sudah menunggunya di entrance, gate masuk bagi penumpang kereta. Kalau penumpang kereta listrik kebanyakan harusnya sudah tahu apa itu entrance, kalau tidak tahu, jangan mengaku-ngaku sebagai penumpang setia kereta listrik.
            Kandita masih berdiri disamping Krishna, di peron tunggu stasiun Sudirman. Dia tidak mampu memandangi Krishna, meski dia sangat ingin. Dia hanya mampu memandangi rel, bebatuan, bantalan rel, dan sesekali melihat lampu sinyal yang masih berwarna merah. Dan kereta commuter line tujuan Depok pun masuk stasiun itu, membuka pintunya bagi penumpang-penumpang yang akan naik kereta itu.
            Kereta pun berjalan perlahan meninggalkan stasiun Sudirman menuju stasiun selanjutnya, stasiun Manggarai. Dan sepanjang perjalanan kereta itu, Kandita melamun memikirkan mimpi yang tadi siang dialaminya. Mimpi yang dia tidak pernah tahu apakah hubungannya dengan dirinya. Seorang pria muda yang memiliki dua tunas pohon yang ditanam di belakang rumahnya, lalu dua pohon itu bertumbuh besar, dan semakin besar. Pohon yang satu menggugurkan daunnya untuk kelangsungan hidup di musim kemarau. Dan pohon yang lain terus mencari sumber air tanah. Apa artinya? Siapa pria itu? Kenapa dia menabur benih mawar disekitar dua pohon itu? Tidakkah ada tempat lain? Kandita, sabarlah! Pada waktunya nanti kamu akan mengerti! Apa arti dari semua itu.
“Loe sudah makan belum?” tanya Krishna.
“Belum! Mau makan di tempat biasa? Loe nggak bosan Krish?” heran Kandita sambil masih membuka-buka notifikasi facebook dari handphone nya.
“Loe ada referensi lain nggak?”
“Pecel lele? Nasi uduk?”
“Loe kayak lagi ngidam saja sih? Apa memang loe lagi….”
“Ngomong apaan sih loe?” tampik Kandita.
“Sori! Tapi boleh juga! Loe tahu nggak yang enak dimana?”
“Di pasar Krish!”
“Hm, boleh juga sih!”
“Memang nyokap loe nggak masak sayur apa?” heran Kandita.
“Masak sih!”
“Terus bagaimana?”
“Biasanya buat sarapan! Ngomong-ngomong, loe bisa masak nggak?” tanya Krishna.
“Masak apa? Masak air buat minum bisa! Masak mie instan bisa! Masak nasi bisa!”
“Bagus tuh! Berarti loe calon ibu rumah tangga yang baik!”
“Bisa saja loe Krish!” pipinya tiba-tiba merona merah. Apa loe mau jadi kepala keluarganya Krish? Bathin Kandita.
            Diperhatikan jalur tiga dari arah utara, akan segera masuk KRL Commuter Line akan pulang ke dippo. KRL Commuter Line tujuan Bogor, rangkaiannya berangkat dari stasiun Pondok Cina. KRL Commuter Line tujuan Bogor berikutnya rangkaiannya masuk stasiun Lenteng Agung. Untuk KRL Ekonomi tujuan Bogor, rangkaiannya berangkat stasiun Pasar Minggu. Diperhatikan jalur tiga, seger masuk KRL Commuter Line, rangkaian pulang ke dippo. Selamat malam, dan selamat datang saat ini anda berada di stasiun Depok, harap perhatikan selalu karcis dan barang bawaan anda agar jangan sampai tertinggal di dalam rangkaian kereta maupun di stasiun Depok. atas kepercayaan anda telah menggunakan jasa angkutan kereta api, kami ucapkan terima kasih.
            Announcer baru saja selesai memberikan pengumuman kepada seluruh penumpang yang ada di stasiun Depok. Kandita dan Krishna pun masih berdiri menunggu kereta tujuan Bogor. Tanggung, tinggal satu stasiun lagi. Kereta yang akan masuk terlebih dahulu adalah kereta commuter yang berangkat dari stasiun Jakarta Kota.
            Ada sedikit keluhan bagi penumpang yang menggunakan kereta itu. Semua penumpang dari kereta yang melalui jalur pemberangkatan stasiun Jatinegara-Bogor, diturunkan semua di stasiun Depok. Mau tidak mau, suka tidak suka, semua penumpang itu harus naik kereta selanjutnya yang berangkat dari stasiun Jakarta Kota. Bagi penumpang kereta kebanyakan, kepadatan ini adalah hal yang biasa terjadi, lumrah adanya, jika tidak terjadi kepadatan, maka keadaan itu dianggap sebagai keadaan yang ora umum.
            Kereta commuter Line tujuan Bogor pun perlahan masuk stasiun Depok, dan berhenti ketika lampu sinyal berwarna merah. Sebagian penumpang turun dari rangkaian kereta itu, dan semua penumpang yang tadi turun dari kereta yang masuk dippo, segera meng-invasi kereta itu, dan bisa dibayangkan jika kapasitas penumpang penuh dari dua kereta, dimasukkan kedalam satu kereta. Seperti sebuah truk container yang hanya mampu mengangkut sepuluh ton barang, dipaksa untuk mengangkut dua puluh ton. Sepertinya itu sudah dapat meng-analogikan penumpang kereta yang berjejalan itu.
“Aduh, gila gue!” keluh Kandita.
“Gila kenapa loe?”
“Ya, kayak begini! Gimana gue nggak gila!” gumam Kandita sambil meminum segelas air jeruk hangat nya.
“Yang sabar! Mungkin loe butuh refreshing?”
“Kemana lagi?” jawab Kandita sambil menyuapkan nasi uduk ke mulutnya.
“Enak nih kelihatannya!” seru Krishna sambil membarengi Kandita makan.
“Ya enak lah!”
            Mereka menikmati makan malamnya itu. Nasi uduk, dan ayam goreng. Disamping itu, Kandita juga menikmati wajah Krishna yang sedari tadi sore dipandanginya. Krishna, Krishna, kamu ini bodoh atau tolol sih! Kamu mengaku dan diakui sebagai seorang sarjana ilmu komunikasi dengan Indeks prestasi tiga koma dua puluh, tapi kamu tidak bisa membaca isi pesan yang keluar dari mataku?
            Ya jelas Krishna tidak bisa menerima isi pernyataan dari mata Kandita. Komunikasi non verbal mengandung lebih banyak arti daripada komunikasi verbal. Jadi Krishna tidak mau menduga-duga apa gagasan yang dikirimkan oleh Kandita dari matanya. Disamping itu, Krishna adalah sarjana ilmu komunikasi yang dicetak untuk menjadi seorang komunikator, yaitu orang yang menyampaikan isi pesan. Bukan sebagai komunikan, orang yang menerima isi pesan. Jadi wajar jika Krishna tidak mengerti apa makna dari tatapan mata Kandita.
            Makan malam itu, Krishna yang membayarnya. Baru dapat bonus dari atasannya, karena kerja nya yang bisa dikatakan diatas rata-rata teman-temannya.
“Sebentar!” Krishna menatap Kandita dalam dan orang yang dipandang itu sangat berharap bahwa orang yang memandangnya itu akan menyatakan perasaan cintanya melalui bahasa verbal.
“Ada nasi, di bibir loe!” kata Krishna sambil mengambil sebutir nasi di bibir bawah Kandita. Ahhh… Dan lembut jemari tangan Krishna yang tadi pagi mendarat lembut di keningnya, kini mendarat di bibirnya.
            Tadi pagi kening, dan sekarang bibir Kandita yang disentuh oleh Krishna dengan lembut jemari tangannya. Sebenarnya bukan disentuh, hanya disenggol, karena niat Krishna sebenarnya memasukkan nasi yang ada di bibirnya ke dalam mulut Kandita. Ah, kenapa Kandita berpikir yang tidak-tidak. Dia berharap suatu hari nanti Krishna akan mengecup keningnya di pagi hari, dan mengecup bibirnya ketika malam tiba. Ah, kenapa sampai kepikiran seperti itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar