IV
Jarum
jam terus berputar, dan hari berganti, secepat irama roda kereta di hari Sabtu
itu. Krishna sudah berjanji mengajak Kandita
untuk ikut berlatih airsoft gun. Kandita sudah mulai menyukai permainan itu,
karena dengan senapan airsoft gun, Kandita bisa menakut-nakuti orang yang
paling membuatnya il feel. Padahal airsoft gun bukan untuk itu. Airsoft gun
bisa dikatakan permainan bagi orang-orang yang tidak kesampaian untuk maju ke medan perang, jadi pakai
sarana seperti itu.
Rambutnya
yang panjang diikat ke belakang, Kandita membiarkan tengkuknya yang jenjang,
putih dan mulus terbuka. Tantu saja Kandita tidak langsung diterjunkan di ‘medan perang’ ini. Dia
harus menjalani tahap-tahap pelatihan, salah satunya adalah sejauh mana Kandita
bisa menggunakan senjata airsoftgun itu, pelatihan khusus diberikan kepada Kandita.
“Oke, Kandita! Krishna
sudah ngajarin apa saja ke kamu?” tanya Tania.
“Hm, menembak!” singkat Kandita.
“Coba kamu tembak sasaran itu!”
kata Tania yang menunjuk lima
sasaran yang berjarak dua ratus meter di depan mereka.
“Hm, oke!” dan beberapa tembakan Kandita
sudah mampu membuat Tania tercengang, meski Tania berusaha untuk menutupi rasa
kagetnya itu.
“Gimana Tania?” tanya Kandita.
“Bagus untuk ukuran pemula!”
jawab Tania sambil tersenyum.
Pada
awalnya Kandita menganggap kedekatan Tania dan Krishna
hanya sebatas partner dalam permainan. Memang seperti itu kenyataannya, tapi
presepsi Kandita terus berubah seiring dengan makin sering nya Tania dan Krishna bergurau, katanya teman! Kenapa hanya bercanda
berdua saja? Kenapa tidak ikut ngobrol dengan teman-teman yang lainnya? Kenapa
kalau duduk selalu samping-sampingan? Kayak nggak ada tempat lain saja.
“Tania, ini kan malam minggu!” Krishna
mencoba mengawali pembicaraan.
“Ya, memang kenapa?”
“Kamu nggak diajak jalan sama
pacar kamu?”
“Pacar dari mana?” kata Tania
tersipu. “Kamu kali tuh, pacaran sama Kandita!”
“Bukan! Dia teman ku!”
“Teman?”
“Ya, eh! Kamu belum punya pacar?”
pertanyaan Krishna hanya dijawab dengan
gelengan dan.
“Belum!” katanya sambil menunduk,
pipinya memerah, karena Krishna menanyakan hal
itu kepadanya.
“Bodoh!” gumam Krishna.
“Siapa yang bodoh?” gusar Tania.
“Semua laki-laki yang kenal sama
kamu! Kamu cantik, baik! Tapi kenapa nggak dipacarin ya?”
“Gombal kamu yaa!!” kata Tania
sambil mencubit lengan Krishna.
“Aku jujur kok!” kata Krishna.
“Yang bener nih?” kata Tania
dengan nada sedikit menggoda.
“Tania, Tania! Kamu seperti bunga
mawar yang tidak mengetahui keindahan dirinya!” kata Krishna.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kandita
masih termenung di kamarnya, sambil masih memandangi pistol softgun yang
dititipkan oleh Krishna kepadanya. Adiknya
yang pertama perempuan, masih dalam perjalanan pulang dari kampus. Dan yang
terakhir laki-laki sedang berkelana di dunia maya, sedang liburan sekolah.
Ibunya masih menonton siaran televisi di ruang tengah. Bapaknya sedang dalam
perjalanan melayani kereta Gumarang, dari Pasar Turi sampai Gambir. Besok pagi
baru pulang. Dia ingin membuka akun facebook nya tetapi tidak ada notification
atau berita-berita baru. Jadi dia hanya memandangi dan merasakan pistol softgun
milik Krishna sambil masih menyesali kelemahannya, kenapa dia tidak mampu untuk
mendeskripsikan perasaannya kepada Krishna.
Apakah
karena Tania? Sepertinya bukan! Dengan atau tanpa Tania, Kandita masih bisa
mengungkapkan perasaanya kepada Krishna. Apa
karena Kandita takut hubungannya dengan Krishna
menjadi renggang dengan pernyataan cintanya?
Dalam
sebuah diskusi tentang sebuah hubungan, prespektif komunikasi, di sebuah
kampus, sekelompok mahasiswa mempresentasikan makalahnya di depan teman-teman
mahasiswa lainnya. Kelompok itu menjelaskan bahwa dalam sebuah hubungan ada
beberapa tahap. Orientasi, pertukaran afektif-eksploratif, pertukaran afektif,
dan pertukaran yang seimbang. Hal itu terjadi berurutan, mulai dari pendekatan
atau bahasa bekennya pedekate, kencan pertama, kencan kedua, dan seterusnya
hingga mereka memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius.
Lebih
lanjut lagi kelompok itu menjelaskan tentang teori Penetrasi Sosial, yang
menyatakan bahwa pembukaan diri dapat mengarah menuju hubungan yang lebih intim,
lebih dekat, karena satu sama lain dapat saling mengetahui tentang sifat masing
masing, hal ini terjadi jika dan hanya jika mereka dapat saling menerima sifat
atau isi pernyataan pasangannya itu. Di sisi lain, pembukaan diri juga dapat
membuat sebuah hubungan menjadi renggang. Renggangnya hubungan ini disebabkan
karena satu individu yang menjalani hubungan itu tidak dapat menerima sifat
atau isi pernyataan yang keluar dari pasangannya. Jadinya il feel.
Seorang
mahasiswa di dekat dinding kelas mengajukan sebuah pertanyaan kepada temannya
yang sedang mempresentasikan makalahnya itu. ‘Jadi menurut kelompok anda,
pembukaan diri itu baik atau tidak dalam sebuah hubungan?’ Situasi kelas yang
tadinya ramai pun berubah menjadi sepi. Terlihat mahasiswa, mahasiswi yang
berbisik bisik, entah membicarakan apa.
Seperti
sudah dijelaskan bahwa pembukaan diri adalah suatu situasi yang baik, karena
dapat membuat pasangan menjadi lebih intim, menjadi lebih dekat. jadi hanya
dengan pembukaan diri saja hubungan itu dapat menjadi lebih intim, il feel
adalah resiko dari pembukaan diri itu. Kata anggota kelompok yang memberikan
presentasi tentang masalah itu.
Seorang
mahasiswi di dekat jendela pun mengacungkan tangannya dan memohon ijin untuk
mengajukan pertanyaan, lebih tepatnya menyambung pertanyaan dari kawannya yang
duduk di dekat dinding kelas. Tadi dijelaskan bahwa pembukaan diri dapat
membuat sebuah individu menjadi il feel dengan pasangannya, dan dengan il feel
ini, hubungan akan semakin renggang. Bayangkan saja, hubungan yang tadinya
baik-baik saja, dengan danya pembukaan diri dapat menjadi renggang, bahkan
hancur. Bukankah pembukaan diri malah merusak sebuah hubungan? Oke, saya terima
kalau il feel adalah resiko, tapi resiko itu sangat fatal, merusak hubungan, tidak
ada hubungan artinya tidak ada komunikasi. Mau jadi apa manusia kalau tidak
berkomunikasi?
Kelompok
yang sedang memberikan presentasi itu pun mebuka-buka kembali bukunya dan
mencari sintesis yang tepat untuk menggantikan antitesis dari temannya. Sesekali
mereka terlihat berbisik-bisik antar anggota kelompok, mencari jawaban untuk
pertanyaan itu.
Semua
tergantung individu yang bersangkutan! Pak dosen pun mencoba menengahi diskusi
yang jika diteruskan tidak akan menemukan titik temu. Jika kamu, mbak yang
duduk di dekat jendela menganggap bahwa pembukaan diri adalah suatu yang buruk
dan dapat merusak sebuah hubungan itu tidak disalahkan. Begitu juga dengan
kelompok ini. Siapa yang sudah punya pacar? Tanya pak dosen. Sebagian dari
mahasiswa yang mengikuti kelas itu pun mengangkat tangannya. Rupa-rupanya
mahasiswi yang duduk di dekat jendela, dan mahasiswa yang duduk di dekat
dinding kelas itu belum punya pacar. Kalian mau nggak sih dibohongin sama pacar
kalian? Dan serempak mereka menjawab ‘Tidak, pak!!’ sejenak dosen itu memandang
mahasiswi yang berada di dekat jendela, kemudian memandang mahasiswa yang duduk
di dekat dinding kelas.
Jadi
singkat, dengan adanya pembukaan diri, kamu bisa memutuskan ingin melanjutkan
hubungan atau tidak. Semakin kalian menyimpan perkara di dalam hati kalian,
kalian akan semakin cepat bertemu dengan Tuhan, semakin cepat kalian bertemu
dengan Tuhan artinya kalian akan mati, karena masalah yang terus dipendam, akan
menyesakkan, dada kalian akan sesak, jika tidak dikeluarkan akan jadi bahaya.
Jadi dikeluarkan saja. Kalau kamu tahu pacar kamu sudah punya wanita lain,
putuskan saja! Daripada menyakitkan hati kamu.
Kandita
masih termenung di kamarnya. Meski dia tidak memiliki pengetahuan lebih tentang
ilmu komunikasi, dia dapat merasakannya. Memang ada benarnya. Tapi semua butuh
waktu, pikir Kandita. Paling tidak sampai Krishna benar-benar kosong,
benar-benar tidak ada orang yang mengisi bilik di hatinya yang paling dalam.
“Hei, gue sudah di depan rumah
loe nih!” kata Krishna dari telefon genggam nya.
“Sebentar ya!”
Kandita
melihat cermin yang ada di pintu lemarinya. Dia tidak ingin Krishna membaca
pikirannya. Dia tidak ingin Krishna mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Sejenak,
dia melakukan senam wajah. Dia membawa softgun milik Krishna yang dititipkan
padanya, untuk dikembalikan maksudnya.
“Belum tidur loe?” tanya Krishna.
“Kalau gue tidur, gue nggak
mungkin disini Krish!” gumam Kandita. Sambil memberikan soft gun milik Krishna.
“Kenapa? sudah, loe simpan saja!
Buat jaga-jaga! Sekalian latihan!” kata Krishna menjelaskan.
“Gila loe! Nyokap gue tahu, bisa
diamuk gue!”
“Loe ini yang di amuk!” gurau
Krishna.
“Sialan loe!”
Kandita
masih mencoba menyembunyikan perasaanya. Perasaan cintanya, dia merasa belum
saatnya Krishna mengetahui semua hal tentang perasaannya. Terlalu cepat untuk
mengerti masalah ini, masalahnya sekarang Kandita tidak hanya ingin menjadi
pacar Krishna, dia ingin menjadi istrinya, cinta seumur hidupnya.
“Oh, iya! Gue bawa gorengan nih!”
kata Krishna sambil mengeluarkan seplastik gorengan dari tas nya.
“Repot-repot banget Krish! Thank you ya!” kata Kandita datar,
sedatar penggaris yang diletakkan di mejanya.
“Ya, sama-sama! Adik loe mana?”
“Loe kesini mau nemuin gue atau
adik gue?” selidik Kandita.
“Loe sensi banget sih!” gurau
Krishna.
“Nggak malam mingguan loe?” tanya
Kandita.
“Sama siapa?” heran Krishna.
“Sama siapa kek! Tania, Tiffany!”
pancing Kandita sambil masih memainkan handphone nya.
Jarum
jam sudah menunjukkan bahwa waktu sudah jam setengah sepuluh malam. Kandita
harus tidur, karena memang begitulah peraturan yang ditetapkan oleh
keluarganya, terutama ibunya. Krishna pun segera memohon diri untuk pulang dan
beristirahat, karena ‘medan perang’ sore tadi sudah cukup melelahkan baginya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Senin
pagi, pada pertengahan April, jam tujuh pagi di stasiun Depok, sudah ramai
dengan ratusan penumpang yang akan menggunakan kereta sebagai alat transportasi
utama nya, ke tempat kerja. Stasiun itu masih terlihat rapih dan teratur. Tempat
duduk untuk menunggu sudah terisi padat oleh calon penumpang yang akan naik
kereta. Sebagian ada yang bersandar di tiang-tiang penyangga atap peron,
kebanyakan dari mereka memakai headset, bermain hand phone, dan membaca koran,
tapi yang membaca koran sudah dapat dihitung dengan jari, karena sudah banyak
yang beralih ke berita online, dari hand phone mereka masing-masing sudah dapat
mengakses berita terbaru. Maka dari itu, media on line disebut-sebut sebagai
media baru, karena di media on line bisa membaca koran, mendengarkan streaming
radio, sampai menyaksikan siaran berita. Dan media on line diatur oleh
Undang-Undang ITE Informasi Teknologi Elektronik, karena siaran radio dan
siaran televisi yang disiarkan sudah melalui media on line.
Agar diperhatikan jalur satu dari arah utara
akan segera masuk KRL Commuter Line tujuan Manggarai, Sudirman, Tanah Abang,
Duri, Angke, Kampung Bandan, mengakhiri perjalanan di stasiun Jatinegara. Jalur
dua masih tersedia KRL Commuter Line tujuan stasiun Jatinegara pemberangkatan
stasiun Depok pukul tujuh lewat tujuh menit. Di jalur tiga perhatikan akan
segera masuk KRL Commuter Line tujuan Jakarta Kota, pemberangkatan stasiun
Depok pukul tujuh lewat dua puluh satu menit. Jangan menyeberangi jalur satu
dan jalur dua! Perhatikan karcis dan barang bawaan anda agar tidak tertinggal
di dalam rangkaian kereta, maupun stasiun. Utamakan selalu keselamatan diri
anda. Atas kepercayaannya menggunakan jasa angkutan kereta api, kami ucapkan
terima kasih.
Untuk
sesaat, terjadi sebuah kegaduhan di stasiun Depok. Banyak penumpang dari Bogor,
yang berbondong-bondong turun unuk pindah kereta, entah itu yang ada di jalur
dua, atau jalur tiga. Dan tidak sedikit juga penumpang yang masuk kereta yang
ada di jalur satu. Penumpang yang tadi turun, bergegas untuk pindah kereta.
Terlihat seperti beribu-ribu pasukan Pajajaran yang bergerak menyerang
Kasuhunan Cirebon. Cepat berpindah ke kereta yang lainnya, tepat masuk melalui
pintu-pintu kereta, dan dapat tempat duduk yang nyaman.
“Eh, Kandita! Sini!” kata Krishna
saat melihat satu tempat kosong tepat di tengah tengah kereta. Kandita
memandang Krishna dan langsung duduk di tempat yan dimaksud oleh temannya itu.
“Thank you Krish!” jawab Kandita sambil masih mengatur degup
jantungnya. Dia kecapean, berlari, meloncat, melompat, dan akhirnya dia bisa
duduk di tempat itu.
“Pagi-pagi sudah keringetan! Mau
jadi apa loe?” kata Krishna sambil menyeka beberapa titik keringat yang ada di
kening Kandita.
Jantungnya
tiba-tiba berdegup keras, seakan ada sebuah getaran dari jemari tangan Krishna
yang mendarat lembut di keningnya, Kandita makin tak kuasa mengatur degup
jantungnya itu, hatinya serasa ingin meledak, disebabkan karena rasa bahagia
yang meletup-letup didalamnya, dan yang pasti dia merasa GELISAH, Geli dan
Basah di keningnya. Kandita menganggap bahwa Krishna juga menyukainya, padahal
belum tentu, karena Krishna belum menyampaikan gagasan tentang perasaannya.
Menurut pakar
komunikasi amologi, ada beberapa kemungkinan yang akan dilakukan oleh Kandita.
Yang pertama, Kandita akan menepis tangan Krishna, dan berkata ‘nggak usah!
Nanti juga kering’. Yang ke dua, Kandita akan meraih jemari tangan Krishna,
menggenggamnya dengan lembut, dan memberikan sebuah ‘sinyal’ kepada Krishna
untuk masuk ke hatinya. Kemungkinan ke tiga, Kandita akan melakukan dua-duanya,
dan kemungkinan terakhir, Kandita tidak melakukan ke dua-duanya.
Pakar
komunikasi amologi pernah mengadakan penelitian dengan sample sepuluh wanita
yang dipilih secara acak, dari latar belakang yang berbeda-beda. Penelitian dilakukan
dengan questioner berbentuk multiple choice variasi, dengan kasus yang persis
sama dengan yang dialami oleh Kandita Adisti Ekaturangga.
Dari sepuluh wanita yang diteliti, tiga orang memilih
pilihan pertama, dari tiga orang itu, dua orang merasa malu, dan satu orang
merasa tidak mampu membendung perasaanya. Empat orang memilih pilihan ke dua,
dari empat orang itu, semua tidak bisa menanggulangi perasaan cinta yang
membanjiri hatinya. Dan tiga orang lainnya, memilih pilihan terakhir karena
mereka ingin dicintai. Tiga orang yang memilih pilihan terakhir ini, ternyata
memiliki masa lalu yang kelam, sering tersakiti, bahkan disakiti oleh pasangannya.
Dan ketika sepuluh wanita tersebut dihadapkan pada satu pertanyaan,
bagaimanakah perasaan anda ketika itu? Dan seratus persen jawaban mereka adalah
senang. Jadi, hipotesa peneliti yang berbunyi ‘Ada hubungan antara perasaan
seseorang terhadap sikap yang akan diambil dalam sebuah situasi sosioamologi’
sudah teruji.
Dan Kandita
memilih untuk tidak melakukan apa pun. Dia adalah wanita yang memilih untuk
dicintai, dia sudah cukup tersakiti, oleh mantan pacarnya. Dia tidak ingin
mengatakan apa-apa. Dia hanya akan diam, dan menunggu Krishna mengungkapkan
semuanya. Jadi kalau Krishna tidak mengungkapkan perasaanya, maka mereka tidak
akan bisa saling mencintai. Kandita sudah berjanji dalam hatinya untuk menunggu
orang yang mencintainya, dan mengatakan kepadanya ‘aku cinta kamu!!’ dan yang
diharapkan adalah Krishna Tritaksaka.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kandita
Adisti Ekaturangga, masih duduk termenung di meja kerjanya, siang itu.
Tugas-tugasnya sudah diselesaikan. Dia memaksakan dirinya untuk konsentrasi,
meski selalu saja ada bayangan Krishna di sela-sela jam kerjanya. Lembutnya
jemari tangan Krishna masih terasa di keningnya. Kandita menyadari betapa
kecilnya dia, baru mendapat sentuhan di kening saja sudah sebegitu bahagianya.
Bagaimana jika dia nanti mendapat ciuman, atau…. Ah, sudahlah!
Untuk
sementara, Krishna sebenarnya masih menganggap Kandita adalah temannya. Krishna
belum memiliki perasaan cinta kepada Kandita. Dia melakukan hal itu atas dasar
perhatian kepada temannya, teman yang mentraktirnya makan, apalagi saat ini Kandita
sudah memiliki hobi yang sama dengan Krishna. Lagipula, masih ada Tania yang
menunggu untuk masuk ke hati Krishna saat ini, saling memasuki sih.
“Woi, bukannya kerja, malah on
line!” sapa Krishna di facebook Kandita.
“Loe sendiri? Kenapa gak kerja?
Gue sih lagi istirahat!” balas Kandita.
“O, istirahat! Nanti loe pulang
sama siapa?”
“Sendiri lah! Kalau ketemu loe ya
gue bareng sama loe!” jawab Kandita.
“Lhoh, memangnya cowo loe kemana?
^_^” canda Krishna.
“Kalao loe mau ngeledek gue,
mendingan sekarang gue off line deh!” gerutu Kandita.
“Its, oke! Sorri!”
“Loe nggak makan?” tanya Kandita.
“Nanti sebentar lagi juga
selesai!”
“Makan bareng yuk!” ajak Kandita.
“Loe mau traktir gue? Makan
dimana?”
“Kalau gue sih di deket kantor
gue!”
“terus gue mesti ke kantor loe
gitu?” tanya Krishna.
“Nggak usah! Loe makan di mana
kek! Tapi nanti gue makan jam satu siang! Loe juga jam satu siang ya!” jadi itu
yang dimaksud ‘makan bareng’ oleh Kandita.
“Yah, kalau begtu sih mendingan
gak usah!”
“Terus loe maunya bagaimana?”
“Gue mau off dulu ya! Kalau ada
masalah telefon atau SMS saja!” singkat Krishna.
“Sip lah! Nanti gue kabarin!”
Krishna
belum memiliki pikiran untuk mencintai Kandita, karena memang dia masih
menganggap Kandita adalah seorang teman, teman yang harus dilindungi. Pada
waktunya nanti Krishna akan tahu betapa besar cinta Kandita kepadanya, betapa Kandita
ingin mencintai Krishna seumur hidupnya.
Sementara
Kandita, masih termenung memikirkan bagaimana dia harus menumbuhkan cinta yang
hampir layu? Bagaimana mampu dia menumbuhkan cinta di hati Krishna, kalau di
hatinya sendiri cinta tidak dapat tumbuh? Pemikiran itu terus menghujam otaknya,
bagaikan ribuan anak panah pasukan Persia yang menghujami tiga ratus pasukan
Sparta. Lamunannya terhenti ketika atasannya keluar dari ruangannya.
“Kandita, saya pulang duluan!
Istri saya sedang sakit!” kata pak Darno.
“Iya, pak!” kata Kandita gugup.
“Kamu kenapa?” tanya pak Darno,
yang tiga hari lagi akan berusia setengah abad.
“Nggak kenapa-kenapa kok pak!
Mungkin kurang tidur!”
“Ya, sudah saya pergi dulu!”
“Ya, pak! Hati-hati!”
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ada
seorang pria muda berusia dua puluh tahun yang memiliki dua tunas pohon yang
akan ditanam di kebun belakang rumahnya, kebunnya berukuran panjang lima belas
meter, dengan lebar sepuluh meter. Tunas yang dibawanya adalah tunas pohon yang
akan menjadi besar. Yang pertama adalah tunas pohon Kayu Besi, dan yang lainnya
adalah tunas pohon Jati. Maka dari itu, dia menanam dua tunas pohon itu
berdampingan, dengan jarak lima meter dari pohon satu ke pohon yang lainnya, dengan
maksud supaya anak-anaknya nanti bisa menikmati rimbunnya dua pohon itu. Setiap
pagi dan sore, orang itu menyirami pohon kayu besi dan pohon jati miliknya itu.
Dia selalu berbicara kepada dua pohon itu seperti dia berbicara dengan
sahabatnya, dan kedua pohon itu membalas dengan menggoyang-goyangkan batang dan
daunnya.
Di
musim penghujan orang itu hanya memandangi kedua sahabatnya itu sambil masih
berbicara dari kejauhan. Berteriak, tertawa, dan marah sudah dilalui orang itu
kepada kedua ‘sahabat’nya yang seakan tidak pernah mempedulikannya, tapi kedua
sahabatnya itu terus tumbuh sesuai dengan apa yang diinginkan olehnya.
Di
musim kemarau, saat pohon kayu besi sedang di ujung jurang kekeringan, pohon
jati meranggas menggugurkan daunnya, sebagai sumber makanan selama musim
kemarau, sementara pohon kayu besi mencari sumber air melalui akarnya yang ada
di bawah tanah. Pohon jati pun tidak memiliki sehelai daun pun di tubuhnya
selama musim kemarau panjang, untuk mengurangi penguapan maksudnya.
Ketika
pemuda itu berusia tiga puluh tahun, dia menabur bibit-bibit mawar hutan di
sekitar dua pohon itu. Dengan alasan supaya tidak perlu membeli bunga untuk
pacarnya. Jika ingin memberikan bunga, cukup memetik dari bunga mawar yang
dimilikinya. Dan pohon jati memang tetap meranggas ketika musim kemarau
panjang. Ketika daun-daun di pohon jati tidak mampu untuk melindungi kuncup-kuncup
mawar, pohon kayu besi lah yang menggantikan tugasnya melindungi dari terik
matahari, agar mawar-mawar itu tidak kering.
Sampai
saatnya mawar pun mekar berseri, dan orang yang menabur benih pun pergi memetik
tiga tangkai bunga itu dan memberikannya kepada pacarnya. Dia berkata kepada
pacarnya ‘Ini adalah bunga mawar yang tumbuh diantara dua pohon yang menjadi
sahabatku! Merekalah yang sebenarnya merawat bunga ini!’
Pemuda
itu menikah di usianya yang ke tiga puluh dua, dan dikaruniai anak di usianya
yang ke tiga puluh tiga. Kedua pohon itu pun menjadi sahabat bagi anaknya. Ada
sebuah ayunan dibawah pohon itu. Dan pemuda yang dahulu menanam kedua pohon itu
kini sudah berusia lanjut. Tujuh puluh tiga tahun. Dia berpesan kepada
anak-anaknya, untuk memakamkannya di sekitar pohon yang ditanamnya, pohon yang
sudah berpuluh-puluh tahun, dan sudah menjadi besar.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kandita
terbangun dari tidurnya, dia melihat teman sekerjanya sudah duduk disampingnya
sambil memperhatikannya, memandanginya, dan menatapnmya dengan heran.
“Michele! Loe ngapain?” herannya
sambil mengucek-ucek matanya.
“Gue mau kasih tahu loe, sekarang
sudah jam lima kurang lima belas menit!”
“Oh, terus gue tadi?”
“Loe tadi tidur!”
“Tidur?” heran Kandita.
“Iya! Lagian loe jangan tidur
sampai malam-malam lah!” kata Michele.
“Thank you banget ya!”
“Tadi Krishna telefon loe? Tapi
loe tidur!”
“Krishna? loe terima telefonnya?”
“Nggak sih! Loe lihat saja! Ada
tiga kali dia telefon loe!” kata Michele sambil masih menyiapkan
barang-barangnya, dan merapihkan meja kerjanya. “cowo baru loe ya?” tanya
Michele.
“Belum!”
“Maksud loe belum gimana?”
“Dia belum tahu kalau gue suka
sama dia!”
“Aduh, Kandita! Kenapa nggak loe
omongin saja ke dia?” kata Michele sambil memperhatikan raut wajah Kandita.
“Gue takut! Gue nggak mau
kejadian kemarin tuh terulang lagi!”
“Mau sampai kapan loe begini?”
Sampai
kapan pun Krishna tidak akan pernah mengetahui bahwa Kandita mencintai dirinya,
kalau Kandita tidak pernah mengeksplanasikan perasaannya, paling tidak beberapa
keywords untuk membuka pembicaraan. Kandita
memang sedang berada di belantara kebimbangan, tenggelam dalam telaga ketidak berdayaan,
dan terbawa angin ketidak pastian, dan kesemuaannya itu lebih disebabkan oleh
perasaannya kepada Krishna. Dan ternyata Krishna sudah menunggu di halte
stasiun Sudirman.
“Hei, dimana loe?” tanya Krishna
dari telefonnya.
“Gue masih di kantor nih!” katanya.
Nada bicaranya menunjukkan bahwa dia sebenarnya sedang tergesa-gesa.
“Gue tunggu di Sudirman nih!”
kata Krishna singkat.
Apa
lagi ini? Tadi pagi, Krishna menyeka keringat yang ada di keningnya. Dan
sekarang, dia menunggu di stasiun Sudirman? Apakah Krishna punya ilmu ngerti sak durunge winarah? Ilmu
mengetahui apa yang belum terjadi. Memang hanya orang pintar yang bisa memiliki
ilmu ini, bagaimana caranya? Belajar, membaca, dan memperhatikan ketika guru
atau dosen menjelaskan di kelas. Dahulu memang orang yang memiliki ilmu ini
identik dengan ilmu-ilmu supranatural. Tapi sekarang, untuk mengetahui apa yang
akan terjadi selanjutnya, seseorang harus mengamati sebuah masalah, dan
membelahnya dengan teori yang berhubungan dengan masalah tersebut.
“Ayo, cepetan! Kereta nya pasti
sudah di Tanah Abang!” kata Kandita sambil bergegas memasuki stasiun. Dia
berusaha sebisa mungkin untuk menghindari kontak mata dengan Krishna. dia tidak
ingin perasaannya yang berkecamuk di dalam hatinya diketahui oleh Krishna.
“Oh, iya!” jawab Krishna sambil
membarengi langkah kaki Kandita.
“Sudah lama nunggu?” tanya Kandita.
“Ya, dari gue telefon tadi!”
“Sori banget ya!” kata Kandita
dengan nada penyesalan.
“Santai saja kali! Cuma gue yang
pulangnya kesorean!”
“Ya sudah!”
“Pakai ini saja!” kata Krishna
sambil memberikan selembar uang dua puluh ribu kepada Kandita untuk membeli
karcis commuter line tujuan Citayam.
“Oh, thanks Krish!”
“Yups, ayo cepat!” setelah
membeli karcis, Kandita langsung bergerak ke arah Krishna yang sudah
menunggunya di entrance, gate masuk
bagi penumpang kereta. Kalau penumpang kereta listrik kebanyakan harusnya sudah
tahu apa itu entrance, kalau tidak tahu, jangan mengaku-ngaku sebagai penumpang
setia kereta listrik.
Kandita
masih berdiri disamping Krishna, di peron tunggu stasiun Sudirman. Dia tidak
mampu memandangi Krishna, meski dia sangat ingin. Dia hanya mampu memandangi
rel, bebatuan, bantalan rel, dan sesekali melihat lampu sinyal yang masih
berwarna merah. Dan kereta commuter line tujuan Depok pun masuk stasiun itu,
membuka pintunya bagi penumpang-penumpang yang akan naik kereta itu.
Kereta
pun berjalan perlahan meninggalkan stasiun Sudirman menuju stasiun selanjutnya,
stasiun Manggarai. Dan sepanjang perjalanan kereta itu, Kandita melamun
memikirkan mimpi yang tadi siang dialaminya. Mimpi yang dia tidak pernah tahu
apakah hubungannya dengan dirinya. Seorang pria muda yang memiliki dua tunas
pohon yang ditanam di belakang rumahnya, lalu dua pohon itu bertumbuh besar,
dan semakin besar. Pohon yang satu menggugurkan daunnya untuk kelangsungan
hidup di musim kemarau. Dan pohon yang lain terus mencari sumber air tanah. Apa
artinya? Siapa pria itu? Kenapa dia menabur benih mawar disekitar dua pohon
itu? Tidakkah ada tempat lain? Kandita, sabarlah! Pada waktunya nanti kamu akan
mengerti! Apa arti dari semua itu.
“Loe sudah makan belum?” tanya
Krishna.
“Belum! Mau makan di tempat
biasa? Loe nggak bosan Krish?” heran Kandita sambil masih membuka-buka
notifikasi facebook dari handphone nya.
“Loe ada referensi lain nggak?”
“Pecel lele? Nasi uduk?”
“Loe kayak lagi ngidam saja sih?
Apa memang loe lagi….”
“Ngomong apaan sih loe?” tampik Kandita.
“Sori! Tapi boleh juga! Loe tahu
nggak yang enak dimana?”
“Di pasar Krish!”
“Hm, boleh juga sih!”
“Memang nyokap loe nggak masak
sayur apa?” heran Kandita.
“Masak sih!”
“Terus bagaimana?”
“Biasanya buat sarapan!
Ngomong-ngomong, loe bisa masak nggak?” tanya Krishna.
“Masak apa? Masak air buat minum
bisa! Masak mie instan bisa! Masak nasi bisa!”
“Bagus tuh! Berarti loe calon ibu
rumah tangga yang baik!”
“Bisa saja loe Krish!” pipinya
tiba-tiba merona merah. Apa loe mau jadi kepala keluarganya Krish? Bathin Kandita.
Diperhatikan jalur tiga dari arah utara,
akan segera masuk KRL Commuter Line akan pulang ke dippo. KRL Commuter Line
tujuan Bogor, rangkaiannya berangkat dari stasiun Pondok Cina. KRL Commuter
Line tujuan Bogor berikutnya rangkaiannya masuk stasiun Lenteng Agung. Untuk
KRL Ekonomi tujuan Bogor, rangkaiannya berangkat stasiun Pasar Minggu.
Diperhatikan jalur tiga, seger masuk KRL Commuter Line, rangkaian pulang ke
dippo. Selamat malam, dan selamat datang saat ini anda berada di stasiun Depok,
harap perhatikan selalu karcis dan barang bawaan anda agar jangan sampai
tertinggal di dalam rangkaian kereta maupun di stasiun Depok. atas kepercayaan
anda telah menggunakan jasa angkutan kereta api, kami ucapkan terima kasih.
Announcer
baru saja selesai memberikan pengumuman kepada seluruh penumpang yang ada di
stasiun Depok. Kandita dan Krishna pun masih berdiri menunggu kereta tujuan
Bogor. Tanggung, tinggal satu stasiun lagi. Kereta yang akan masuk terlebih
dahulu adalah kereta commuter yang berangkat dari stasiun Jakarta Kota.
Ada
sedikit keluhan bagi penumpang yang menggunakan kereta itu. Semua penumpang
dari kereta yang melalui jalur pemberangkatan stasiun Jatinegara-Bogor,
diturunkan semua di stasiun Depok. Mau tidak mau, suka tidak suka, semua
penumpang itu harus naik kereta selanjutnya yang berangkat dari stasiun Jakarta
Kota. Bagi penumpang kereta kebanyakan, kepadatan ini adalah hal yang biasa
terjadi, lumrah adanya, jika tidak
terjadi kepadatan, maka keadaan itu dianggap sebagai keadaan yang ora umum.
Kereta
commuter Line tujuan Bogor pun perlahan masuk stasiun Depok, dan berhenti
ketika lampu sinyal berwarna merah. Sebagian penumpang turun dari rangkaian
kereta itu, dan semua penumpang yang tadi turun dari kereta yang masuk dippo,
segera meng-invasi kereta itu, dan bisa dibayangkan jika kapasitas penumpang
penuh dari dua kereta, dimasukkan kedalam satu kereta. Seperti sebuah truk
container yang hanya mampu mengangkut sepuluh ton barang, dipaksa untuk
mengangkut dua puluh ton. Sepertinya itu sudah dapat meng-analogikan penumpang
kereta yang berjejalan itu.
“Aduh, gila gue!” keluh Kandita.
“Gila kenapa loe?”
“Ya, kayak begini! Gimana gue
nggak gila!” gumam Kandita sambil meminum segelas air jeruk hangat nya.
“Yang sabar! Mungkin loe butuh
refreshing?”
“Kemana lagi?” jawab Kandita
sambil menyuapkan nasi uduk ke mulutnya.
“Enak nih kelihatannya!” seru
Krishna sambil membarengi Kandita makan.
“Ya enak lah!”
Mereka
menikmati makan malamnya itu. Nasi uduk, dan ayam goreng. Disamping itu, Kandita
juga menikmati wajah Krishna yang sedari tadi sore dipandanginya. Krishna,
Krishna, kamu ini bodoh atau tolol sih! Kamu mengaku dan diakui sebagai seorang
sarjana ilmu komunikasi dengan Indeks prestasi tiga koma dua puluh, tapi kamu
tidak bisa membaca isi pesan yang keluar dari mataku?
Ya
jelas Krishna tidak bisa menerima isi pernyataan dari mata Kandita. Komunikasi
non verbal mengandung lebih banyak arti daripada komunikasi verbal. Jadi
Krishna tidak mau menduga-duga apa gagasan yang dikirimkan oleh Kandita dari
matanya. Disamping itu, Krishna adalah sarjana ilmu komunikasi yang dicetak
untuk menjadi seorang komunikator, yaitu orang yang menyampaikan isi pesan.
Bukan sebagai komunikan, orang yang menerima isi pesan. Jadi wajar jika Krishna
tidak mengerti apa makna dari tatapan mata Kandita.
Makan
malam itu, Krishna yang membayarnya. Baru dapat bonus dari atasannya, karena
kerja nya yang bisa dikatakan diatas rata-rata teman-temannya.
“Sebentar!” Krishna menatap Kandita
dalam dan orang yang dipandang itu sangat berharap bahwa orang yang
memandangnya itu akan menyatakan perasaan cintanya melalui bahasa verbal.
“Ada nasi, di bibir loe!” kata
Krishna sambil mengambil sebutir nasi di bibir bawah Kandita. Ahhh… Dan lembut
jemari tangan Krishna yang tadi pagi mendarat lembut di keningnya, kini
mendarat di bibirnya.
Tadi
pagi kening, dan sekarang bibir Kandita yang disentuh oleh Krishna dengan
lembut jemari tangannya. Sebenarnya bukan disentuh, hanya disenggol, karena
niat Krishna sebenarnya memasukkan nasi yang ada di bibirnya ke dalam mulut Kandita.
Ah, kenapa Kandita berpikir yang tidak-tidak. Dia berharap suatu hari nanti
Krishna akan mengecup keningnya di pagi hari, dan mengecup bibirnya ketika
malam tiba. Ah, kenapa sampai kepikiran seperti itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar