Kamis, 12 September 2013

Sekuntum Cinta Yang Hampir Layu (Eps 6)


VI
            Stasiun Depok Baru terletak di ketinggian sembilan puluh tiga meter di atas permukaan laut. Memiliki tiga jalur untuk menampung kereta. Jalur satu digunakan untuk kereta tujuan Jakarta atau Jatinegara. Dan jalur tiga digunakan untuk kereta tujuan Bogor atau Depok. Jalur dua digunakan untuk kereta Pakuan, entah itu melintas langsung, atau berhenti sejenak, itu dulu. Sekarang jalur dua sudah jarang digunakan. Di sebelah timur stasiun Depok Baru berbatasan dengan terminal Depok, bergeser sedikit ke selatan dari terminal Depok, ada pusat perbelanjaan di Depok, ke selatan lagi, ada kantor walikota Depok. di sebelah barat, adalah kampung Lio.
            I’ve build my world around you. And I want you to know. I need you like I’ve never needed anyone bevore…. I wanna be by your side, in everything that you do and if there’s only one thing you can believe it’s true I life my life for you! Masih terdengar jelas di mp3 player Krishna, malam itu. Kini, Krishna lah yang mencuri-curi pandang menatap Kandita. Apakah benar Kandita juga mencintainya? Bathin Krishna saat masih memandangi Kandita yang sedang memilih-milih handphone baru nya. Tidak! Untuk sementara Krishna akan meninggalkan Kandita dan beralih ke Tania, paling tidak sampai Tania meninggalkannya.
“Kita makan yuk!” ajak Kandita setelah selesai membayar handphone barunya.
“Ya, disekitar sini saja ya! Sudah lapar gue!” canda Krishna.
“Ah, dasar loe Krishna! gue juga sih!” gurau Kandita.
“Loe sudah bilang nyokap loe ‘kan kalau loe pulang malam?”
“Sudah lah! Ke bokap gue juga sudah!”
“Loe nggak niat cari pacar lagi?” petanyaan Krishna itu mengalir seperti air yang ada di sungai Ciliwung.
“Pacar?” kenapa Krishna tiba-tiba menanyakan hal itu? Apakah Krishna akan ‘nembak’ Kandita? Apakah Krishna akan meminta Kandita untuk menjadi pacarnya?
“Iya, pacar!”
“Kenapa loe kayak gitu? Mau loe jadi pacar gue?” tantang Kandita, dan kalimat itu juga mengalir dengan sendirinya.
“Jadi pacar loe?” dan Krishna pun tertawa, sambil meminum teh tawar yang dipesannya.
“Aduh, loe kalau makan jangan ketawa begitu!” kata Kandita geram, sambil memberikan selembar tissue untuk membersihkan dagu Krishna yang terkena noda makanan.
“Lagian loe lucu juga sih!”
“Nggak ada yang lucu!” tandas Kandita sambil masih menahan kekesalannya. Andai saja Krishna tidak tertawa dan mengatakan ‘ya, gue mau!’ maka Kandita akan menerima cinta Krishna secara langsung, tanpa harus menunggu lagi. Tapi tidak. Krishna masih belum mengerti, dan menganggap bahwa kata-kata yang keluar dari mulut Kandita hanya gurauan belaka.
“Kandita, makasih ya!”
“Ya, sama-sama!” kata Kandita.
            Stasiun Depok Baru, malam itu jam delapan, Kandita dan Krishna mengambil jalan berputar, dari pintu timur, bergerak ke utara, melalui pasar kemiri, menyeberang rel, dan kemudian kembali ke selatan, lalu masuk melalui pintu barat. Ada selembar daun besar, dengan panjang sekitar dua puluh sentimeter, dan lebar sekitar sembilan sentimeter jatuh tepat di atas kepala Kandita. Gadis itu mengambilnya dan hendak membuangnya, tapi tangannya tak sanggup. Daun itu jelas mirip persis dengan daun yang ada di mimpinya, daun dari pohon jati yang meranggas, tapi Kandita tidak tahu pohon apa itu sebenarnya.
“Ah, ini!” katanya seakan menemukan sesuatu yang berharga.
“Apa?” heran Krishna.
“Daun!”
“Gue juga tahu itu daun! Tapi itu daun apa?” tanya Krishna.
“Gue juga nggak tahu! Gue kira loe tahu!”
“Aduh, Kandita, loe kok begini banget sih?”
“Nggak! Loe tahu nggak ini daun apa?” kata Kandita sambil menghentikan langkahnya di jalur dua stasiun Depok.
“Jangan disini! Nanti ada kereta lewat!”
“Krishna, disini jalur dua, nggak akan ada kereta yang lewat!”
“Oke, itu daun jati!”
“Kenapa gugur? Apakah pohon jati itu keracunan?”
“Bukan! Pohon jati itu meranggas untuk bertahan hidup di musim kemarau!” kata Krishna menjelaskan.
“Lalu, kenapa dia menggugurkan daunnya?”
“Sebagai sumber makanan, untuk kehidupannya!”
“Sejenis pupuk alami begitu?”
“Ya, begitulah! Memang begitu seharusnya!”
“Apa artinya ini?” gumam Kandita, tentu saja Krishna tidak mendengarnya, kalau Krishna mendengar, pasti akan kembali muncul pertanyaan dari Krishna.
            Kandita masih berusaha keras untuk memahami arti mimpinya, dua pohon. Yang satu menggugurkan daunnya, untuk kelangsungan hidup, yang satu lag mencari sumber air bawah tanah, dan bibit mawar yang bersemi dibawah pohon itu. Sebenarnya mudah untuk ditelaah semua arti itu. Tapi tidak semua orang mampu untuk melakukannya, begitupun Kandita.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Di kamarnya, Kandita masih memandangi daun kering yang dipegangnya, daun yang ada di mimpinya. Kenapa harus menggugurkan daun untuk bertahan hidup? Apakah itu yang namanya pengorbanan?
“Mbak, ngapain sih loe?” tanya Marsha, adiknya yang baru memasuki semester enam kuliahnya.
“Kepo banget loe tanya-tanya!” tandas Kandita.
“Oh, gitu ya!” ledek Marsha. Wajahnya tidak jauh berbeda dengan Kandita, rambutnya juga panjang, digerai, beberapa helai rambut dibiarkan jatuh menutupi keningnya.
“Dik, loe pernah pacaran?” tanya Kandita.
“Lhah, bukannya loe yang ngelarang gue buat pacaran?” celetuk Marsha.
“Oh, iya!”
“Kenapa loe? Lagi jatuh cinta ya?” tebak Marsha.
“Haiiiah, loe dik! Belum jadi sarjana ‘kan? Nggak usah ngomongin cinta-cintaan deh!” gurau Kandita.
“Kenapa mbak? Memangnya siapa? Mas Krishna ya?” tanya Marsha.
“Ih, apaan sih loe!” kata Kandita sambil tertunduk dan tersipu.
“Wah, bener ‘kan!”
“Tapi dia nggak tahu kalau gue suka sama dia!”
“Terus, loe juga suka bareng ‘kan kalau berangkat kerja? Kenapa nggak loe dor saja mbak?”
“Nggak gampang!” Kandita lalu menceritakan kejadian beberapa hari lalu, ketika Krishna menyeka keningnya, sehingga membuat jantungnya bergolak, lalu di malam hari Krishna menyentuh bibir Kandita dengan lembut jemari tangannya.
“Ohh, So sweet banget sih mbak!! Terus loe mau pacaran sama dia?” kata Marsha.
“Mau! Kenapa nggak?”
“Loe mau gue bilang ke dia?”
“Nggak usah! Jangan!” gusar Kandita.
“Wah, bener-bener jatuh cintrong loe mbak!”
“Ya sudah dari dulu dik!” gumam Kandita.
“Sudah mbak! Cepet-cepet nikah! Gue mau jadi tante nih!”
“Ngaco loe dhik, gue belum siap apa-apa!!”
“Loe sudah bisa hamil ‘kan mbak?” selidik Marsha.
“Sudah!”
“Itu artinya sudah siap untuk hidup berkeluarga!”
“Terserah apa kata loe deh dik! Gue ngantuk! Mau tidur!” kata Kandita sambil beranjak mematikan lampu kamarnya, dan tidur disamping adiknya itu.
            Sementara Krishna masih telfon-telfonan dengan Tania, orang yang sepertinya sudah dicintainya, orang yang mencuri hatinya di sebuah komunitas softgun.
“Kamu belum tidur?” tanya Krishna.
“Belum! Kamu juga kok belum tidur?”
“Aku nggak bisa tidur kalau aku nggak tahu kabar kamu!” mulai gombalnya..
“Ih, nggombal deh!”
“Hm, iya! Kamu sehat-sehat saja ‘kan?”
“Iya, aku sehat-sehat aja! Kamu kemana saja sih kok udah jarang telefon aku?”
“Maaf ya, aku sibuk banget nih!”
“Sibuk sama kerjaan atau sama yang lain?”
“Kalau aku sibuk sama yang lain, untuk apa aku telefon kamu?”
“Begitu ya?”
“Ya, memang begitu!”
“Aku kira kamu udah lupa sama aku!”
“Gimana bisa aku lupa sama kamu kalau kamu yang membawa hatiku?” candanya.
            Awalnya, Krishna hanya bercanda, karena menganggap bahwa Tania memiliki sifat yang sama dengan Tiffany, candaannya itu lebih menjurus untuk pendekatan. Sudah cukup lama mereka bercanda seperti itu, kira-kira setengah tahunan, dan Tania sudah cukup bosan dengan keadaan itu, dia secara terang-terangan menyampaikan isi pesannya kepada Krishna.
“Aku boleh tanya nggak?” kata Tania.
“Boleh kenapa nggak? Tanya aja!”
“Tentang hubungan kita! Sudah lama kita begini, apa kita akan lanjut ke jenjeng berikutnya?” ah, Krishna sangat tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan itu. Sejenak Krishna terdiam, dan.
“Aku belum siap untuk jenjang selanjutnya! Aku rasa kita belum cukup dekat! Aku saja tidak pernah menyangka kalau kamu akan menyampaikan pertanyaan ini!” kata Krishna.
“Hm, begitu ya!”
“Tapi jangan khawatir! Satu ketika, kita akan bisa melangkah ke jenjang berikutnya!”
“Oke! Terima kasih!”
“Ya, maaf!”
“Kamu nggak perlu minta maaf! Kamu nggak salah kok!”
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Di hari selasa pagi, seperti biasanya Kandita menunggu keretanya di stasiun Citayam, kereta commuter line tujuan Tanah Abang, dan dia akan turun di stasiun Depok, untuk naik kereta yang ada di jalur dua stasiun Depok.
            Jalur satu diperhatikan akan segera masuk KRL commuter line tujuan Manggarai, Sudirman, Tanah Abang, Duri, Angke, Kampung Bandan, mengakhiri perjalanan di stasiun Jatinegara. Jangan menyeberangi jalur satu KRL commuter line tujuan Tanah Abang-Jatinegara. KRL Commuter line tujuan Jakarta Kota rangkaiannya masih tersedia di stasiun Bogor. Perhatikan kercis dan barang bawaan anda, supaya jangan tertinggal di wilayah stasiun Citayam, jalur satu KRL Commuter line tujuan Jatinegara.
“Hei, Kandita!” Krishna berteriak dari tempat yang kemarin, di kereta nomor lima, pintu ke tiga di sebelah kiri badan kereta. Kandita bergegas menemui Krishna dan masuk kesitu.
“Loe bukannya ngajakin gue bareng Krish!” gumam Kandita.
“Dari Bojong mah padat! Mendingan disini!” kata Krishna.
            Dan lampu sinyal pun berwarna hijau, artinya kereta dapat melanjutkan perjalanan ke stasiun berikutnya. Pancen enak temanten anyar Lagi nunggu tamu ne bubar Roso ati selak ‘ra sabar Pengen cepet ndang mlebu kamar lagu itu masih mengalun di mp3 player milik Krishna yang terkoneksi langsung ke telinganya, kepalanya bergerak seiring alunan music campur sari itu.
“Loe dengerin apa sih Krish?” tanya Kandita yang langsung mencabut satu buah speaker kecil yang menyumbat telinga kanan Krishna lalu mendekatkannya di telinganya. Dan dia pun tertawa.
“Kenapa loe ketawa?” heran Krishna.
“Gue heran aja! Hari gini, masih ada gitu ya orang kayak loe!”
“Ya masih ada lah, mungkin gue yang terakhir!”
            Dalam sebuah simulasi pembentukan media massa, seorang dosen melibatkan seluruh mahasiswanya, ada yang bertugas sebagai penanggungjawab, alias pemimpin redaksi, sekertaris redaksi, staff redaksi dan reporter. Pak dosen menunjuk seorang mahasiswi untuk menjadi penanggungjawab dan menentukan media apa yang akan dipilih, kemudian mahasiswi itu diminta untuk memaparkan programnya kepada seluruh staffnya. Dia akan membuat sebuah media televise, dan sasarannya adalah anak muda dengan isi seputar fesyen dan kegiatan anak muda.
            ‘Barangkali, perlu diangkat kearifan budaya local dari Indonesia bu!’ Seorang mahasiswa yang menjadi staff redaksi pun menyampaikan masukannya. Di Indonesia ini sudah terlalu banyak budaya luar yang masuk, kita sudah terkena model one way simetric. Komunikasi satu arah, dan itu adalah budaya luar yang masuk ke Indonesia.  Banyak yang masuk, tapi tidak ada yang keluar. Maka dari itu banyak dari anak muda sekarang ini menjadi lupa akan hakikatnya sebagai manusia Indonesia.
            ‘Jadi, menurut anda apa isi yang paling penting untuk di media kita ini?’ tanya bu pemred. Apakah harus kita masukkan lagu-lagu campur sari, atau degung, atau mungkin lagu-lagu Papua kita masukkan ke media kita ini?
            ‘Memang seharusnya begitu bu!’ kita harus menanamkan kesadaran di benak anak muda kita bahwa inilah kekayaan bangsa Indonesia, kearifan lokal yang harus kita jaga dan pelihara. Kalau bukan kita, siapa lagi?
            ‘Saya kurang setuju bu!’ kata seorang mahasiswi yang menjadi sekertaris redaksi. Kalau kita mengangkat semua itu sebagai isi dari media kita, siapa yang akan menerima? Kita sudah terlanjur seperti ini! Kenapa nggak kita lanjutkan saja! Yang lalu, biarlah berlalu.
            ‘Takut kehilangan pasar?’ seharusnya kita berpegang pada teori jarum suntik! Kalau kita bisa mempengaruhi masyarakat, kita tidak akan kehilangan pasar. Kita ini media, kita yang memegang kendali informasi. Kita bisa merusak image kebudayaan luar, dan mengangkat kebudayaan dan kesenian yang kita miliki. Dari Sabang, sampai Merauke. Di pulau Jawa, sudah lebih dari sepuluh kesenian. Ronggeng, Jaipong, Campur Sari, Cianjuran, Tari Bedoyo, Reog, Gambang Kromong, degung, uyon-uyon, wayang kulit, Yogyakarta, Surakarta, wayang golek, Bandung, Subang, Bogor! Semua bahkan lebih bagus dan menarik daripada Gangam Style!
            Karena tidak menemukan jalan tengah, pak dosen pun angkat bicara. ‘Sebenarnya ide-ide kalian bagus!’ masalah pasar, anak muda yang sudah ‘terkontaminasi’ budaya luar adalah soal tantangan, kalau benar itu terjadi media kita saat ini ditantang untuk menanggulangi semua itu.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Kereta memasuki stasiun Depok, Krishna kembali dapat merasakannya dari hentakan wessel yang beradu dengan roda kereta. Dan untuk kedua kalinya, Krishna mendapati Kandita yang sedang memandangi wajahnya. Dan ketika itu juga mereka kembali bertatapan, tapi tidak begitu lama, sama seperti kemarin, mereka harus turun dan kembali naik ke kereta yang ada di jalur dua stasiun Depok.
            Pemberangkatan selanjutnya dari jalur dua, KRL commuter line tujuan Manggarai, Sudirman, Tanah Abang, pemberangkatan pukul tujuh lewat tujuh menit! jalur satu KRL commuter line tujuan Manggarai, Sudirman, Tanah Abang, aman silahkan berangkat! Masih tersedia di jalur tiga KRL commuter line tujuan Jakarta Kota.
            Sistem perjalanan kereta akan terus berjalan jika elemen nya dapat saling bekerjasama dengan baik. Adapun elemen-elemen dalam sistim itu adalah masinis, kereta, Kepala Stasiun, Pejabat Pemberangkatan Kereta Api, Kondektur Pemimpin, petugas wessel, sampai keamanan. Tiap-tiap elemen itu harus dapat bekerjasama dengan baik, untuk pelayanan yang memuaskan bagi penumpang. Masinis tanpa kereta adalah bukan masinis. PPKA tanpa kereta adalah bukan PPKA. Begitupun kereta tanpa masinis hanyalah seonggok besi yang memiliki ruangan untuk penumpang.
            Semua harus pada tempatnya. Tidak mungkin menugaskan masinis lokomotif untuk melayani rangkaian kereta listrik. Paling tidak, dia harus diberi pelatihan untuk membawa rangkaian kereta listrik.
“Sudah, loe disini saja!” kata Krishna sambil menunjukkan tempat dimana Kandita biasa bersandar.
“Oke Krish! Eh, nanti loe pulang tungguin gue ya!” kata Kandita.
“Ya, gue pasti tungguin!” kata Krishna.
            Apakah ini saatnya? Saat untuk mengungkapkan semua kepada Krishna? Rasanya tidak! Kandita sudah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia akan menunggu sampai Krishna menyampaikan semuanya. Dia akan menjadi komunikan! Bukan komunikator. Dia ingin dicintai, bukan mencintai!
            Apakah yang dirasakan Krishna? Dia masih belum mau terbuka tentang perasaannya. Dia belum membuka diri terhadap orang lain. di hatinya masih ada Tania, meski di hati Tania, nama Krishna sudah dalam catatan hitam, karena Krishna belum berani untuk melangkah. Dia lebih ingin mencintai daripada dicintai, dan didalam hati Krishna, rasa cintanya kepada Tania belum tumbuh seratus persen.
            Jadi mereka belum dapat memecahkan masalah masing-masing, bukan karena mereka tidak mau, tapi karena mereka tidak tahu. Ketidaktahuan ini dikarenakan tidak adanya komunikasi yang simultan tentang perasaan Krishna dan Kandita. Kandita, selalu menutupi perasaannya kepada Krishna, sementara Krishna tidak bisa memahami karakteristik komunikatornya. Krishna tidak bisa memahami isi pesan yang disampaikan oleh Kandita, dikarenakan Krishna dididik untuk menjadi komunikator.
            Kalau itu alasannya, seharusnya Krishna bisa memahami Kandita, karena ketika komunikan menyampaikan umpan balik, komunikator berubah menjadi komunikan dan komunikan berubah menjadi komunikator. Satu-satunya alasan kenapa Krishna tidak membuka dirinya adalah karena masih ada Tania didalam hatinya. Sampai kapan itu akan terjadi? Sampai Krishna mengetahui kalau di dalam hati Tania sudah tidak lagi ada namanya. 
“Gimana? Masih galau?” tanya Michele ketika Kandita masuk ke ruang kerjanya.
“Memangnya gue galau?” gurau Kandita.
“Gue kira begitu! Habisnya loe nyanyinya lagu galau terus!”
“Ah, lebay loe!”
“Nanti siang ikut mbesuk gak loe?”
“Siapa yang sakit?” heran Kandita.
“Istrinya pak Darno!”
“Sakit apa sih?”
“Sakit tua! Kolesterol, darah tinggi! kompilasi lah!”
“Komplikasi Michele!” kata Kandita sambil mencubit pipi Michele.
“Aduh, loe ngeselin banget sih!” kelu Michele sambil bercermin, melihat apakah dandanannya rusak.
“Loe masih cantik kok! Nggak usah takut”
“Hallah, gue sudah tahu kalimat loe! Ujung-ujungnya pasti jatohin gue!” gumam Michele.
“Ya, memang kenyataanya begitu! Loe cantik, tapi loe jomblo!”
“Gue single! Nggak jomblo!”
“Yah, terserah loe deh!”
“Nah, loe juga single, mana nggak punya pacar!” ledek Michele.
“Se nggaknya, gue masih punya gebetan!” gumam Kandita. “Atau, Michele! Jangan-jangan loe nggak suka cowo lagi?”
“Ih, loe kali tuh! Gue sih masih normal!” kata Michele.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Sudah jam lima, sore itu di halte stasiun Sudirman, Krishna masih duduk menunggu Kandita, tidak ada alasan apa pun, dia hanya ingin menunggu Kandita. Krishna seperti seorang pria bodoh yang menunggu seorang wanita tanpa tahu dia akan melakukan apa kepada wanita itu. Krishna tidak tahu akan berkata apa kepada Kandita.
            Semua karena dia tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Kandita kepadanya. Bukan masalah mengerti atau tidak mengerti. Sebenarnya, seperti sudah dijelaskan sebelumnya, masih ada Tania di hati Krishna. Sepertinya analogi kereta dan stasiun tidak perlu dijelaskan lagi disini. Kalau Krishna adalah stasiun, sedangkan Kandita dan Tania adalah keretanya.
            Saat ini yang ada di stasiun adalah Tania. Sangat kecil kemungkinannya, bahkan tidak mungkin bagi Kandita untuk masuk. Karena kalau sampai ada dua kereta di stasiun, di satu jalur yang sama, bisa menyebabkan sebuah kerusakan pada sistim perjalanan kereta. Jadi, Kandita harus menunggu sampai Tania benar-benar pergi meninggalkan Krishna, tapi kapan! Semua akan ada waktunya, sama seperti hujan orografis.
            Ketika awan yang menggumpal dibawa angin dari Jakarta menuju Bogor, daerah Pondok Indah, Lenteng Agung, Depok, dan Ciganjur tidak akan mendapatkan hujan. Pada saat awan yang menggumpal itu ‘menabrak’ deretan pegunungan yang ada di Bogor, maka hujan akan turun di sekitar Bogor, Cilebut, Bojonggede, Citayam, Cibinong. Sementara Sukabumi, hanya akan kedapatan angin panas dari Bogor, karena tidak ada hujan lagi untuk dideraikan di Sukabumi.
            Begitupun dengan Krishna. Cinta di dalam hatinya sudah menggumpal, dan akan dibawa ke pegunungan yang adalah Tania, nanti akan tiba saatnya Krishna akan menghadapi masalah besar dari Tania yang membuat krishna harus menumpahkan cintanya kepada Kandita. Apakah masalah itu? Sepertinya nanti akan diceritakan!
            Eits, Kandita baru turun dari metromini, tepat di halte stasiun Sudirman, sudah jam setengah delapan malam. Praktis, Krishna sudah menunggu selama seratus lima puluh menit di halte itu. Menunggu Kandita, berbekal satu keyakinan bahwa Kandita belum pulang.
            Kandita tercekat melihat Krishna yang duduk di halte itu sambil tersenyum kepadanya. Tidak ada ekspresi kekesalan dari wajah Krishna, hanya senyumnya yang selalu terlukis dibibirnya. Michele juga sedikit heran melihat tingkah temannya itu, kenapa tiba-tiba Kandita membatu. Memang, Kandita belum pernah merasakan ketulusan dari lelaki manapun selain Krishna, yang mau menunggunya di halte stasiun Sudirman. Matanya tiba-tiba meneteskan beberapa tetas air.
“Loe belum pulang?” tanya Kandita.
“Lhoh, tadi loe minta gue tungguin!” kata Krishna. “Loe kok nangis?” tanya Krishna sambil menyeka air mata yang membasahi pipi Kandita. Dan lembut jemari tangan Krishna mendarat dengan lembut di wajah Kandita.
“Sudah berapa lama nunggu?”
“Baru sih! Baru dari jam lima!” kata Krishna sambil tertawa. Dua setengah jam menunggu Kandita, di halte stasiun Sudirman, ditemani debu dan asap kendaraan bermotor?
“So sweet banget sih kalian!” kata Michele.
“Oh, iya! Ini Michele! Temen kantor!” Kandita memperkenalkan temannya itu.
“Sebentar ya, gue mau ke toilet sebentar!” kata Michele menyampaikan alibinya. Michele pun berlalu. Krishna dan Kandita lalu berjalan memasuki stasiun.
“Kenapa nggak telefon?” tanya Kandita.
“Nggak punya pulsa!” canda Krishna. “Loe kenapa sih nangis? Jangan gitu ah! Nanti dikiranya gue ngapa-ngapain loe lagi!” canda Krishna.
“Iya, gue nggak nangis lagi!” kata Kandita sambil menyeka sisa sisa air matanya.
“Temen loe pulang naik kereta juga?”
“Sebentar? Loe nggak nanya tadi gue habis dari mana?”
“Ngapain gue tanya yang tadi-tadi?” ah, jawaban yang sangat menyentuh hati Kandita.
“Ya, dia pulang ke Depok!” kata Kandita singkat.
“Sudah, yuk! Kereta nya sudah sampai Tanah Abang!” kata Krishna sambil berjalan masuk. “Oh, iya! Temen loe mana?”
“Dia masih nunggu yang lain katanya!”
“Oh, loe mau nunggu sama di juga?” tanya Krishna.
“Nggak! Gue ikut loe saja Krish!” jawab Kandita dengan penuh kepastian.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Loe kenapa mbak?” tanya Marsha saat melihat ekspresi wajah mbaknya.
“Tahu nggak dik, tadi mbak besuk  istrinya atasan mbak!” Kandita pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, kepada Marsha, adik perempuannya. Krishna menunggu di halte stasiun Sudirman selama dua setengah jam.
“So sweet banget! Tapi buat gue itu nggak berarti apa-apa mbak!”
“Lhoh, kok begitu?”
“Menunggu dua setengah jam, sama menunggu bertahun-tahun untuk menyatakan cinta, lebih menyiksa mana?”
“Artinya, dia siap menunggu gue dik!”
“Tapi bagus juga! Terus loe nggak cipok dia mbak?”
“Gila loe dik! Masa gue langsung cipok begitu! Tekniknya saja belum tahu!”
“Masa sih mbak?” heran Marsha sedikit kagum ketika tahu bahwa mbaknya belum pernah ciuman di sepanjang usianya.
“Cepetan nikah! Nunggu apa lagi sih?” kata Marsha.
“Ya, nanti lah! Jangan grusa-grusu begitu!” kata Kandita.
“Sudah! Terserah loe mbak! Artinya tuh dia cinta juga sama loe!”
“Pacaran saja belum bener loe mau ngajarin gue!”        
            Krishna sedang berada di keadaan galau tingkat lanjut, sudah beberapa kali dia mencoba menelfon Tania tapi nomor handphone nya selalu tidak  aktif, sms, tidak pernah ada jawaban. Dia belum sempat membuka facebook. Krishna sudah hampir putus asa dengan situasi tersebut.
            Kenapa tiba-tiba Tania sulit dihubungu? Apa karena aku yang jarang menghubunginya? Apa handphone nya kecopetan? Atau, atau, atau….. beribu spekulasi muncul di kepala Krishna saat itu, menghujam bertubi-tubi seperti ribuan penumpang yang memaksakan diri masuk kedalam rangkaian kereta.
“Krish, sudah tidur?” tanya Kandita di ujung telefonnya.
“Belum nih! loe belum tidur?”
“Kalau gue sudah tidur, gue gak bakalan telefon loe Krish!”
“Bener juga sih! Tumben loe telpon gue! Kenapa?” Tanya Krishna
“Gak kenapa-kenapa sih!”
“Sudah loe istirahat saja! Besok bangun pagi ‘kan?”
“Ya, loe juga ya!” kata Kandita.
“Iya! Nggak mungkin gue nggak tidur!” memangnya penulis buku Seuntai Harapan Di Ujung Waktu yang memaksakan diri nggak tidur untuk menentukan ending cerita yang bagus. Karena ingin mempertemukan Yunita dengan anak perempuannya, si penulis nggak tidur semalaman.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Rabu pagi, di stasiun Citayam tidak jauh berbeda dengan hari rabu  yang biasanya, ramai dengan ribuan penumpang yang akan berangkat ke kantornya dengan menggunakan kereta listrik. Kebanyakan penumpang pria berdiri dengan memakai headset, sambil membaca koran. Penumpang wanita juga memakai headset, sambil memainkan handphone nya masing-masing, kebanyakan dari mereka memakai masker, selembar kain yang menutupi mulut dan hidung. Tapi tidak bagi Kandita. Dia ingin menunjukkan kecantikannya ketika Krishna menatapnya. Dia ingin memberi hadiah kepada Krishna karena Krishna telah menunggunya selama dua setengah jam, tapi dia bingung, hadiah apakah yang akan diberikannya? Apakah kecupan hangat di bibirnya, atau ah, didepan ribuan pasang mata yang ada di rangkaian kereta, rasanya Kandita tidak sanggup. Pelukan hangat di pagi hari? Apakah bisa? Memandang Krishna saja hatinya berdetak keras seperti persambungan rel yang dihentak oleh roda besi kereta. Jadi apa?
Jalur satu diperhatikan akan segera masuk KRL commuter line tujuan Manggarai, Sudirman, Tanah Abang, Duri, Angke, Kampung Bandan, mengakhiri perjalanan di stasiun Jatinegara. Jangan menyeberangi jalur satu KRL commuter line tujuan Tanah Abang-Jatinegara. KRL Commuter line tujuan Jakarta Kota rangkaiannya masih tersedia di stasiun Bogor. Perhatikan kercis dan barang bawaan anda, supaya jangan tertinggal di wilayah stasiun Citayam, jalur satu KRL Commuter line tujuan Jatinegara.
Seperti biasa, Kandita bergerak ke peron tengah stasiun Citayam, dan bergerak ke tempat dimana Krishna biasa memanggilnya. Kereta berhenti, dan membuka pintunya bagi seluruh penumpang. Kandita kehilangan sesuatu. Teriakan Krishna yang biasa digunakan untuk memanggilnya. Kandita masuk ke dalam kereta itu dengan penuh kebimbangan, karena tidak ada suara yang memanggilnya pagi itu. Tidak ada suara ‘Hei, Kandita!’ dari mulut Krishna. Kemanakah sekuntum cinta yang akan ku pupuk?
Kereta berjalan meninggalkan stasiun  Citayam, menuju stasiun Depok, Kandita sendiri. Dia tidak bisa memandangi wajah Krishna yang tidak terlalu tampan, tapi penuh dengan ketulusan. Dia masih berharap akan bertemu dengan Krishna di stasiun Depok. Dia berharap bisa bersandar bersama dengan Krishna di pintu sebelah kiri rangkaian kereta commuter line tujuan Jatinegara. Sampai kereta itu berangkat meninggalkan stasiun Depok, Krishna tetap tidak terlihat. Kandita sudah terlihat cantik pagi itu, lebih cantik dari hari-hari biasanya, dengan sack dress batik kombinasi warna biru dan hijau, rambutnya yang panjang dibiarkan digerai ke belakang, sebagian poninya dijepit di keningnya, dan membiarkan beberapa helai rambut mendarat di wajahnya.
“Krishna, kamu dimana?” tanya Kandita di telefon.
“Apaan?”
“Lagi dimana?”
“Tadi manggilnya apa?” gurau Krishna.
“Kamu dimana?” tawa Krishna meledak seperti ranjau laut yang ditabrak kapal selam.
“Kenapa sih?”
“Sejak kapan loe manggil gue pakai aku-kamu?”
“Kamu nggak suka? Ya sudah! Tutup saja telefonnya!” tantang Kandita.
“Gitu saja ngambek! Memang kenapa?”
“Aku nungguin kamu tahu!”
“Nungguin aku? Untuk apa?” Ah!! Pertanyaan yang belum saatnya dijawab oleh Kandita.
“Salah ya?” pancing Kandita.
“Bukan begitu! Tapi kok tumben begitu?”
“Tumben?” setiap hari aku nunggu kamu di peron tengah stasiun Citayam, kamu bilang tumben? Setiap hari aku menunggu kamu memanggil namaku dari pintu kereta, kamu bilang itu tumben?
“Ah, sudahlah! Lupain saja!” kesal Kandita sambil menutup telefonnya dan berjalan menuju kantornya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Krishna masih mengerjakan laporan untuk diberikan kepada atasannya, dia harus menyelesaikannya siang itu juga, jika tidak dia tidak dapat bonus dari atasannya. Ada wacana bahwa karena prestasi kerjanya yang cukup tinggi, Krishna dan Nissa akan disekolahkan jenjang magister di Jepang, tapi masih wacana. Krishna juga tidak mau berbangga atau menebak-nebak. Dia hanya ingin menjalani apa yang ada saat ini. Dan saat makan siang bersama Nissa, mereka pun memperbincangkan hal itu.
“Sebenernya gue mau pak!” tambah Nissa. “Tapi bokap sama nyokap gue belum tentu ngasih!”
“Gue mah bodo amat bu! Mau dikirim syukur! Gak dikirim juga gak kenapa-kenapa!”
“Woles banget loe pak!”
“Lagian ngapain coba dibawa ribet? Jalanin aja apa yang ada!”
“Bener juga sih!”
“Cowo loe ngijinin nggak?”
“Cowo?” kata Nissa sambil tertawa terbahak. “Cowo dari Hongkong?”
“Oh, cowo loe dari Hongkong?” heran Krishna.
“Gue masih sendiri pak!”
“Goblok banget!” singkat Krishna.
“Maksud loe?” gusar Nissa.
“Cowo sekarang goblok-goblok! Orang secantik loe masa nggak dinikahin?”
“Berarti loe goblok juga dong pak?”
“Emang gue goblok” gurau Krishna sambil masih mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
“Cewe loe gimana pak?”
“Gue belum punya! Masih gebetan!”
“Oh, terus loe mau langsung nikah atau pacaran dulu?”
“Nikah aja langsung! Ngapain pacar-pacaran?” gumam Krishna.
            Waktu istirahat siang masih tersisa setengah jam. Krishna memanfaatkan waktunya untuk berkelana di dunia maya, rumah keduanya, teman-teman dari segala penjuru dunia sebagai hasil dari global society. Dengan adanya internet, atau media baru, seseorang dapat mengetahui apa yang terjadi di sisi lain bumi, bahkan di luar angkasa hanya dengan duduk ‘nyantuk’ di depan komputer atau gadget yang terhubung dengan internet, inilah peradaban global. Handphone nya bagai buah pengetahuan yang tidak boleh dimakan oleh Adam dan Hawa, semua informasi secara gamblang terbuka, kecuali informasi-informasi yang dianggap rahasia oleh sebagian orang. Di tengah-tengah kampung global itu, Krishna mendapat berita bahwa Tani Andriani sudah bertunangan. Dengan siapa? Tidak penting dengan siapa. Yang pasti krishna harus mengkonfirmasi kebenaran beritanya, melakukan chek and recheck, seperti halnya seorang wartawan yang mendapati sebuah berita.
“Halo, selamat siang!” Tania mengawali pembicaraan di telefon itu.
“Ya, Tania! Aku mau konfirmasi dong! Status mu di facebook, kamu yang mengganti!”
“Bener! Aku yang mengganti! Memang kenapa?”
“Wah, selamat ya! Kalau memang benar begitu kenyataannya, aku nggak akan ganggu kamu lagi!”
“Kamu masih cinta sama aku?”
“Untuk apa? Kalau dengan mencintai kamu aku bisa memiliki kamu, akan aku lakukan! Aku nggak mungkin mencintai istri orang! Begitu!”
“Maaf Krishna!”
“Kamu nggak salah! Jangan minta maaf!” canda Krishna.
            Cinta yang tumbuh di hati Krishna sudah hampir layu. Terlalu cepat menyampaikan pesan cinta bukanlah hal yang baik, demikian juga jika terlalu lama menyampaikan pesan cinta bukan hal yang baik.
            Sempat terpikir  siapakah orang terdekat yang tidak dimengertinya, teman dekat yang selalu ada, apakah dia akan menjadikannya sebagai teman hidup untuk selamanya? Karena hanya dia yang tetap mencintai Krishna, sekalipun dia tahu bahwa Krishna sudah mencintai orang lain, dia tetap mencintai Krishna.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Stasiun Sudirman sore itu jam setengah lima sore, Kandita masih menunggu di entrance, menunggu Krishna datang dan menyapanya, seperti hari-hari yang lalu. Gadis itu masih dengan sackdress yang tadi pagi dipakainya, dan potongan rambut juga belum berubah dari pagi tadi. Dari kejauhan, Kandita sudah dapat melihat krishna, berjalan cepat menuju entrance, menuju tempatnya.
“Hei, Kandita!” suaranya lembut.
“Krishna!” Kandita sempat tertegun, tidak mempercayai apa yang dilihatnya.
“Jangan ngelamun!” gumam Krishna.
“Iya!” katanya sambil tersipu.
            Kereta commuter line di jam-jam pulang kerja, masih seperti hari biasanya, ramai, padat, umpel-umpelan, menjadi tempat bagi Kandita untuk mencari kesempatan untuk mepet-mepet dengan Krishna, terkadang, dia tak sadar diri telah menggenggam pinggul Krishna erat-erat. Krishna sudah tidak heran akan keadaan itu, karena memang hal itu sudah terlalu biasa untuk mereka.
“Krish, aku mau ngomong deh sama kamu!”
“Ngomong apaan?” heran Krishna.
“Aku sayang sama kamu! Aku cinta sama kamu!”
            Isi pesan yang lama dipendam di hati Kandita, sudah diterima oleh Krishna. Kandita tinggal menunggu feed back dari Krishna. Yang pasti, isi pesan sudah diterima sebagaimana mestinya dimaksud oleh Kandita.
“Aku juga!” bisik Krishna.
“Terus, kamu nggak minta pacaran sama aku?” tanya Kandita.
“Nggak! Aku nggak mau pacaran sama kamu! Aku nggak mau jadi pacar kamu” kata Krishna tegas. Untuk sejenak, Kandita terdiam, lesu karena menganggap isi pesannya tidak diterima sebagaimana mestinya oleh Krishna, dia pun melonggarkan genggaman tangannya dari pinggul Krishna, dan belum sampai tiga menit, kereta saja belum sampai stasiun Manggarai, Krishna dengan jelas dan tegas berkata.
“Aku mau menikah sama kamu! Aku mau jadi suami kamu, dan aku mau kamu jadi istriku! Apa kamu mau?” dan tidak ada yang perduli akan apa yang telah mereka alami di kereta itu. Kereta cinta Krishna dan Kandita.
“Ya, aku mau!” kata Kandita sambil langsung memeluk Krishna, dan merasa pelukannya itu dibalas, Kandita meneteskan air mata di dada Krishna, air mata haru, karena semua sudah terjawab, dia telah menyelamatkan cinta yang hampir layu.
            Dan inilah arti mimpi Kandita tentang perumpamaan dua pohon besar. Kandita adalah pohon jati, dan Krishna adalah pohon kayu besi yang ditanam berdampingan. Semasa pertumbuhannya di musim kemarau, pohon jati menggugurkan daunnya sebagai sumber makanan, artinya Kandita harus mengorbankan gengsinya untuk tetap menumbuhkan cinta, sementara pohon kayu besi berusaha untuk mencari sumber air bawah tanah dengan menyebarkan akarnya, bukan tidak mungkin akarnya akan saling tertaut menyatu, menubuhkan bibit-bibit mawar yang disebar di bawah pohon itu.
            Jadi, mereka berdua harus bersama-sama merawat dan memelihata benih-benih cinta yang dipercayakan kepada mereka oleh sang Penabur, oleh sang Pencipta, oleh sang Penulis, yang menulis tentang kehidupan mereka, meski ini baru di awal.

The End

And The Rose Was Grow With Sacrifice Of The People Who Want To Be In Love

Yohannes Fajar Nugroho
25 Maret 2013; 22.28 WKCJ*
(Waktu KAI Commuter JABODETABEK)
*:Disinkronkan dengan waktu di stasiun besar Bogor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar