Dua minggu berlalu sejak kejadian itu,
letnan Andina masih mengurung diri di kamar. Kuncup di hatiku, yang lama
kusimpan, hancur kini sebelum berkembang. Ya, mereka belum duduk di bangku
pengantin, belum merasakan panasnya kasur pengantin di malam pertama, belum
menikmati manisnya bulan madu. Cinta nya sudah layu sebelum berkembang. Sudah
pukul tiga itu, letnan Jono memang
memohon ijin kepada atasannya untuk mengunjungi Andina, memberi penghiburan.
Meski dia belum mengetahui apakah penghiburan itu sesungguhnya, tapi paling
tidak dia pernah memberi semangat kepada prajurit Riyanto ketika di daerah
operasi militer mendapat kabar bahwa orangtuanya sakit keras, dan sersan Narto
ketika bertugas di perbatasan mendengar kabar bahwa istrinya yang sedang hamil
mengalami keguguran.
“Andina tidak mau makan sejak terakhir
kali mas letnan Naryo datang kemari, tiga hari yang lalu!” kata bu Wiwit kepada
letnan Jono.
“Saya minta maaf bu, pak!” kata letnan Jono
dengan penuh penyesalan.
“Jangan begitu mas letnan! Bapak sudah
dengar ceritanya! Arifin memilih untuk masuk di tim teknis ‘kan! Itu pilihannya
Arifin!”
“Saya minta maaf karena saya yang
memberi pilihan itu!”
“Kami ikhlas! Artinya Andina memang
bukan untuk Arifin!” kata pak Wiwit lagi.
Andina
masih saja tidak bisa menghentikan tangisannya, bukan karena dia merasa
kehilangan tunangannya, tapi karena dia tidak mampu untuk melupakan
tunangannya, calon suaminya yang empat belas hari yang lalu gugur dalam tugasnya. Tiba-tiba dia
mendengar suara ketukan di jendela kamarnya.
“Siapa?” tanya Andina.
“Rekan sejawat mu!”
“Naryo?” katanya sambil menyeka air
matanya.
“Akh, kamu ini bagaimana? Masa tidak
bisa membedakan suaraku dengan suara Naryo?”
“Jono!” Andina lalu membuka jendela itu.
Dia mendorong daun jendela keluar kamarnya, dan tepat menghantam dahi letnan Jono.
“Dancuk!” kata letnan Jono sambil
mengerang kesakitan.
“Eh, Jono, maaf! Maaf!!” katanya
menyesal.
Sudah
dua minggu letnan Jono tidak bertemu dengan letnan Andina, keadaanya berbeda
jauh dengan saat pertama kali bertemu. Dua minggu lalu letnan Andina berisi,
setelah kejadian itu letnan Andina shock berat, dia mengurung diri dan mencoba
melupakan kenangan antara dia dan Arifin. Bukan tidak mau Andina melupakan
kenangannya dengan Arifin, tapi dia tidak mampu. Dia tidak sanggup, butuh waktu
lima tahun untuk menjalin hubungan itu, dan mungkin butuh waktu belasan atau
puluhan tahun untuk melupakan kejadian itu.
“Ini untuk kamu!” kata letnan Jono
sambil memberikan sebuah kotak kecil.
“Apa ini?” heran letnan Andina sambil
membuka kotak itu, dan letnan Andina sangat tidak menyangka kalau letnan Jono
akan memberikan itu, sebuah brevet DENJAKA.
“Sejak kamu menerima tugas itu, kamu
adalah salah satu dari kami!”
“Terima kasih ya!” kata letnan Andina
sambil masih berusaha untuk meyakinkan matanya bahwa dia menerima brevet
DENJAKA yang seharusnya diberikan kepada orang yang mumpuni untuk menerimanya.
“Kamu sakit?” tanya Jono.
“Nggak! Memangnya kenapa?”
“Muka mu pucat, badan mu juga kurus
banget! Sudah makan?”
“Aku nggak lapar jo!”
“Makan itu untuk hidup, kalau kamu nggak
makan, nanti kamu bisa sakit, tambah biaya lagi!”
“Aku ini anggota Angkatan Laut! Bisa kok
berobat gratis di RSMC (Rumah Sakit Marinir Cilandak), atau di RSAL Mintohardjo!”
“Ah, iya juga ya!” letnan Jono berusaha
mencari materi lain.
“Aku hanya ingin di rumah!”
“Sudah, makan saja dulu!”
“Temani aku makan!”
“Kamu yang masak?”
“Sekalipun aku bisa membuat satu
masakan, itu hanya untuk Arifin!”
“Iya iya iya!”
“Aku mandi dulu! Kamu tunggulah sebentar
di ruang tamu!” kata letnan Andina.
“Siap bu letnan!” ledek letnan Jono.
Sudah
jam enam sore itu bu Wiwit sudah menyiapkan makanan yang bisa dimasaknya. Sayur
bening bayam, ikan bandeng dan tempe serta tahu goreng. Letnan Jono masih
melihat raut kesedihan di wajah orangtua rekan sejawatnya itu, seharusnya hari
itu mereka sudah melihat anaknya menikah. Tapi ternyata ada satu hal yang tidak
diinginkan, jadi pernikahan itu dibatalkan. Raut kesedihan itu seakan menyuruh
penyesalan kembali kedalam diri letnan Jono. Kalau saja dia bisa memerintahkan Arifin
untuk masuk ke tim taktis, Arifin tidak akan tewas.
“Mas letnan, silakan dimakan!” kata pak
Wiwit mempersilakan kepada tamunya.
“Ya, pak!”
Ada
perbedaan yang diam-diam diperhatikan oleh kedua orangtua Andina, antara letnan
Naryo yang beberapa hari lalu datang untuk memberi penghiburan kepada Andina.
Mereka menganggap mas letnan yang kemarin datang agak sedikit angkuh, berbeda
dengan mas letnan yang sore itu makan bersama mereka, tidak mendongakkan
kepala, sopan perawakannya. Pak Wiwit dapat melihat dari sikap mas letnan yang
sekarang ketika berbicara dengan orang yang lebih tua.
“Mas letnan apakah sudah menikah?” tanya
pak Wiwit setelah mereka selesai makan. Pertanyaan itu menurut Jono lebih tajam
dari peluru caliber 50.
“B,b,belum pak!” kata letnan Jono dengan
terbata.
“Hmm, sudah punya calon?” baginya,
pertanyaan pak Wiwit lebih keras daripada pertanyaan interogasi pihak lawan.
“Belum pak!” katanya dengan suara yang
tetap terbata. Letnan muda itu berharap pak Wiwit tidak melanjutkan pertanyaannya.
“Kemarin mas letnan Naryo cerita kalau
kemu yang mendengar pesan terakhir dari Arifin!” deg! Letnan Jono berusaha
menyusun perasaannya untuk mengatakan itu.
“Bapak hanya ingin tahu! Mas letnan
Naryo tidak menceritakan apa yang dikatakan Arifin kepada kamu!” katanya lagi. Letnan
Jono sudah tahu menjurus kemana pertanyaan itu jika dia benar-benar mengatakan
apa yang dikatakan oleh Arifin kepadanya dua minggu lalu.
“Arifin, di akhir hidupnya meminta saya
untuk menjaga Andina!” kata letnan Jono terbata; hatinya sangat ingin
mengucapkan kejujuran dan kenyataan yang ada, tapi lidahnya sangat sulit.
“Apakah kamu sanggup?” pertanyaan
kesanggupan lagi.
“Saya sanggup!” kata letnan Jono “Tapi
tidak seperti Arifin yang menjaga Andina dengan sepenuh hidup, jiwa dan
raganya!”
Ya,
kalimat itu mengalir begitu saja dari bibir letnan Jono. Letnan muda itu tidak
pernah menyangka kalau dia akan mengatakan hal seperti itu. Dia pun termenung
dan tertunduk, Jono memang tidak bisa menjaga Andina seperti Arifin menjaganya.
Dia hanya bisa menjadi teman, bukan pendamping. Dia tidak mencintai Andina, dia
hanya bisa menjadi seorang teman bukan sebagai seorang suami. Sudah hampir satu
jam mereka duduk di teras itu.
“Pak, saya pamit kembali ke ksatrian!”
“Oh, ya mas letnan! Hati-hati!”
Letnan
Jono masih saja mencerna pertanyaan dari pak Wiwit, pertanyaan yang seolah
meminta pertanggungjawaban atas kematian calon menantunya. Seolah-olah pak
Wiwit meminta letnan Jono untuk menggantikan Arifin sebagai calon menantunya.
Letnan Jono dengan halus menolak permintaan itu, karena letnan Jono tidak
mencintai letnan Andina. Belum, belum ada rasa diantara mereka.
“Ngomong apa saja dengan pak Wiwit?”
tanya letnan Naryo
“Dia tanya aku sudah punya istri apa
belum? Terus sudah punya calon apa belum?”
“Aku juga ditanya begitu! Aku jawab saja
kalau aku sudah punya calon!”
“Kamu punya solusi gak untuk hal ini?”
“Aku akan segera menikah, dan keluar
dari masalah ini!” katanya.
“Ya, tinggal aku sendiri!”
“Tenang! Kalau dia memang jodoh mu?
Cantik ‘kan, mirip briptu Eka NTMC!”
“Bukan masalah cantiknya!” tapi ada satu
perasaan bersalah dalam diri letnan Jono karena melihat letnan Andina menangis.
“Jangan terlalu dipikirkan! Hal ini
biasa dalam pertempuran ‘kan?” kata letnan Naryo yang langsung menghisap dalam
rokoknya.
Meski
hal itu biasa terjadi di pertempuran, letnan Jono tidak menganggap masalah itu
sebagai hal yang biasa, dia sulit untuk mendapat cap sebagai PHO (Penghancur
Hubungan Orang) apa jadinya kalau letnan Andina menceritakan hal tersebut ke
rekan-rekan di kesatuannya. Yang lebih menakutkan lagi kalau hal itu terjadi
pada dirinya, jika dua minggu sebelum pernikahannya, seseorang membunuh letnan Jono,
dan tunangannya tidak jadi menikah karena dia wafat. Mengenaskan sekali nasib
Andina. Bathin letnan Jono sambil mengambil segelas air dan meminumnya. Di
tengah kekalutannya, letnan Jono berusaha untuk tetap tenang. Dan tidak lama,
handphone milik letnan Naryo berdering keras Andina menelfonnya.
“Halo, selamat malam!” letnan Naryo
mengawali pembicaraannya di telepon itu. Seakan mengerti, dia lalu mengakhiri
pembicaraan, menatap kawan se perjuangannya, dan dengan pasti dia mengatakan
kebenaran beritanya.
“Andina pingsan! Dia akan segera dibawa
ke RS!”
“Oh! Ya, bu Wiwit cerita, sejak terakhir
kamu kesana, dia tidak mau makan nasi!!”
“Dia terlalu mencintai Arifin!”
“Wis,
ben wae Yo! Lha wong udu bojo ku! Udu
mbak yu ku!” kata letnan Jono yang langsung masuk ke kamarnya, dan tidur.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sudah
jam enam pagi. Letnan Jono, letnan Naryo dan beberapa perwira lainnya yang
tinggal di mess itu sudah siap untuk mengikuti apel pagi di kesatuannya
masing-masing. Mereka masuk ke markas brigade dengan hormat dari petugas yang
berjaga malam itu. Berbaris teratur seperti iringan bebek yang akan masuk ke
kandangnya. Tepat lima menit setelah apel pagi berakhir, seorang prajurit muda
berlari dari markas detasemen menuju letnan Jono yang masih berada di lapangan
apel, prajurit Anto berlari dan memberi hormat kepada letnan Jono.
“Ada apa to?”
“Mohon ijin let! Letnan diminta
menghadap ke kolonel Wahyudi sekarang!”
“Lanjutkan!” kata letnan Jono tenang
“Siap lanjutkan!” mendengar itu letnan Jono
bergegas menemui kolonel Wahyudi, sambil memperbaiki seragamnya yang dirasanya
sudah awut-awutan, perwira muda itu mengetuk pintu ruangan komandannya dan
langsung mendapat sambutan dari komandannya.
“Masuk!” letnan Jono pun menuriti
perintah itu, setelah sebelumnya memberi hormat. Rupa-rupanya letnan Naryo juga
dipanggil ke ruangan itu. Apakah ini merupakan misi penting, apakah mereka akan
kembali dikirim untuk menjalankan tugas negara.
“Siap menjalankan tugas!” tegas letnan Jono
yang masih dalam posisi siap.
“Saya salut dengan tugas kalian!” dengan
berhasilnya tim Nanggala melakukan operasi itu Indonesia dipertimbangkan di
mata dunia. Tapi, tidak dapat dipungkiri juga bahwa korban fisik di pihak kawan
bisa memberikan dampak buruk kepada psikis kawan. Contoh nyata adalah Andina,
karena Arifin gugur, dia harus sakit karena psikisnya.
“Ini perintah! Segera kalian ke rumah
sakit! Beri penguatan kepada dia yang terluka!”
“Siap ndan!” tegas kedua letnan muda itu
yang lalu menjalankan tugasnya.
Letnan
Jono dan letnan Naryo bergegas menuju Rumah Sakit Marinir Cilandak, letaknya di
belakang markas brigade, tidak terlalu jauh mereka hanya perlu lewat pintu
belakang di dekat batalyon enam, ternyata ada peraturan baru dari komandan
brigade, bahwa pintu belakang tidak boleh dibuka mulai pukul delapan pagi
hingga jam tiga sore.
“Maaf ndan, ini perintah DANBRIG!” kata
sersan Dwi, seorang bintara jaga di batalyon 6 Marinir, letnan Naryo lalu
membaca-baca surat perintah yang diturunkan kepadanya.
“Ini perintah DANKORMAR!” kata letnan
Naryo sambil menunjukkan surat perintah yang dipegangnya.
“Sebentar ndan, saya ingin ambil kunci
sebentar!”
“Ya! Segera!” tidak lama setelah sersan
Dwi berlari ke pos penjagaan, mayor Latief yang ternyata memperhatikan mereka
dari mushalla batalyon 6 tiba-tiba menghampirinya dan kedua letnan itu lalu
bersiap, memberi hormat dan sikap sempurna.
“Ada masalah apa letnan? Detasemen
Jalamangkara?”
“Mohon ijin menjalankan perintah!”
“perintah-perintah siapa? Mbah mu?” ada
sebuah sentiment pribadi didalam diri mayor Latief kepada letnan Jono, karena
semasa letnan Jono menjadi anak buahnya, dia selalu membuat kesalahan sehingga
mayor Latief yng kadang harus menanggung malu bahkan dimarahi oleh komandan
yang lebih tinggi karena tidak bisa mendidik anak buahnya. Tidak lama, sersan
Dwi datang, dengan membawa kunci dan surat perintah yang turun kepada letnan Jono
dan letnan Naryo.
“Perintah siapa san?” tanya mayor Latief
kepada sersan Dwi.
“Siap, perintah DANKORMAR!” kata sersan
Dwi sambil memberikan surat itu kepada mayor Latief. Wajahnya berubah merah
padam, dia ingin marah, tapi tidak bisa.
“Sudah, cepat buka!” perintahnya.
“Siap ndan!” tegas sersan Dwi.
“Sudah kamu! Cepat jalankan perintah!”
perintah mayor Latief.
“Dari mbah!” gumam letnan Jono.
Mereka
pun masuk rumah sakit itu dengan penuh kebingungan, dimana letnan Andina
dirawat, dengan siapa mereka harus bertemu, dan kebingungan letnan Jono
tiba-tiba hilang ketika dia melihat seorang dengan seragam perawat, berambut
panjang, dengan tinggi badan seratus tujuh puluh delapan sentimeter, ketika dia
memakai sepatu hak tinggi, tingginya menjadi seratus delapan puluh lima, sudah
jelas letnan Jono harus mendongak jika berbicara dengan suster itu. Suster
Rahmawati, wajahnya tidak jauh berbeda dengan wajah presenter cantik Indy
Rahmawati membuat letnan Jono harus terpukau, terpana ketika dia melihat suster
itu.
“Selamat pagi, suster!” letnan Jono
berusaha mengawali pembicaraan.
“Ya, ada yang bisa dibantu, pak?”
“Saya ingin menjenguk letnan Andina!”
kata letnan Jono sambil mencari surat perintah, yang ternyata sedang dipegang
oleh letnan Naryo.
“Maaf, bapak siapanya?”
“Calon suami!” kata letnan Naryo
menunjuk temannya itu.
“Oh, iya! Kebetulan saya juga akan
kesana! Mari, saya hantar!”
“Maaf, mbak dia sakit apa ya?”
“Gejala tipes! Mungkin terlalu lelah!”
katanya lagi. “Calon suaminya letnan Andina bukannya dari kepolisian ya?”
“Itu tunangannya!” kata letnan Naryo
lagi “Calon suaminya, dari DENJAKA!”
“Dancuk kon!” misuh letnan Jono sambil
berbisik.
“Oh, pak Jono ya calon suaminya!”
“Mbak, jangan panggil saya pak!” gumam
letnan Jono.
“Oh, maaf let!”
“Panggilnya mas aja! Mas Jono!”
“Oh, iya mas!” kata suster itu sambil
senyum tersipu.
“Kan enak! Jadi lebih dekat gitu! Saya
bukan calon suaminya! Hanya rekan kerja nya!”
“Oh, iya mas! Saya sudah dengar cerita
kalian disana!” kata suster Rahma.
“saya komandan teknis nya!” gurau letnan
Naryo.
“Komandan taktis nya juga hebat menurut
saya!”
“Kalau komandan taktis nya hebat, tidak
akan jadi seperti ini!” datar letnan Jono.
“Maaf mas!” kata suster Rahma seakan
mengerti penyesalan dalam diri letnan Jono.
“Mas Jono, letnan Naryo, ini ruang
perwatan letnan Andina!” kata suster Rahma sesaat setelah memasuki paviliun
perawatan.
“Terima kasih mbak!” kata letnan Jono sambil
tersenyum.
Letnan
Andina masih terbaring di tempat tidur perawatan, di pojok ruangan itu, selang
infus tertancap di lengan kirinya, dan langsung terhubung dengan cairan infus
yang digantung disamping tempat tidur, selimutnya menutupi tubuhnya, tapi tidak
lengan kirinya yang menjadi pintu masuk cairan infus. Belum ada buah-buahan di
sekitar situ, artinya dia baru saja masuk ruang perawatan itu, di kursi yang
disediakan untuk pengunjung terlipat dengan rapih baju Pakaian Dinas Lapangan,
dan Pakaian Dinas Harian TNI-AL milik letnan Andina.
“Jo, aku keluar sebentar!” kata Naryo
memohon diri.
“Ya, hati-hati!” katanya kepada letnan
Naryo.
Letnan
Jono masih memandangi temannya yang terbaring di kasur itu. Hanya satu yang
terbersit didalam pikirannya, penyesalan akan pilihan yang diberikan kepada
iptu Arifin, kalau waktu itu dia tidak memberikan pilihan, Arifin tidak akan
tewas, kalau Arifin tidak tewas mereka akan menikah, kalau mereka menikah,
Andina tidak akan susah makan, kalau Andina tidak susah makan, dia tidak akan
masuk rumah sakit.
“Maaf Andina!” kata letnan Jono lirih.
Letnan
Andina baru terbangun dari tidurnya, wajahnya yang cantik agak sedikit memudar,
pucat karena sakit. Dia melihat letnan Jono sudah tegak disamping tempat
tidurnya, letnan Andina berusaha untuk duduk, tapi letnan Jono mencegahnya. Dengan
lembut, letnan Jono menahan bahu letnan Andina.
“Kamu tiduran saja, kamu pasti kurang
istirahat!” kata letnan Jono sambil merebahkan kembali letnan Andina. Dan
ketika itu, suster Rahma masuk untuk mensuplai obat ke letnan Andina.
“Mas, saya ingin menghantar obat untuk
letnan Andina!”
“Oh, iya silahkan mbak!”
“Letnan Andina belum sarapan! Saya
sarankan untuk menghabiskan sarapannya dulu!” katanya lagi sambil menaruh
beberapa jenis obat di meja “Setelah itu, bisa panggil saya untuk menyuntikkan
obat!”
“Iya mbak! Terima kasih!”
“Mas, mungkin bisa bantu letnan Andina”
katanya yang langsung memohon diri.
“Oh, iya!” segera saja letnan Jono
menyuapi Andina.
“Kalau aku nggak salah denger, tadi dia
manggil kamu ‘mas’ memangnya dia adikmu?” tanya Andina.
“Bukan!” gumam letnan Jono. Letnan
Andina lalu memandangi letnan Jono dengan tatapan meledek, dan sedikit
mesam-mesem sendiri.
“Kalau bukan adik mu, kenapa dia manggil
kamu dengan sebutan itu?”
“Aku yang meminta dia!”
“Pacar mu?” canda letnan Andina.
“Doakan ya!”
“Aku doakan yang terbaik untuk kamu!”
“Memangnya siapa kamu? Bukan ibuku, bukan
pacarku, bukan mbak ku!”
“Anggaplah aku salah satu dari mereka!”
“Sudah minum dulu! Aku akan panggil suster
Rahma!”
“Kenapa kamu nggak tekan bel ini?” kata
letnan Andina sambil menunjukkan tombol yang jika ditekan akan langsung
terhubung dengan perawat yang bertugas.
“Please
Andina! Give me a chance!” kata letnan Jono.
“Cie, mentang-mentang pernah latihan
sama marinir Amerika, ngomong nya pakai bahasa inggris segala! Iya!” letnan Jono
lalu keluar dan menuju tempat suster Rahma. Sekitar sepuluh menit, letnan Jono
sudah kembali bersama suster Rahma.
“sebentar ya, bu!”
“suster, jangan panggil saya begitu!”
“Oh, iya letnan!”
“Panggil saya Andina saja! Saya sedang
tidak bertugas!”
“Ya, Andina!” katanya sambil tersenyum,
dan menyiapkan obat untuk letnan Andina.
“Rahma, saya boleh tanya?” kata Andina.
“Boleh! Tanya apa?”
“Kamu sudah menikah?”
“Belum! Belum ada cincin ‘kan di tangan
ku?” katanya sambil menunjukkan kedua telapak tangannya.
“Apakah kita mengalami hal yang sama?”
tanya letnan Andina sambil meraih telapak tangan Rahma, dan melihat tanda di
jari manis tangan kanannya. Ada tanda bekas cincin, dan letnan Jono terkesiap
melihat itu.
“Sepertinya begitu!” matanya
berkaca-kaca setiap ingat kejadian itu, kejadian yang sulit untuk dilupakan.
“Maaf, bukan maksud saya!” kata Andina
sambil memberikan beberapa lembar tisu untuk menyeka air mata Rahma yang perlahan
mulai menetes, membasahi pipinya.
“Sudah, jangan menangis! I don’t wanna see you crying!” kata
letnan Jono sambil berusaha untuk menyeka air mata suster Rahma, namun apa yang
terjadi, tangan kanan Andina segera menepis tangan letnan Jono.
“Kamu apaan sih!” tukas nya, dan letnan Jono
hanya termangu. Suster Rahma lalu tertawa.
“Suster, kamu belum stress ‘kan?”
“Nggak, saya jadi merasa terhibur”
“Terhibur kenapa?” heran Andina.
“Seorang anggota Detasemen Jalamangkara,
ternyata hanya takut sama perempuan!” dan, Andina tertawa kecil mendengar
celetukan itu.
Setelah
suster Rahma kembali ke ruangannya, letnan Jono mencari tempat duduk di sekitar
ranjang itu. Ada seragam milik Andina di situ, jadi letnan Jono hanya berdiri sambil
mencoba mencari materi untuk menghibur Andina. Dia merasa bahwa Andina belum
sepenuhnya memaafkan kesalahannya. Dia merasa kalau Andina masih menyalahkan
dia atas kejadian yang menimpa Arifin, tentu saja menimpa dirinya juga. Letnan
Andina lalu duduk di pinggiran ranjangnya. Kakinya yang panjang menggantung di
pinggiran tempat tidur. Kini mereka sudah saling berhadapan, saling menatap.
“Maafkan aku!” kata letnan Jono.
“Untuk apa?” heran letnan Andina.
“Maaf, karena aku telah menyebabkan
semua ini!” letnan Andina tidak menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’ dia hanya memandangi
letnan Jono, matanya mulai berkaca-kaca. Dengan penuh kesadaran, letnan Andina
melayangkan tamparan ke pipi letnan Jono. Komandan peleton itu pun kaget, tapi
dia berusaha untuk menyembunyikan kekagetannya itu dengan menunduk, terpekur
memandangi jemari kaki letnan Andina, bukan hanya pipinya yang panas, tapi juga
hatinya.
“Jono, tatap mataku!” perlahan, letnan Jono
mengarahkan pandangan ke wajah letnan Andina. Dia melihat mata rekannya yang
mulai berkaca-kaca, jika tangan letnan Andina menampar pipinya, maka matanya
menampar hatinya lebih keras dari tamparan ke arah pipinya. Hatinya semakin
panas, dia sangat ingin memaki dirinya sendiri. Letnan Jono hampir terjerembab
dalam jurang kekalutan.
“Aku sudah berusaha untuk melupakan
kejadian itu! Aku sudah berusaha untuk membangun hidup baru! Aku sudah berusaha
untuk melupakan Arifin!” dia menatap letnan Jono dengan sangat dalam, sehingga
letnan Jono harus memendam penyesalannya.
“Sekarang kamu mengingatkanku tentang
dia!”
“Maaf!” kata letnan Jono sambil membelai
bahu letnan Andina. Letnan Andina diam, tanpa kata, dan membalas perlakuan
letnan Jono dengan pelukan, dan membenamkan kepalanya di dada letnan Jono.
“Tolong! Bantu aku untuk melupakan semua
itu!”
“Ya, aku pasti bantu kamu!” katanya
sambil membalas pelukan itu, dan membelai kepala letnan Andina. Baru kali itu
letnan Andina merasakan kenyamanan yang teramat sangat, belum pernah dia
merasakan kedamaian itu sebelumnya, begitupun yang dialami oleh letnan Jono,
sampai-sampai dia tidak menyadari kehadiran letnan Naryo, suster Rahma, dan
dokter Maya di ruangan itu. Bukan tidak mungkin suster Rahma melihat kejadian
itu, dan suster Rahma juga tidak menyalahkan mereka berdua.
“Aku pasti bantu kamu untuk melupakan
dia!” bisik letnan Jono lagi.
“Terima kasih!” lirih letnan Andina.
“Selamat pagi! Saya akan memeriksa
keadaan letnan Andina!” kata dokter Maya mengagetkan mereka. Dokter Maya adalah
bekas atasan letnan Andina ketika masih bertugas di Markas Komando Armada RI
Kawasan Timur, atau lebih sering dikenal dengan MAKO ARMATIM di Surabaya.
“Silahkan bu dokter!” kata letnan Jono
setelah sebelumnya memberi hormat kepada dokter berpangkat mayor itu.
Keadaannya
belum pulih, letnan Andina masih harus banyak beristirahat, dan perawatan yang
cukup, letnan Andina belum boleh makan makanan yang macam-macam. Penyakit yang
ada di dalam diri letnan Andina lebih karena tekanan psikologis yang menyiksa,
ada hal yang memaksa dia untuk melupakan Arifin. Hal itu yang terkadang
membuatnya sakit, beban dalam hatinya lebih menyiksa daripada virus Salmonella Thypii yang menyerang
tubuhnya.
“Siapa yang jaga kamu Andina?” tanya
dokter Maya. Letnan Andina sejanak menatap letnan Jono.
“Siap, ibu saya mohon ijin!” katanya.
“Lalu, letnan Naryo dan letnan Jono?”
“Kami menjalankan perintah bu!” kata
letnan Naryo sambil menunjukkan surat perintah kepada dokter Maya.
“Oh, ya sudah! Semoga cepat sembuh ya!”
“Ya, dokter terima kasih!” kata letnan
Andina. Ketika dokter Maya dan Suster Rahma hendak meninggalkan ruangan itu,
letnan Jono memohon ijin kepada dokter Maya untuk berbicara sebentar dengan
suster Rahma.
“Mbak, nanti istirahat siang jam
berapa?”
“Hm, sekitar setengah satu mas! Memang
kenapa?”
“Saya ingin ajak kamu makan siang
bareng!” kata letnan Jono sedikit terbata.
“Letnan Andina siapa yang jaga?”
“Naryo!” singkat letnan Jono. “Jadi,
kamu mau gak?”
“Ya, aku mau!” katanya sambil tersipu.
Dan letnan Jono kembali ke ruangan dengan senyum sumringah.
Letnan
Andina dapat mengetahui apa yang dirasakan oleh letnan Jono. Satu kebahagiaan
yang tidak bisa disembunyikan, satu perasaan bahagia, seperti setetes embun di
tengah gersangnya gurun. Seperti setitik cahaya lilin di tengah kegelapan
malam. Tapi bagaimana dengan letnan Naryo? Dia tidak mengerti, dia bukan letnan
Andina, jadi dia tidak mengerti. Dia menatap letnan Jono dan.
“Wis mangan opo urung kowe?” katanya
sambil memberikan sepotong roti
“Ya, nanti aku makan! Sama mbak Rahma!”
jawab letnan Jono sambil memakan roti yang diberikan oleh Naryo.
“Wah, hebat kamu Jono!” kata Andina
sambil tersenyum.
“Bukan apa-apa!” gurau letnan Jono.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar