Sabtu, 07 September 2013

Melati Gugur Di Medan Laga (lanjutan)


                Dua minggu berlalu sejak kejadian itu, letnan Andina masih mengurung diri di kamar. Kuncup di hatiku, yang lama kusimpan, hancur kini sebelum berkembang. Ya, mereka belum duduk di bangku pengantin, belum merasakan panasnya kasur pengantin di malam pertama, belum menikmati manisnya bulan madu. Cinta nya sudah layu sebelum berkembang. Sudah pukul tiga  itu, letnan Jono memang memohon ijin kepada atasannya untuk mengunjungi Andina, memberi penghiburan. Meski dia belum mengetahui apakah penghiburan itu sesungguhnya, tapi paling tidak dia pernah memberi semangat kepada prajurit Riyanto ketika di daerah operasi militer mendapat kabar bahwa orangtuanya sakit keras, dan sersan Narto ketika bertugas di perbatasan mendengar kabar bahwa istrinya yang sedang hamil mengalami keguguran.
“Andina tidak mau makan sejak terakhir kali mas letnan Naryo datang kemari, tiga hari yang lalu!” kata bu Wiwit kepada letnan Jono.
“Saya minta maaf bu, pak!” kata letnan Jono dengan penuh penyesalan.
“Jangan begitu mas letnan! Bapak sudah dengar ceritanya! Arifin memilih untuk masuk di tim teknis ‘kan! Itu pilihannya Arifin!”
“Saya minta maaf karena saya yang memberi pilihan itu!”
“Kami ikhlas! Artinya Andina memang bukan untuk Arifin!” kata pak Wiwit lagi.
            Andina masih saja tidak bisa menghentikan tangisannya, bukan karena dia merasa kehilangan tunangannya, tapi karena dia tidak mampu untuk melupakan tunangannya, calon suaminya yang empat belas hari yang  lalu gugur dalam tugasnya. Tiba-tiba dia mendengar suara ketukan di jendela kamarnya.
“Siapa?” tanya Andina.
“Rekan sejawat mu!”
“Naryo?” katanya sambil menyeka air matanya.
“Akh, kamu ini bagaimana? Masa tidak bisa membedakan suaraku dengan suara Naryo?”
“Jono!” Andina lalu membuka jendela itu. Dia mendorong daun jendela keluar kamarnya, dan tepat menghantam dahi letnan Jono.
“Dancuk!” kata letnan Jono sambil mengerang kesakitan.
“Eh, Jono, maaf! Maaf!!” katanya menyesal.
            Sudah dua minggu letnan Jono tidak bertemu dengan letnan Andina, keadaanya berbeda jauh dengan saat pertama kali bertemu. Dua minggu lalu letnan Andina berisi, setelah kejadian itu letnan Andina shock berat, dia mengurung diri dan mencoba melupakan kenangan antara dia dan Arifin. Bukan tidak mau Andina melupakan kenangannya dengan Arifin, tapi dia tidak mampu. Dia tidak sanggup, butuh waktu lima tahun untuk menjalin hubungan itu, dan mungkin butuh waktu belasan atau puluhan tahun untuk melupakan kejadian itu.
“Ini untuk kamu!” kata letnan Jono sambil memberikan sebuah kotak kecil.
“Apa ini?” heran letnan Andina sambil membuka kotak itu, dan letnan Andina sangat tidak menyangka kalau letnan Jono akan memberikan itu, sebuah brevet DENJAKA.
“Sejak kamu menerima tugas itu, kamu adalah salah satu dari kami!”
“Terima kasih ya!” kata letnan Andina sambil masih berusaha untuk meyakinkan matanya bahwa dia menerima brevet DENJAKA yang seharusnya diberikan kepada orang yang mumpuni untuk menerimanya.
“Kamu sakit?” tanya Jono.
“Nggak! Memangnya kenapa?”
“Muka mu pucat, badan mu juga kurus banget! Sudah makan?”
“Aku nggak lapar jo!”
“Makan itu untuk hidup, kalau kamu nggak makan, nanti kamu bisa sakit, tambah biaya lagi!”
“Aku ini anggota Angkatan Laut! Bisa kok berobat gratis di RSMC (Rumah Sakit Marinir Cilandak), atau di RSAL Mintohardjo!”
“Ah, iya juga ya!” letnan Jono berusaha mencari materi lain.
“Aku hanya ingin di rumah!”
“Sudah, makan saja dulu!”
“Temani aku makan!”
“Kamu yang masak?”
“Sekalipun aku bisa membuat satu masakan, itu hanya untuk Arifin!”
“Iya iya iya!”
“Aku mandi dulu! Kamu tunggulah sebentar di ruang tamu!” kata letnan Andina.
“Siap bu letnan!” ledek letnan Jono.
            Sudah jam enam sore itu bu Wiwit sudah menyiapkan makanan yang bisa dimasaknya. Sayur bening bayam, ikan bandeng dan tempe serta tahu goreng. Letnan Jono masih melihat raut kesedihan di wajah orangtua rekan sejawatnya itu, seharusnya hari itu mereka sudah melihat anaknya menikah. Tapi ternyata ada satu hal yang tidak diinginkan, jadi pernikahan itu dibatalkan. Raut kesedihan itu seakan menyuruh penyesalan kembali kedalam diri letnan Jono. Kalau saja dia bisa memerintahkan Arifin untuk masuk ke tim taktis, Arifin tidak akan tewas.
“Mas letnan, silakan dimakan!” kata pak Wiwit mempersilakan kepada tamunya.
“Ya, pak!”
            Ada perbedaan yang diam-diam diperhatikan oleh kedua orangtua Andina, antara letnan Naryo yang beberapa hari lalu datang untuk memberi penghiburan kepada Andina. Mereka menganggap mas letnan yang kemarin datang agak sedikit angkuh, berbeda dengan mas letnan yang sore itu makan bersama mereka, tidak mendongakkan kepala, sopan perawakannya. Pak Wiwit dapat melihat dari sikap mas letnan yang sekarang ketika berbicara dengan orang yang lebih tua.
“Mas letnan apakah sudah menikah?” tanya pak Wiwit setelah mereka selesai makan. Pertanyaan itu menurut Jono lebih tajam dari peluru caliber 50.
“B,b,belum pak!” kata letnan Jono dengan terbata.
“Hmm, sudah punya calon?” baginya, pertanyaan pak Wiwit lebih keras daripada pertanyaan interogasi pihak lawan.
“Belum pak!” katanya dengan suara yang tetap terbata. Letnan muda itu berharap pak Wiwit tidak melanjutkan pertanyaannya.
“Kemarin mas letnan Naryo cerita kalau kemu yang mendengar pesan terakhir dari Arifin!” deg! Letnan Jono berusaha menyusun perasaannya untuk mengatakan itu.
“Bapak hanya ingin tahu! Mas letnan Naryo tidak menceritakan apa yang dikatakan Arifin kepada kamu!” katanya lagi. Letnan Jono sudah tahu menjurus kemana pertanyaan itu jika dia benar-benar mengatakan apa yang dikatakan oleh Arifin kepadanya dua minggu lalu.
“Arifin, di akhir hidupnya meminta saya untuk menjaga Andina!” kata letnan Jono terbata; hatinya sangat ingin mengucapkan kejujuran dan kenyataan yang ada, tapi lidahnya sangat sulit.
“Apakah kamu sanggup?” pertanyaan kesanggupan lagi.
“Saya sanggup!” kata letnan Jono “Tapi tidak seperti Arifin yang menjaga Andina dengan sepenuh hidup, jiwa dan raganya!”
            Ya, kalimat itu mengalir begitu saja dari bibir letnan Jono. Letnan muda itu tidak pernah menyangka kalau dia akan mengatakan hal seperti itu. Dia pun termenung dan tertunduk, Jono memang tidak bisa menjaga Andina seperti Arifin menjaganya. Dia hanya bisa menjadi teman, bukan pendamping. Dia tidak mencintai Andina, dia hanya bisa menjadi seorang teman bukan sebagai seorang suami. Sudah hampir satu jam mereka duduk di teras itu.
“Pak, saya pamit kembali ke ksatrian!”
“Oh, ya mas letnan! Hati-hati!”
            Letnan Jono masih saja mencerna pertanyaan dari pak Wiwit, pertanyaan yang seolah meminta pertanggungjawaban atas kematian calon menantunya. Seolah-olah pak Wiwit meminta letnan Jono untuk menggantikan Arifin sebagai calon menantunya. Letnan Jono dengan halus menolak permintaan itu, karena letnan Jono tidak mencintai letnan Andina. Belum, belum ada rasa diantara mereka.
“Ngomong apa saja dengan pak Wiwit?” tanya letnan Naryo
“Dia tanya aku sudah punya istri apa belum? Terus sudah punya calon apa belum?”
“Aku juga ditanya begitu! Aku jawab saja kalau aku sudah punya calon!”
“Kamu punya solusi gak untuk hal ini?”
“Aku akan segera menikah, dan keluar dari masalah ini!” katanya.
“Ya, tinggal aku sendiri!”
“Tenang! Kalau dia memang jodoh mu? Cantik ‘kan, mirip briptu Eka NTMC!”
“Bukan masalah cantiknya!” tapi ada satu perasaan bersalah dalam diri letnan Jono karena melihat letnan Andina menangis.
“Jangan terlalu dipikirkan! Hal ini biasa dalam pertempuran ‘kan?” kata letnan Naryo yang langsung menghisap dalam rokoknya.
            Meski hal itu biasa terjadi di pertempuran, letnan Jono tidak menganggap masalah itu sebagai hal yang biasa, dia sulit untuk mendapat cap sebagai PHO (Penghancur Hubungan Orang) apa jadinya kalau letnan Andina menceritakan hal tersebut ke rekan-rekan di kesatuannya. Yang lebih menakutkan lagi kalau hal itu terjadi pada dirinya, jika dua minggu sebelum pernikahannya, seseorang membunuh letnan Jono, dan tunangannya tidak jadi menikah karena dia wafat. Mengenaskan sekali nasib Andina. Bathin letnan Jono sambil mengambil segelas air dan meminumnya. Di tengah kekalutannya, letnan Jono berusaha untuk tetap tenang. Dan tidak lama, handphone milik letnan Naryo berdering keras Andina menelfonnya.
“Halo, selamat malam!” letnan Naryo mengawali pembicaraannya di telepon itu. Seakan mengerti, dia lalu mengakhiri pembicaraan, menatap kawan se perjuangannya, dan dengan pasti dia mengatakan kebenaran beritanya.
“Andina pingsan! Dia akan segera dibawa ke RS!”
“Oh! Ya, bu Wiwit cerita, sejak terakhir kamu kesana, dia tidak mau makan nasi!!”
“Dia terlalu mencintai Arifin!”
Wis, ben wae Yo! Lha wong udu bojo ku! Udu mbak yu ku!” kata letnan Jono yang langsung masuk ke kamarnya, dan tidur.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Sudah jam enam pagi. Letnan Jono, letnan Naryo dan beberapa perwira lainnya yang tinggal di mess itu sudah siap untuk mengikuti apel pagi di kesatuannya masing-masing. Mereka masuk ke markas brigade dengan hormat dari petugas yang berjaga malam itu. Berbaris teratur seperti iringan bebek yang akan masuk ke kandangnya. Tepat lima menit setelah apel pagi berakhir, seorang prajurit muda berlari dari markas detasemen menuju letnan Jono yang masih berada di lapangan apel, prajurit Anto berlari dan memberi hormat kepada letnan Jono.
“Ada apa to?”
“Mohon ijin let! Letnan diminta menghadap ke kolonel Wahyudi sekarang!”
“Lanjutkan!” kata letnan Jono tenang
“Siap lanjutkan!” mendengar itu letnan Jono bergegas menemui kolonel Wahyudi, sambil memperbaiki seragamnya yang dirasanya sudah awut-awutan, perwira muda itu mengetuk pintu ruangan komandannya dan langsung mendapat sambutan dari komandannya.
“Masuk!” letnan Jono pun menuriti perintah itu, setelah sebelumnya memberi hormat. Rupa-rupanya letnan Naryo juga dipanggil ke ruangan itu. Apakah ini merupakan misi penting, apakah mereka akan kembali dikirim untuk menjalankan tugas negara.
“Siap menjalankan tugas!” tegas letnan Jono yang masih dalam posisi siap.
“Saya salut dengan tugas kalian!” dengan berhasilnya tim Nanggala melakukan operasi itu Indonesia dipertimbangkan di mata dunia. Tapi, tidak dapat dipungkiri juga bahwa korban fisik di pihak kawan bisa memberikan dampak buruk kepada psikis kawan. Contoh nyata adalah Andina, karena Arifin gugur, dia harus sakit karena psikisnya.
“Ini perintah! Segera kalian ke rumah sakit! Beri penguatan kepada dia yang terluka!”
“Siap ndan!” tegas kedua letnan muda itu yang lalu menjalankan tugasnya.
            Letnan Jono dan letnan Naryo bergegas menuju Rumah Sakit Marinir Cilandak, letaknya di belakang markas brigade, tidak terlalu jauh mereka hanya perlu lewat pintu belakang di dekat batalyon enam, ternyata ada peraturan baru dari komandan brigade, bahwa pintu belakang tidak boleh dibuka mulai pukul delapan pagi hingga jam tiga sore.
“Maaf ndan, ini perintah DANBRIG!” kata sersan Dwi, seorang bintara jaga di batalyon 6 Marinir, letnan Naryo lalu membaca-baca surat perintah yang diturunkan kepadanya.
“Ini perintah DANKORMAR!” kata letnan Naryo sambil menunjukkan surat perintah yang dipegangnya.
“Sebentar ndan, saya ingin ambil kunci sebentar!”
“Ya! Segera!” tidak lama setelah sersan Dwi berlari ke pos penjagaan, mayor Latief yang ternyata memperhatikan mereka dari mushalla batalyon 6 tiba-tiba menghampirinya dan kedua letnan itu lalu bersiap, memberi hormat dan sikap sempurna.
“Ada masalah apa letnan? Detasemen Jalamangkara?”
“Mohon ijin menjalankan perintah!”
“perintah-perintah siapa? Mbah mu?” ada sebuah sentiment pribadi didalam diri mayor Latief kepada letnan Jono, karena semasa letnan Jono menjadi anak buahnya, dia selalu membuat kesalahan sehingga mayor Latief yng kadang harus menanggung malu bahkan dimarahi oleh komandan yang lebih tinggi karena tidak bisa mendidik anak buahnya. Tidak lama, sersan Dwi datang, dengan membawa kunci dan surat perintah yang turun kepada letnan Jono dan letnan Naryo.
“Perintah siapa san?” tanya mayor Latief kepada sersan Dwi.
“Siap, perintah DANKORMAR!” kata sersan Dwi sambil memberikan surat itu kepada mayor Latief. Wajahnya berubah merah padam, dia ingin marah, tapi tidak bisa.
“Sudah, cepat buka!” perintahnya.
“Siap ndan!” tegas sersan Dwi.
“Sudah kamu! Cepat jalankan perintah!” perintah mayor Latief.
“Dari mbah!” gumam letnan Jono.
            Mereka pun masuk rumah sakit itu dengan penuh kebingungan, dimana letnan Andina dirawat, dengan siapa mereka harus bertemu, dan kebingungan letnan Jono tiba-tiba hilang ketika dia melihat seorang dengan seragam perawat, berambut panjang, dengan tinggi badan seratus tujuh puluh delapan sentimeter, ketika dia memakai sepatu hak tinggi, tingginya menjadi seratus delapan puluh lima, sudah jelas letnan Jono harus mendongak jika berbicara dengan suster itu. Suster Rahmawati, wajahnya tidak jauh berbeda dengan wajah presenter cantik Indy Rahmawati membuat letnan Jono harus terpukau, terpana ketika dia melihat suster itu.
“Selamat pagi, suster!” letnan Jono berusaha mengawali pembicaraan.
“Ya, ada yang bisa dibantu, pak?”
“Saya ingin menjenguk letnan Andina!” kata letnan Jono sambil mencari surat perintah, yang ternyata sedang dipegang oleh letnan Naryo.
“Maaf, bapak siapanya?”
“Calon suami!” kata letnan Naryo menunjuk temannya itu.
“Oh, iya! Kebetulan saya juga akan kesana! Mari, saya hantar!”
“Maaf, mbak dia sakit apa ya?”
“Gejala tipes! Mungkin terlalu lelah!” katanya lagi. “Calon suaminya letnan Andina bukannya dari kepolisian ya?”
“Itu tunangannya!” kata letnan Naryo lagi “Calon suaminya, dari DENJAKA!”
“Dancuk kon!” misuh letnan Jono sambil berbisik.
“Oh, pak Jono ya calon suaminya!”
“Mbak, jangan panggil saya pak!” gumam letnan Jono.
“Oh, maaf let!”
“Panggilnya mas aja! Mas Jono!”
“Oh, iya mas!” kata suster itu sambil senyum tersipu.
“Kan enak! Jadi lebih dekat gitu! Saya bukan calon suaminya! Hanya rekan kerja nya!”
“Oh, iya mas! Saya sudah dengar cerita kalian disana!” kata suster Rahma.
“saya komandan teknis nya!” gurau letnan Naryo.
“Komandan taktis nya juga hebat menurut saya!”
“Kalau komandan taktis nya hebat, tidak akan jadi seperti ini!” datar letnan Jono.
“Maaf mas!” kata suster Rahma seakan mengerti penyesalan dalam diri letnan Jono.
“Mas Jono, letnan Naryo, ini ruang perwatan letnan Andina!” kata suster Rahma sesaat setelah memasuki paviliun perawatan.
“Terima kasih mbak!” kata letnan Jono sambil tersenyum.
            Letnan Andina masih terbaring di tempat tidur perawatan, di pojok ruangan itu, selang infus tertancap di lengan kirinya, dan langsung terhubung dengan cairan infus yang digantung disamping tempat tidur, selimutnya menutupi tubuhnya, tapi tidak lengan kirinya yang menjadi pintu masuk cairan infus. Belum ada buah-buahan di sekitar situ, artinya dia baru saja masuk ruang perawatan itu, di kursi yang disediakan untuk pengunjung terlipat dengan rapih baju Pakaian Dinas Lapangan, dan Pakaian Dinas Harian TNI-AL milik letnan Andina.
“Jo, aku keluar sebentar!” kata Naryo memohon diri.
“Ya, hati-hati!” katanya kepada letnan Naryo.
            Letnan Jono masih memandangi temannya yang terbaring di kasur itu. Hanya satu yang terbersit didalam pikirannya, penyesalan akan pilihan yang diberikan kepada iptu Arifin, kalau waktu itu dia tidak memberikan pilihan, Arifin tidak akan tewas, kalau Arifin tidak tewas mereka akan menikah, kalau mereka menikah, Andina tidak akan susah makan, kalau Andina tidak susah makan, dia tidak akan masuk rumah sakit.
“Maaf Andina!” kata letnan Jono lirih.
            Letnan Andina baru terbangun dari tidurnya, wajahnya yang cantik agak sedikit memudar, pucat karena sakit. Dia melihat letnan Jono sudah tegak disamping tempat tidurnya, letnan Andina berusaha untuk duduk, tapi letnan Jono mencegahnya. Dengan lembut, letnan Jono menahan bahu letnan Andina.
“Kamu tiduran saja, kamu pasti kurang istirahat!” kata letnan Jono sambil merebahkan kembali letnan Andina. Dan ketika itu, suster Rahma masuk untuk mensuplai obat ke letnan Andina.
“Mas, saya ingin menghantar obat untuk letnan Andina!”
“Oh, iya silahkan mbak!”
“Letnan Andina belum sarapan! Saya sarankan untuk menghabiskan sarapannya dulu!” katanya lagi sambil menaruh beberapa jenis obat di meja “Setelah itu, bisa panggil saya untuk menyuntikkan obat!”
“Iya mbak! Terima kasih!”
“Mas, mungkin bisa bantu letnan Andina” katanya yang langsung memohon diri.
“Oh, iya!” segera saja letnan Jono menyuapi Andina.
“Kalau aku nggak salah denger, tadi dia manggil kamu ‘mas’ memangnya dia adikmu?” tanya Andina.
“Bukan!” gumam letnan Jono. Letnan Andina lalu memandangi letnan Jono dengan tatapan meledek, dan sedikit mesam-mesem sendiri.
“Kalau bukan adik mu, kenapa dia manggil kamu dengan sebutan itu?”
“Aku yang meminta dia!”
“Pacar mu?” canda letnan Andina.
“Doakan ya!”
“Aku doakan yang terbaik untuk kamu!”
“Memangnya siapa kamu? Bukan ibuku, bukan pacarku, bukan mbak ku!”
“Anggaplah aku salah satu dari mereka!”
“Sudah minum dulu! Aku akan panggil suster Rahma!”
“Kenapa kamu nggak tekan bel ini?” kata letnan Andina sambil menunjukkan tombol yang jika ditekan akan langsung terhubung dengan perawat yang bertugas.
Please Andina! Give me a chance!” kata letnan Jono.
“Cie, mentang-mentang pernah latihan sama marinir Amerika, ngomong nya pakai bahasa inggris segala! Iya!” letnan Jono lalu keluar dan menuju tempat suster Rahma. Sekitar sepuluh menit, letnan Jono sudah kembali bersama suster Rahma.
“sebentar ya, bu!”
“suster, jangan panggil saya begitu!”
“Oh, iya letnan!”
“Panggil saya Andina saja! Saya sedang tidak bertugas!”
“Ya, Andina!” katanya sambil tersenyum, dan menyiapkan obat untuk letnan Andina.
“Rahma, saya boleh tanya?” kata Andina.
“Boleh! Tanya apa?”
“Kamu sudah menikah?”
“Belum! Belum ada cincin ‘kan di tangan ku?” katanya sambil menunjukkan kedua telapak tangannya.
“Apakah kita mengalami hal yang sama?” tanya letnan Andina sambil meraih telapak tangan Rahma, dan melihat tanda di jari manis tangan kanannya. Ada tanda bekas cincin, dan letnan Jono terkesiap melihat itu.
“Sepertinya begitu!” matanya berkaca-kaca setiap ingat kejadian itu, kejadian yang sulit untuk dilupakan.
“Maaf, bukan maksud saya!” kata Andina sambil memberikan beberapa lembar tisu untuk menyeka air mata Rahma yang perlahan mulai menetes, membasahi pipinya.
“Sudah, jangan menangis! I don’t wanna see you crying!” kata letnan Jono sambil berusaha untuk menyeka air mata suster Rahma, namun apa yang terjadi, tangan kanan Andina segera menepis tangan letnan Jono.
“Kamu apaan sih!” tukas nya, dan letnan Jono hanya termangu. Suster Rahma lalu tertawa.
“Suster, kamu belum stress ‘kan?”
“Nggak, saya jadi merasa terhibur”
“Terhibur kenapa?” heran Andina.
“Seorang anggota Detasemen Jalamangkara, ternyata hanya takut sama perempuan!” dan, Andina tertawa kecil mendengar celetukan itu.
            Setelah suster Rahma kembali ke ruangannya, letnan Jono mencari tempat duduk di sekitar ranjang itu. Ada seragam milik Andina di situ, jadi letnan Jono hanya berdiri sambil mencoba mencari materi untuk menghibur Andina. Dia merasa bahwa Andina belum sepenuhnya memaafkan kesalahannya. Dia merasa kalau Andina masih menyalahkan dia atas kejadian yang menimpa Arifin, tentu saja menimpa dirinya juga. Letnan Andina lalu duduk di pinggiran ranjangnya. Kakinya yang panjang menggantung di pinggiran tempat tidur. Kini mereka sudah saling berhadapan, saling menatap.
“Maafkan aku!” kata letnan Jono.
“Untuk apa?” heran letnan Andina.
“Maaf, karena aku telah menyebabkan semua ini!” letnan Andina tidak menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’ dia hanya memandangi letnan Jono, matanya mulai berkaca-kaca. Dengan penuh kesadaran, letnan Andina melayangkan tamparan ke pipi letnan Jono. Komandan peleton itu pun kaget, tapi dia berusaha untuk menyembunyikan kekagetannya itu dengan menunduk, terpekur memandangi jemari kaki letnan Andina, bukan hanya pipinya yang panas, tapi juga hatinya.  
“Jono, tatap mataku!” perlahan, letnan Jono mengarahkan pandangan ke wajah letnan Andina. Dia melihat mata rekannya yang mulai berkaca-kaca, jika tangan letnan Andina menampar pipinya, maka matanya menampar hatinya lebih keras dari tamparan ke arah pipinya. Hatinya semakin panas, dia sangat ingin memaki dirinya sendiri. Letnan Jono hampir terjerembab dalam jurang kekalutan.  
“Aku sudah berusaha untuk melupakan kejadian itu! Aku sudah berusaha untuk membangun hidup baru! Aku sudah berusaha untuk melupakan Arifin!” dia menatap letnan Jono dengan sangat dalam, sehingga letnan Jono harus memendam penyesalannya.
“Sekarang kamu mengingatkanku tentang dia!”
“Maaf!” kata letnan Jono sambil membelai bahu letnan Andina. Letnan Andina diam, tanpa kata, dan membalas perlakuan letnan Jono dengan pelukan, dan membenamkan kepalanya di dada letnan Jono.
“Tolong! Bantu aku untuk melupakan semua itu!”
“Ya, aku pasti bantu kamu!” katanya sambil membalas pelukan itu, dan membelai kepala letnan Andina. Baru kali itu letnan Andina merasakan kenyamanan yang teramat sangat, belum pernah dia merasakan kedamaian itu sebelumnya, begitupun yang dialami oleh letnan Jono, sampai-sampai dia tidak menyadari kehadiran letnan Naryo, suster Rahma, dan dokter Maya di ruangan itu. Bukan tidak mungkin suster Rahma melihat kejadian itu, dan suster Rahma juga tidak menyalahkan mereka berdua.
“Aku pasti bantu kamu untuk melupakan dia!” bisik letnan Jono lagi.
“Terima kasih!” lirih letnan Andina.
“Selamat pagi! Saya akan memeriksa keadaan letnan Andina!” kata dokter Maya mengagetkan mereka. Dokter Maya adalah bekas atasan letnan Andina ketika masih bertugas di Markas Komando Armada RI Kawasan Timur, atau lebih sering dikenal dengan MAKO ARMATIM di Surabaya.
“Silahkan bu dokter!” kata letnan Jono setelah sebelumnya memberi hormat kepada dokter berpangkat mayor itu.
            Keadaannya belum pulih, letnan Andina masih harus banyak beristirahat, dan perawatan yang cukup, letnan Andina belum boleh makan makanan yang macam-macam. Penyakit yang ada di dalam diri letnan Andina lebih karena tekanan psikologis yang menyiksa, ada hal yang memaksa dia untuk melupakan Arifin. Hal itu yang terkadang membuatnya sakit, beban dalam hatinya lebih menyiksa daripada virus Salmonella Thypii yang menyerang tubuhnya.
“Siapa yang jaga kamu Andina?” tanya dokter Maya. Letnan Andina sejanak menatap letnan Jono.
“Siap, ibu saya mohon ijin!” katanya.
“Lalu, letnan Naryo dan letnan Jono?”
“Kami menjalankan perintah bu!” kata letnan Naryo sambil menunjukkan surat perintah kepada dokter Maya.
“Oh, ya sudah! Semoga cepat sembuh ya!”
“Ya, dokter terima kasih!” kata letnan Andina. Ketika dokter Maya dan Suster Rahma hendak meninggalkan ruangan itu, letnan Jono memohon ijin kepada dokter Maya untuk berbicara sebentar dengan suster Rahma.
“Mbak, nanti istirahat siang jam berapa?”
“Hm, sekitar setengah satu mas! Memang kenapa?”
“Saya ingin ajak kamu makan siang bareng!” kata letnan Jono sedikit terbata.
“Letnan Andina siapa yang jaga?”
“Naryo!” singkat letnan Jono. “Jadi, kamu mau gak?”
“Ya, aku mau!” katanya sambil tersipu. Dan letnan Jono kembali ke ruangan dengan senyum sumringah.
            Letnan Andina dapat mengetahui apa yang dirasakan oleh letnan Jono. Satu kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan, satu perasaan bahagia, seperti setetes embun di tengah gersangnya gurun. Seperti setitik cahaya lilin di tengah kegelapan malam. Tapi bagaimana dengan letnan Naryo? Dia tidak mengerti, dia bukan letnan Andina, jadi dia tidak mengerti. Dia menatap letnan Jono dan.
“Wis mangan opo urung kowe?” katanya sambil memberikan sepotong roti
“Ya, nanti aku makan! Sama mbak Rahma!” jawab letnan Jono sambil memakan roti yang diberikan oleh Naryo.
“Wah, hebat kamu Jono!” kata Andina sambil tersenyum.
“Bukan apa-apa!” gurau letnan Jono.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar